STUDENT LIFE AFTER MARRIED
18 Maret 2025 / 18 Ramadhan 1446
Ramadhan ke 7 setelah Ramadhan tahun itu. Pikiranku serasa terhenti di Ramadhan tahun itu. Tepat ketika hari itu rasanya tanggal di kalender beralih dengan sendirinya. Aku seperti tak melewati tanggal itu. Tapi nyatanya telah terlewati. Buktinya, tiba-tiba saja sudah hari raya. Aku berada di kampung halaman. Aku dipanggil Ibu dan Abah di tengah malam untuk keluar rumah, saat bayiku sudah tertidur pulas.
“Nduk, bagaimana S2 mu?” Kata Ibu pelan
“Aku nggak tahu, bu. Aku sudah nggak mikirin itu lagi”. Jawabku sambil menahan air mata yang sudah tertahan di sudut mata.
“Kalau masih bisa diperjuangkan ya diperjuangkan ton duk. Eman. Apa yang bisa Ibu bantu?” Pertanyaan Ibu membuat tangisku pecah begitu saja. Aku langsung berlari ke pelukan Ibu.
“Maafkan aku bu. S2 ku nggak selesai bu. Deadline tesis nya ketika Ramadhan kemarin, tapi aku nggak bisa menyelesaikannya.” Aku tahu Ibu pasti sangat kecewa mendengarnya. Bagaimanapun, Ibu dan Abah lah yang paling berjuang, menjadi garda terdepan untuk menyukseskan kelulusan S2ku. Ibu rela menjalani LDR dengan Abah demi menemaniku kuliah di Jakarta. Sedangkan Abah rela tinggal di rumah sendirian di Kediri. Membayangkan betapa seorang laki-laki harus memasak sendiri, mencuci piring sendiri, mencuci baju, menjemur, dan melipat baju sendiri, dan melakukan semua tugas rumah tangga sendiri, aku sudah tidak sanggup. Nyatanya mereka berdua rela melakukan itu semua demi aku. Agar S2 ku lulus. Ternyata apa, aku belum bisa menghadiahkan gelar Magisterku untuk membalas pengorbanan mereka.
“Wes, gini saja. Coba sekarang kamu kirim pesan ke dosen kamu. Bilang masih bisa dikejar apa tidak. Kalau masih bisa dikejar, kamu nggak usah buru-buru balik ke Surabaya. Kamu selesaikan dulu saja di sini. Atau kalau kamu balik, anakmu biar di sini saja.” Abah menawarkan beberapa opsi dengan semangat. Tapi sejujurnya aku sudah tidak punya muka untuk menghadapi dospemku karena aku sudah lama menghilang. Aku bukan sengaja menghilang. Tapi sebagai menantu yang tinggal di rumah mertua, menjelang hari lebaran adalah hari yang sangat sibuk. Apalagi aku punya bayi. Mengurus bayi dari bangun pagi sampai tidru lagi, menyiapkan keperluan sahur dan buka puasa, belum lagi riwehnya ngurus baju couple untuk lebaran, dan hal-hal lain yang menurutku dulu adalah hal sepele yang tidak perlu dipikirkan, ternyata menjadi hal yang mau tidak mau jadi kepikiran kalau berada di rumah mertua. Memang saat itu bukan tahun pertamaku sebagai menantu, tapi kali pertamaku berlebaran di rumah mertua, karena setelah menikah, kami langsung pindah ke Jakarta untuk menyelesaikan kuliah S2 ku.
Aku ragu untuk menghubungi dospemku. Tapi akhirnya tetap kuketik juga dan akhirnya terkirim
“Selamat malam bu, maaf mengganggu. Saya mohon maaf lahir dan batin ya bu”
Tidak ada kata-kata yang bisa kuketik selain mohon maaf karena bertepatan dengan momen lebaran.
Tak lama kemudian ada balasan
“Selamat malam Yth. Nur. Sama-sama. Ibu juga mohon maaf. Ibu doakan semoga Anda sukses di mana pun Anda berada meskipun tidak di UI. Mungkin masih belum berjodoh dengan UI.
Singkat, padat dan membuat tangisanku semakin menganak sungai.
Perasaanku semakin tidak karuan. Antara sedih, kecewa, menyesal, dan yang kurasakan adalah marah. Jauh-jauh hari aku sudah diperingatkan oleh Abah & Ibu untuk tidak segan-segan meminta bantuan ketika aku butuh bantuan. Ibu sangat memahami bahwa kuliah sambil merawat bayi itu susah. Maka ibu menawarkan 2 opsi: Mengerjakan tesis di kampung halamanku atau bayiku dirawat ibu di Kediri dan aku di Surabaya.
Di sisi lain, keluarga suamiku menolak kedua alasan itu karena menurut beliau-beliau, aku mampu mengerjakan tesisku sambil merawat bayiku. Dan bodohnya, aku hanya bisa mengiyakan tanpa bisa mengelak. Padahal sudah jelas. Itu semua mustahil. Yang terjadi kemudian adalah: Semua tugasku harus jalan semua termasuk tugas seorang ibu yang merawat bayi, tugas istri yang menyiapkan semua kebutuhan suami, tugas menantu yang membantu mertua, tapi tidak ada yang memedulikan tugasku sebagai mahasiswa, bahkan menanyakan bagaimana tesisku pun tidak. Aku sampai berpikir: mereka ini sebenarnya tahu atau tidak kalau ini adalah waktu kritisku. Kesempatan terakhirku untuk menyerahkan tesis.
Bodohnya aku menganggap mereka peduli dengan semua tugasku. Mungkin menyuruhku untuk tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah tanggaku dulu agar bisa merampungkan tugasku. Oh ternyata aku terlalu berbaik sangka. Semua tugas rumah tangga harus tetap berputar pada porosnya. Aku sudah tahu akan seperti ini kejadiannya. Tapi aku sama sekali tidak bisa mengelak apalagi membantah. Itu yang aku sesalkan.
Selain itu, aku juga tidak punya ruang untuk sekadar membuka laptopku dengan berbagai macam alasan seperti watt rumah kecil dan laptopku menghabiskan watt bikin listrik anjlok, dll.
Bertahun-tahun aku seperti memendam kejadian itu. Aku depresi dan memutus semua kontak dengan mengganti nomor telfon. Aku menenangkan diri dan menghindari pertanyaan: Sudah selesai kuliahnya? Aku tak menyangka pertanyaan itu justru terlontar dari Ibu, dengan jawaban yang kutahu sangat di luar ekspektasi Ibu “Maaf bu, kuliahku tidak selesai”. Aku tahu, jawaban singkatku seperti menghapus dan menafikan semua pengorbanan Abah & Ibu selama ini. Tahu jangan-jangan, keputusanku untuk membuat mereka LDR itulah yang membuat kuliahku tidak berkah. Tapi itu bukan kemauan sepihak. Kami sudah berdiskusi dan semuanya setuju dengan keputusan itu.
Kini, 7 tahun sudah berlalu. Aku sudah bisa mengikhlaskannya. Aku sudah kembali berinteraksi dengan orang di sekelilingku. Aku sudah kembali menggunakan nomor lamaku. Aku sudah bisa menerima kenyataan bahwa lulus S2 di UI belum menjadi rezekiku. Tapi aku masih ingat betul, siapa yang membuat mimpi-mimpiku hancur. Dan aku masih punya dendam dalam dadaku yang tak akan pernah redup kobarannya, yaitu: menyelesaikan S2 ku.