Jangan kau siksa orang tuamu dengan kerinduan!
Terlepas dari urusan pekerjaan dan kondisi keuanganmu ataupun situasi pandemi, apakah masih ada niat tulus dalam hatimu untuk menemui ibu bapakmu di kampung?
seen from United States

seen from Malaysia
seen from China
seen from Japan
seen from Germany
seen from United States
seen from Spain
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from China
seen from United States
seen from Australia
seen from China

seen from Belgium
seen from United States

seen from United Kingdom
Jangan kau siksa orang tuamu dengan kerinduan!
Terlepas dari urusan pekerjaan dan kondisi keuanganmu ataupun situasi pandemi, apakah masih ada niat tulus dalam hatimu untuk menemui ibu bapakmu di kampung?
Hal Mudah Tapi Susah
Banyak bahkan ramai orang mengakui dirinya introvert bahkan berusaha keras menunjukkan buktinya pada dunia dengan cara ikut tanya jawab pada aplikasi yang tersedia. Beberapa orang berpikir bahwa menjadi introvert itu istimewa. Eksklusif mungkin atau dianggap misterius. Ada yang bahkan memaknai dan menklaim bahwa dirinya introvert tingkat akhir mungkin.
Heran sebenarnya. Tak apa jika dia benar ada nya seperti itu. Tapi memaksa untuk bisa bersikap introvert bukanlah hal yang harus di lakukan. Karena pada dasarnya sikap dan sifat itu alami. Bisa diubah mungkin dengan beberapa usaha. Tapi berpura-pura bukanlah jalannya.
Berdiam diri. Menutup diri. Kalem. Pendiam. Atau sebagainya. Mungkin menurut sebagian orang sifat itu menakjubkan. Tapi sebagian orang yang memiliki sifat asli itu sungguh menakutkan. Ada diantara mereka yang ingin sekedarnya menyapa. Tapi tidak bisa. Ada yang diantara mereka yang mencoba tersenyum. Tapi gagal. Ada yang diantara mereka yang mencoba berbaur. Tapi menyerah.
Lalu orang-orang yang memiliki sifat dan sikap alami ramah tamah malah sibuk memikirkan bagaimana menjadi orang-orang yang menyendiri. Mungkin ada alasan dibalik keinginan itu. Tapi pikirkan baik-baik, sendiri atau menyendiri itu tidak menyenangkan. Mungkin mereka hanya butuh waktu untuk menepi, tapi menyalah artikan dengan berharap hidup tertutup dari dunia luar.
Introvert atau ekstrovert bukanlah dua sikap dan sifat yang harus dibanding-bandingkan. Keduanya memiliki sisi positif dan negatifnya. Jalani saja apa yang ada. Jadi diri sendiri itu lebih baik. Karena diantara kedua hal itu ada hal yang lebih mengerikan, yaitu sikap dan sifat yang dapat menipu banyak orang. Sikap dan sifat yang dapat berubah secara teratur tergantung tempat dan keadaan. Bahkan diri sendiri tidak dapat mengontrolnya.
Lagi-lagi selamat berproses. Harapan kali ini semoga jadi lebih baik. Ingin menjadi introvert itu ada syarat dan jalannya. Menilai diri introvert atau ekstrovert pun bukan diri sendiri. Tapi mereka. Orang-orang di sekeliling kita yang menjadi saksi bagaimana sikap dan sifat alami dari kita.
Selamat datang di bulan juni. Entah itu bulan untuk hal yang baru atau hal untuk mengenang masa lalu. Katanya gemini punya sifat bergaul yang baik. Tapi nyatanya ada di antara mereka yang kini sedang duduk diam didalam kamar dan berperang dengan pemikiran mereka sendiri. Tenggelam dengan sederet kata yang mungkin mereka bosan untuk mengulangnya. Namun dunia luar belum bisa mereka raih hanya dengan kata sapaan hai yang hingga kini hanya tercoret di lembar kertas tanpa pernah di utarakan.
Aceh. 1 Juni 2020
Kamus Sudah Mati
Willy, seorang pria berbadan besar baru saja tiba di Bandung. Seorang petugas COVID 19 lalu menghadangnya, "Hei Gendut! Dari mana mau ke mana?". "Saya dari Manado Pak, hendak mudik. Dan maaf Pak saya bukan gendut, tapi gemuk!". "Ooh, kalo begitu Kamu pulang kampung bukan mudik! Silakan jalan terus!", jawab petugas tersebut mempersilakan Willy pulang ke rumahnya dengan aman.
Saya suka dengan ungkapan anekdotal, rasanya cukup mewakili dengan apa yang terjadi antara negara dan saya. Negara berdagelan, dan saya hanya menonton tertawa. Kurang cukup dengan virus, rasanya kita harus siap-siap menguburkan sendiri kamus. Sebabnya, tanyakan saja pada politikus.
Dari jagad polemik perbedaan mudik dan pulang kampung ini, setidaknya saya menangkap tiga hal: Pertama, sejauh mana batas sebuah kata dianggap bersinonim dan tak. Dari ungkapan anekdotal tadi mari kita bahas sinonim dari sebuah kata. Willy mengaku gemuk bukan gendut. Padahal keduanya dalam tataran makna itu hampir sama. Verhaar (1981) mendefinisikan bahwa sinonimi sebagai ungkapan (frasa, kata, kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain. Namun yang perlu diingat adalah bahwa kata bersinonim adalah kata yang memiliki informasi yang sama meski tidak harus persis maknanya.
Dalam hal ini mari coba kita mendefinisikan ulang kata gendut dan gemuk. Gendut menurut KBBI V berarti besar dan seakan-akan menggantung. Sedang gemuk berarti besar dan banyak dagingnya. Jika ditinjau dari analisis kuantitatif, kesamaannya terdapat pada informasi 'besar'. Hal ini sebetulnya belum menunjukkan hubungan sinonimi pada kedua kata tersebut. Namun jika kita tempelkan pada thesaurus maka kedua lema ini menjadi sinonimi dalam informasi berat. Artinya kedua kata tadi bersanding informasi pada kaitan berat yang 'besar'.
Dari sana, dapat diartikan bahwa kata gendut dan gemuk hanya bersinonim pada informasi yang menyatakan berat saja. Jika pada informasi perut mungkin gendut akan disamakan dengan kata lain seperti tambun, buncit dsb.
Lalu bagaimana dengan mudik dan pulang kampung? Mari coba kita lihat di KBBI. Mudik berarti verba cakapan yang bermakna pulang ke kampung halaman. Sedang pulang kampung tidak akan ada karena merupakan kata bentukan. Kalau kita tengok kata mudik dalam thesaurus maka yang muncul adalah pulang kampung. Artinya, informasi mudik itu bersinonim dengan pulang kampung karena memiliki informasi yang sama. Ada beberapa unsur dari frasa mudik yang sama dengan klausa kampung halaman. Informasi itu berkenaan dengan perpindahan penduduk ke kampung halaman.
Kemudian kenapa kedua kata bermakna sama ini kemudian dimaknai berbeda? Menurutnya, kata mudik hanya dikhususkan pada lebaran saja dan pekerja saja, sedang pulang kampung bisa kapan saja dan siapa saja. Ada pengkhususan di dalam kaitannya dengan waktu. Perbedaan temporal ini sebenarnya dimungkinkan ketika dibubuhi kata tambahan, dan kamus sudah menyediakan iti. Jika yang ingin dimaksud adalah mudik lebaran, mari kita sama-sama sepakati dengan gabungan kata mudik bersama. KBBI sudah menyediakan itu.
Nah, temuan ini kemudian menyeret saya untuk memasuki bagian kedua. Strategi berbahasa kadang begitu berbahaya. Orwell dalam Nineteen Eighty Four sering menggunakan istilah Newspeak atau doublethink. Setidaknya inilah yang menyeret saya dalam pusaran arus makna mudik dan pulang kampung. Bukan mudik, tapi pulang kampung. Bukan investor, tapi stafsus. Bukan pengangguran, tapi prakerja. Bukan gelandangan, tapi tunawisma. Terdengar akrab bukan?
Doublespeak dalam pemahaman saya berarti dua kata yang disengajakan bertaksa/ berambigu untuk menyembunyikan realitas yang sebenarnya. Mungkin kita sedikit bercontoh, kata 'digeser' menjadi mafhum terdengar untuk kondisi yang sebenarnya 'digusur secara paksa'. Atau 'preman' pada masa Orba dengan 'musuh politik Cendana' sendiri. Kata ini sering kali lalu lalang lintas media dan utamanya dalam informasi yang berkait politik agar pendengar menangkap makna yang sesuai dengan kemauan sang pemberi informasi. Doublespeak dapat mereduksi, mendistorsi makna satu ke dalam makna lainnya, meski memiliki makna yang sinonim atau berlawanan.
Doublespeak ini membuat fakta alternatif. Terma fakta alternatif ini benar-benar merupakan bungkusan baru atas terma ‘pikiran-ganda’ (doublethink) yang terjadi pada orang-orang Oceania—suatu negara fiktif Orwell—di bawah kepemimpinan totaliter sang Big Brother. Di novel tersebut, pikiran-ganda adalah efek yang terjadi saat penguasa berhasil menanamkan ide bahwa ialah yang benar dan selalu benar, sedemikian rupa sehingga saat seseorang dihadapkan pada suatu realitas, maka realitas tersebut bisa dipikirkannya kembali sebagai … ‘realitas alternatif’ (baca: alternatif versi penguasa). Proses berpikir pertama adalah saat perjumpaan dengan realitas, proses kedua terjadi saat hasil pemikiran tersebut otomatis terpikirkan kembali karena ide yang sudah ditanamkan sebelumnya. Tentu saja, proses penanaman ide ini tidak selamanya dengan cara menautkan perbedaan antara mudik dan pulang kampung saja. Tapi strategi-strategi lain agar realitas yang sebenarnya kemudian tergantikan dengan fakta alternatif yang dikehendaki.
Tentu saja doublespeak ini kemudian menyeret kita pada situasi trance/ hipnotik. Kadang kita melupakan realitas yang sebenarnya dan cenderung melihat ke arah fakta alternatif. Tidak terhitung lagi betapa banyaknya korban HOAX yang ada, karena mereka terperangkap pada dimensi makna alternatif ini.
Kemudian apa prasyarat doublespeak ini? Pemberi informasi adalah orang terpercaya atau setidaknya dianggap terpercaya. Coba Anda pikirkan, siapa yang akan Anda amini perkataannya bahwa mudik dan pulang kampung itu berbeda, Apriyudha yang seorang guru biasa atau presiden kita tercinta? Tentunya kita tak perlu menebak siapa juaranya.
Ketiga, dan yang paling utama. Saya menemukan orang-orang anti kritik berkilah dengan mengatakan bahwa kritik harus ada bersamaan dengan solusi. Coba, apakah ada solusi sastra? Yang ada hanya kritik sastra. Kritik tanpa solusi tetap kritik kan? Dan kritik itu sebetulnya vitamin demokrasi. Apa jadinya kritik pisang, kritik sampeu kalau mesti ditambah-tambahi solusi?
So, dahulukan belajar mantiq daripada sembarang tafsir, dahulukan aqli dibanding asal membawa tauhid! Tabik!
Lihat lagi:
Judul diambil dari PP twitter Uda Lanin
Kemendikbud. 2015. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Thesaurus Bahasa Indonesia dalam jaringan. Diakses: http://tesaurus.kemdikbud.go.id/tematis/lema/gendut
Verhaart, J.W. M. 1981. Asas-Asas Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada Press.
Palimpung, Hizkia Yosie. 2017. Trump dan Orwellian. [daring] diakses pada: https://indoprogress.com/2017/02/trump-dan-orwellian/
Banto Royo Pulang kampung 2019 sambil mengexplore tempat wisata diderah Kamang Selain bisa menelusuri jembatan kayu sambil menikmati pemandangan bukit dan airnya, ada jg arena bermain untuk anak, ada kolam renang dan flying fox jg 😊 #pulangkampung #bantoroyo #exploresumbar #keluargaAydin (at Banto Royo) https://www.instagram.com/p/Bz7NfrVgkXe/?igshid=1vv8z0a91bfec
❤ Katanya, sabar itu terletak pada pukulan yang pertama. Sabar ialah yang membekap amarah dan merubahnya menjadi tutur lembut. Yang urung membelalakkan mata namun menyunggingkan senyum. Yang menahan cengkraman tangan lalu menyembunyikannya di balik punggung. Sabar ialah ia yang kecepatan akal sehat dan kelembutan hatinya melebihi kecepatan amarah, mata, tangan, kaki, dan mulut. ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ #sabar #patience #pasarcerme #purwokerto #mudik #pulangkampung #kangenbapak #instapic #instapics #instagood #instaphoto #instapurwokerto #photography #photooftheday #blackandwhite #monochrome #zebracross #street #streetphotography (di Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia)
HAI Jogja dan Kebumen !!!
Liburan akhir tahun kemarin seru banget, thanks to Allah yang udah mengizinkan aku, mba Anni dan Abi untuk menginjakan kaki kembali ke sini, yap Jogja dan Kebumen. Perjalanan ini cukup rame karena bareng sama temen2 abi dari sekolah dan aku sama mba Anni ngikut deh hehe. Karena lokasinya yang gak terlalu jauh dari kampung halaman tercinta, tepatnya Kebumen, Jateng, jadi kita udah merencanakan untuk sekalian kesana, udah lama juga gak kesana :”(
Kita kesana naik kereta. Kereta malam, tapi bunyinya gak “jug ijag ijug ijag ijuk” tuh…wk! Nah, kalau misalnya kalian mau bepergian kemana-mana yang jauh, aku rekomendasikan untuk naik kereta ya, soalnya asik banget liat pemandangannya. Iya gak? Duh, masya Allah deh bagusnya! Aku naik kereta dari stasiun Senen-Lempuyangan. Berangkat pukul 22.30 dan sampai tujuan pukul 07.00. hore!!!
Di sana ada apa?
Banyak…
Pokoknya banyak hikmahnya juga sih, mulai dari beradaptasi sama orang-orang baru, membuka pikiran bahwa bumi Allah kan luas ya, jadi ga ada salahnya kalo kita maen-maen ke tempat-tempat yang belum pernah atau jarang kita singgahi, menyadari kalau kita butuh sekali libur dan piknik! haha dan hal lainnya
Tanggal 28 acara ke Jogja selesai, yang lain siap pulang ke Jakarta, kalo kita siap-siap pulang kampung :D Tau gak sih, untuk turun kereta dengan tujuan terdekat dari rumah mbah, butuh perjuangan, sampe lompat dari kereta! Aduh…serem juga ya, tapi tenang, keretanya lagi berhenti kok…yah, pokoknya ceritanya ada lagi deh kenapa kita sampe begitu haha
Mbah putri, I’m coming! Bahagia gak bisa disembunyikan deh kalo udah ketemu orang tersayang! Seneng banget! Yah…walaupun sedih juga sih liat keadaan rumah yang sekarang sepi banget, banget. Jadi itu rumah lumayan banget luasnya, letaknya di tengah, di depan ada sungai kecil dan pohon lebat, kanan sumur, kiri kebun, belakang tanah kosong. Sepi bangettt!!! Dan mbah tinggal sendiri! Alone! Gak tega! Apa aku pindah kesana aja gitu? Mau aja, tapi...gak semudah itu memang :”(
emptyness emang kerap kali dialami para orangtua di usia senjanya. Sedih…karena keadaan yang memang belum bisa disesuaikan dengan keinginan kita. hanya doa doa dan doa serta usaha yang bisa kita lakukan. Tapi mbah mah kuat, selalu tersenyum, dan nyanyi! Ahaha jangan-jangan suka nyanyi ini adalah hal turun temurun yang mengalir sampe ke kita ya wkwk kapan-kapan bisa dan boleh banget kita rekaman ya! Emang benar adanya, Allah ciptakan kurang di satu sisi, tapi di lain hal, Allah kasih kelebihan ya, semangat dan senyum mbah gak padam, buktinya badannya masih sehat diusia ke 82 nya ini. Ya Alhamdulillahirabbil alamin…
27 Mei 2026
Hari raya idul adha, Shanum sama ibun lebaranan di kampung mbah kakung, Abah ga dapet izin cuti. Pertama kalinya lebaranan ga bareng² . Tahun ini Abah sama Ibun kurban kambing satu ekor di masjid kampung mbah. Besoknya pada jalan jalan ke pantai, Shanum seneng banget kalau ke pantai. Ibun pulang duluan karena harus kerja juga, Shanum pulang bareng bude ajeng minggunya. Anak hebat udah ga nangis nyariin abah ibunnya hehe
Hari ketiga mulai berlebaran di kampung mbah kakung dan uti di kampung sedayu, semaka, tanggamus.
Shanum takut kalau harus ke rumah-rumah mbah yang lain, ngejerit histeris tidak mau salaman mbah mbah saudara yang lain.
Shanum maunya ke laut tapi diajak ke sawah ada sungai, shanum happy sekali. Mancing ikan yang justru akhirnya di serok .