Flowers
I've known since before the dawn that flowers and smile do not belong to each other. It is like you are on your way to laugh while your feet are walking down the lane heading to graveyard.
art blog(derogatory)

No title available
d e v o n

Kaledo Art

if i look back, i am lost

Discoholic 🪩
noise dept.

blake kathryn
taylor price
Lint Roller? I Barely Know Her
we're not kids anymore.

@theartofmadeline
KIROKAZE
𓃗
almost home
Cosimo Galluzzi

★
Jules of Nature
Today's Document
todays bird
seen from T1
seen from Canada
seen from Saudi Arabia

seen from United States
seen from United States

seen from Indonesia
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Mexico
seen from Russia
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from T1

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from T1
seen from Malaysia
@ethnogirlie
Flowers
I've known since before the dawn that flowers and smile do not belong to each other. It is like you are on your way to laugh while your feet are walking down the lane heading to graveyard.
"Baby, You're Beautiful"
“Baby, you’re beautiful” Said him to me one day unexpectedly After I explained what I perceive of the word “Lara”
“Baby, you’re beautiful” After trains of words came out of my mouth Echoing the voice in my mind
“Baby, you’re beautiful” Is all I got in return After one explanation to another explanation As if it’s meant to be a transaction
How I wish I could say the same to my parents That they too are beautiful creatures Unfortunately I never understand the explanation Or logical reasons Why father prepared a tombstone the day I was born Why mother took me to someone Only to give me one unkindest cut a baby girl ever received
As I floated on an ocean full of wonders I wonder why I didn’t say “Baby, you’re beautiful” As a grown man laid his hands and pushed them onto my skin Throwing maladies to my shell Giving my soul a rope of an endless pain Maybe because it is rude to call an adult with mind as a “baby”; Toothless, red cheeks, giggling
“Baby, you’re beautiful” Splits my body into half Forcing one part to stand in the world of daughters and the other Wandering in the constellation of condemnation
One night He knocked my door His hands held a bouquet of lilies He kissed my lips Whispered “Baby, you’re beautiful” And I realized That this whole time He’d been mistaking me As a vessel of apology As a graveyard of beauty
A treat for my landlord and family after Maghreb! Special from the Ngapak Land 💋
Tired and bored at office? Why not have yourself a leisure time for a disco. with Eulis, dea, Citra, Arif, and Theodora – View on Path.
Reading A Letter to a Hindu by Leo Tolstoy
"Love is the only way to rescue humanity from all ills, and in it you too have the only method of saving your people from enslavement." – View on Path.
Words to live by. – View on Path.
Tolong jangan ciduk saya. Ya kompas saya begini adanya. Saya dan adik dibesarkan seperti ini 😊 Kami terima pendapat kalian kok, tapi gak usah berkata-kata aneh dan mengucap naudzubillah. 😝
New pillow from Kejar Aurora! 😉 #4tahunkejarAurora. Sekilas mengenai Kejar Aurora: Kejar Aurora merupakan sebuah komunitas untuk menciptakan solusi kreatif dari anak-anak Cimahi yg putus sekolah.
Credit: @dimfaw Beautiful Indonesia. Touch down Flores. Geng kesana geng (at Maumere, Nusa Tenggara Timur, Indonesia)
#throwbackthursday hahahaha 😂😂😂 me was doing a good job for actually not caring about vid 😤😥 @erniscahya @dimfaw @okvanpramudya @swastaji_rahmadi @rezaln @pradanawh (at Campuhan Ridge Walk, Ubud)
You're like a party somebody threw me. You all taste like birthday. You all look like New Year. You're like a big parade through town; you leave such a mess but you're so fun! (at Manhattan Fish Market Bali)
Alvina. Alfina. Avian. Alina. Alfiana. Alvin. Alviani. Aviana. Afina. "Your name may not be refined like sugar that slips through the cracks of your fingers, but it is in fact the sugarcane that men must break their teeth on before being rewarded with the sweetness. Your name holds weight, every syllable is a beat from the talking drum that your ancestors danced to. And though you are so much more than your name, it is your crown, so wear it." (Sugarcane by Toluwamini Obiwole)
On Missing A Bus
Hari ini, tanggal 20 April, sepertinya merupakan hari malas-malasan sedunia. Selepas shubuh, aku tidur lagi dan bangun karena mati listrik sekitar jam 9.30AM. Tiba-tiba panas karena AC mati, mau nggak mau aku mandi. Di kamar mandi juga aku masih pake ritual semedi dulu. Aku ke luar kos ke Radio Dalam sekitar jam 10an.
Rencananya sih aku mau naik ojek online aja berhubung aku lagi males banget, tapi ternyata paket data aku juga lagi males -_- Nggak punya pilihan selain naik metro mini. Mau naik bajaj, tapi lagi malas keluar uang berlebih.
Saat aku mau menyeberang jalan, metro mini yang (seharusnya) kunaiki melintas dong. Wah rejeki anak baik. Sekalinya keluar kos, metro mini langsung lewat. Dan memang lewat, sementara aku belum kelar nyeberang jalan. Saat aku menyeberang jalan, ternyata ada perempuan tua ikutan nyeberang juga. Ternyata dia juga udah pasrah saat metro 72 berlalu begitu aja. Kita duduk di kursi panjang di depan sebuah kafe.
Ku bilang, “Bu, duduk aja dulu sini. Kita tunggu 72 disini”.
“Nggak, kamu aja. Saya berdiri aja. Mau cari payung dulu.” Dia ngubek isi tasnya trus agak ngeluh, “Yah, lupa.”
“Eh, bawa ding.”
Dia buka payungnya. “Pegang ya,” ujarnya sambil menyodorkan payungnya ke saya.
“Ibu aja yang pakai, saya gak kepanasan kok.”
“Sudah, pegang dulu saja. Saya mau cari kipas.”
Oke deh, jadi aku pegang payung ibunya. Akunya duduk gitu. Setelah kipasnya ketemu, ia tarik payungnya lalu menyodorkan kipasnya ke aku.
“Bu, ibu aja, ya, saya gak kepanasan kok.” Karena ada angin bersliweran.
“Udah pake aja, kamu pakai lengan panjang pasti kepanasan.”
Nggak ada gunanya kan nolak? Iya udah ku kipas-kipasin aja ibunya. Sambil ngobrol. Dia juga usap-usap bahu aku. Friendly ya. Dia bilang dulu kulitnya putih tapi sekarang hitam. Aku juga bilang kulitku dulu putih tapi sekarang hitam :D
“Kerja ya dek? Gajinya tinggi ya?”
Nyengir doang deh aku. Gak lama, 72 datang. Kupanggil aja, trus kita naik. Aku masih bawa kipasnya. Aku duduk di barisan sebelah kanan dan ibu itu duduk di sebelah kiri. Duduk dibelakangku persis adalah kernet bis dan kuberi aja empat ribu. Dia kasih aku kembaliannya. Ibu itu kasih uang kertas biru, dan kernetnya bingung karena nggak ada uang kembalian yang cukup.
“Maaf mas tapi saya nggak ada uang lagi, cuma segitu aja.” Dia jadi nyari-nyari barangkali ada uang kecil di tasnya.
Kuambil dompet receh aku. Kuberi abangnya 3,500. Kubilang, “Mas, ini buat ibu yang itu ya.” Eh abangnya kasih 500 ke aku dan dia bilang, “Udah Mbak, gak papa kok. Mbak orang Jawa ya?”
Ya terus aku cerita aja kalau (kakek)ku orang Solo, Njebres tepatnya; terus kita ngobrol kuliah dll. Ibu tua tadi panggil aku supaya aku duduk disebelahnya.
Tau nggak? Dia bilang makasih sambil usap-usap pipi aku. Trus dia bicara pakai bahasa Mandarin. Dia nasehatin aku panjang lebar supaya pilih laki-laki yang kaya. Dia tanya, “Sudah punya cinta, belum?”
Kita jadi berbincang-bincang dalam bahasa Mandarin. Dia panggil aku Meili. Sambil usap-usap pipiku, dia tanya, “Kamu cantik, tapi kok gak dandan?” Senyum lagi deh. Dia terus menerus kasih tahu aku pentingnya punya investasi dan bisnis sendiri selain bekerja. Dia juga terus-terus bilang kalau aku harus menikahi laki-laki yang kaya. Lebih baik lagi, kalau selain kaya, dia juga baik.
Dia tanya, “Kalau sama laki-laki Cina mau ngga?” Aku bilang kalau masalah ras bukan masalah yang penting. Dia lanjut bertanya, “Mamamu Cina ya?” Aku jawab bukan, bahwa Mama keturunan Arab justru, dan dia kembali bertanya, “Papamu? Indonesia?” Kuiyakan pertanyaannya.
“Dimana kamu belajar bahasa Mandarin?”
“Di Purwokerto, jauh dari sini, di SMA dulu wajib.”
“Kerja apa dek?”
“IT bu”
“Apa itu IT?”
“Komputer.”
“Pinter dong ya.”
Aku gak bisa kasih respon apa-apa karena si abang supir bablas dong ke arah RS Gandaria -_- Gak lewat Labschool!
Ku tanya sama abang kernet, “Ih gimana bang kan saya mau ke Labschool?”
“Pak, lewat ga?” tanya si ibu ikut bertanya.
“Mbak, ntar mending turun di Mayestik aja ya terus jalan ke Labschool.”
Ih kok begitu sih? Kan aku harus jalan juga dari Labschool ke kantor -_- Ketika sampai di Mayestik, ibu itu pegang tanganku terus salim dong! :’( Dia bilang makasih sudah baik, semoga berjumpa lagi. Aku juga bales salim, aku bilang hati-hati. Aku bilang aku berharap suatu waktu kita berjumpa lagi.
Aku pun turun di Mayestik (masih dongkol ama supirnya). Gak kebayang ya, dari percakapan sederhana, peristiwa itu cukup mewarnai hariku yang malas ini. Bayangkan, kita mengalami nasib yang sama yakni ketinggalan bis, dengan tujuan bis yang sama juga. Sayang sekali aku ga tahu banyak tentang ibu itu. She does not speak Indonesian properly. Suaranya juga tidak “menendang” telingaku. Ketika aku bertanya asalnya, gelagatnya cukup aneh. Ia bilang, ia kesini merantau cari uang. Ia bilang, ia akan ke Bendungan Hilir. Rumahku disitu, katanya.
Aku nggak ngerti sama isyarat Illahi. Belum ngerti, lebih tepatnya. Ia selalu menekankan pentingnya menikahi laki-laki yang kaya. Mungkin nggak sih, itu adalah hal yang tak bisa ia dapati dulu saat ia muda? Melihat dari penampilannya, aku cukup kasihan. Dia juga senang aku bisa bicara bahasa Mandarin. Sayang sekali aku gak bisa banyak bertanya, aku menyesal sekarang. Aku takut aku kurang sopan. Ingin bertanya tentang anak, cucu, atau kampung halaman, hatiku tidak tega. Biasanya, orang berusia lanjut bercerita tanpa ditanya. Ibu itu terus menerus bertanya tentang aku, bukannya bercerita sendiri. Bila ia bercerita maka aku akan mendengarkan dan juga menanggapi. Saat aku flash back kata-katanya, dia di Jakarta sudah cukup lama. Mungkin, ada kesedihan yang tersisa dari kota ini untuknya? Aku gak tahu. Aku harap aku bisa berjumpa kembali. Aku sedih bahkan aku gak punya waktu untuk menanyakan nomor ponselnya. Siapa tahu aku bisa main, toh masih naik metro 72, wilayah jelajahku.
Turun di Mayestik, aku berjalan kaki. Di depanku sedang berjalan seorang perempuan yang nampaknya juga “terpaksa” turun dari metro yang tadi kunaiki. Sepertinya ia mendengar (atau lebih tepatnya menguping) pembicaraanku dengan ibu itu. Ia tahu aku baru di Jakarta. Ia tahu aku bekerja IT dan tahu aku dari Purwokerto. Terus dia minta nomor hapeku (kenapa sih aku bisa ngasih nomor hape ke dia dan bukannya ke ibu tadi?!), maka kuberinya nomor paket dataku (yang habis tadi, dan juga bukan nomor utamaku). Prospek MLM -_-
Hari ini berwarna sekali, terima kasih ibu tua yang tak kukenal. Maaf aku tidak sempat tanya-tanya tentangmu. Sehat-sehat ya!
Cruel mothers are still mothers. Sometimes they give birth to pain instead of children. Selamat ulang tahun mama 😊🌞
The Time I Was An Ocean
I sat with knees on chest. It was just like any other days. Nothing special, except for the fact that I was really sad. I asked God what was wrong with everything. At some points in my life, I felt I fell way too low. I had streams of tears, my eyes were swollen and I did not remember what my mouth was murmuring about.
I pressed my ear to my knee. I heard something splashy. Watery and alive. The sound of waves pushing reefs and cliffs. The sound of plunging and drowning. While the streams of tears were there on my cheeks, there was an ocean inside me I just heard. My grandfather folded the ocean into two, I said to myself. I could jump this sorrow easily. After all, I have this ocean in me, full of energy, tireless, powerful and salty.
I was so pickled by the radiation coming from someone’s mouth. I didn’t know we are all ocean. After all, Nayyirah said that both us and ocean are just salt water mixed with air. His words came out of his mouth full of edges they hurt my skin.
I was an ocean. I healed myself. I bleed and heal, I run and free. And even though his words, their words, have enough gravity to bury me down inside earth.... what would they do now? How to bury an ocean?
Hang over bareng. Hang out juga. with Indina, Aisyah Saras, and Adita at Kota Kasablanka – View on Path.
Solar eclipse #GMT2016 as observed in Purwokerto. Picture by ramane Yudit