Menggapai Takwa Melalui Minimalisme
Sejak tahun 2017, saya dipertemukan dengan sebuah konsep bernama minimalisme oleh seorang teman. Konsep tersebut kemudian saya adopsi sampai hari ini.
Secara mendasar, minimalisme menuntut manusia to live with less (hidup dengan sedikit harta). Konsep ini muncul dari sekelompok orang di Jepang dan negara-negara barat yang melihat bahwa kebahagiaan tidak bisa didapatkan melalui kepemilikan harta (padahal sejak 1400 tahun lalu, Islam sudah bilang seperti ini).
Akhirnya mereka mencoba untuk mengurangi harta mereka dengan menjualnya ataupun memberikannya kepada orang lain, sampai-sampai ada misalnya Colin Wright yang hartanya bisa dikemas di sebuah tas ransel saja. Namun, para minimalis tidak hanya mendorong manusia untuk lebih peka terhadap harta yang mereka miliki, tetapi juga waktu, komitmen, hubungan, dan keuangan.
Sebelum mengenal konsep ini, jujur kehidupan saya memang dipermudah oleh Allah (Alhamdulillah) dalam soal harta, sehingga saya menjadi orang yang cukup konsumtif. Apa yang saya senangi saya beli, dari sandang, gadgets, buku, dan yang lainnya. Dan tentunya saya lost track tentang harta yang saya miliki. Saya tidak tahu berapa jumlah barang-barang saya, ada dimana saja mereka, dan bahkan saya sering menyimpan barang-barang yang sudah rusak atau tidak saya gunakan lagi (atau yang para minimalis sering sebut “clutters”).
Tidak hanya soal harta, tetapi saya merasa bahwa dulu, soal waktu juga tidak se-teratur sekarang. Begitu juga dengan komitmen (selalu berkata “iya” meskipun belum tentu bisa memenuhi), dan sosial media (terlalu banyak grup WA, akun sosial media, dan lain-lain).
Kalau melihat kebelakang sekarang, saya merasa hidup saya saat itu tidak terorganisir dengan baik, sehingga hal-hal penting dalam hidup saya (seperti S3 dan jurnalisme) keteteran.
Namun, setelah mengadopsi gaya hidup minimalisme di awal 2017 (keluarga saya sudah mulai mengadopsi ini lebih awal), saya mencoba untuk mengurangi harta yang saya miliki seperti sandang, gadgets, dan buku (kalau dipikir-pikir saya memang sudah minimalis secara tidak sadar sedari dulu karena harta saya dapat dikelompokkan ke hanya 3 kelompok tersebut).
Sampai-sampai hari ini, saya tahu dengan tepat berapa jumlah baju, sepatu, celana, bahkan kaos kaki yang saya miliki. Saya juga sejak itu mencoba untuk mengorganisir waktu/agenda dan komitmen seperti menulis artikel seminggu sekali (dulu kadang 2-3, tapi tidak rutin), dan fokus kepada S3 saya. Saya pun mengurangi penggunaan sosial media, seperti menghapus akun sosial media yang tidak begitu bermanfaat dan mulai hanya menggunakan WhatsApp sebagai satu-satunya aplikasi messenger dan menghapus aplikasi lain seperti LINE.
Apa yang saya rasakan setelahnya? Saya merasa hidup saya lebih ringan, calculated (terhitung), rapih, terorganisir, dan tidak ada distraksi berlebihan seperti notifikasi dari berbagai macam akun social media (Saya akan membahas lebih detil tentang digital minimalisme atau bagaimana saya meng-organisir kehidupan digital saya pada artikel lain).
Dan yang lebih penting, saya bisa fokus kepada hal-hal penting dalam hidup saya. Daripada terganggu oleh banyaknya sosial media, saya bisa fokus menyelesaikan S3. Daripada sibuk merawat gadget yang bermacam-macam, saya bisa menulis artikel di media massa (Alhamdulillah, bisa ngebut mencapai 200 artikel per bulan Juli lalu). Daripada terdistraksi oleh group WhatsApp yang berjibun, saya bisa fokus rutin menyambung tali silaturahmi dengan orang tua, keluarga terdekat, dan juga teman. Daripada menggunakan uang untuk membeli barang yang memunculkan kebahagiaan sesaat dan akhirnya tidak digunakan, saya bisa menabung untuk hal-hal yang lebih butuh perhatian.
Dan yang lebih penting lagi, saya bisa fokus memperbaiki diri dihadapan Allah SWT.
Saat saya diundang untuk berbicara tentang minimalisme awal tahun ini, ada yang bertanya kepada saya, apakah konsep ini sama dengan konsep Zuhud dalam Islam?
Menurut saya tidak. Karena sepengetahuan saya Zuhud lebih berarti meninggalkan dunia dan fokus pada akhirat. Sedangkan dalam minimalisme, kita tidak meninggalkan dunia seutuhnya. Tetapi urusan dunia kita lebih terhitung dan terorganisir sehingga kita bisa fokus kepada hal-hal penting dalam hidup termasuk mendekatkan diri kepada Allah.
Saya juga menambahkan bahwa menurut saya mengadopsi gaya hidup minimalis dapat menjadi salah satu cara untuk menggapai ketakwaan. Takwa dapat diartikan sebagai “peka” atau dalam Bahasa Inggris, conscious. Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang peka. Peka bahwa setiap langkah yang mereka ambil dalam hidup adalah sesuai dengan syari'at Allah. Kehidupan mereka tertata sehingga sesuai dengan perintah Allah SWT dan jauh dari larangan-Nya.
Begitupun dalam mengadopsi minimalisme. Kita dituntut untuk “peka” dalam setiap langkah dalam kehidupan. Setiap barang yang kita miliki harus memiliki fungsi; jika tidak, singkirkan. Setiap waktu yang kira miliki harus digunakan untuk hal-hal yang benar-benar berguna; jika tidak, jangan lakukan. Setiap pertemanan/hubungan yang kita jalani harus membawa manfaat untuk kehidupan; jika tidak, tinggalkan. Setiap sosial media yang kita gunakan atau grup chat yang kita masuki harus membawa value untuk diri kita; jika tidak tutup atau keluarlah.
Hidup kita dituntut untuk rapih, tertata, dan terhitung. Dan bukankah ini juga sesuai dengan perintah Umar Ibn Al Khattab untuk menghitung diri kita sebelum dihitung di hari perhitungan?
Menurut saya, minimalisme membantu saya untuk mempersiapkan pertemuan saya dengan Allah SWT. Misalnya saja, dengan mengurangi kepemilikan barang, saya sudah berusaha untuk mengurangi pertanyaan-pertanyaan yang Allah akan ajukan di hari itu. Meskipun secara fisik, barang yang kita miliki tidak akan kita bawa ke liang lahat, namun jika kita berfikir lebih dalam lagi barang-barang tersebut akan kita “bawa”. Sebab akan ada pertanyaan-pertanyaan dari Allah tentang mereka: Kenapa barang tersebut dibeli? Untuk apa? Dengan apa? Untuk apa dibeli jika tidak kamu gunakan? Bukannya banyak yang lebih membutuhkan?
Sama halnya dengan waktu kita, tingkah laku kita di sosial media, dan juga hubungan kita. Mereka semua akan dipertanyakan.
Intinya, minimalisme tidak hanya membuat kehidupan saya lebih terhitung dan terorganisir, tetapi juga membantu persiapan untuk kehidupan akhirat.