Pengakuan Pariyem
Judul Asli : Pengakuan Pariyem
Penulis : Linus Suryadi AG.
Penerbit : Jakarta ; KPG ( Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan : Ketiga, Februari 2016
Halaman : xiv + 314, ; 13 cm x 19 cm
ISBN : 97979-91-0910-1
Desain Sampul : Wendie Artswenda & Deborah Amadis Mawa
Pengakuan Periyem berkisah seputar PRT (pembantu rumah tangga) asal Wonosari Gunungkidul yang terlahir dari pasangan seorang seniman pemain kethoprak dan sinden wayang kulit, sejak kecil telah akrab dengan kesenian Jawa membuat jati diri Pariyem menjadi seorang perempuan yang nJawani lahir maupun batin. Pariyem mengaku lupa tanggal lahirnya namun ia ingat betul akan wetonnya, yaitu Wukunya Kuningan, dibawah perlindungan Bathara Indra, Jumat Wage waktunya ketika hari bangun Fajar.
Menginjak umur 25 tahun Pariyem mulai mengabdikan pada keluarga ningrat nDoro Kanjeng Cokro Sentono di nDalem Suryomatraman di Ngayogyakarta, mulai disinilah dunia spiritual dan batin seorang perempuan Jawa di beberkan layaknya seorang Dalang yang mahir dalam membabar falsafah kehidupan, baik buruk, hitam putih kehidupan ia beberkan dari mulai masalah hati (cinta) dan sexs Pariyem sangat blaka tanpa tedeng aling-aling, namun tidak saru bin jorok ataupun merasa Dosa, karena sebagai perempuan Jawa, Pariyem sudah tidak mengenal rasa dosa, namun ia memiliki rasa malu yang tebal.
Aku rasa Pariyem adalah sosok wanita yang sudah selesai dengan dunianya, dan sudah tau akan makna Sangkan Paraning Dumadi, maka setiap kisah pilunya, yang mungkin kita sebagai orang awam akan gregetan dan menyalahkan Tuhan, namun tidak untuk Pariyem sosok yang nrimo ing pandum ia bisa ikhlas, lila, legawa. Agaknya Pariyem juga sudah paham betul akan pepatah Jawa “sopo nandur bakal ngunduh” dan unduh-unduhane bakalan ia terima dengan lapang dada dengan lila legawanya juga.
Mungkin sebagian orang, perempuan khususnya, yang merasa telah melakakuan hubungan sexs pra nikah, hingga pada akhirnya kebablasan hingga membuahi janin, hal pertama sedih, or bisa juga denail (menyangkal), mungkin malah akan menyalahkan pasangannya, namun hal ini tidak akan terjadi pada Pariyem yang dalam kehidupannya sebagai pembantu rumah tangga nDoro Kanjeng Cokro Sentono di nDalem Suryomatraman Ngayogyakarta, yang diam-diam ada affair dengan Den Baguse Ario hingga akhirnya Pariyem mengandung janin yang sudah 3 bulan di dalam gua garbanya itu, syukurnya terjadi persidangan keluarga yang berending bahagia.
Pariyem tidak berharap akan dinikahi oleh Den Bagus atau tidak, karena baginya pernikahan bukan dambaanya, yang menjadi dambaanya adalah anak yang sedang ia kandung. Karena bagingya setiap anak yang lahir dari gua garba niscahya ada bapak dan ada ibunya, sedangkan pengakuan dan pengingkaran tergantung rasa kejujuran dari dalam diri individu, Pariyem melakukan hubungan sexsual dengan Den Bagus bukan karena ia diperkosa atau terpaksa, namun berlandaskan tulus ikhlas lambarannya.
Yang sempat saya tuliskan ini hanya sekelumit dari part-part prosa Pengakuan Pariyem, anda berhak untuk meneruskan dan mencari kedalaman makna dan falsafah Jawa yang di babarkan oleh Pariyem, dengan membeli bukunya, meminjam dan membaca sendiri.
Jakarta, 10 Januari 2018











