Cinta adalah apa² yang membawamu menuju Allah. Membuatmu semakin tunduk, menambah kedekatan, kekaguman dan cintamu padaNya, dan meneguhkanmu dalam perjuangan meraih ridhoNya.
-Eff
Malang, 22 Syawal 1443 H
styofa doing anything
No title available

shark vs the universe

blake kathryn
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
No title available

No title available

Janaina Medeiros
almost home

No title available
Claire Keane
sheepfilms
DEAR READER
Lint Roller? I Barely Know Her

⁂

roma★
KIROKAZE
Jules of Nature
Keni

PR's Tumblrdome

seen from Türkiye
seen from United States

seen from Colombia
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Saudi Arabia
seen from Israel
seen from United Kingdom

seen from Türkiye
seen from T1

seen from Spain

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Oman
seen from United States

seen from United States
@efalusi15
Cinta adalah apa² yang membawamu menuju Allah. Membuatmu semakin tunduk, menambah kedekatan, kekaguman dan cintamu padaNya, dan meneguhkanmu dalam perjuangan meraih ridhoNya.
-Eff
Malang, 22 Syawal 1443 H
pasang surut
di usiaku sekarang, aku makin belajar bahwa dalam setiap hubungan pasti punya pasang surutnya masing-masing.
termasuk dalam hubungan pertemanan.
dulu, saat masih sekolah, kita mungkin masih punya waktu dan energi yang begitu besar untuk terus bersama teman kita. bercerita apa saja. berbagi apa saja. merencanakan apa saja. bahkan terkadang, teman kita terasa lebih dekat ketimbang keluarga sendiri.
kemudian semuanya perlahan berubah saat usia kita bertambah dan peran kita masing-masing berubah.
ada banyak momen di mana kita kepengen sekali mengutarakan banyak hal, tetapi mereka sedang sibuk atau kondisinya sedang tidak tepat. alhasil, banyak cerita terkubur begitu saja tidak sempat kita bagi ke teman dekat kita. ada waktu di mana kita sedang terlalu lelah dengan dunia masing-masing, hingga mengesampingkan banyak hal untuk bisa fokus dengan apa yang harus kita selamatkan, yaitu diri kita sendiri. ada masa di mana kita membuat begitu banyak asumsi atas satu sama lain, kata-kata yang tak kita niatkan namun menyakiti, dan juga pesan-pesan yang kita diamkan hingga mendingin.
di saat-saat seperti ini, dunia kita pun semakin berjarak.
terlalu lelah bila harus meminta penjelasan, apalagi mengonfrontasi. kita memilih diam. berharap semuanya akan baik-baik saja nantinya.
pemahaman yang bertambah seiring usia kita yang menua barangkali menjadi sekian penyebab kita tak lagi cenderung mempermasalahkan banyak hal. atau bisa juga karena rasa sayang dan tak mau kehilangan kita yang begitu besar membuat kita memberi banyak pemaafan dalam diam. memilih mengerti tanpa penjelasan. dan mengutamakan prasangka baik di atas berbagai asumsi buruk. mengubur apa yang sudah terlewat.
kita akhirnya kembali bertukar sapa. kembali berbalas pesan. kembali menceritakan hidup masing-masing walaupun hanya sepenggal-sepenggal. bertukar ngakak dan senyum dengan lebih ringan.
tak ada hubungan yang 100% stabil setiap waktu. begitu pun dalam hubungan pertemanan. ada masa kita akan begitu melekat, ada juga masa di mana kita akan begitu berjauhan bergantung dengan pergeseran prioritas kita masing-masing.
seperti hal yang kerap dibilang orang bijak, bahwa semua teman ada masanya dan semua masa ada temannya.
jadi, dinikmati saja.
orang-orang datang dan pergi dalam hidup.
peran-peran akan tergantikan.
tak usah terlalu diambil pusing.
karena semua ini hanya tentang penyeleksian alam dan bagaimana dunia bekerja.
Sebab tak semua yang kita sebut “luka” itu benar-benar menyakiti, terkadang ia hanya cara Allah menggeser hati kita dari yang semula bergantung… menjadi kembali.
Ada perasaan yang tak selesai dengan kata-kata, ada rindu yang tak bisa dipeluk dengan pertemuan, dan ada harap yang harus kita simpan rapi, bukan karena hilang, tapi karena sedang dijaga.
Di situ, kita belajar diam yang berbeda. Bukan diam karena tak punya suara, tapi diam karena sedang percaya… bahwa Allah sedang mengatur sesuatu yang belum kita pahami. Mungkin kita tidak selalu kuat, kadang mengeluh, kadang lelah, kadang bertanya “kenapa harus begini?”
Dan dari semua yang tak biasa ini, Allah sedang mengajarkan satu hal yang jarang kita sadari, bahwa mencintai tak selalu tentang memiliki, dan kehilangan tak selalu berarti ditinggalkan.
Bisa jadi, yang sedang kita jalani hari ini… adalah cara Allah membersihkan hati, agar saat bahagia itu datang nanti, ia tak lagi berisik, tak lagi berlebihan, tapi cukup… dan menenangkan.
Maka jika terasa berat, istirahatlah sejenak, usap air mata itu, lalu lanjutkan lagi…
Karena yang sedang kita kamu ini, bukan tanpa makna, ia sedang membawamu pulang, dengan cara yang hanya Allah yang tahu bagaimana indah akhirnya nanti.
Manusia itu hidup dalam tiga waktu; masa lalu, masa depan dan masa kini.
Pertanyaannya, bagaimana harus bersikap akan tiga waktu tersebut? Sebab salah dalam bersikap, menentukan kadar kualitas hidup manusia.
Misalnya, mereka yang terlalu setia tinggal di masa lalu, akan menghadapi hidup tanpa gairah, karena setiap waktu yang berlalu hanya akan dipenuhi rasa penyesalan—"Kenapa dulu tidak ini? Kenapa aku memilih itu?" Atau juga, mereka yang terlalu 'bergairah' untuk hidup di masa depan, akan terbuai oleh angan yang kadang justru memicu ketakutan yang tak berkesudahan—"Nanti kalau ini gimana? Bisa nggak ya aku nanti?"
Itulah kenapa penting bagi kita dalam berlaku adil dalam menyikapi segala sesuatu. Adil itu mudahnya adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Bagaimana kita menaruh porsi yang menurut kita tepat, berdasarkan pertimbangan matang sebagai bentuk ikhtiar terbaik dalam mensyukuri kehidupan.
Jika diibaratkan, tiga masa itu layaknya kita berkendara dalam mobil. Masa lalu adalah spionnya, masa depan adalah jalan yang kita kihat di depan, dan masa kini adalah tangan kita di atas kemudi. Kita sesekali melihat spion, tapi tidak untuk terus menatapnya. Karena jika terlalu lama menoleh ke belakang, kita kehilangan arah di depan.
Kita juga perlu melihat jauh ke depan, membaca jalan untuk memetakan potensi dan peluang, serta mengantisipasi tikungan. Namun jika terlalu sibuk membayangkan apa yang belum terjadi, kita justru kehilangan kendali atas kendaraan yang sedang kita jalankan.
Maka kuncinya bukan memilih salah satu, tapi menempatkan semuanya secara proporsional. Melihat ke belakang seckupnya, menatap ke depan seperlunya, dan memastikan tangan tetap teguh mengendalikan arah di saat ini. Sebab pada akhirnya, bukan masa lalu yang bisa kita ubah, dan bukan pula masa depan yang bisa kita pastikan, melainkan bagaimana kita mengemudi hari ini, yang akan menentukan kita sampai di mana.
Nikmati setiap peristiwa yang dihadapkan, hargai sebuah pertemuan, dengan sesekali kita bermuhasabah atas apa yang telah kita bekalkan. Semoga Allah meridhoi setiap hajat yang sedsng kita ikhtiarkan. Aamiin ya Robbal 'alamin :)
Kamu tidak akan pernah menyesal selagi yang kau minta adalah benar menuju taat kepadaNya
Kamu tidak akan menyesal, setelah semuanya engkau bermuara pasrah kepadaNya
Kamu tidak akan menyesal karna yang kau pinta ialah petunjuk jalan dariNya
Kamu tidak akan menyesal sedari awal niat itu sudah kau sandarkan kepadaNya
Dan semoga apapun itu benarlah jawaban atas doa doa yang selama ini kau panjatkan
Tutup Pintu
Kalau "ingin dilihat" itu awal mula cinta, aku tidak ingin dilihat kamu. Kalau "ingin melihat" itu awal dari rindu, aku tidak sekalipun ingin melihat kamu. Cinta dan rindu itu hanya milik Yang Layak. Kamu siapa?
Kalau "ingin dipahami" itu awal mula kesepian, maka aku cuma ingin ditemani oleh Allah sebab hanya Dia yang paling paham aku. Kalau "ingin memahami" itu awal dari pengenalan yang baik, maka aku ingin memahami-Nya sebagaimana Dia memperkenalkan diri. Dialah Tuanku, satu-satunya yang layak dilayani.
Kalau "ingin didengar" itu ungkapan dari rasa butuh maka aku hanya butuh Dia. Kalau "ingin mendengar" itu berarti penurunan ego, maka di hadapan Yang Maha Tinggi egoku tak punya arti. Sebab dialah hakimku, satu-satunya yang layak didengar dan dimuliakan.
Sekarang aku cuma ingin dilihat Allah dan melihat-lihat kekuasaan-Nya dalam setiap naik turunnya perjalananku. Sekarang aku cuma ingin namanya menjalar di daun telingaku. Supaya kebijaksanaan-Nya terpahat di batang otakku, kebaikan-Nya hinggap di cabang daya ingatku, dan kasihnya menjadi buah di bibirku.
Supaya terkesan Dia padaku.
Membaca ayat-ayat-Nya adalah sebaik-baik kita melihat. Maka tak ada lagi tempat bagi siapapun yang hendak menghalangi pemandangan itu. Jadi beberapa pintu memang harus ditutup agar kita tidak melihat, tidak dilihat, tidak mendengar, dan tidak didengar oleh orang yang tak perlu tahu kita tetap baik-baik saja tanpanya sebab Allah will take care of us. Karena, seperti yang Nabi Ibrahim katakan pada Azar, "sungguh Tuhanku Baik sekali padaku," sementara tak ada yang baik dari manusia kecuali Allah yang menurunkan baginya kebaikan.
Tersadar makna "iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'iin" bahwa sebelum bilang:
"Ya Allah, lihat aku sekarang, hehe!"
"Ya Allah, dengerin ya aku mau cerita."
"Ya Allah, Engkau ngerti kan isi hatiku?"
Pastiin udah bilang:
"Oh, ini ya maksud Engkau? Kalau gitu, mau-Mu aku gimana? Aku ikut mau-Mu sekarang, perasaanku belakangan."
"Maaf ya sempet salah paham sama Engkau. Janji bakal terus memperbarui pemahaman tentang Engkau."
"Ya Allah, aku sok-sokan banget ya menggurui Engkau harusnya begini begitu. Aku pasti bodoh banget di mata-Mu."
"Pengaturanmu menyelamatkanku, terima kasih Ya Allah."
"Aku melihat langit dan aku temukan kerendahan hati."
"Aku senang deh jadi milik-Mu. Kalau boleh ngulang hidup sekali lagi, aku mau jadi hamba-Mu lagi!"
"Sebuah kehormatan dipilih Engkau menjadi khalifah di bumi."
"Engkau senang dan ridha kah dengan ini? Kalau iya, aku bakal mengulanginya lagi besok dan seterusnya sampai ruhku tiba di sisi-Mu."
"Beneran cuma Engkau yang paling layak atas semua jerih payah ini. Maaf pernah salah menuju. Akan kulakukan yang lebih baik dan memuaskan daripada kepada yang salah tuju kemarin!"
Kini hidup jadi serangkaian kompetisi tentang siapa yang paling mengesankan-Nya. Maka menghambalah dengan versi terbaik diri kita. Untuk mengetahui versi terbaik itu, membaca ayat-ayat Allah dalam diri menjadi wajib (re: mengenali potensi). Pahami bahwa Allah menitipkan sesuatu dalam diri yang cuma kita yang bisa mengolahnya. Pahami keinginan Allah atas diri kita serta sadari Dia memperlakukan kita jauh lebih baik dari siapapun.
Yang Maha Melihat takkan diam saja lihat kita berjerih payah. Barangkali Dia memang sudah siapkan tempat di sisi-Nya atas nama kita, oleh sebab kita cuma ingin dilihat oleh-Nya. Barangkali Dia juga cuma ingin tempat itu diisi oleh kita. Jadi jangan disia-siakan ya, kesempatan itu?
— Giza. Kamu siapa, memangnya?
Menulislah.
Karena tidak semua orang punya tempat untuk pulang, dan tidak semua luka punya suara.
Ada yang berjalan jauh sendirian, membawa banyak hal yang tidak pernah sempat diceritakan.
Maka tulislah. Karena melalui kata-kata, seseorang bisa menemukan apa yang selama ini sulit ia jelaskan.
Kata-kata mungkin tidak menyembuhkan, tapi setidaknya bisa menjadi tempat singgah. bagi hati yang terlalu lelah untuk terus kuat.
Dan kalau pun tidak ada yang membaca, setidaknya tulisan itu pernah ada, sebagai bukti bahwa pernah ada perasaan yang ingin didengarkan.
Menulislah.
Karena mungkin, di luar sana, ada seseorang yang sedang tersesat…
dan diam-diam menemukan jalan pulangnya dari kata-kata yang kau tinggalkan.
caranya Allah
ada yang Allah sayang dengan ujian. Allah mengizinkannya melalui berbagai ujian kehidupan. karena ujian itu, dia sadar bahwa hanya Allah pemilik segalanya. karena ujian itu, dia kembali kepada ketaatan.
ada yang Allah sayang dengan dosa. Allah membiarkannya berbuat dosa begitu banyak, begitu jauh. hingga suatu hari dia terbentur, terjatuh, dan tersungkur. dia menyadari betapa banyak dosanya selama ini. lalu dia bersegera untuk bertaubat.
ada yang Allah sayang dengan penundaan. Allah membiarkannya terus berdoa, memohon, dan meminta. selain karena Allah mengetahui yang terbaik, doa itu menjadi benang yang menghubungkan dia dengan Dia.
ada yang Allah sayang dengan nikmat, rezeki yang berlimpah. karena nikmat itu, dia terus bersyukur. dia berbagi dan menolong banyak orang. dia menjadi orang yang bertakwa.
ada yang Allah sayang dengan ilmu. ilmu itu menjadikannya seseorang yang mulia, seseorang yang bisa berkarya untuk sesama. umurnya panjang. dia berupaya menjadi orang yang bermanfaat.
ada yang Allah sayang dengan saudara. semua orang sangat menyayanginya karena kebaikan hatinya. di mana-mana dia memiliki tempat. karena persaudaraan itu, dia senantiasa mendoakan orang lain.
mungkin ada juga, orang-orang yang kelihatannya disayang oleh Allah. Allah membiarkannya beribadah siang malam. berpuasa, berzakat, berinfak. tapi rupanya, di hatinya ada perasaan "baik". merasa lebih baik dari orang lain. merasa sempurna. dan dengan begitulah gugur pahala dari amalnya.
yakinlah bahwa Allah menjadikan segala hal duniawi sebagai caranya menyayangi kita, memanggil kita. dan janganlah sekali-kali kita merasa lebih baik dari orang lain. apalagi menjadi pengumpat dan pencela. sebab bagi mereka adalah neraka yang apinya membakar sampai ke hati. na'udzubillah. (Al Humazah)
Ditengah dunia yang semakin tidak menentu, rasanya semakin sadar. Bahwa kita hanya punya 2 teman didunia ini: Allah dan teman yang mengingatkanmu pada Allah.
Allah, Dialah yang tak pernah sedetikpun meninggalkan kita, dikala kita sakit, sedih, mengalami silih bergantinya suasana hati dan abstraknya hidup yang semakin hari tiada yg bisa menjamin.
Semakin dewasa, rasanya semakin sederhana pula keinginan² yang ingin dicapai. Keluarga yang bervisi misi syurga, ketenangan hati, kesehatan yg 'afiah, keturunan yg sholih/ah, dan mati yg husnul khatimah.
Akhir² ini banyak Allah perlihatkan hamba yg dia meninggal dalam keadaan terbaiknya ketika Ramadhan, di masjid, after sholat jumat, ada juga yang meninggal ketika melaksanakan sholat teraweh, ada juga yg ketika sujud dan sholat di masjid. MasyaAllah, rasanya hati ini iri sekali 🥺
Lalu terbesit, "sederhana saja yg Allah, aku ingin kembali kepada Engkau dalam keadaan sebaik²nya, dan sebenar²nya iman, dan dalam kondisi sedang mencintaiMu sedalam²nya". 🥺
Rasanya itu hal berharga yang tidak boleh alpha dari liat doa² keseharian kita :')
Tiada yang lebih beruntung daripada dicintai Allah seperti orang² sholih dan hamba² pilihanNya itu. Allahumma inni asaluka husnul khatimah 🤲🥺
Malay | Jum'at, 1 Syawal 1447 H
Rabbighfirli – My Lord, forgive me
Warhamni – Have mercy on me
Wajburni – Cover my shame
Warfa'ni – Raise my rank
Warzuqni – Give me sustenance
Wahdini – Give me guidance
Wa'afini – Make me healthy
Wa'fu'anni – Pardon me
Tiada sesuatupun yang luput dari perencanaan-Nya, semua diukur, ditakar, dan diberikan sesuai porsi yang dibutuhkan hamba-Nya. Semua diberikan ketika hamba-Nya dalam keadaan siap dan tentu dalam keadaan mampu.
Tiada yang tahu pasti hikmah utama yang dimaksudkan-Nya pada tiap peristiwa yang manusia jumpai, namun yang pasti hikmah selalu ada dibalik suatu peristiwa. Syaratnya hanya satu, keyakinan utuh dalam upaya menyingkap tabir hikmah yang seringkali sukar untuk dijumpai.
Tetap menjadi 'yang terindah' pada tiap perjumpaan dan perpisahan atas semua insan, rekan kerja, teman seperjuangan, maupun mereka yang senantiasa hadir dalam keadaan kita baik dan buruknya kita.
Ramadan ke 14. Semoga kita tetap istiqomah hingga akhir perjalanan.
Dan betapa indahnya hati seorang hamba yang selalu bertaut kepada Allah, memupuk keyakinan bahwa setiap ujian adalah menempa sabar, dan nikmat/karunia adalah utk menempa syukur.
Semua bagian dari tangga-tangga menuju ridho-Nya, seperti yg kita pahami, setiap perkara bagi seorang muslim adalah kebaikan. 🌿
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999) 🍃
Malay, 30 Jumadil Awal 1447 H
Lepaskan saja, apa yg perlu dilepaskan. Karena bahagia kita, bukan bergantung pada manusia, atau orang lain tapi terletak pada ridho dan penerimaan atas takdir Allah
Rasanya terlalu singkat hidup kita ini hanya untuk berharap pada ketidakpastian. Sedangkan yg pasti adalah umur kita dan orang² yg kita sayang–cukup singkat, lalu bagaimana memaknainya
Fokuslah menebar cinta pada orang² yg percaya atas dirimu, dan bersyukur atas karunia bahwa kau masih bisa berkumpul dg orang² yg Allah hadirkan dalam hidupmu. Karena waktu bersama mereka itu sungguh berharga,
Kejarlah kebahagiaan haqiqi itu, tanpa melupakan bagian kita didunia. Pikirkan gimana caranya bisa kumpul lagi sm orang² yg kita sayang di syurgaNya kelak :') Allah bilang dalam Al Quran :
/Fahsbir inna wa'dallahi haq/
"Bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah itu benar" (Q.S Ar Rum: 60) 🍁
Malay | 12 Jumadil Awwal 1447 H
Rindu yang Ditertibkan
Ada rindu yang liar, ada pula yang patuh. Yang pertama berlari tanpa arah, yang kedua melangkah dengan doa. Aku sedang belajar menertibkan yang pertama, agar rindu tak lagi jadi alasan untuk salah jalan.
Kemarin mengajarkanku menyesal, hari ini mengajarkanku bertobat, esok menuntutku memutuskan. Setiap masa punya bahasanya sendiri,,, penyesalan menundukkan kepala, taubat membersihkan langkah, dan keputusan menegakkan punggung.
Tempat yang dulu kutinggali kini kutanam di hati,,, adabnya jadi pagar, ilmunya jadi jalan. Dulu aku kira belajar selesai saat keluar gerbang, ternyata justru dimulai di luar pagar itu,,, di dunia yang ramai, di ruang-ruang sunyi, di pertemuan yang menguji niat, dan dalam perpisahan yang mengajarkan ridha.
Aku belajar menyapa perbedaan tanpa menyalakan fitnah; kadang, hormat berarti menahan tangan, dan cukup menyatukan telapak. Tidak semua harus disentuh untuk dirasakan, tidak semua yang kita cintai harus dimiliki. Ada kasih yang justru suci karena dijaga jaraknya.
Semesta ini bertasbih; dan aku pun ingin ikut berputar mengitari kehendak-Nya,,, mengubah rasa menjadi langkah, mengubah rindu menjadi ibadah.
Kini aku tahu, rindu yang benar bukan yang memaksa datang, tapi yang berani menunggu dengan sabar, memperbaiki diri agar pantas kembali. Rindu kubiarkan patuh,,, bukan mengejar yang kabur, melainkan memperbaiki yang salah,,, menulis maaf, lalu berani pulang.
“Rinduku baru benar saat ia tahu batas, dan niatku baru jernih saat ia berbuah langkah pulang.”
Begitulah caraku belajar mencintai dengan tertib,,, membiarkan rindu berdzikir, bukan berkeluh kesah. Sebab yang benar² ingin pulang, tak akan berlari pada manusia, tapi menuju Tuhan yang mengajarkan arti rindu itu sendiri.
Ada kisah yg memang sebaiknya tetap singkat, spt ceritamu ttg kota ini, Jakarta. Tapi, jejaknya masih teringat jelas di otakku, bahkan di hatiku. Banyak semoga yg terlangitkan atas namamu tapi mungkin, kisah singkat itu memberiku banyak pelajaran, tentang ke-tertautan hati, kontrol perasaan, kesabaran dan pada akhirnya keberpasrahan :')
Keindahan itu justu akan tetap indah bila ia tersembunyi, dan kata²mu yg masih ku ingat sampai sekarang "jangan sampai perasaan ini habis sebelum waktunya" pun jg sama, "jangan sampai keindahan kita masing² akan terasa hampa sebab sudah dinikmati sebelum waktunya".
Semua yg belum waktunya, akan menjadi hal yg mencederai, dan menodai niat baik itu. Bersyukurnya Allah tak membiarkan kita terlalu jauh dan lama berada dalam "kubangan kesia-siaan" itu. Allah menegur dg cara yg indah, supaya kembali pada cahaya petunjuk-Nya.
Semua hanya tentang menunggu bergulirnya waktu, sambil merajut sabar dan prasangka baik juga usaha dan doa2 terbaik. Yakin kita pasti sampai pada takdir terbaik-Nya dan semua sudah tertata se-epic mungkin di lauhul mahfudz-Nya.
Jakarta | Senin, 22 September 2025 | 22 Rabiul Awal 1447 H
Bila Takdir Menyayangimu Lewat Cara yang Tak Kamu Pahami
Tak semua kehilangan itu benar-benar kehilangan. Dan tak semua yang ditunda adalah penolakan. Kadang, yang tenggelam bukan untuk dihancurkan — tapi untuk diselamatkan dari arah yang salah. Allah menenggelamkan kapal bukan karena ingin melihatmu terombang-ambing.
Tapi karena Dia tahu: Kapal itu, jika berlayar terlalu jauh, akan membawamu ke pelabuhan yang justru mencelakakanmu. Maka Dia tenggelamkan — bukan untuk menyakitimu, tapi agar kau kembali memeluk daratan-Nya.
Kadang, cara Allah melindungimu adalah dengan mematahkan keinginanmu. Kadang, cara-Nya menyelamatkanmu adalah dengan memisahkanmu dari sesuatu yang terus kamu perjuangkan.
Bahkan ketika kamu merasa, "Aku sudah cukup berdoa, sudah cukup baik, kenapa tetap tidak diberikan?" Maka jawabannya adalah: Karena Allah mencintaimu — dengan cinta yang tahu persis kapan waktu terbaik untuk memberi. Dan kadang… cinta itu datang dalam bentuk penolakan.
Semua yang Allah tetapkan — meski menyakitkan — tetaplah yang terbaik. Karena pilihan Allah untukmu, selalu lebih tahu, selalu lebih tepat, selalu lebih menyelamatkan, dibandingkan semua pilihanmu sendiri.
Selamat bercerita dengan doa, gapapa, semua akan baik-baik saja
@jndmmsyhd
Sabar itu tidak didapat dari zona nyaman,
Tapi ia dipahat dari keadaan yg sulit,
Dirajut dari ekspektasi yang patah,
Atau mungkin penantian yang panjang,
Juga lewat proses yang berat nan menguras energi,
Serta jiwa yang gigih dan berpasrah
Sabar, selalu menjanjikan manis, meski harus merasakan pahit dan terluka.
Dan Allah menjanjikan kabar baik bagi orang² yang sabar.
"Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar"
Fashbir Shobron Jamiila
"Bersabarlah kamu dengan kesabaran yang indah"
Meski kita sebagai musafir dunia ini, tidak tau kapan tiba waktu yang tepat itu datang. Tapi, yakinlah bahwa kita pasti sampai pada takdir.
Tak perna terlalu cepat, apalagi terlambat, hanya butuh rumus kesabaran, ikhtiar, dan tawakkal.
Sudut Kamar | Malay, 16 Rabiul Awal 1447 H