Menjadi hari yang aku tidak pernah berfikir akan datang.
Innalillahi wa inna ilayhi raji'un. Berpulang kembali padaNya, bapak kami tersayang. Yang dalam akhir hayatnya, dalam sakitnya, tidak bisa kami temani dalam setiap detiknya.
Sesal; adalah hal terberat, yang beliau tinggalkan padaku. Sesalku atas ... beberapa hal tentangnya. Betapa acuhnya, selama ini. Betapa terkadang aku tak patuh. Sesal karena memilih kembali ke rantauan, daripada menetap sebentar --hingga tak bisa menatap untuk yang terakhir kali, di hari terakhirnya.
Maafkan, pa.. Maafkan..
Terima kasih atas senyummu hari itu, akan selamanya terkenang. Di saat tak lagi bisa membuka mata, masih kau sisakan senyuman itu untukku.
Tenang di sana ya, pa. InsyaAllah, akan selalu kukirim doa; bersama Ara di ritualnya sebelum tidur. Semoga Allah terangkan kuburmu, dan jauhkan siksa kuburNya untukmu. Semoga, kita kembali bertemu di tempat yang kita harapkan kelak.
aku, secinta itu pada sosok lelaki ini. yang seakan sabarnya tanpa batas. yang seolah cintanya begitu luas. untukku, dan buah hati kami.
terima kasih ya pah, untuk segala hal yang kamu punya dan kamu beri buatku dan anak(-anak). berharap; semoga kita panjang bahagia, bersama keluarga kita.
Wow, sudah terlalu lama nggak nulis. Hehe. Terakhir posting, masih foto USG. Anakku sekarang sudah lahir dan alhamdulillah tumbuh dengan sangat baik; masyaAllah.
So...
Hello, Tumblr! Kenalkan, anak pertamaku -yang hampir setiap hari membuatku berucap 'MasyaAllah'-, Tiara Hasna namanya.
Ara betul-betul menjadi anugerah terindah yang kupunya. Yang menjadi obat segala lelah dan payah. Yang membuatku belajar banyak sekali hal tentang apapun. Walau terkadang ada saja hal yang membuatku marah, atau yang lainnya, tetap tidak berkurang rasa sayang dan syukurku atas kehadirannya.
Alhamdulillah. MasyaAllah.
Terima kasih karena telah menghadirkannya kepadaku, kepada kami, ya Rabb. Jagalah ia selalu. Bantulah mamah papahnya yang miskin ilmu ini, agar mampu membesarkannya dengan baik tanpa kurang apapun. Aamiin.
Sebagian besar pasangan menikah pasti menginginkan untuk memiliki buah hati. Pun, kami. Namun ternyata, kami membutuhkan waktu lebih untuk akhirnya bersyukur karena Allah memberikan kepercayaan itu kepada kami.
Menikah di bulan Juni 2019, Maret 2020 akhirnya garis dua biru ^^
Perjuangan kami terbilang cukup ‘pasrah’ sebenarnya :D Awal menikah memang langsung promil, minum susu hamil selama sekian pekan. Namun testpack masih saja negatif. Begitu pula dengan promil tanggal subur dan yang terakhir mengonsumsi asam folat. Karena merasa ‘sia-sia’, akhirnya saya memutuskan untuk “Udahan aja ya minum asam folatnya, kalau mau hb, ya hb aja, nggak usah liat tanggal”, dan abang mengiyakan. Alias: Udah ya beb, pasrah aja kita. Heu.
Bukan menyerah, hanya berserah. Karena sadar aja gitu, segimanapun kerasnya kita nyoba kalau Allah belum kasih izin, ya nggak bakal kita berhasil. Niatnya sih kayak ngasih jeda aja gitu, mau nikmatin masa berdua lagi tanpa kepikiran ‘kapan ya dikasih dede..’, gitu gitu. Biar lebih enjoy menjalani hidup walaupun sana sini nanya ‘udah isi belum?’ hehehe.
Long story short~ Kisaran bulan Februari tahun ini, sepulang kerjanya suami dia cerita, dia bernazar, kalau bulan depan saya hamil, dia bakal menyisihkan sedikit rejekinya kepada seorang bapak becak. Saya nggak tau ada hubungannya atau tidak, di bulan-bulan itu pun rasanya suami semakin gencar ‘bersedekah’. Dan ternyata, bulan Maret, h-2 dari ulang tahun saya, saya mendapat garis dua biru! Alhamdulillah.
Tanggal 5 Maret hari itu, nggak tau gimana, rasanya pengeeen banget testpack. Akhirnya minta ke abang buat beliin testpack. Besokannya, di tanggal 6 subuh, waktu abang masuk malem, saya nyoba tes. Dan beneran positif, garisnya udah terang nggak samar lagi. Lagi-lagi, nyetrum ke abang, doi nanyain dong gimana hasil testpack, padahal saya mau kasih surprise pas doi pulang wkwk.
Yass jadi begitulah ceritanya hingga akhirnya kami cek ke bidan padahal baru telat 2 hari :D
Semoga dede sehat selalu di dalam perut mama ya! Sampe ketemu di usia dede yang ke sembilan bulan! Luvvv <3
Sebenernya lebih pengen cerita tentang kehamilan, tapi biar afdol mari bahas juga tentang pernikahannya.
Menikah. Adalah satu hal yang sebelumnya kurasa, mungkin, aku tidak akan. Insekyuriti ini benar-benar menyebalkan, sih. Tapi nyatanya, sekarang aku sudah menikah (dan akan memiliki anak). Alhamdulillah ‘ala kulli hal.
Tidak semua orang menganggap bahwa pernikahan adalah suatu yang harus dilakukan dalam hidup. Atau berfikir bahwa pernikahan adalah suatu pencapaian. Tidak, aku yakin tidak semua orang berfikir demikian. Namun, bagiku sendiri, pernikahan adalah suatu hal yang sangat aku impikan dan aku ingin menjadi bagian dari ‘pasangan’ dalam sebuah pernikahan. Yang hari ini Allah sudah kabulkan.
Dia - pasanganku; adalah temanku sejak sekolah menengah. Teman yang sempat aku menaruh rasa ketika usia belia, namun kemudian hilang begitu saja, dan akhirnya kembali menyapa di usiaku yang sudah lewat kepala dua. Berbekal komitmen untuk bersama-sama menjalin hubungan dalam jarak, akhirnya berani juga kami untuk melangkah ke meja akad.
9 Juni 2019 menjadi tanggal yang begitu kami tunggu di tahun kemarin. Dan bukan hal yang mudah untuk mempersiapkan semuanya, berdua saja, dan jauh dari rumah sehingga pertimbangan keluarga terkadang sulit untuk diminta. Ujian sebelum pernikahan bagiku sendiri, ya ini, hari-hari ketika mempersiapkan pernikahan. Baju, souvenir, undangan, dan lain sebagainya yang sudah kurancang dan kupersiapkan, akhirnya bubar jalan. Lebih memilih hemat budget, tetapi kemudian banyak hasil yang tidak memuaskan.
Namun akhirnya sampai juga di hari itu. Bahagia.. Dan lelah.. Bersyukurlah walau sedikit, wahai pengantin-pengantin di masa pandemi yang dapet diskon jumlah tamu. Anda tidak harus duduk-berdiri-duduk-berdiri untuk menyambut tamu dari pagi sampai malam :’)) Tetapi, sungguh, itu adalah hari yang benar-benar aku syukuri. Bahwa aku sudah sampai sini, aku sudah memiliki seorang yang bisa aku andalkan setiap hari. Dan aku; sebahagia itu.
Lewat setahun pernikahan, dan kami masih baik-baik saja. Sebagaimana harapan pasangan lain, kamipun berharap bahagia ini akan selamanya terjaga. Terjaga dalam kebaikanNya, terjaga keberkahanNya, dan terjaga hingga kelak di surgaNya..
Manusia memang tidak diciptakan untuk sempurna, baik secara fisik maupun mental. Baik secara ekonomi maupun hal lainnya. Kenyataan bahwa setiap manusia memiliki kekurangan dibalik segala kelebihannya ini, membuatku berani untuk menghadapi dunia dengan segala hal baik dan buruknya. Membuatku lebih menerima segala kekurangan, dengan tetap mencari hal-hal baik yang bisa aku lakukan.
Sejak dulu, aku merasa tidak percaya diri dengan penampilanku. Secara tidak sadar ketidakpercayaan diri ini kemudian berimbas kepada sikapku terhadap orang lain, kemampuanku berkomunikasi, bahkan kondisi tubuhku yang cenderung membungkuk :)
Jika saat ini sedang ramai-ramainya masalah bully-ing, rasanya di masa sekolah dulupun aku mengalami hal yang sama. Masih beruntung, meskipun aku tidak baik secara penampilan, aku masih memiliki otak yang bisa aku andalkan. Ibarat kata, kalau dulu aku nggak pinter, bakal habis jadi bulan-bulanan anak kelas, kayaknya ^^ Karena pepatah “Kalau kamu nggak cantik, jadilah pintar. Kalau kamu nggak pintar, jadilah orang baik. Kalau kamu nggak cantik, nggak pintar, nggak baik, dunia nggak akan baik ke kamu” benar adanya, gaes ^^
Bully-ing yang kurasakan sebenarnya lebih ke baper aja. Diejek ini itu, dijadiin bahan lawakan sampe pernah nangis di kelas. Ya ampun, masa-masa yang nggak ingin diingat, tapi nggak bisa dilupa juga. Bersyukur banget bisa melewati masa-masa itu, meski sendirian. Makanya, sampai saat ini aku masih tidak membenarkan bully-ing baik secara verbal maupun fisik. “Nggak apa apa kalau bullynya masih cuma ngata-ngatain, kalau udah main fisik baru tuh”. Oh hey, mungkin yang ngomong begini nggak pernah ngerasain dikata-katain di depan banyak orang ^^ Verbal maupun fisik, sama nggak baiknya. Yang verbal efeknya ke psikis, nggak keliatan, nggak tau juga cara ngobatinnya. Kalau fisik, bisa jadi lukanya hanya luka fisik. Tapi bisa juga, psikis pun ikut bermasalah. Intinya, udah ah, gausah lagi bully orang lain, dalam bentuk apapun. Ya karena nggak ada kebaikan apapun di sana.
Terlepas dari bully-ing di masa sekolah dulu, ternyata bully-ing kembali aku rasakan di usiaku yang hampir 27 tahun ini. Cukup kaget, karena bullying justru berasal dari anak didikku sendiri. Selama hampir setahun mengajar ini, yang kudengar dari mereka hanya “ibu cantik banget hari ini”, “ibu glowing banget sih”, “ibu cantiknya natural”, tanpa aku pernah memikirkan apa yang mereka katakan dibalik punggungku. Dan kemarin, pertama kalinya aku mendengar sebuah kata yang akhirnya membuatku sadar bahwa aku tidak sebaik apa yang selama ini aku dengar. Thanks for that.
Bersyukur, saat ini aku memiliki orang yang bisa aku andalkan untuk mendengar semua hal absurd yang kulalui. Dia yang membuatku sadar, bahwa aku tidak menjalani hariku sendirian lagi (omg im crying), bahwa dia selalu ada dalam setiap baik buruknya hari-hariku, dan akan selalu ada peluk dalam tangisan yang tertahan. Ya Allah, makasih banyak udah kasih jodoh yang sebaik ini! <3
Anyway dia dan bapaknya (yang adalah mertuaku) adalah dua orang yang paling sering bilang kalau aku “cantik”, meski aku tau aku tidak, it’s mean a lot for me.