The Sky and Her Sun
Sebelumnya sudah pernah diunggah di personal blog Mariette Lou: Dandelion Whirl.
Jerome datang nyaris tanpa aba-aba, menyandingi figur ramping Mariette di beranda. Lisannya lancang menyuguhkan sebuah tanya demi membuka dialog senja mereka. “Menurutmu kenapa langit bersedih?” Dalam hening, Mariette mengangkat kepala. Sepasang hazelnya mengamati seekor burung kecil yang tengah berteduh dari guyuran hujan sambil berharap pemandangan indah tersebut dapat memberinya distraksi sempurna. Namun alangkah sayang, burung itu kembali terbang setelah beberapa detik seolah sadar bahwa pohon meranggas bukanlah tempat perlindungan yang tepat, dan sang gadis pun mendesah panjang. Diwarnai keraguan, jawaban singkat pun tercetus, “Matahari tidak berkunjung seharian ini.” Jeda lagi-lagi menyelingi konversasi. Jerome menoleh, lantas berkata lembut seraya memandangi Mariette yang masih berdiri statis. “Kau tidak berpikir matahari sengaja meninggalkan langit, kan?” Kini Mariette ikut menoleh. Ekspresinya merefleksikan wajah alam kala itu; sendu dan sepi. Namun tidak setitikpun air mengaliri pipi, bahkan tidak pula tampak tanda-tanda gemuruh emosi. Ia hanya diam, menunggu sang pemuda menyelesaikan kalimat. “Percayalah, matahari selalu di sana bersama langit. Sayangnya, terkadang ia dihalangi oleh awan. Tapi kurasa… langit sudah tahu itu.” Jerome menarik napas lambat-lambat lalu mengembuskannya sembari mengurva senyuman. Jemarinya meraih jemari milik Mariette, menggenggam erat. “Matahari tidak pernah pergi. Jadi… kuharap langit tidak akan bersedih lagi.” Mariette balas menggenggam tangan Jerome. Lebih erat. Ia takkan perlu berkomentar apa-apa, sebab ia tahu, melalui hangat yang perlahan tercipta di tengah kebersamaan mereka, terselip permohonan maaf tak terucap nan tulus. “Ya. Kuyakin, matahari akan kembali menampakkan diri.” Mariette sudah membuktikannya sendiri. Di sana. Di senja itu.















