ABOUT DREAMS ( 2016 )
You know that some dreams may fade away, but put trust to the Almighty Allah, who always has a better plan for you, well, me also. Try to believe it, time to time.
Di tahun 2016 , saya lulus menjadi Dokter Gigi , lalu mendengar ada info beasiswa LPDP yang dibuka, saat itu , dengan semangat berkobar jiwa anak muda, saya mencoba mendaftar LPDP yang padahal saya hanya memiliki waktu sekitar kurang lebih 1 bulan untuk mempersiapkan semua dokumen.
Dalam waktu yang singkat, saya melakukan riset untuk mencari Universitas dan Program yang suits me and my field. Lagi, karena sedikit in a rush, since untuk mendaftar LPDP dibutuhkan 3 essay ( Sukses Terbesarmu, Study Plan dan Kontribusi untuk Indonesia) yang harus selesai dalam waktu satu bulan, saya belum memahami betul pemilihan Universitas saat itu, saya hanya melihat dari ranking Universitas namun mengesampingkan unggulan program dari Universitas tersebut ( pada saat itu saya terlalu yakin bahwa semua Universitas di Inggris Bagus ) so, I choose UK as the main land of my choice.
Universitas yang saya pilih kurang lebih mempunyai syarat dokumen yang sama dan yang terpenting adalah :
- Transkrip dan Ijazah Berbahasa Inggris
- Scan Paspor yang masih berlaku
- Curriculum Vitae ( saya bikin CV dari formatnya europass lalu tinggal diisi aja dlm bhs inggris)
- Sertifikat Kualifikasi Bahasa Inggris ( yang digunakan mostly IELTS )
- Personal Statement , biasanya maksimal 700 kata, bayangin deh mengungkapkan segala study plan, latar belakang , kontribusi, pernah ngapain, lu pinter ngapain , dll dalam 700 kata, I do a lot of correction at that times dan saran untuk personal statement adalah bikin kerangkanya, dan baca berulang dalam waktu yang berbeda beda, karena otak kita akan selalu punya ide dan perspektif baru dalam waktu berbeda) tapi karena saya tidak suka membuat kerangka, karena engga tau kenapa idenya ga keluar kalo pake kerangka , dan berakhir ga kelar kelar Personal Statementnya , so I let my brain flows on the papers dan baru disusun later )
- Surat Rekomendasi dari 2 Referee bisa dosen atau atasan kamu ( aku sih pilih dosen pembimbing skripsi dan koas yang kebetulan dekat dengan saya, jadi biar lebih oke dalam menguraikan seorang saya dalam kata – kata ;D) Jangan lupa surat ini harus ada KOP Institusinya ya , jadi biar lebih dipercaya dan kamu ga akan dipertanyakan ribet – ribet
- Scan semua sertifikat apapun yang berhubungan sama Akademis dan Kegiatan Sosial juga Skill yang berhubungan dengan program yang kamu apply ( bukan sertifikat kursus MUA ya Ciiin…)
I prepare everything, dari surat SKCK , surat rekomendasi dari Dosen – Dosen tercinta , mengurus Translate Bahasa Inggris semua Ijazah dan Transkrip Nilai. Terima Kasih untuk Mas – mas di warnet yang selalu aku repotkan untuk scan dokumen yang sering banget :D. Namun, The harder part adalah menemui Dosen berkali – kali karena saya meminta banyak surat rekomendasi ( karena saya mendaftar di beberapa Universitas tidak Cuma satu ) dan juga membuat Personal Statement untuk Mendaftar di Universitas yang saya pilih. Saat itu saya mendaftar ke 4 Universitas melalui Portal mereka langsung dan tanpa Perantara Agen. 4 of them are :
- University of Birmingham UoB ( Master of Health Care Policy and Management)
- Queen Mary University of London QMUL ( Master of Global Public Health and Policy )
- University of Aberdeen UoA ( MASTER OF SCIENCE IN GLOBAL HEALTH AND MANAGEMENT )
- University of Sheffield UoS ( Master of Public Health ( Management and Leadership))
Saya mendaftar di UoA dan UoS setelah banyak berbincang dengan senior saya yang sudah diterima LPDP dan sekarang sudah mendapatkan gelar Master dari University of Leeds. She was once accepted in Aberdeen and Sheffield , so she said that application to those University is not quite complicated. FYI, Aberdeen is in Scotland (a part of UK not England) dan it’s the northern part of Europe and its always cold even on sunny days, dan banyak banget Fort macem di Film LOTR atau HP, I am excited to visit !!! But terlebih lagi, After I submit all my application online, I always contact the Program Director by email and giving them insights about my study plan ( ini adalah salah satu cara agar mendapatkan offer atau surat diterima lebih cepat, jadi yang harusnya proses 1 bulan, bisa jadi sudah mendapatkan surat diterma dalam 2-3 minggu kalua memang ga lagi banyak public holidays. ) . Program Director dari 4 universitas tersebut sangat baik dalam merespon email saya. Yang paling kurang adalah UoB ( I don’t know why tapi respon mereka is the slowest bahkan bukan hanya dari lecturer nya tapi juga kantornya , because I also email the office about my offer dan saya baru mendapatkan reply lebih dari 1 minggu, padahal Uni yang lain membalas dalam waktu 2-3 hari dan lebih informatif . The most satisfying one is Sheffield, kenapa ?
Karena bahkan the program director ( Dr. Muhammad I Saddiq ) even show his interest about my future plan, future plan yang bahkan itu bikin dadakan buru buru dan terinspirasi dari keadaan Indonesia saat itu dan beberapa jurnal dan updates. He asked me to do a Skype Call , So I said Yes. We talk for more than 20 minutes. It was a very nice experience. I remember that I just submit my application for one week , and at the end of that Skype Call Mr Saddiq bilang “ I will contact the office myself regarding your application, I will process it as soon as possible. “ and there you go, saya mendapatkan surat diterima dengan secepat kilat. Saya juga mendapatkan invitation untuk Skype Call dari Aberdeen, tapi karena LPDP saya gagal, saya belum menanggapi lagi untuk Aberdeen.
Study Plan yang saya buat bentuknya seperti bagan , yang berisi plan ke depan dan program master yang saya ambil beserta mata kuliahnya dan implementasinya pada plan saya di masa depan. Sederhana saja kok. Study Plan Berbentuk bagan ini saya buat untuk LPDP juga, namun sayangnya saat interview dengan pihak LPDP , Bagan saya tidak begitu diperhatikan karena kebetulan yang mewawancarai saya bukan dari ranah kesehatan. Dan menurut saya kegagalan saya di interview yang menurut saya lancar adalah mungkin itu memang takdir saya mendapat interviewer yang begitulah… di saat Nilai FGD dan nilai Essay On the Spot saya Almost Perfect tapi Nilai Interview kurang. Dan gagal lah di tahap Interview LPDP. Its Sad. I am So Sorry Mr Saddiq I cannot meet you in person until today.
Karena saat itu saya dalam keadaan buru-buru, makan saya tentu belum melakukan tes IELTS sehingga surat diterima saya dari Universitas bersifat Conditional ( maksud dari kondisional adalah saya masih harus melengkapi sertifikat Bahasa inggris dengan nilai standar yang Universitas tersebut tetapkan ). Jadi untuk diterima tanpa syarat saya harus mengikuti Tes IELTS yang notabene mahal ( diatas 1.5 juta ) dan SULIT.
Saat Interview LPDP, saya memiliki email bukti korespondensi dan surat diterima Conditional dari Universitas yang saya apply , tapi saya tidak berani menunjukkan karena interviewer tidak menanyakan kepada saya, gosipnya waktu interview tidak boleh terlihat a b c d e f g sehingga membuat saya terlalu berhati- hati dalam interview sehingga saya tidak menjadi diri saya sendiri. Pertanyaannya, kenapa saya tidak menjadi diri sendiri ?
Menurut saya itu karena saya tidak percaya terhadap diri saya sendiri, tidak yakin bahwa saya bisa, dan itu adalah racun kegagalan yang terbesar. I should not do that, you all should not do that, love yourself first so you wont fail like I did. Dan jangan dengarkan gossip terlalu banyak, jadinya akan takut dalam menjawab. -_-
Menyesal, Tentu ada sedikit penyesalan karena saat interview saya menekan courage atau keberanian saya yang besar, tapi saya hanya bisa berharap bahwa takdir Allah di masa depan akan lebih menyenangkan dan bermanfaat untuk saya.
Untuk apply di LPDP, saya mencantumkan UoB sebagai Uni Pilihan, yang menurut saya juga kurang menguntungkan karena saya belum mendapatkan surat diterima saat interview, I just know the gossip that UoB lama dalam memberikan keputusan diterima atau tidak, well its not a gossip, it’s a fact. Super lama dan lecturernya pun not helping at all, menjadi penyesalan kecil saya tidak mencantumkan Sheffield untuk pendaftaran LPDP saya, Sheffield yang sangat baik hati dalam menerima saya.
Menurut saya pilihan program di Birmingham yang saya pilih juga sedikit kurang tepat ( karena pake ilmu buru-buru lagi) Saya dentist, dari ranah kesehatan, Program yang saya pilih walau ada embel2 nama Health Care nya, dia ada dibawah naungan Faculty of Social Science, salah telak memang, saya ambil UoB untuk di study plan LPDP saya berdasarkan ranking Uni, biaya hidup yang affordable dan menurut saya itu rookie mistake, (kesalahan pemula). Disini saya tekankan, pelajari betul Uni yang akan kamu apply, programnya, mata kuliahnya, tempat tinggalnya , dan banyak detail kecil yang dipertimbangkan, jangan Cuma mikir yang penting Inggris. -_-
Saat itu LPDP 2016 dalam satu tahun mengadakan pendaftaran beasiswa sampai 4 kali, dan saya ikut term terakhir di akhir tahun. Gagal, di saat beberapa teman saya berhasil, sempat membuat saya kecil hati, Even saya bingung harus berkata apa pada dosen saya yang menanyakan “ Dek katanya mau sekolah di Luar, kapan berangkat ?” , malu sih, sempet berfikir apa saya bodoh makannya tidak terpilih sebagai kandidat, tapi positip thinking aja yah Mungkin Rejekinya ke Luar negeri buat Liburan ya… Amin :D
Surat Diterimanya dikemanain kak sekarang ? Jadi kalau diterima di Uni Luar Negeri, kita bisa mengajukan deferral atau penundaan waktu studi, dari yang 2017 menjadi 2018. So I requested it. Surat diterimanya saat ini masih terkumpul dengan baik dalam file saya dan email saya. Useless ya, suratnya. Mungkin useless suratnya, pengalamannya mungkin tidak, saya harap pengalaman saya dapat menginspirasi dan memberi pelajaran kepada Scholarship Hunter, karena menulis cerita keberhasilan akan lebih mudah dibandingkan menorehkan kegagalan dengan penuh percaya diri, Ye kan?
Iyein aja sih…. Ya ?
Kegagalan bukan merupakan akhir, itu yang saya coba pikir terus menerus ketika saya gagal. Sakit, sedih memang, but I had failures more than ah I don’t know, many. But look at me now, saya menjadi seorang Dokter Gigi, Profesi yang banyak orang merasa sulit untuk mendapatkannya karena usaha yang sangat keras harus dikerahkan dalam pendidikannya, but I did it, melalui ribuan kegagalan dan pelajaran yang teramat berharga. Jadi untuk kalian semua yang diluar sana merasa kesusahan gagal dan lain lain, you are not alone, a perfect story is made through sweat , tears and blood ( wow so horror ) -_-
I sometimes feels like bener ga sih jalan di path ini, jadi dokter gigi, klinis atau manajemen, because I like them bout equally.. But Just do the best, nanti Tuhan juga akan tunjukkan Jalan, dan hati kamu yang akan menetapkan kemantapannya dimana. Asal jangan males-malesan aja, if you are so lazy to struggle , even you will not know where to stand , apalagi to run where.










