purapura percaya ajalah, biar yang boong seneng 😁
One Nice Bug Per Day
occasionally subtle

★
Sade Olutola

ellievsbear
Misplaced Lens Cap
Keni
RMH

#extradirty
Cosmic Funnies
YOU ARE THE REASON
sheepfilms
DEAR READER
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Jules of Nature
TVSTRANGERTHINGS

if i look back, i am lost
todays bird

Janaina Medeiros

shark vs the universe
seen from Italy

seen from Germany
seen from Taiwan
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Slovakia

seen from Germany
seen from United States

seen from Brazil
seen from United States
seen from France

seen from United States

seen from Hong Kong SAR China

seen from United States
seen from United States
seen from Germany
seen from Malaysia
seen from United States
@ekayuliannn
purapura percaya ajalah, biar yang boong seneng 😁
Dan ketika kamu memilih seorang partner kehidupan, kamu sedang memilih banyak hal, termasuk partner parenting sama seseorang yang bakal influencing anak deeply, teman makan lebih dari 20 ribu makanan kamu, teman travel buat lebih dari 100 tujuan kamu, teman liburan utama dan pensiun kamu, career therapist kamu, sampe seseorang yang bakal kamu denger lebih dari 18000 kali sehari
Ternyata, se-intense itu . . .
.....
Seseorang yg ketika aku ngeluh "boleh capek ga sih?" Terus dijawab "Aku sangat suka kamu yg ambisius mengejar cita-cita. Udah aku temenin masa jadi nyerah?"
Bersambung....
Desire
Hal yang paling abstrak. Bisa juga disebut kecenderungan. Mungkin memang benar adanya "cinta yang bisa dibangun, bisa tumbuh" yang mungkin, ada sedikit kecenderungan disana, ada "desire" nya.
Kalau tidak ada, atau belum ada, bagaimana? You know yourself. Kalau dirasa tidak bisa, dan memang sesuatu yang dipaksa itu melelahkan, ya tidak usah. Cintai ia karna kamu ingin.
14 Maret 2022
“Hujan memanggilmu pulang, kekasih, ke dalam banyak hal yang dapat kukenang. Pada basahnya, kutemukan perpisahan yang enggan kukabulkan, yang selalu mengintai dan muncul kala kita saling mendiamkan.”
—
Kebetulan hujan mulai turun beberapa hari ini.
Semakin seringnya turun hujan, rindu mendadak egois seiring sikap dia yang semakin dingin.
“Hujan memanggilmu pulang, kekasih, ke dalam banyak hal yang dapat kukenang. Pada basahnya, kutemukan perpisahan yang enggan kukabulkan, yang selalu mengintai dan muncul kala kita saling mendiamkan.”
—
Kebetulan hujan mulai turun beberapa hari ini.
Satu-satu
Kalau kata doc Jiemi, dinikmati hari Minggunya, gak usah mikir besok Senin. Jangan duluan stress karena akan menghabiskan tenaga buat besok.
Terkadang yang membuat semua rasanya berat adalah karena kita suka gak sadar memikirkan banyak hal secara bersamaan. Ini ntar gimana, itu ntar gimana. Jadi mbundet. Gak ketemu mana awalnya mana ujungnya. Udah ruwet duluan lihatnya. Bikin gak semangat buat beresin.
Padahal untuk merapikannya, kita 'tinggal' tarik satu benang lebih dulu lalu urai satu-satu. Mengurai benang kusut kurang lebih sama dengan mengurai beban pikiran. Pikirkan dan mulai selesaikan satu-satu dari hal terdekat yang bisa dilakukan lebih dulu. Jangan langsung loncat-loncat pikirannya.
Ah. Ngomong emang paling gampang. Betul, Milea. Makanya ini saya nulis sambil ngomong sama diri sendiri dulu. Sambil mengurai yang harus dilakukan di kepala. Sambil panik dikit. Tetep. Yah anggap aja usaha. Jadi, mau usaha bareng gak?
Mengagumi Lewat Tulisan
Dulu pernah ada yang bercerita soal menunggu cintanya dari bait-bait tulisan, tidak berani untuk menyapa secara langsung atau menghubungi lewat sarana canggih yang sudah bertebaran. Cintanya unik, dia tidak meminta untuk lebih, meskipun tidak ada jaminan takdir akan mempertemukan di akhir cerita.
Menunggu tulisan yang terbit dari halaman sosial media, terasa cukup baginya, sembari mendoakan kebaikan-kebaikan untuknya. Tidak sakit saat tidak terbalasnya rasa, dan tidak terbang saat tulisannya terasa seperti untuknya. Ada, cara mencintai yang unik dan terjaga, saya pun ikut tersenyum-senyum saat menyimak ceritanya. Indah.
Begitulah indahnya takdir Allah, pada akhirnya ia dipertemukan dengan sang penulis, mengaruhi lautan pernikahan yang dulu sempat ia bayangkan. Ada rasa kaget juga senang, tapi skenario Allah itu tidak akan tertebak, selalu menjadi rahasia, dan pada akhirnya kita semua akan memainkan doa-doa terbaik untuk masa depan.
Langkanya hari ini, saat banyak dari mereka yang bertemu lewat sosial media, mengagumi lalu mengungkapkannya, berbuah pada hubungan yang berkelanjutan tapi tanpa ada kepastian, tarik ulur sebuah hubungan layaknya layang-layang dan bayangan. Semua bisa memilih alur ceritanya sendiri, sebagaimana nanti kita akan dimintai pertanggung jawaban masing-masing dari cara hidup kita.
Memperbaiki jalan cerita itu dimulai dari memperbaiki hubungan dengan sang pencipta.
@jndmmsyhd
Aku boleh menuliskanmu dalam tulisan sendu atau pun rindu. Aku yakin kamu tidak akan keberatan. Sebab kamu pun tidak akan tahu siapa yang aku tuliskan. Kamu pun boleh menuliskan tentangku, aku juga tidak akan keberatan. Sebab aku tak tahu persis tentang siapa yang kamu tuliskan, aku hanya menerkanya, menebak-nebak.
Aku boleh mendoakanmu di atas sajadahku. Aku yakin kamu tidak akan menolak. Sebab kamu pun tidak tahu kan? Kamu pun boleh mendoakanku dalam setiap rengkuh bada shalatmu, aku tidak pernah keberatan. Sebab aku pun tidak pernah tahu siapa kamu kan?
El Isbat
Ketaktahuan
Aku menginginkanmu walau taktahu akan seperti apa. Aku menginginkanmu sebab membohongi kata hati sendiri lebih teruk daripada mematahkannya. Aku menginginkanmu bagai begitu saja.
Tetapi, keinginanku bukan satu-satunya. Jika banyak orang takmengapa melepaskan cinta saat menjadi sebuah keharusan, apalagi sebuah keinginan. Ia tidak punya daya untuk mengikatmu. Keinginanku yang semula lantang, bisa semakin sayup-sayup karena khawatir hanya akan menjadi beban. Lantas berhenti saat itu juga ketika terasa semakin tidak pantas.
Entahlah, mungkin benar, berubah jadi batu cadas yang keras, takterbawa arus air dan tegun di tempat yang sama takpeduli pada apa, tetap bukan jawaban. Bagaimana pun, mengikuti kata hati bisa membawamu ke tempat baru yang takterduga; melegakan, tiada penyesalan.
Aku takmerasa ini sudah berakhir, walau untuk kembali memulainya, aku taktahu harus bagaimana dan dari mana. Apa ini berarti pada akhirnya cinta yang kamu maksud tak menuntun kita kemana pun?
19.
Haru Biru Syawal
Terkadang kita tidak mengerti bagaimana jalan takdir itu bekerja. Yang kita tahu hanyalah; kemanapun kaki kita melangkah, ketika kita ditakdirkan untuk menetap pada suatu rumah, maka kita akan tiba di sana. Sebanyak apapun kerikil yang menyandung kedua kaki, tidak akan ada yang mampu menghalangi kita untuk sampai ke rumah itu.
Akan penulis ceritakan sedikit kisah, ini tentang seorang teman akhwat yang esok hari akan menggenapkan separuh agamanya. Kisahnya bermula sejak 2012 lalu, ketika itu ia masih bekerja di salah satu perusahaan BUMN terbesar. Dia bertemu dengannya pertama kali di sana.
2012 lamaran itu datang kepadanya, Qadarullah takdir belum berpihak kepada mereka. Merekapun menjalani hidup sendiri-sendiri. Ikhwan itu dengan kesibukannya, pun akhwat itu dengan kesibukannya, mereka berjalan pada lintasan edar mereka masing-masing.
Hingga tiba di tahun 2018, bulan syawal. Lamaran itu datang lagi kepada sang akhwat, dari ikhwan yang sama. Senang bercampur bahagia, haru biru hati menyelimuti bulan syawalnya. Qadarullah, lamaran itu kembali tertolak tersebab restu orang tua akhwat. Tahun itu pula menjadi titik awal perubahan drastis sang akhwat, berbenah memantaskan diri di hadapan Allah, memperbaiki kesalahan dan khilaf masa lalunya yang ia bilang "tidak sebaik orang lain". Sementara sang ikhwan adalah seorang yang lurus agamanya, baik akhlaknya, bahkan digandrungi banyak perempuan tetapi semua dilepehkannya begitu saja. Ia terjaga dengan sangat baik.
Di tahun 2019, bulan syawal tahun ke-2. Laraman sang ikhwan datang lagi kepada sang akhwat. Lagi-lagi Qadarullah jalan takdir belum berpihak pada mereka. Lagi dan lagi restu orang tua akhwat menjadi tameng penghalang menggenapnya 2 hati. Tetapi? Apa sang ikhwan menyerah? Tentu tidak. Ia sungguh gigih, sangat gigih dalam memperjuangkan bahtera yang sedari 2012 lalu ia mantapkan dalam hatinya. Ia bertahan dalam penantian dan doa terbaik, dalam upaya-upaya yang ia bisikkan ke bumi dan mengudara ke atas langit sana. Do'a yang mengetuk satu per satu pintu langit, dan mendarat sempurna ke dalam pelukanNya.
Tahun kembali berganti, 2020 bulan syawal tahun ke-3. Di temaram bulan syawal, haru biru kisah perjalanan hati itu bersambut baik. "Ini adalah kali terakhir aku akan mengusahakan menggenap bersamamu, ketika yang hadir adalah penolakan maka dengan ikhlas aku akan melepaskan dirimu" pesan itu masuk di nomor sang akhwat, pesan pertama setelah penolakan di syawal tahun ke-2. Sang ikhwan datang kembali, membawa bekal kesungguhan yang ia perjuangkan 3 syawal berturut-turut.
Sungguh, hati manusia berada di dalam jari-jemari Allah. Bagaimanapun manusia bersikeras menolak jalan takdir, jikalah Allah telah menuliskan demikian maka akan demikian. Bukankah pena telah diangkat dan tinta telah mengering? Apa yang tertulis di Lauh Mahfudz akan datang kepadamu satu per satu. Ditunggu atau tidak ditunggu, diupayakan atau tidak diupayakan. Tetapi sebaik-baik manusia adalah yang senantiasa menyandarkan ikhtiar dan tawakkalnya dalam satu garis edar bersama do'a-do'a terbaik yang dilesatkan dengan panah terbaik menuju ars Allah.
Syawal tahun ke-3, lamaran itu bersambut baik, ikhwan itu diterima dengan baik. Hati orang tua akhwat dibolakkan menerima kesungguhan sang ikhwan. Haru biru syawal tahun ke-3 menjadi begitu manis, semanis teh yang disuguhkan dengan gula yang cukup. Air mata tidak mampu keduanya bendung, sunggu jalan takdir Allah begitu manis. Walau terkadang begitu berat di awal pada akhirnya kita akan paham jika dibalik semua hambatan-hambatan itu, Allah hanya ingin menjadikan kita lebih kuat dan lebih baik sebelum dipertemukan dan diperjalankan pada garis takdir yang lain. Allahu Robbi :''')
بارك الله لكما و بارك عليكما و جمع بينكما في خير
Atas segala sesuatu yang kamu yakini ada kebaikan padanya, perjuangkanlah. Kau tahu, Allah itu Maha Pemalu, Dia sungguh tidak akan memulangkan tangan seorang hamba yang terangkat mengemis kepadaNya dalam keadaan kosong. Pun tidak akan menyia-nyiakan serangkaian ikhtiar yang dilakukan seorang hamba.
Maka adakah nikmat Allah yang patut didustakan?
Dan.. benar kan? Bahwa; selalu ada kebaikan dalam kata tunda, selalu ada kejutan dalam kata tunggu. Selamat menanti sederet kejutan manis dariNya.
26 Syawal 1441H. Kutulis ini dengan air mata haru. Haru biru syawal telah membawakan segenggam berita baik yang menjadi ibroh berharga bagi penulis. Syukron yaa Robbi, Syukron.
Seandainya jalanmu takmudah, kekuatan dan keyakinanmu yang akan ditambah, semakin bertambah. Allah hadir untuk setiap keinginanmu. Jika tidak sekarang, nanti. Jika tidak nanti, pasti akan diganti.
Selamat. Semoga selalu bersama ridho-Nya.
BAPAK
Bapak adalah laki-laki paling khawatir saat anak perempuannya jatuh cinta. Ketika usia anaknya bertambah menjadi kepala dua. Bukan kepalang beliau siang malam memikirkan segala kemungkinan. Laki-laki seperti apa yang akan anak perempuannya nanti ceritakan. Cerita yang mau tidak mau seperti petir di lautan siang-siang.
Kekhawatiran itu tidak berlebihan. Sebab sepanjang pengetahuannya, tidak ada laki-laki yang baik di dunia ini kecuali dirinya sendiri. Untuk kali ini, Bapak boleh menyombongkan diri. Karena kenyataannya memang begitu. Tidak ada laki-laki yang cintanya paling aman selain bapak. Ibu sendiri mengakui.
Bapak adalah laki-laki yang paling takut anak perempuannya jatuh cinta. Laki-laki mau sebaik apapun tetaplah brengsek baginya, berani-beraninya membuat anaknya jatuh, cinta pula. Sudah dibuat jatuh, dibuat cinta pula. Benar-benar tidak masuk akal.
Malam itu, ketika dikira anak perempuannya terlelap. Bapak berbicara kepada ibu di ruang tamu. Tentang segala kemungkinan yang terjadi bila anak perempuan satu-satunya diambil orang. Tentang sepinya rumah ini. Tentang masa tua. Tentang hidup berumah tangga. Kukira bapak berlebihan. Tapi warna suaranya menunjukkan kepedulian.
Aku yang sedari tadi pura pura tidur, mendengarkan. Semoga aku bertemu dengan laki-laki yang lebih bijaksana dari bapak. Karena aku membutuhkan kebijaksanaannya untuk memintanya tidak meninggalkan bapak dan ibu sendirian.
Ku harap ada yang menga-aamiin-kan. ©kurniawangunadi
Tulisan ini termuat di buku saya, Hujan Matahari (2014) hlm. 91-92
Kelak
Tertakdir pagi hari ini harus baca thread di twitter tentang emak yg marah-marahin anaknya. Saya baca threadnya, saya baca reply-nya, saya ikut cerita. Rata-rata, sama. Pedih. Tumbuh jadi anak yg mentalnya terluka. Yg tidak disadari oleh orangtuanya, bahkan dipungkiri dan malah disalahkan lalu dicap sebagai anak durhaka karena balik teriak, balik marah.
Tarik napas dulu.
Tarik napas lagi.
Setelah jadi anak-anak yg diam dan memendam, saya dewasa menjadi sering berargumen (kalau gak mau nyebut berantem) sama orangtua, terutama mama. Sampai suatu hari, setelah sangat lelah, dada sesek sekali rasanya, saya berucap sesuatu yg sangat sinetron dan baiknya disensor saja. Pada akhirnya setelah sedikit mereda saya bilang; sebagai dua orang manusia, kalau ada bagian dalam hidup kita yg sama-sama gak kita kehendaki atau kita minta, artinya adalah belajar. Mungkin kita ditakdirkan sebagai anak dan ibu agar bisa saling mengingatkan. Kurang lebih begitu.
Semenjak kejadian itu, berharap gak lagi gampang berantem? Sayangnya tidak semua harapan begitu saja terkabul. Beliau tetap dengan hobi marah-marah, tapi sekarang, apa yg saya sampaikan, terasanya lebih disikapi dengan tenang. Beliau tidak lagi merasa diserang atau didurhakai. Karena memang niatnya bukan itu. Walau tetep ngomel dan nikmat banget dengernya.
Seorang anak, tumbuh menjadi apa pun, dengan jati diri apa pun, suka tidak suka adalah bentukan dari kedua orangtua. Dia tumbuh jadi pribadi yg mudah marah, berani berontak, mudah menyalahkan diri sendiri, pembenci adalah karena sadar tidak sadar dibentuk seperti itu sejak dini. Mana ada orangtua yg pengen anaknya begitu? Ah tentu saja. Tapi mana ada pula air yg tetap jernih jika terus-terusan dimasuki sesuatu yg kotor?
Berbekal menjadi anak-anak yg dibesarkan dengan keadaan seperti itu, saya jadi bisa mengira-ngira tentang pola asuh yg tidak boleh dipakai dan boleh dipakai. Walau tentu aja pasti gak semudah kira-kira saya. Tapi setidaknya, kelak saya gak pengen jadi orangtua yg dibatin jelek oleh anak-anak, bikin trauma atau bikin anak-anaknya putus asa terhadap hidup.
Saya pengen jadi orangtua yg walau cerewet dan tegas, tetap ditempel sama anak-anaknya, tetap dirasa dan diingat sebagai tempat pulang paling tenang.
Terakhir. Kita gak pernah tahu, di balik seseorang yg terlihat biasa aja, bahagia-bahagia aja, cerewet dan cerita tentang apa aja, ada sesosok pribadi yg punya luka sejak lama, yg punya lubang dadanya, yg sengaja dia tutupi, yg jika suatu saat kamu sedang sial, bisa ikut kamu lihat. Dia gak butuh bantuan. Dia cuma butuh dipahami, ditemani dan jangan ditinggalkan.
Terwakili, terima kasih sudah menulis ini kak :') aku pernah sempat kesal sama orangtuaku, didikan mereka yang keras, bahkan luka-luka semasa kecil itu masih membekas sampai sekarang, pertengkaran-pertengkaran mereka yang rasanya seperti mimpi buruk, bikin aku selalu insecure dengan laki-laki. But, semakin dewasa, aku berusaha memahami mereka, aku mulai memandang agak jauh tentang latar belakang orangtuaku yang ga ada didikan agamanya sama sekali. Keras memang, mengingat ayahku yang anak tentara dan mama yang punya masa lalu cukup kelam dengan tempaan-tempaan hidupnya.
Aku coba cari tau, apa yang harus aku lakukan? Bahkan bertahun tahun ga nemu jawaban, bingung gimana cara ngatasi diri sendiri. Ketika kita udah berusaha melakukan yg terbaik, masih aja salah, masih aja dianggap seperti dulu; anak kecil yang sok bener, keras kepala dan suka membantah. Aku memang marah, tapi saat sendiri aku sering menangis :'( kadang aku suka terharu sendiri kalo liat temen-temen yang didikan orangtuanya bagus, tp jujur ndak mengurangi rasa syukurku tentang pola asuh orangtuaku, aku berusaha ambil sisi baiknya aja. Toh, orangtuaku juga semakin kesini juga berusaha untuk berubah. Seenggaknya, kami paham kalo kami sama sama berusaha.
Sampai akhirnya aku menemukan istilah "membasuh luka pengasuhan". Memang yang harus diterapi adalah diri sendiri, kita yang harus berusaha membasuh luka-luka di masa lalu, dan memang nggak mudah. Semoga kita sadar, bahwa setiap kali ketika bertemu atau dihadapkan dengan orang yang menyebalkan atau membuat kita sakit hati, yg patut diubah adalah diri kita sendiri, minimal cara pandang kita. Allah menilai kita dari prosesnya, selama itu diniatkan untuk Allah, maka itu bisa jadi celengan pahala buat kita.
Saya pun merasa terwakili. Saya tumbuh menjadi anak yang keras, pemarah, insekyur dan tertutup pada orang lain karena yang saya ingat dari masa kecil saya hanyalah ibu yang berteriak-teriak marah didepan saya. Mengeluarkan beberapa kalimat kasar. Bahkan setelah apa-apa yang saya capai, menurut orang-orang adalah luar biasa, saya tetap merasa diri saya tidak berguna dan tidak bisa diandalkan. Terlalu sering saya mendengar kalimat itu sejak kecil. Sering saya merasa hidup saya paradoksal, di sekolah atau di kalangan teman-teman saya sering dianggap dewasa, punya jiwa pemimpin, sering dimintai pendapat, pintar dan bisa apa saja tapi ketika dirumah saya hanya merasa sebagai seonggok daging tidak berguna dan hanya bisa menyusahkan. Hingga pelan-pelan, tanpa saya sadari saya memisahkan kehidupan di rumah dan di sekolah. Orang tua saya hampir tidak pernah tahu kalau saya menjadi ketua umun ekstrakulikuler, aktif diberbagai kegiatan dan organisasi kampus, punya prestasi a b c d e dll. Kalaupun mereka tau, mereka biasanya adalah orang yang nyaris terakhir akan tahu. Atau semisal kegiatan tersebut mengharuskan saya keluar kota dan saya harus ijin pada orang tua.
Kalau orang lain setelah besar seringkali berubah menjadi pendebat, saya sebaliknya. Menarik diri lebih dalam dari dunia luar. Semakin suka memendam segalanya sendirian. Semakin pendiam. Semakin tidak suka bercerita apa-apa. Saya ingat saya pernah mmenangis tersedu karena satu masalah tapi tidak ada yang menenangkan saya. Atau saat saya sakit demam, tidak bisa bangun, tidak bisa makan tapi tidak ada yang berinisiatif membawakan saya makanan atau bertanya saya sudah minum obat belum. Tidak ada. Saya hanya mengurus diri saya sendiri. Sejak saat itu saya kehilangan niat untuk bercerita. Mereka hanya tahu baik-baiknya saja. Tahu bahwa nilai saya tetap tinggi. Tahu bahwa kuliah saya tidak pernah bermasalah. Tahu satu dua prestasi saya. Mereka bahkan tidak tahu rencana-rencana saya pasca kuliah. Nanti saja, pikir saya tiap kali akan bercerita.
Namun, luka tetaplah luka. Bohong kalau saya baik-baik saja. Luka itu terpendam berbelas-belas tahun. Semakin dalam dan tidak kunjung sembuh. Maka jika disentil sedikit saja ia akan meledak hebat. Saya bahkan kadang merasa tidak bisa mengenali diri saya sendiri ketika luka itu berdarah kembali. Satu bentuk amarah ibu atau ayah saja, bentuknya pun kecil, tetapi sudah cukup membuat saya merasa kehilangan kontrol atas diri sendiri. Menyalahkan. Bahkan sempat berfikir mati lebih baik.
Satu waktu saya pernah menjawab balik kalimat ibu saya, dan seperti yang bisa diduga, saya dianggap anak durhaka karena membantah orang tua.
Dua-tiga tahun terakhir saya menyadari bahwa saya memang tidak baik-baik saja, dan saya tidak bisa seumur hidup begini. Luka ini suatu hari akan diturunkan ke anak saya, dan jelas saya tidak mau ia punya luka yang sama. Saya tidak mau ia merasa bantal guling dan selimut jauh lebih hangat dibandingkan pelukan ibu. Saya tidak mau ia merasa puisi-puisi lebih menenangkannya dibandingkan pulang kerumah seperti yang selama ini saya rasakan.
Saya mulai belajar banyak hal. Memaafkan diri sendiri, juga memaafkan ibu. Mencoba memahami kenapa ia bisa begitu. Ibu sudah tidak punya ibu sejak kecil. Kakek kemudian menikah dengan perempuan lain. Ibu saya harus merasakan tempaan keras kehidupan. Sembari memastikan adik-adiknya tetap makan. Hubungan dengan ibu tiri yang juga tidak baik. Maka karakter keras itu melekat pada dirinya. Ia mungkin tidak tahu bagaimana jadi ibu yang menenangkan dan meneduhkan, bagaimanalah bisa? Ia saja tidak punya ibu. Bagaimana ia akan memberikan sesuatu yang bahkan tidak pernah dirasakannya?
Saya membaca banyak tulisan tentang parenting. Membaca sudut pandang para ibu muda. Melihat banyak keluarga. Mendengarkan bunda Elly Risman. Saya hanya ingin sembuh. Dan memutus rantai luka pada diri saya sendiri. Cukuplah saya orang terakhir yang merasakannya.
Pun semakin dewasa saya semakin menyadari bahwa orang tua selalu mengusahakan yang terbaik untuk anak-anaknya. Apa yang orang tua saya lakukan dulu adalah apa yang menurut mereka sudah terbaik. Toh dibalik kemarahan-kemarahan yang menghasilkan trauma, kebaikan-kebaikan mereka sebenarnya lebih tak terhitung lagi. Hanya karena luka lah yang mendominasi, maka yang sering diingat ya itu itu saja.
Sebagai seseorang yang lebih terdidik, mengenyam pendidikan tinggi, kondisi keuangan keluarga yang lebih baik, serta lebih banyak akses ke ilmu pengetahuan dan parenting, dan punya seorang ibu, saya harusnya menjadi seorang ibu yang lebih baik. ilmu-ilmu parenting yang sudah saya baca sejak saya berumur 18 tahun, harusnya membuat saya juga lebih mengerti kondisi orang tua, terutama ibu. Juga bagaimana memperlakukan mereka dengan lebih baik sebagai orang yang lebih berilmu. Semakin tinggi ilmu seseorang bukankah harusnya semakin mudah ia memaklumi? Maka, harusnya semakin saya tahu banyak tentang bagaimana menjadi ibu dan berkeluarga, semakin saya harus lebih sayang pada orang tua saya.
Toh kita tetap seorang ibu dan anak yang sebenarnya saling mencintai. Dan berharap Allah himpun ke surga nanti.
Mengenalmu
Aku ingin membaca tulisanmu, karena aku ingin tahu kamu itu siapa. Orang yang selalu bersembunyi, jarang menyapa dan jarang pula bertegur sapa, kamu biasa menyebutnya "sapa sewajarnya, apalagi dengan lawan jenis yang bukan siapa-siapa".
Aku ingin mendengar kabar dari tulisanmu, bait-bait paragraf yang kau tulis di media sosial. Sebab, darimana lagi aku bisa mengetahui kabarmu selain dari tulisan itu? Aku ingin tahu apa kegiatanmu sekarang, tinggal dimana dan bersama siapa. Aku ingin tahu apa isi pikiranmu, apa harapanmu dan apa rencana-rencana besar yang akan kamu perjuangkan.
Iya, aku ingin mendengar kabar dari tulisanmu. Karena hanya dengan cara itu aku bisa tahu tentang siapa kamu.
___
Beberapa kali kubuka kanal media sosialmu sejak bulan-bulan yang lalu. Tulisanmu tak pernah terlihat lagi. Kudengar kabar, kata mereka kamu berhenti menulis.
Bila itu benar: lewat mana lagi agar aku bisa mengenalmu?
El Isbat | Bogor, 16 April 2020
Saling berpelukan, namun masing-masing kita bertubuh duri.
Jakarta, 23 Januari 2020
23:10
“Watch your thoughts, for they will become actions. Watch your actions, for they’ll become… habits. Watch your habits for they will forge your character. Watch your character, for it will make your destiny."
Margaret Thatcher
Bagaimana pun, rasanya kali ini sulit sekali. Sejak awal aku sudah diminta untuk menebak yang kamu mau. Padahal aku takingin lagi berurusan dengan teka-teki melainkan yang pasti-pasti.
—————-
Terbuka pada siapa pun, bukan berarti tidak bisa merasakan mana orang yang tepat dan mana orang yang tidak. Jangan terlalu berkompromi hingga kehilangan nyamannya sebuah pembicaraan, apalagi sampai rela kehilangan jati diri sendiri.
Kelak, pernikahan bukan hanya sekadar punya perasaan yang sama. Tapi, punya teman bicara yang sama gilanya. Punya teman bicara tentang apa saja, yang bisa membosankan, tapi selalu punya cara untuk kembali saling menghangatkan.
Kita, tidak sekadar mencari suami atau istri, tapi juga teman diskusi. Teman yang bisa diajak bicara apa saja meski dia tidak terlalu tahu banyak hal, apalagi segalanya. Teman yang bisa mengingatkan bila kita keliru, membenarkan bila kita salah, memberi tahu bila kita taktahu. Menertawakan kebodohan tapi setelahnya mengusap kepala dan pelan-pelan menjelaskan.
Pernikahan bukan tentang siapa lebih pintar, siapa lebih sabar, atau siapa yang lebih bisa menenangkan. Pernikahan adalah tentang sama-sama menjadi pintar, sama-sama menyabarkan, sama-sama menenangkan. Semua itu, salah satunya bisa didapat melalui perasaan nyaman ketika berbicara dan mendengarkan.