Dikopi-tempel dari postingan Facebook Yat Lessie: THE BROKEN MIRROR …. POTRET MAPALA TERKINI UNTUK PARA PEMEGANG OTORITAS DAN KEBIJAKAN #SHAREIFYOUDARE Braaakkk …. !!! Cermin didepan berantakan, menjadi serpihan kecil, masing masing memantulkan gambaran sebagian, yang bukan keseluruhan. Sebuah serpihan di ambil, diteliti dan dianalisa, lalu mulut membuat lingkaran … seraya berbunyi … “ooohhh !!!”, diteruskan dengan gumaman …”ternyata … “. Dengan kata “oooh ternyata”, seolah sebuah kesimpulan yang tervalidasi diambil. Celakanya, jika gambaran serpihan dari cermin retak, lalu dianggap gambaran keseluruhan. Yang dalam kacamata objektif ilmiah sekalipun patut dipertanyakan. Seperti yang diungkap oleh Karl Pribram dari Stanford University, dalam the seven basic premisses about nature of reality, sebagai tanggapannya atas The Holographic Universe, yaitu tepat pada premisnya yg ke 6, berbunyi …. “ makna keseluruhan selalu lebih besar dari penjumlahan bagian” Sosok-sosok dalam cermin adalah MAPALA INDONESIA, yang lalu pecah akibat musibah. Serpihan cermin dikumpulkan, proses dimulai. Lalu kaum akademisi mulai meneliti. Lalu penyandang otoritas mulai memeriksa. Lalu para pengambil kebijakan mulai memperkara. Lalu para ahli membuat kesimpulan akhir, dan semua dimulai dengan “oooh ternyata”. 1. OOOH ternyata , MAPALA adalah hanya …. Gambaran sekelompok muda-mudi. Membuat tenda dipinggiran hutan belantara. Menyalakan api unggun, gitar dan harmonika mengalun, berdendang riang, jauh dari mara bahaya, kecuali wajah riang tanpa duka …. Oooh ternyata itulah Mapala. Kesimpulan ahli : kalau yang beginian mah, kagak usah pake pendidikan dasar, yg cuma buang buang duit sama tenaga, apalagi pake keras segala, bah percuma ….. 2. OOOH ternyata. MAPALA adalah hanya sekedar …. Muda mudi tadi, tak cuma berkemping ria. Karena esoknya mereka mendatangi sebuah desa. Bersama masyarakat membangun saluran air, membangun jembatan sederhana, membangun pustaka desa, seraya mengajari anak-anak yang tak bisa membaca. Kesimpulan ahli : Kalau yang beginian mah cukup membangun simpati, dengan sering nonton TV, lalu ilmunya, bisa tanya dosen dikelas, atau tanya sama embah google, dengan seabreg contoh-contohnya . Pendidikan dasarnya cukup bagaimana cara bikin tenda, masak sendiri, dan pasti ilmu sosial pedesaan ( sosped ). 3. UUUPS ternyata ( sory enggak lagi pake oooh ), MAPALA juga ya yang …. Mendatangi daerah bencana, mengumpulkan dan menyalurkan bantuan. Membantu pihak terkait untuk membuat peta dan analisa mitigasi bencana. Menolong masyarakat pada lokasi yang paling rawan serta sulit dijangkau. Menggali sumur sumur penduduk di Sleman akibat gempa. Melakukan evakuasi korban. Memunguti jenazah penuh belatung , memasukannya kedalam kantung-kantung mayat di Aceh. Kesimpulan ahli : Nah yang beginian perlu ditambah tuh rasa simpati dan empatinya. Nonton TV, sering-sering denger rintihan korban bencana. Pendidikan dasarnya tambah deh sama P3K atau PPGD …. Plus, satu lagi tambah modal RASA KEBERSAMAAN DAN KEBERANIAN. 4. SEBENTAR, ternyata MAPALA juga ya , yang ….. Memasuki jurang 500 meter, saat membantu evakuasi korban Sukhoi di Gn Salak. Menyambungkan tali demi tali agar bisa masuk kedasar lembahan. Yang 2 minggu masuk kedalam hutan tergelap lembah angker Gedogan Triangle di Burangrang, dalam cuaca badai paling kencang, untuk mencari heli N Bell. Oooh, Itu yang satu bulan merangsek belantara gn Sanggara, hanya untuk mencari 3 orang korban Cessna Deraya. Semakin masuk kedalam kegelapan hutan, maka angka ketidak-pastian akan meningkat tajam. Kesimpulan ahli : Nah yang beginian perlu ilmu tentang survival dan SAR darat. … Plus ditambah modal MILITANSI, KESIAPAN RELA BEKORBAN BAGI SESAMA SERTA MODAL NIAT DAN TEKAD. 5. MASA SIH , ternyata kelompok MAPALA juga ya, yang …. Mulai berfikir ada dasar falsafah yang berbeda antara SAR laut-udara dengan SAR darat. Untuk itu perlu dibuat lokakarya SAR DARAT NASIONAL ke 1 di Bandung 2004. Bahwa sebuah tindakan rescue, hanya bisa dianggap signifikan, jika response-time nya cukup cepat. Sehingga SAR darat adalah sebuah tindakan pembinaan terus menerus sepanjang tahun bagi komponen SAR secara lokal di daerah. Kesimpulan : Well …. Yang beginian mah, otak mestinya bukan lagi kaya katak dalam tempurung. Dibutuhkan sikap dan pandangan secara keseluruhan. Musti Think Globally but act Locally. Pendidikan dasarnya kayak apa ya ? …. Karena harus ditambah Plus berikutnya, yaitu sebuah sikap mental yang SELALU SIAP UNTUK SEBUAH PERUBAHAN. 6. YO WEEESS , ternyata kelompok MAPALA juga ya, yang …. Sadar sepenuhnya, bahwa pembinaan karakter, yang seharusnya menjadi beban institusi, ternyata berada dipundak mereka, diwilayah ekstra kurikuler. Intra dan ekstra kurikuler berbanding terbalik, hak dan perhatian bagi mereka kecil, sedang kewajiban sangat sengat besar. 85% energi dan resources untuk hardskills, sedang 15% untuk softskills berupa pembinaan karakter di UKM. Tanpa dibayar, tanpa tanda jasa, tanpa tepuk tangan saat berhasil. Tapi jika terjadi kesalahan, bahkan pribadi harus siap menanggungnya dibalik jeruji besi. Digelandang mirip maling ayam atau pengedar narkoba. Kesimpulan ahli : Entah pendidikan dasar model apa, paling bela negara / kenegarawanan.... Plus dibutuhkan KEGILAAN. Nah, bapa mentri, bapa dirjen, bapa akademisi, bapa rektor, dekan, dosen, para penguasa dunia informatika, para pemilik media elektronika …. Atau siapapun juga. Kami, MAPALA tak lebih hanya, sekelompok muda mudi tukang kemping belaka, karena itulah serpihan cermin ke 1 yang bapak-bapak lihat. Hanya sekedar bagi bagi sembako, ngumpulin baju bekas dan ngumpulin duit kencleng di pinggir jalan, layaknya serpihan cermin ke 2. Hanya faktanya, sosok kami bukan sekedar gambaran serpihan-serpihan kecil dari cermin retak. Ada serpihan lain yang jauh jauh jauh lebih besar lagi. Saat bapak bapak yang terhormat bicara tentang SOP, dan safety procedur . Itu sama sekali tak salah, semuanya benar. Safety first, bukan sekedar omongan tanpa kesan, bukan kalimat klise yang bernilai artifisial. Karena safety procedure tadi, bukan hanya saat PENDIDIKAN DASAR, namun untuk menjamin keberlangsungan hidup mereka pada saat PENGEMBARAAN kelak, ketika manfaat mereka banyak ditunggu oleh masyarakat, oleh negara ini, oleh bangsa ini. Ingat, alam hanya menjajikan hukum ketidak-pastian belaka. Yang bisa kita lakukan hanyalah dengan pendekatan. Alam akan keras, saat kita berlatih dengan cara lembek. Sebaliknya Alam akan menjadi sahabat sejati, jika kita berlatih dengan keras. Mari kita periksa, cermin 1 – 6, berapa banyak hardkills dan softskills ( huruf besar ) yang dibutuhkan ?. Untuk softskills, seperti militansi, lotalitas, kebersamaan, simpati empati, flesksibilitas, komitmen, bahkan “kegilaan”, adakah ruang intra kurikuler yang menjadi sumbernya ?. Adakah dosennya, buku manualnya, kuliahnya, dll. Padahal bukankah sebagian besar energi waktu dan biaya digunakan untuk itu, dimana hasilnya hanya sekedar angka, dalam bentuk IP mahasiswa. Bapak bapak pengambil kebijakan yang terasah Cermin kami retak dan pecah karena musibah … Hujatan mengoyak tumbuh bak kecambah Namun tak hendak kami meratap berkeluh kesah Tapi bila bapak sudah lupa pada gambaran kami sebenarnya, jika sudah buram citra kami sesungguhnya. Tolong satukan pecahan pecahan cermin tadi, lalu gunakan pendekatan keseluruhan ( Holistik ), lihat secara seutuhnya ( sistemik ) dan bagaimana proses tumbuhnya ( organismik ). Sekalipun makna akhir akan berbeda, seperti pada premis ke 6 Karl Pribram , bahwa …. Makna keseluruhan selalu lebih besar dari sekedar penjumlahan bagian . Namun Sang makna esensialis akan selalu sama Bahwa kami, MAPALA INDONESIA adalah anak anak bangsa Yang sadar sepenuhnya Bahwa negara ini butuh ketegasan dan ketegaran Agar bisa melampui tantangan pada jamannya … !!! Yat Lessie #BANDUNGBERSIKAP #PanjangUmurMapalaIndonesia – Read on Path.