“Hari ini aku akan pulang lebih cepat.”
Demikian pesan terakhir si wanita muda sebelum menarik tali kekang lantas memacu kuda hitamnya keluar dari istal. Ia sengaja berlalu tanpa menunggu tanggapan. Ia tahu pria itu akan mengantarnya pergi dengan senyuman, serta tatapan mengawasi sampai sosoknya berubah menjadi siluet. Gemuruh ladam terdengar semakin samar, menyisakan kepulan kusam di sepanjang jalan, dan seperti biasanya jarak kembali membentang di antara mereka.
Ia tidak suka, sebenarnya. Namun tak mengapa. Nanti ia akan mempersiapkan kejutan paling istimewa untuknya.
Pukul enam tepat, meja makan mereka sudah ramai oleh beraneka hidangan. Beberapa potong roti, dua porsi krimsup, bahkan jajanan pasar pun, semua tersaji rapi; siap dilahap. Masing-masing menguarkan aroma khas yang amat menggiurkan, mungkin cukup untuk membuat tetangga sebelah mereka ikut lapar. Memang sederhana, tetapi raut kebahagiaan terpancar jelas dari wajah si wanita muda yang bersimbah peluh. Karena setelah sekian banyak trial and error, dan erangan frustrasi akibat salah menerapkan resep, akhirnya ia berhasil.
Ia bangga pada dirinya sendiri, maka pikirnya, tidakkah sang pria akan bangga padanya juga? Pasti begitu.
Dihiasnya bagian tengah meja dengan vas mungil berisi bebungaan serta lilin supaya serangga seperti lalat tidak mendekati mahakaryanya. Tak lupa pula ia seduhkan kopi untuk sang pria. Meski tidak pernah bertanya langsung, diam-diam ia memerhatikan bahwa itulah minuman favoritnya.
Ketika persiapan tersebut selesai, ia menanggalkan celemek penuh nodanya ke dalam keranjang cucian kotor lalu membasuh tubuh. Berganti baju dan menyisir rambut.
Selanjutnya ia hanya perlu menunggu.
Dua jam berlalu begitu saja. Langit sudah benar-benar gelap; semburat oranye tidak lagi tampak dan sinar mentari digantikan oleh temaram lampu minyak. Sementara dari balik jendela, si wanita muda terus memandangi jalan sempit depan rumahnya dengan ekspresi teramat was-was.
Ke manakah? Kenapa belum pulang?
Rahangnya mengeras, sedang kepalanya menggeleng kuat. Ah, tak mengapa. Sebentar lagi. Pasti sebentar lagi.
Suara ketukan pintu memecah kesunyian.
Tidak ada jawaban; tidak ada langkah-langkah kaki yang tergesa menghampiri, tidak ada pula sepasang tangan yang terkepal erat namun sebenarnya ingin sekali merengkuh.
Setelah jeda panjang, si pria akhirnya memutuskan untuk menggunakan kunci cadangan. Mereka tinggal berdua—rumah kecil tersebut milik mereka berdua, jadi kunci pun dibuat dua agar masing-masing bisa selalu mengendap masuk. Bunyi derit menyusul seketika, kemudian bayangan gelap tercipta.
Yang pertama menyambutnya adalah sosok familiar, sebagaimana biasa. Bedanya kali ini ia tidak berdiri tegak, melainkan terbujur di satu-satunya kursi panjang dalam ruangan itu. Praktis, si pria bergerak menghampiri. Sebelah tangannya mendarat di pipi pucat sosok tersebut lantas mengusap lembut.
Ia tersenyum. Hatinya lega meski agak iba. Kekasihnya pasti kelelahan karena menunggu terlalu lama.
Apalagi begitu ia memeriksa dapur dan menemukan berbagai hidangan tidak tersentuh. Mangkuk-mangkuk yang mewadahi terasa sedingin es, maka bisa dipastikan pula bahwa apapun isi di dalamnya sama-sama sudah mendingin. Padahal ia tahu semua makanan itu merupakan masakan si wanita muda yang kini terlelap pulas di kursi depan sana.
Jadi inikah alasannya pulang cepat? Supaya bisa memasak untuknya?
Ah, kalau saja saat itu sang wanita dapat menjawab… Bukankah sudah jelas?
Sebagai hadiah bagi yang selama ini selalu sabar menunggu.
Namun siapa sangka ternyata ia malah diberi hadiah juga? Sekarang, setelah kejadian ini, barangkali ia akan terus mengingat betapa lelahnya menunggu. Dan mengingat, lebih tepatnya, bagaimana perasaan lelah itu pada akhirnya terkalahkan oleh perasaan senang.
Senang karena masih bisa membuat orang terkasihnya tersenyum walaupun ia sendiri akan terlambat melihatnya.
Esok pagi mereka berjumpa lagi, kan?