Seperti agenda rutin di liburan Alula sebelumnya, liburan sekolah kali ini pun juga diisi dengan "mudik ke rumah atom". Baru tadi pagi pembagian rapor dan siang ini langsung otw kediri. Alasan utama terdesaknya mudik kali ini adalah:
1. Mumpung PGPQ ku besok libur. Kalau PGPQ ku masuk, aku tak bisa berkutik karena di weekdays les an masuk semua
2. Akhir² ini alula lagi seneng banget bersepeda bareng saudara² nya. Dan jalanan kota yg ramai membuatku tidak tenang membiarkannya main sepeda di jalan
3. Hari Rabu insya Allah aku ikut kongres JQHNU di Jombang. Kalau Alula di rumah, aku akan sedikit rempong apakah aku harus mengajaknya ikut kongres dan menginap di jombang, atau meninggalkannya di rumah.
Yah, meskipun sebenarnya masih ada beberapa hal yg harus kulakukan untuk alula, seperti review soal ujian dan nambah hafalan, tapi biarlah. Aku akan mengambil kesenpatan ini di minggu ketiga liburan. Jadi aku udah janjian sama alula kalau dari 3 minggu liburan sekolah, 2 minggunya dia liburan di atom, 1 minggu nya liburan di surabaya sambil mempersiapkan keperluan kelas 2.
Berhubung dari pagi aku udah rempong sendiri dari mulai ambil rapor jam 7 pagi lalu lanjut ngelesi jam 9 pagi lalu nyiapin makan siang buat abi dan lula sampai memeriksa kembali peralatan yg dibawa mudik, aku sampai tidak merencanakan detail mudikku kali ini. Aku lupa kalau hari ini sabtu yg mana para anak kuliahan ataupun pekerja biasanya pulang kampung. Aku juga lupa bahwa ini musim liburan sekolah sehingga ketika ditawari bapak driver gocar untuk turun di luar terminal dengan dalih "langsung dapat bis dan hemat karena nggak perlu nambah uang parkir" langsung aku iyakan. Selain itu, sekitar sebulan lalu waktu bapak sakit aku juga memang turun di luar terminal dan langsung dapat bis. Aku benar-benar melupakan kenyataan bahwa sabtu ini adalah awal dari liburan panjang. Huh.
Ternyata, ketika sampai di luar terminal, memang ada banyak bus jurusan Kediri/Trenggalek baik bus Bagong maupun Harapan Jaya. Namun, semuanya penuh. Ketika bus harapan jaya yg pertama lewat dan isinya penuh, aku masih oke² aja. Halah nanti yg belakang paling juga kosong. Lalu bus harapan jaya kedua lewat dan penuh lagi, ada pedagang asongan yg bilang "nanti ditinggu aja yg patas via tol / non ekonomi bu, biasanya yg patas tidak penuh". Lhadalah yg patas pun juga penuh ternyata. Lalu pemudik sebelahku yg melihat harapan jaya dari kejauhan lalu bilang "itu mbak jurusan Trenggalek". Ketika kutanya kondekturnya "ada kursi mas?" Dia hanya mengatupkan kedua tangannya di depan dada sambil bilang "penuh bu". Pedagang asongan wanita yg baru keluar dari bis memberiku saran "mending langsung naik dari dalam terminal aja mbak, kalau Sabtu begini semuanya penuh". Aku mendengar banyak suara pengojek yang menawarkan jasa ojeknya bagi penumpang yg mau diantar masuk ke terminal. Tapi sepertinya aku enggan pakai jasa ojek non aplikasi karena tarifnya yg selalu tak masuk akal dan pelayanannya yg kurang maksimal.
Aku hanya merutuk dalam hati pada bapak driver yg tadi mengatakan "mending turun di luar saja karena nggak perlu jalan jauh dan langsung dapat bis dan hemat 5000 karena tidak perlu bayar biaya parkir." Nyatanya aku kini di bawah terik matahari berjalan jauh ke dalam terminal sambil menggandeng anakku, membawa 1 tas besar dan 1 kantong berisi jajanan. Dan aku juga tidak hemat 5000 karena dari tarif gocarku 25.000, aku memberi uang 30.000 dan tidak diberi kembalian. Namun sungguh, ini bukan salah bapak driver. Ini sepenuhnya salahku.
Setelah sampai di dalam terminal, aku mencari plakat bertuliskan kediri. Ya, aku menemukannya di nomor 13. Bis Bagong terlihat berhenti di sana dan bersiap akan jalan. Namun, dalamnya ternyata penuh juga. Aku bertanya pada bapak-bapak yg memakai baju orange bertuliskan PO harapan jaya "pak, kalau naik bis patas jurusan kediri di sini juga nunggunya?"
"Oh disana mbak, nomor 6" jawabnya, sambil menunjuk arah. "Oh, baik pak. Terima kasih". Jawabku. Akhirnya aku naik tangga mencari plakat nomor 6. Dan voila. Ada bis harapan jaya yang masih mencari penumpang. Akupun segera masuk dan ternyata yg tersisa adalah kursi paling belakang. It's okay daripada tidak dapat bis atau daripada panas-panasan nunggu bis yang lain.
Aku lalu menghempaskan punggungku di kursi bis yg cukup empuk. Semilir AC menerpa wajahku yg tadi sudah terbakar terik. Alhamdulillah batinku. Sebelah kanan dan kiriku sudah terisi penumpang. Hanya tersisa satu kursi di depan sebelah kananku namun tidak mungkin ku duduki karena aku membawa anakku. Aku tidak mungkin memangkunya sampai Jombang. Aku menaruh tas besar dan tas berisi jajan di bawah kursi tempat duduk walaupun agak sedikit khawatir jatuh atau diambil orang karena posisiku pas di sebelah pintu bis bagian belakang.
Alhamdulillah aman sampai bis keluar tol dan banyak yg turun di Bra'an Kertosono. Akhirnya karena depan ada 2 kursi yg kosong aku bisa pindah ke depan. Alhamdulillah merasa lebih aman dan lebih privat karena hanya berdua dengan anakku aja. Sedangkan kalau di belakang tadi aku berlima
Itulah cerita mudikku kali ini. Aku yakin, dalam setiap kisah pasti sudah Allah siapkan hikmah dan pelajaran yang dapat diambil baik bagiku maupun bagi alula 🫰