Kita yang datang mereka yang pergi, kita menetap, mereka pergi, mereka datang, kita masih saja menetap, mereka selesai, kita bahkan baru memulai. Kita seperti tersesat di lingkar waktu yang salah, tak mampu berputar normal, hanya mampu mengulang dan terus terulang.
Kita seperti masuk di lubang hitam, kita ada di tengah-tengah proses yang tak mampu kita protes, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus akrab dengan rasa sakit, harus terbiasa dengan kesabaran, air mata yang menetes adalah pelengkap menuju detik ke enam puluh dalam satu putaran menit.
Kita dipaksa untuk tak asing dengan rasa rindu yang menggebu, memaklumi segala rasa yang semakin kaku, dan gemetar yang tak tertahan menahan temu. Kita dipaksa mengalah sejenak melawan ego, hanya demi mengacuhkan rentang yang semakin membentang.
Kita tak mampu keluar bukan karena kita tak sanggup, bukan karena kita memaksa, kita justru memilih berada di bawah tanduk kejenuhan demi sebuah hasil yang cukup untuk mengutuk ketakutan dan penasaran.
Bahkan semesta seperti selalu mendukung kita untuk segera menyatu, dengan keanehan kita yang sebelumnya tak pernah bertemu, tiba-tiba menjadi sepasang kekasih yang saling mengucap rindu.
Banyak ucapan baik yang kita katakan, banyak do'a yang kita harapkan, banyak kelakuan yang kita perlihatkan, banyak keinginan di masa depan yang bisa kita perbincangkan. Baik buruk adalah sebuah jalur, bisa atau tidaknya kita menemukan alurnya, tergantung seberapa sabar kita menjalaninya.
Tentang jarak, sepertinya hanya itu-itu saja yang selalu aku keluhkan, aku yang rindu akan kecanggungan kita saat memulai sebuah percakapan, atau tatapan-tatapan itu yang membuatku semakin sayu, dan tentang aku, yang selalu takut akan ada orang lain yang bisa lebih dekat denganmu.
Akan tetapi, daripada kita terus saja mempermasalahkan sesuatu yang belum terjadi, kenapa tidak saling menguatkan saja, bukankah itu lebih baik ?
Tenang, kita, akan baik-baik saja .
@badutcerdas — 5 Agustus 2019, Kisah Nyata Dalam Mimpi