Intern Part 1: A Sample of Indonesian Forest Reality
Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggupun telah tiba. Setelah menunggu hingga lebih dari 2 bulan, instansi tempat saya kerja praktek (KP) memberikan jawaban.
Saya akan melaksanakan KP selama 2 bulan; 8 Juni 2015-31 Juli 2015. Berarti: (1) Hidup tepat di garis khatulistiwa yang gak panas. (2) Biaya hidup di kota tambang yang gak mahal. (3) Gak Puasa dan LEBARAN disini. Mantap.
Saya sudah pernah menjejaki tanah KPC dua kali, tepatnya pada Januari 2014 dan Agustus 2014. Pada dua kesempatan sebelumnya, saya benar-benar “dimanja” oleh KPC. Maklum sih, dulu KPC adalah sponsor kegiatan penelitian bernama “Borneo Undercover” yang waktu itu kulakukan bersama teman-teman Pecinta Alam dan teman-teman satu jurusan Rekayasa Kehutanan ITB, yaitu penelitian ‘Keanekaragaman dan Kelimpahan Rangkong (Burung Enggang) di Taman Nasional Kutai’. Kebetulan Taman Nasional Kutai bersebelahan banget dengan KPC. Saat itu, hampir segalanya difasilitasi KPC, termasuk ongkos pesawat pp, akomodasi, transportasi, dan beberapa kali konsumsi.
Untuk kesempatan ketiga di KPC ini, roda sudah berputar. Bukan saatnya aku menjadi mahasiswa yang dimanja dan terus difasilitasi oleh orang-orang yang bekerja di KPC, sekarang sudah saatnya aku belajar masuk ke dunia kerja sesungguhnya, yaitu sebagai orang yang bekerja di KPC, meski masih berstatus sebagai mahasiswa magang. Maklum juga, sekarang hampir segalanya diurus sendiri, mulai dari ongkos pesawat pp, akomodasi, transportasi, konsumsi, dan lainnya. Saya dituntut hidup mandiri disini, tidak seperti dulu.
KPC (Kaltim Prima Coal) bisa dibilang sebagai perusahaan tambang batubara nomor satu di Indonesia, bahkan mungkin salah satu tambang tertua Indonesia. KPC mulai berizin lahan sejak 1980an dan beroperasi penuh sejak 1990an. Saham KPC saat ini dipegang entitas grup Bakrie. Konon saat ini harga batubara sedang turun drastis, namun perusahaan besar macam KPC masih mampu bertahan, sementara saya sebagai peserta magang merasakan dampaknya, yaitu tidak mendapat fasilitas sama sekali. Konon katanya, dulu peserta magang selalu difasilitasi tempat menginap, transport, dan lain-lain. Ya sudahlah, pengalaman hidup di Sangatta, kota kecil di Kalimantan Timur, tanpa fasilitas dari KPC pasti jadi cerita.
“Mas Dwiki, apakabar!” kata Pak Nugroho, pembimbing KP saya. Dulu beliau adalah karyawan KPC yang mendampingi saya ketika KPC jadi sponsor acara penelitianku di Taman Nasional Kutai. Beliau masih sama seperti dulu; energic, karismatik, dan terlihat penuh pikiran.
“Kok beda yah sekarang.. wajahnya jadi agak putih sekarang.” ujar Pak Nug. Bangga dibilang putih hehe. Sebenernya sih jarang banget ada orang yang bilang aku kaya gini, seringnya sebaliknya.
“Bayangin loh Mas Sarif, dulu anak ini kerjaannya nongkrong di hutan mulu, bahkan ampe 2 minggu, wajahnya pun kusam-kusam, gak putih seperti ini.” begitulah kurang lebih ucapan Pak Nug kepada Mas Sarif, karyawan KPC yang bersama Pak Nug berkonsentrasi di seksi Post-Mining Development.
Subseksi Post-Mining Development alias “pengembangan pascatambang”, itulah bagian dimana saya ditempatkan di KPC. Ya, mungkin saya ditempatkan disitu sehubungan dengan jurusan saya, Forestry Engineering (katanya sih engineer) alias “Rekayasa Kehutanan” yang lulusannya diharapkan berkompeten dalam membangun hutan-hutan di Indonesia, salah satunya pembangunan hutan di lahan kritis, misalnya lahan bekas tambang. FYI, membangun hutan itu gak cuma asal nanem pohon loh. Sekarang selagi KP, mau diujicoba nih bagaimana aplikasi dari Rekayasa Kehutanan (?).
Foto diatas ialah Telaga Batu Arang, site pascatambang KPC tempat aku Kerja Praktek. Telaga Batu Arang (TBA) sendiri memiliki filosofi nama; yaitu Telaga berarti ‘semacam danau’, sementara Batu Arang berarti ‘batubara’. Sebagai tambang batubara, mungkin itulah sebabnya KPC memberi nama pada pit tambang pertama yang ditinggalkannya. Danau ini memiliki kedalaman hingga >30m, maklum lah bekas pit. TBA sebagai lahan bekas tambang ini sudah berusia lebih dari 15 tahun, sebagaimana terlihat di sekeliling danau pada gambar diatas, pepohonannya sudah cukup tinggi. Idealnya, TBA ini bisa jadi percontohan bagi lahan bekas tambang lainnya.
Sebenarnya indah sekali pemandangan dari tempat saya foto seperti yang diatas itu (kalo di foto itu mungkin keliatan biasa aja hehe). Dokumentasi ini membuktikan bahwa lahan bekas tambang dapat disulap menjadi indah ‘mendekati’ ekosistem semula sebelum ditambang, meski harus meninggalkan suatu danau. Namun, danau ini justru dapat dijadikan objek menarik sebagai ‘ciri khas’ lahan pascatambang, asalkan pengelolaan lingkungan pascatambang-nya berjalan dengan baik.
Dapat dilihat dari foto diatas bahwa Sungai Sangatta adalah pembatas alami antara Taman Nasional Kutai (kiri sungai) dan kawasan tambang KPC (kanan). Hutan di kanan sungai adalah hutan alam yang terdapat di TBA. Jadi, TBA bisa dikatakan memiliki 2 formasi hutan, yaitu hutan primer alami (bersentuhan dengan sungai) dan hutan sekunder hasil revegetasi KPC. Berikut ialah hasil telusur hutan alami di TBA.
Gambar diatas ini bisa dikatakan entrance untuk masuk kawasan hutan alam TBA. Bisa dilihat di kedua gambar bahwa saya berdiri diatas suatu punggungan menghadap punggungan seberang, yaitu Taman Nasional Kutai. Sementara sungai yang memisahkan kedua punggungan ini ialah Sungai Sangatta (bisa dilihat ke arah lembahan). Pada gambar kiri, ‘ceritanya’ saya lagi sok candid mencatat setiap jenis tanaman yang ditemukan di kiri-kanan jalur yang ‘baru’ dibuat. Sementara gambar kanan itu ilustrasi navigator yang dampingin saya sedang nurunin punggungan menuju ke sungai, lumayan jauh nih hampir setengah hari, tapi Alhamdulillah tetep puasa.
Gambar diatas ini nih yang ironi, hutan alam TBA idealnya hutan alam yang harus di-conserve, apalagi fungsinya sebagai zona penyangga taman nasional sesungguhnya. Realitanya, sudah ada orang yang lebih dulu ‘berkunjung’, yaitu si penebang ilegal pohon ulin ini. Gambar diatas itu hanyalah salah satu dari sekian banyak bekas log ulin yang ditemukan di hutan alam TBA ini. Kebetulan penelusuran ke hutan alam TBA ini katanya penelusuran pertama kali, belum pernah ada orang KPC yang memantau keadaan hutan ini. Emang sih yang namanya manusia itu butuh duit setidaknya untuk makan. Penebangan liar pun akan manusia lakukan tanpa ada rasa bersalah, tak peduli pemilik lahan hutannya, apalagi akses masuk hutan yang bisa sembarang darimanapun tanpa ada penjaga. Hal menarik buat saya sih, dari sekian banyak penyuluhan tentang berlimpahnya illegal logging di Indonesia, akhirnya saya melihatnya langsung dengan kepala mata sendiri. Niatnya masuk hutan alam untuk menemukan Pohon Ulin yang kuat, besar, dan gagah perkasa, ternyata yang ditemukan hanya ulin sebatang kara; ulin berbentuk tunggul dan sisa-sisa potongannya. Ironi sekali hutan alam yang berada dalam kawasan konsesi tambang (yang penjagaannya ketat), tapi yang namanya hutan tetep aja susah dijaga. Entah bagaimana nasib Ulin-ulin yang ada di Taman Nasional itu sendiri.
Selain illegal logging, ada juga perbuatan manusia demi kebutuhan hidupnya, gambar diatas memperlihatkan pembakaran hutan secara sengaja oleh masyarakat. Gak nyangka juga dapet kesempatan liat pembakaran hutan yang baru berlangsung. Hutan ini pasti dibakar untuk dijadikan ladang perkebunan. Apa warga yang salah? Atau pemerintah yang salah? Sebenernya bingung juga kalo nyalahin masyarakat, dia kan butuh tempat untuk sumber penghasilan. Mungkin salah pemerintah gak ngasih lahan ke masyarakat, tapi bingung juga kalo nyalahin pemerintah.
Dari sekian dokumentasi travel saya di hutan alam, hal ini menggambarkan sampel atau salah satu contoh dari sekian banyak pembakaran hutan dan penebangan illegal di Indonesia. Kalo masyarakat gak cerdas-cerdas, entah sampai kapan tunggu waktu hutan Indonesia abis.
“Jurusan kehutanan baru? ITB? Bukan IPB? Untuk apa orang hutannya sudah mau habis.” kata seorang karyawan KPC. Ya pertanyaan itulah yang justru jadi semacam alasan utama kenapa jurusan Rekayasa Kehutanan ini didirikan oleh ITB. Nah, pertanyaan lanjutnya, bagaimana membangun hutan yang dapat menangani masalah sosial dan ekonomi masyarakat?
Hingga saat ini, selalu ada penyuluhan untuk melibatkan masyarakat sekitar hutan dalam berpartisipasi untuk melestarikan hutan, misalnya dengan tidak merambah ke kawasan konservasi. Memang sih, beberapa praktek pelibatan masyarakat hutan itu sudah dilaksanakan di beberapa tempat. Namun itu hanya beberapa. Realita menunjukkan bahwa masyarakat yang merambah hutan terhitung masih lebih banyak. Lebih lanjut, beberapa teman kerja praktek yang berbeda perusahaan pun bilang bahwa hutan-hutan yang dikelola cenderung gak sustain. Kata salah satu dosen saya, ‘permasalahan fisik kehutanan jauh lebih mudah ditangani daripada masalah sosial’. Ya, mungkin itu ada benarnya.
Diluar masalah hilangnya hutan Indonesia secara perlahan, kita perlu memperbaiki paradigma kita terhadap tambang sebagai salah satu pelaku perusak bentang alam. Memang benar, mustahil untuk mengembalikan ekosistem semula seperti sebelum dilakukan penambangan. Namun menyalahkan tambang bukanlah solusi, kepercayaan bahwa lahan pascatambang dapat direklamasi itulah solusinya, kemauan untuk merehabilitasi lahan bekas tambang juga adalah solusinya, pembuktian dari pihak tambangnya sendiri terhadap pelaksanaan reklamasi adalah bentuk nyatanya. Mungkin beberapa pihak tambang hanya ingin untuk mendapatkan citra yang baik sebagai pertambangan yang bertanggungjawab pada lingkungan, namun justru pencitraan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai jaminan bahwa reklamasi lahan bekas tambang akan dilaksanakan. Selain itu, banyak sekali penyebab perubahan bentang alam ini selain pertambangan, misalnya kelapa sawit, perluasan ladang perkebunan, dan bahkan industri pengelola hutan alam dari kehutanan sendiri yang tidak sustainable.
Menurut saya pribadi, banyak dari kita yang mendukung pelestarian lingkungan, akan tetapi kita hanya mampu diam menyaksikan (secara tidak langsung) hutan Indonesia berkurang. Kepercayaan (believe) dan kemauan (will) adalah 2 langkah awal untuk mewujudkan hutan yang sustain. Percaya bahwa lahan kritis dapat direhabilitasi kembali menjadi hutan yang hijau, dan juga kemauan atau tekad dalam diri untuk menghutankan kembali Indonesia.
Tahu orangutan? Primata terbesar di Indonesia. Tahu burung enggang/rangkong? burung besar, gagah, penuh warna, tapi pemalu. Mungkin orangutan dan burung enggang berkata, “Kami boleh balik lagi ke tempat asal kami?”
Dengan pengalaman hampir 2 bulan di Telaga Batu Arang (TBA), lahan bekas tambang pertama KPC, saya sekali melihat orangutan, bahkan menurut petugas lapangan setempat pernah melihat sekali (cuma sekali) ada burung enggang mampir di TBA. Adapun kucing hutan dan ular kobra, dan paling penting 98 jenis tanaman liar dan 61 jenis burung recorded (kebetulan KPnya identifikasi tumbuhan dan burung). Barangkali ini ada artinya…