âBukannya cinta tidak berhak merubah dunia seseorang ya?â
â

Love Begins
Three Goblin Art
Today's Document
One Nice Bug Per Day
Noah Kahan

titsay
untitled
Cosmic Funnies

Kaledo Art
Misplaced Lens Cap
Fai_Ryy
đŞź
Claire Keane
No title available
art blog(derogatory)

No title available
Lint Roller? I Barely Know Her
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
noise dept.
I'd rather be in outer space đ¸
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from France

seen from Malaysia
seen from TĂźrkiye

seen from Bosnia & Herzegovina
seen from Ukraine

seen from Saudi Arabia

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
@efekkiranti
âBukannya cinta tidak berhak merubah dunia seseorang ya?â
â
Terkadang kita tidak bisa mengambil hanya sebagian dari sesuatu yang sudah menjadi satu paket.
Rasanya sungguh melelahkan. Bahkan untuk perasaan yang terlalu luas ini. Kadang tumbuh seperti ruangan tanpa jendela; penuh, pengap, dan membuat napas memantul kembali ke tubuh sendiri.
Note to self
Memilihmu.
Menjalani hidup adalah tentang membuat pilihan-pilihan, tentang jalan yang akan menuntun pada suatu tujuan. Dalam setiap keputusan yang diambil, menciptakan pengalaman, nuansa, dan kenangan yang berbeda. Aku pun tentu bisa membuat banyak pilihan tapi ada satu hal yang selalu membuatku yakin: aku akan selalu memilihmu.
Ini bukan hanya soal perasaan atau romantisme, tetapi lebih pada keyakinan bahwa kamu adalah orang yang selalu aku nantikan tiap kedatangannya, langkah kakimu seolah berjalan dengan penuh kasih. "When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it." begitu menurut Coelho, dan aku meyakininya. Aku akan memilihmu, sampai seluruh alam semesta sudi menyetujuinya.
Kamu adalah sesuatu yang mutlak bagiku. Setiap orang punya hari yang baik dan buruk, dan kamu selalu punya cara untuk menghadapi semuanya dengan kepala tegak. Layaknya seorang nahkoda, ia terkadang melihat laut begitu tenang, tapi di lain waktu, badai bisa muncul tanpa peringatan. Kamu memainkan peran tersebut dengan handal, selalu tau bagaimana menghadapi ombak dan badai yang kian menerpa, mengulur deru ombak dengan ketenangan yang luar biasa.
Dalam skenario hidup, terkadang kita membayangkan berada dalam situasi yang berbeda, bahkan berada di dunia yang berbeda. Mungkin, di kehidupan lain, kita akan menjadi orang yang sama sekali berbeda, dengan pengalaman dan latar belakang yang tidak kita miliki saat ini. Namun, dalam tiap versi dari dunia tersebut, aku percaya, kita akan tetap menemukan jalan untuk bertemu. Tidak peduli seberapa banyak realitas alternatif yang ada, aku yakin, kita akan tetap berakhir bersama, mungkin sebagai teman, pasangan, atau bahkan sekadar orang asing yang saling memalingkan pandang di halte bus.
Memilih seseorang untuk berbagi hidup adalah salah satu keputusan paling penting. Bukan soal mencari kebahagiaan, tetapi juga tentang menemukan seseorang yang bisa diajak bekerja sama, saling mendukung, dan terus tumbuh bersama. Dalam perjalanannya, ada banyak hal yang akan kita hadapiâtantangan, kesulitan, dan perubahan. Tapi yang membuatku yakin adalah bahwa bersamamu, semua itu terasa lebih ringan, lebih mudah untuk menuangkan segala rasa dan asa, tempat terbaik untuk berbagi cerita, dan seseorang yang aku tau selalu ada untuk mendukungku, bahkan di saat-saat sulit.
Kadang, kita mungkin tergoda untuk berpikir tentang "bagaimana jika" atau "seandainya". Tapi yang paling penting adalah apa yang kita miliki saat ini dan bagaimana kita menghargai dan merawat apa yang sudah kita pupuk. Terasa sangat beruntung, aku bisa mengenalmu dan berbagi segala getir kehidupan denganmu. Ingin rasanya berlari denganmu selamanya, menikmati buih ombak yang menyerbu pasir-pasir putih.
Pada akhirnya, yang paling berarti bukanlah secerca kata-kata manis atau seonggok daging besar bernama janji, tetapi tindakan sederhana yang menunjukkan betapa kita peduli satu sama lain. Ketika aku mengatakan bahwa aku akan selalu memilihmu, itu bukan hanya tentang perasaan yang mendalam, tetapi juga tentang kepercayaan dan komitmen untuk terus tumbuh bersama. Jujur dan tanpa bersandiwara.
Dalam setiap kehidupan, di seratus dunia yang berbeda, di setiap versi realitas yang ada, aku akan selalu memilihmu, berulang kali, entah berapapun pengulangannya, aku memilihmu. Tidak peduli di mana atau kapan kita berada, aku tahu bahwa memilihmu adalah keputusan terbaik yang bisa aku buat. Kamu adalah bagian besar dari hal yang membuat hidup ini terasa jauh lebih hidup. Aku memilihmu.
Dan,
Semua itulah hal yang tak pernah kamu tau. Takdir memaksa kita untuk berpisah di persimpangan itu. Jalan yang kita lalui berbeda, dan sialnya semua hal ini tersimpan rapi dalam hati, tanpa pernah terucap. Semuanya sudah berakhir, memilihmu hanya jadi asa yang tak berharap, semesta berbicara tanpa suara, menyimpan harap bahwa di suatu dunia lain, kita berdua mungkin bisa kembali bersama. Biarlah itu semua menjadi hal lain, tetapi di dunia ini, aku berharap kamu bahagia, dengan siapa pun, kapan pun, dan di mana pun.
Tulisan ini, yang seharusnya menjadi ungkapan terima kasihku padamu, kini menjadi surat yang mungkin tidak akan pernah sampai. Mungkin suatu saat, di kehidupan lain, di dunia yang berbeda, aku akan punya kesempatan untuk mengatakan ini semua padamu secara langsung. Meski begitu, yang jelas aku tau, dalam setiap versi realitas, aku akan selalu memilihmu, berulang kali.
Harusnya aku memang lebih sadar diri, bahwa tidak semua perasaan perlu dipaksakan untuk dimiliki. Bahwa tidak semua yang ada dalam angan, benar-benar perlu menetap dalam kenyataan.
Dan mungkin, inilah jenis kehilangan yang paling sunyiâbukan karena ia menyakitkan, melainkan karena ia tak pernah benar-benar pergi.
Maaf yang tidak kukirim
Hai.
Kadang aku kepikiran kamu cuma lewat hal kecil. Engga yang besar-kecil, atau yang dramatis. Engga juga yang tiba-tiba bikin sesak. Cuma lewat depan komplek rumah kamu, lewat instastory kamu, atau tempat-tempat yang dulu pernah kita jadiin wishlist liburan, banyak deh.
Sebenarnya aku malu. Malu kalau harus mengakui jika aku dulu selalu nemu jalan buat pulang. Pulang ke kamu. Rasanya selalu ada momen di mana kita duduk lagi, ngobrol lagi, ketawa lagi, ke museum lagi, jajan lagi, seolah-olah engga pernah ada apa-apa di antaranya.
Kayanya aku dulu nganggep itu hal biasa. Kayak yaudah, memang gitu aja polanya. Aku pergi kalau lagi engga yakin, aku balik kalau lagi kangen. Dan kamu... selalu ada. Selalu nunggu di depan pintu. Kadang, kalau kamu ternyata udah nutup pintunya, aku malah gedor-gedor, maksa buat masuk lagi. Tapi ya gitu, nanti aku pergi lagi. Maaf ya.
Waktu kita kuliah, Setiabudi-Cimahi itu rasanya deket banget. Bahkan Buahbatu-Cimahi pun rasanya engga sejauh itu kalau yang dituju itu kamu. Tinggal cari alasan sedikit buat ketemu. Kadang alasannya engga penting juga. Tugas gambar Peta Afrika yang sebenarnya bisa aja aku kerjain sendiri. Tapi tetep aja kita cari celah buat duduk bareng lagi.
Dan mungkin dari situ semuanya mulai terasa normal lagi. Terlalu normal malah. Sampai aku lupa, harusnya ada yang dibicarakan. Harusnya aku jujur dulu sebelum masuk lagi terlalu dalam.
Mungkin aku tau. Kalau kamu cape di posisi itu. Aku rasanya egois ya, cuma fokus sama rasaku sendiri. Fokus sama bingungku sendiri. Fokus sama perasaan kangen yang selalu datang setiap kali aku merasa kehilangan kamu, padahal yang pergi duluan hampir selalu aku, dan memang selalu aku.
Aneh ya, aneh. Aku selalu punya keberanian buat pergi, buat engga memilih kamu, tapi selalu engga siap juga lihat kamu benar-benar menjauh.
Setiap kali kita deket lagi, rasanya kayak dapet kesempatan baru. Kayak dikasih ulang sesuatu yang seharusnya mungkin sudah selesai. Aku anggap itu rezeki. Aku anggap itu bukti kalau kita memang engga bisa jauh. Padahal bisa jadi itu cuma karena kamu terlalu baik buat bener-bener nutup pintu.
Aku dulu merasa punya banyak waktu. Punya banyak kesempatan buat salah, buat balik lagi, buat memperbaiki nanti kalau memang perlu. Rasanya hidup masih panjang banget. Rasanya umur masih bisa ditawar.
Sekarang aku baru sadar, yang panjang itu bukan waktunya. Tapi polanya.
Pergi. Balik. Pergi lagi.
Dan setiap kali aku balik, aku selalu berharap kamu masih versi yang sama. Versi yang sabar. Versi yang ngerti. Versi yang tetap mau nerima aku tanpa banyak tanya.
Aku engga pernah benar-benar mikir, kamu mungkin juga berubah. Kamu mungkin juga lelah. Kamu mungkin juga capek jadi orang yang selalu ditinggal tapi tetap harus terlihat kuat.
Dan makin ke sini, aku mulai ngerti... mungkin aku engga berhak merasa kalau aku yang terluka di cerita ini.
Sekarang kalau kupikir-pikir, mungkin yang berubah bukan cuma keadaan. Tapi aku.
Umur kita sekarang sudah engga bisa lagi dibilang muda banget. Engga bisa lagi untuk aku santai mikir, "yaudah nanti juga bisa diperbaiki." Karena ternyata engga semua hal bisa diputar ulang. Engga semua orang akan terus ada cuma karena dulu mereka pernah ada berkali-kali.
Kadang aku berandai-andai. Kalau dulu aku engga aneh-aneh. Engga pergi-balik, pergi-balik. Engga merasa selalu punya waktu buat main-main sama keputusan. Mungkin sekarang ceritanya beda. Mungkin kita sudah ada di rumah yang sama. Bangun pagi dengan rutinitas yang sama. Main sama anak kecil yang kita besarkan bersama. Hal-hal sederhana yang dulu engga pernah kepikiran serius, sekarang justru terasa seperti sesuatu yang mungkin saja bisa terjadi.... kalau aku engga terus mengulang pola yang sama.
Dulu aku merasa dewasa itu soal bisa memilih. Sekarang aku tau dewasa juga soal berani bertanggung jawab sama pilihan yang sudah kita buat.
Aku sering menyalahkan keadaan. Menyalahkan waktu. Menyalahkan dia. Tapi makin lama aku sadar, di cerita kamu, mungkin aku juga pernah jadi orang yang bikin kamu mempertanyakan diri sendiri. Bikin kamu ngerasa kurang. Bikin kamu nunggu tanpa kepastian.
Dan itu yang paling berat buat aku terima. Karena lebih mudah jadi korban daripada mengakui kita juga pernah jadi penyebab.
Penyesalanku sekarang bukan cuma soal aku salah pilih atau salah balik. Tapi soal betapa seringnya aku menganggap kamu akan selalu ada. Seolah-olah kesabaranmu itu hak, bukan pilihan.
Dan soal satu hal lagi yang mungkin engga pernah aku akui dengan jujur. Aku sebenarnya tau kamu lagi di fase hidup yang mana.
Aku masih sering lihat instastory kamu. Twitter kamu. Kadang pakai akun lain. Kadang cuma buat memastikan kamu baik-baik saja. Kadang cuma buat tau kamu lagi dekat sama siapa. Aku tau kapan kamu unblock aku. Aku tau kapan kamu aktif. Aku tau lebih banyak dari yang seharusnya aku tau.
Dan itu memalukan juga.
Karena di satu sisi aku bilang sudah belajar. Sudah dewasa. Tapi di sisi lain aku masih diam-diam ingin tau hidup kamu berjalan ke arah mana tanpa aku. Bahkan sialnya aku masih berharap, di titik yang mana kita akan bertemu lagi.
Mungkin itu sisa kebiasaan. Mungkin itu ego yang belum sepenuhnya selesai. Atau mungkin itu cuma cara bodohku memastikan bahwa kamu benar-benar sudah bahagia.
Kalau memang sekarang kamu lebih tenang tanpa aku, mungkin itu jawaban yang paling jujur.
Dan untuk pertama kalinya, aku engga ingin buka paksa pintu itu lagi.
Maaf ya. Maaf. Bukan cuma karena aku sering pergi. Bukan cuma karena aku bikin kamu nunggu. Tapi karena aku selalu merasa punya akses ke kamu kapan pun aku mau, tanpa benar-benar mikir kamu juga punya batas.
Dan, rasanya sekarang aku justru jadi pengecut. Dulu kalau aku mau, aku bisa langsung chat kamu. Follow Instagram kamu lagi. Kirim email. Bahkan cari alasan paling receh buat sekadar bilang, âeh, hai!â Rasanya engga ada jarak yang engga bisa kutembus kalau aku benar-benar mau.
Sekarang? Malu. Malu karena aku tau aku yang mengulang pola itu. Malu karena aku tau aku alasan kamu lelah. Malu karena mungkin untuk pertama kalinya, aku sadar engga semua akses harus dipakai cuma karena kita masih bisa.
Dan mungkin ini hukuman yang paling adil buatku.
Bukan karena aku engga bisa menghubungi kamu. Tapi karena aku tau aku bisa⌠dan aku memilih untuk engga.
Walaupun ya⌠sedikit harapan itu masih ada. Kecil banget. Tipis. Harapan yang bahkan aku sendiri tau mungkin mustahil. Mungkin karena lebih tau diri. Engga apa-apa kan kalau manusia masih punya sedikit ruang buat berharap? walau cuma sepersekian detik sebelum kemudian aku sadar diri lagi.
Tapi tenang, aku sudah lebih waras sekarang.
Aku cuma berharap, di antara semua cerita yang kita ulang berkali-kali itu, kamu engga sepenuhnya menganggap aku sebagai kesalahan.
Oh iya, selamat atas penyelesaian studi program magister kamu. Selamat. Beneran. Aku tau kamu pasti bisa dari awal. Kamu memang selalu serius kalau sudah soal itu. Aku bisa bayangin kamu keluar ruangan sidang dengan wajah lega tapi tetap sok tenang, seolah-olah tadi engga deg-deg-an.
Aku engga kirim ucapan langsung. Engga chat. Engga kirim email. Engga apa-apa. Cuma lihat dari instastorymu, kamu senyum begitu lebar, lalu menularkan senyum itu ke aku. Bangga sih. Walaupun mungkin aku engga lagi punya hak buat bilang itu.
Terakhir, doain aku juga ya. Aku sekarang lagi jalan di fase yang sama juga. Lagi berusaha menyelesaikan apa yang sudah kupilih. Bedanya mungkin cuma satu, kali ini aku benar-benar ingin menyelesaikannya tanpa lari ke mana-mana.
Ternyata kita engga lagi satu cerita, tapi tetap ada di bab yang mirip.
Semoga setelah ini hidupmu makin tenang. Dan semoga aku juga bisa sampai di titik selesai versiku sendiri.
Tapi paling sering, kamu kembali dengan cara yang paling menyakitkan. Kamu datang di hari-hari saat aku merasa sudah kuatâtepat ketika aku pikir aku sudah baik-baik saja.
â Friedrich Nietzsche, in an entry from January of 1882 under the heading Sanctus Januarius.
Have a very Nietzsche New Year's!!!
Sisa Doa
Setiap malam, doaku selalu berhenti di tempat yang sama. Bukan karena aku lupa lanjutannya, tapi karena ada jeda kecil yang entah sejak kapan muncul sendiri.
Aku sering berpikir, mungkin semua orang punya jeda semacam ini. Ruang sunyi yang tidak tertulis, tapi terasa. Tempat di mana pikiran tiba-tiba melambat, dan hati diam-diam menyebut sesuatu yang tidak berani diucapkan keras-keras.
Di jeda itulah aku biasanya terdiam. Menatap langit-langit kamar, atau cahaya redup dari lampu yang hampir kupadamkan. Dan tanpa benar-benar memutuskan, aku tahu: ada satu nama yang selalu menunggu di sana.
Belum kusebut. Belum kutulis. Tapi titik-titik itu seolah sudah mengenalnya.
Akhirnya aku selalu mengalah. Di antara rasa ragu dan kebiasaan, aku memilih yang paling mudah: mengisi titik-titik itu dengan namamu.
Tidak pernah setengah. Tidak pernah disingkat. Aku menuliskannya pelan-pelan, seolah takut salah eja. Lengkap. Utuh. Seperti dulu aku berusaha mengenalmu. Di kepalaku, namamu tidak datang sendirian. Ia membawa warna. Banyak. Kadang terlalu ramai untuk ukuran sebuah doa yang seharusnya khusyuk.
Aku menghiasnya sebisaku. Tidak rapi, tapi niat. Seperti anak kecil yang menggambar sesuatu yang ia sayang tanpa tahu aturan estetika. Ada bunga-bunga yang tumbuh di sekitar namamu, meski aku tidak tahu apakah kamu pernah benar-benar menyukainya. Ada kupu-kupu kecil yang terbang tanpa arah, hanya karena aku ingin sesuatu bergerak, sesuatu hidup.
Mungkin doaku jadi aneh. Terlalu personal. Terlalu penuh bayangan. Tapi aku membiarkannya. Karena untuk waktu yang lama, menyebut namamu di ujung doa terasa seperti cara paling aman untuk tidak kehilanganmu sepenuhnya.
Aku tidak sedang meminta apa-apa. Pun tidak memohon agar kamu kembali. Tidak berharap keajaiban. Aku hanya menuliskan namamu di sana, seperti menaruh benda rapuh di sudut meja; tidak dipamerkan, tapi juga tidak disembunyikan.
Setiap kali doa itu selesai, aku selalu berpikir hal yang sama: setidaknya malam ini, namamu masih punya tempat.
Aku pernah mencoba mengingat wajahmu secara utuh. Duduk diam, memejamkan mata, berharap ingatan itu masih rapi tersimpan. Tapi yang datang tidak lengkap. Seperti foto lama yang warnanya mulai pudar di beberapa sudut.
Yang paling jelas hanya mata dan gigi spasimu. Cara pandangmu yang dulu terasa tenang, seolah-olah dunia tidak sedang terburu-buru ke mana-mana. Selebihnya kabur. Garis wajahmu bercampur dengan cahaya, dengan jarak, dengan waktu yang terus berjalan tanpa menoleh.
Aku sempat merasa bersalah karena itu. Bagaimana bisa seseorang yang pernah begitu dekat perlahan kehilangan bentuk? Tapi lalu aku sadar, ingatan memang tidak bekerja untuk menyimpan segalanya.
Aku mencoba membayangkan ulang senyummu, tapi hasilnya canggung. Kalau ternyata gambarku jelek, maaf. Bukan karena aku tidak peduli, tapi karena aku sudah terlalu lama belajar melepaskan detail-detail kecil tanpa sadar.
Mungkin ini tanda. Bahwa aku tidak lagi hidup di hari-hari ketika wajahmu masih utuh di kepalaku. Bahwa jarak bukan cuma soal tidak bertemu, tapi tentang bagaimana seseorang perlahan berubah menjadi kesan, bukan kehadiran.
Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kita benar-benar bertemu. Tanggalnya menguap. Tempatnya menyatu dengan ingatan lain. Semua detail faktual itu hilang begitu saja.
Tapi rasanya masih tinggal. Perasaan setelahnya. Cara dadaku terasa penuh saat pulang, lalu perlahan kosong dalam perjalanan pulang berikutnya. Seperti membawa sesuatu yang tidak terlihat, tapi beratnya terasa sampai ke tulang.
Lucunya, aku lebih ingat suasana daripada kejadian. Nada suaramu. Diam yang tidak canggung. Tawa kecil yang muncul di sela-sela kalimat biasa. Semua itu tidak tercatat di kalender, tapi entah kenapa melekat lebih lama dari tanggal dan jam.
Sejak itu, banyak hal berjalan seperti biasa. Hari-hari tetap berganti. Aku tetap bangun, tetap berangkat kerja, tetap pulang. Tapi ada bagian kecil dalam diriku yang terus menunggu tanpa tahu apa yang ditunggu. Bukan kamu secara utuh, hanya rasa yang pernah ada saat semuanya terasa tepat.
Lalu, di ujung doa-doa itu, aku mulai menyelipkan kata maaf. Bukan dengan nada besar, bukan juga dengan upacara khusus. Hanya kalimat kecil yang kuucapkan sambil menghela napas panjang, seperti sesuatu yang seharusnya sudah lama ada di sana.
Aku mencoba memaafkanmu, selalu. Bukan karena semuanya jelas, tapi justru karena banyak yang tidak pernah benar-benar dijelaskan. Ada hal-hal yang dibiarkan menggantung, dan aku lelah terus menariknya ke bawah agar terlihat masuk akal.
Awalnya aku marah. Marah karena ditinggalkan tanpa penutup. Marah karena harus menebak-nebak sendiri apa yang salah, apa yang kurang, dan kapan semuanya mulai berubah. Tapi marah ternyata melelahkan, terlalu menyita terlalu banyak ruang di kepalaku, bahkan saat aku ingin tidur.
Maka aku memilih cara yang lebih sunyi: memaafkan. Tidak selalu berhasil. Kadang doaku terhenti di tengah, kadang suaraku bergetar. Tapi aku ulangi terus, seperti kebiasaan yang dipelajari perlahan. Memaafkanmu, lalu, dengan suara yang lebih pelan, memaafkan diriku sendiri.
Karena mungkin ada bagianku juga. Hal-hal yang tidak sempat kuucapkan. Keberanian yang datang terlambat. Atau harapan yang kubiarkan tumbuh tanpa pernah kutanya arahnya.
Ada hari-hari di mana aku merasa hatiku tidak benar-benar patah. Ia tidak jatuh dengan suara keras. Tidak retak sekali lalu selesai. Hancur pelan-pelan, seperti sesuatu yang diremas terlalu lama sampai akhirnya kehilangan bentuknya sendiri.
Aku baru menyadarinya ketika semuanya sudah berantakan. Saat hal-hal kecil terasa berat. Saat aku lelah tanpa tahu sebabnya. Saat aku diam terlalu lama di tempat-tempat yang seharusnya hanya persinggahan.
Hari ini, aku mencoba merakitnya lagi. Tidak dengan rencana yang rapi. Tidak dengan janji akan kembali seperti semula. Aku hanya mengumpulkan potongan-potongan yang masih bisa kupegang, lalu menyusunnya seadanya.
Hasilnya tidak indah. Kalau diamati terlalu dekat, sambungannya keliatan. Ada bagian yang tidak pas, ada sudut yang tajam, ada celah kecil yang tidak bisa kututup apa pun. Bentuknya agak aneh, bahkan untuk ukuran hatiku sendiri.
Tapi, utuh. Dan untuk saat ini, itu cukup.
Aku tidak lagi memaksa hatiku menjadi seperti sebelum kamu datang. Aku membiarkannya menjadi sesuatu yang baru, meski bentuknya tidak sempurna, meski lahir dari kehilangan.
Eh, namun, apakah aku pernah singgah di doamu juga?
Bukan sebagai permintaan besar. Bukan sebagai nama yang harus selalu disebut. Mungkin hanya sebagai jeda kecil di ujung doa. Sebagai titik-titik yang sempat kau isi, meski hanya sesekali.
Aku tidak lagi mencari jawabannya. Tidak ada rasa penasaran yang harus dipuaskan, tidak ada luka yang perlu dibuka kembali. Pertanyaan itu ada, lalu berlalu, seperti pikiran lain yang akhirnya dibiarkan pergi.
Kalaupun jawabannya tidak pernah, aku baik-baik saja. Aku sudah belajar bahwa tidak semua kehadiran harus saling membekas dengan cara yang sama.
Malam ini, aku menutup doa tanpa menyebut namamu. Dan anehnya, aku tidak merasa kurang.
Jika suatu hari kita kembali bertemu, semoga itu dalam keadaan yang lebih selesai. Dan jika tidak, semoga jarak ini cukup adil bagi kita berdua.
Aku mematikan lampu. Doa selesai.
*ditulis berdasarkan interpretasi lagu ada titik-titik di ujung doa - sal priadi
Sunyi
Ada hari-hari ketika kesepian itu rasanya benar-benar menyebalkan.
Bukan karena aku butuh seseorang untuk mencintai, atau ingin drama romantis seperti di film-film itu.
Aku cuma⌠ingin ada seseorang yang bertanya, âKamu sudah makan?â atau seutas pesan konyol renyah yang dikirim jam sebelas malam.
Handphone-ku sepi.
Bukan sepi yang puitis memang, tapi sepi yang bikin aku merasa seperti dunia ini kayanya bisa deh bergerak tanpa kehadiranku.
Grup chat ramai, timeline berisik, tapi layar personal chat-ku kosong seperti lembar kerja baru yang tidak tahu harus mulai dari mana.
Katanya kedewasaan itu tentang nyaman sendiri. Tapi untuk malam-malam tertentu, jujur saja, aku ingin seseorang mengacak ritme hidupku yang terlalu teratur.
Tidak butuh percakapan berat, tidak butuh pengakuan cintaâcukup ada yang bilang, âAku di sini,â meski cuma lewat sebuah pesan daring.
Kadang aku tertawa sendiri mengingat betapa garingnya hidup ketika sunyi jadi satu-satunya rutinitas. Dan rasanya bukan patah hatiâhanya semacam ruang di dada yang terlalu luas untuk kuisi sendirian.
Ternyata sepi bisa jadi teman yang sangat setia, tapi tetap saja aku tidak pernah dan tidak ingin benar-benar akrab dengannya.
Aku hanya terbiasa pura-pura nyaman, pura-pura mandiri sepenuhnya, padahal di antara tumpukan kesibukan dan rutinitas ini, selalu ada satu ruang kecil yang menunggu disentuh seseorang.
Bukan rindu pada sosok tertentu. Lebih seperti rindu pada kemungkinanârindu pada suara notifikasi yang tiba-tiba muncul, pada pesan sederhana yang bilang,
âHei, kamu masih di sana?â.
Kadang aku membayangkan ada seseorang di suatu tempat, yang mungkin sekarang juga sedang menatap layar kosong, bertanya-tanya kapan ia akan menemukan seseorang untuk berbagi hal-hal sepele, seperti cerita tentang hujan sore ini atau kopi yang terlalu pahit.
Seseorang yang juga merasa sedikit aneh karena hatinya punya terlalu banyak ruang yang belum terisi.
Aku tidak meminta banyak.
Bukan tentang hubungan besar atau janji manisâcukup ada yang hadir pelan, seperti embun yang tidak perlu diumumkan tapi selalu tiba di pagi hari.
Cukup seseorang yang, entah bagaimana, tahu cara membuat kesunyian ini terdengar lebih manusiawi. Dan mungkin, kalau semesta sedang baik hati, aku dan dia akan saling menemukan.
Bukan dengan gegas, bukan dengan riuhâtapi dengan langkah kecil yang tenang, seperti dua orang yang akhirnya sadar bahwa mereka tidak lagi harus berjalan sendirian selamanya.
Memang pada akhirnya aku harus belajar berdamai dengan hening. Belajar bahwa tidak semua kekosongan harus segera diisi, dan tidak semua kehampaan harus dianggap kekurangan.
Kadang kesepian juga punya cara lembutnya sendiri untuk menjaga kita tetap utuhâbahkan ketika rasanya menyebalkan dan sunyi menggema sampai dada.
Aku akan tetap bangun besok, meminum kopi seperti biasa, membuka ponsel yang mungkin masih sepi.
Dan tidak apa-apa.
Kesendirian ini bukan tanda kekalahan; ini hanya fase di mana aku sedang menyiapkan ruang untuk sesuatu yang belum datang.
Karena jauh di dalam hati, aku percaya ada seseorang di luar sanaâyang mungkin juga sedang menunggu tanpa tahu untuk siapa.
Seseorang yang nanti akan duduk di seberang meja, tanpa banyak kata, tapi kehadirannya cukup membuat dunia terasa tidak sebanyak ini.
Aku tidak terburu-buru.
Kalau nanti semesta berbaik hati dan mempertemukan kami, aku akan tersenyum dan bilang,
âAkhirnya. Aku pernah sangat sunyi, tapi aku menunggu dengan baik.â
Dan kalau ternyata belum saatnya datang, ya tidak apa-apa juga.
Karena malam seperti ini mengajarkanku satu hal penting: bahwa bahkan dalam kesepian paling hening sekalipun, aku masih bertahan.
Masih hidup.
Masih berharapâmeski pelan.
Tapi jatuh cinta punya efek samping: aku mulai ingin dipilih, ingin dia melihatmu. Aku jadi lebih sering aktif di Instagram Story, berharap dia melihatnya. Kadang aku menunggu lama hanya untuk memastikan apakah dia sudah lihat. Sekali waktu, dia memberi reaksi emoji pada Story-ku, dan akuâtentu sajaâmenjerit.
"Aku mencintaimu dengan amat sangat, oleh sebab itu aku melepaskanmu."
Dulu saya pikir kalimat itu adalah hal paling rancu yang saya pernah dengar. Kenisbian yang mendekati keniscayaan. Namun ketika saya dihadapkan pada situai yang entah bagaimana ceritanya, saya harus melepaskan seseorang yang saya sangat cintai, kata-kata itu menjadi panembrama paling masuk akal di kepala saya.
Ternyata benar,
Hanya karena sama-sama cinta, bukan berarti kalian akan berakhir bersama. Dan hanya karena sudah tidak bisa bersama, bukan berarti rasanya sudah tidak ada. Pada akhirnya, kalimat itu mengejawantah menjadi sesuatu yang sampai sekarang saya percaya.
Semakin kamu sayang sama seseorang, semakin kamu harus sanggup melepaskannya.
Selesai
Hai.
Aku nggak tahu kenapa masih menulis tentang kamu. Katanya aku sudah selesai, sudah benar-benar melepaskan, tapi entah kenapa, setiap kali malam datang terlalu sunyi, namamu muncul lagi â pelan, seolah cuma ingin memastikan kalau aku belum benar-benar lupa.
Padahal aku nggak lagi menunggu. Jujur. Aku cuma masih belajar menerima bahwa beberapa orang memang cuma datang untuk menumbuhkan, bukan untuk tinggal.
Kadang aku berpikir, barangkali yang sulit bukan melupakan kamu, tapi menerima kenyataan bahwa sekarang kamu hidup di dunia yang nggak ada aku di dalamnya. Dunia di mana aku bukan lagi bagian dari percakapanmu, bukan lagi alasanmu tertawa, bukan lagi tempatmu bersandar kalau lagi capek, bukan lagi apa-apa.
Dan kadang anehnya, aku udah nggak sedih. Hanya⌠hening. Seperti lagu yang tiba-tiba berhenti di tengah lirik favoritmu.
Aku masih sering teringat hal-hal kecil yang bahkan mungkin sudah kamu lupakan. Cara kamu menegurku kalau aku lupa makan, memarahiku ketika aku lama membalas pesanmu atau kebiasaanmu yang membaca keras-keras balasan whatsapp. Hal-hal remeh yang dulu terlihat biasa, tapi sekarang jadi sisa-sisa yang menolak hilang.
Beberapa hari lalu, tanpa sengaja aku melihat fotomu.
Kamu sedang duduk berhadapan dengan seseorang di sebuah tempat makanâaku nggak tahu siapa dia. Pacar barumu, mungkin? Atau cuma teman? Entahlah. Tapi yang aku tahu, bahagiamu masih sama. Dan itu cukup buat dadaku terasa âdegâ, seperti ada sesuatu yang tiba-tiba runtuh tapi sunyi.
Aku diam lama setelah itu. Bukan karena marah, bukan juga karena iri. Hanya semacam kesadaran pelan bahwa kamu benar-benar telah sampai di bab baru yang tidak ada aku di dalamnya.
Dan aku? Masih di sini, di halaman lama yang belum sempat kututup.
Sejak hari itu, aku nggak lagi berusaha mencari kabarmu.
Aku berhenti membuka kotak kenangan, berhenti menebak-nebak apakah kamu masih sesekali mengingatku. Mungkin tidak, dan mungkin memang seharusnya begitu.
Aku mulai paham, ternyata kehilangan itu nggak selalu datang dalam bentuk kepergian yang tiba-tiba. Kadang ia datang perlahan, lewat hal-hal kecil: nama yang mulai jarang disebut, pesan yang berhenti dibalas, peringatan yang mulai memudar atau rasa yang pelan-pelan kehilangan tujuannya.
Dan sebelum sadar, semuanya sudah berubah.
Sekarang, kamu bukan lagi bagian dari rutinitasku.
Aku nggak lagi mencari wajahmu di keramaian, nggak lagi menunggu pesan tengah malam, nggak lagi menulis panjang lebar dengan harapan kamu membaca diam-diam.
Kamu sudah hidup di tempat lain, dengan cerita lain, dan aku mulai belajar menerima bahwa kebahagiaanmu bukan harus bersamaku.
Aneh ya, bagaimana seseorang bisa begitu berarti lalu perlahan menjadi asing.
Setelah sekian lama menolak, aku akhirnya mengerti.
Barangkali memang begini cara semesta bekerja: beberapa pertemuan hanya ditulis untuk mengajarkan, bukan untuk dimiliki selamanya.
Dan mungkin, kehilanganmu bukan hukumanâmelainkan cara halus agar aku belajar mencintai diriku sendiri lagi.
Dulu, aku terlalu sibuk memastikan kamu bahagia, sampai lupa menanyakan apa aku juga bahagia.
Aku menunggu, berharap, menulis, tapi lupa berhenti untuk sekadar bernapas. Sekarang, setelah semuanya reda, aku mulai bisa mendengar lagi, mendengar suara hati yang dulu tenggelam di antara semua usaha untuk tidak kehilanganmu.
Lucunya, semakin kupikir, semakin aku sadar: aku tidak benar-benar kehilanganmu. Aku hanya kehilangan versi diriku yang terlalu sibuk menunggumu.
Dan entah kenapa, itu terasa seperti kelegaan kecil yang sudah lama kutunggu.
Aku nggak lagi ingin tahu kamu sedang di mana, dengan siapa, atau sedang tertawa pada lelucon siapa.
Yang aku tahu, untuk pertama kalinya, aku bisa tenangâtanpa harus melibatkanmu di dalamnya.
Sekarang, aku sudah nggak tahu lagi harus menulis apa tentang kamu.
Mungkin karena semua yang ingin kukatakan sudah habis, atau mungkin karena hati ini akhirnya benar-benar ikhlas.
Aku sudah berhenti menunggu balasan, berhenti berharap ada sesuatu yang bisa diulang. Yang tersisa kini cuma rasa syukurâkarena pernah ada kamu di masa hidupku yang paling jujur.
Kalau nanti, entah kapan, kita bertemu lagi di suatu tempat, aku harap kamu masih tersenyum dengan cara yang sama.
Aku nggak akan menanyakan kabar, nggak akan mengungkit masa lalu. Aku cuma akan menatapmu sebentar, lalu melangkah pergi dengan tenang, seperti seseorang yang akhirnya selesai menulis cerita panjang tanpa perlu menambahkan apa-apa lagi.
Terima kasih sudah pernah hadir, meski sebentar.
Terima kasih sudah membuatku merasa dicintai, walau akhirnya harus belajar kehilangan dari tanganmu sendiri.
Dan maaf, karena dulu aku terlalu sibuk menunggu, sampai lupa bahwa setiap pertemuan juga punya waktunya untuk selesai.
Sekarang, aku baik-baik saja.
Bukan karena sudah lupa, tapi karena akhirnya aku menerima bahwa beberapa orang memang ditulis hanya untuk lewatâbukan untuk menetap.
Dan kamu⌠adalah salah satunya.