kepalaku ini terkadang suka melucu, sering kali dia mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu untuk ditanyakan.
seperti saat itu, saat kau dan aku sedang duduk berdua menikmati udara sore di teras rumahmu. kau sedang menghisap sebatang rokok dan aku sedang asik memperhatikanmu.
tiba-tiba saja sebuah kalimat tanya muncul dikepalaku: kenapa ya aku bisa bertemu dengan manusia ini?
lalu aku seperti menaiki mesin waktu, kembali saat pertama kali aku menemukanmu.
dikedai kopi pinggir jalan itu, tempat aku biasa menghabiskan waktuku ditemani secangkir cappucino panas, lagu favoritku yang kuputar dari handphone, dan sketch bookku. tidak ada yang istimewa, semua berjalan biasa aja, sampai tiba-tiba kau menghampiriku dan mengatakan sesuatu. aku tidak bisa mendengarmu, jadi aku terpaksa untuk melepaskan headsetku.
“maaf, bisa tolong ambilkan korekku? terjatuh dibawah kakimu.” katamu sambil menunjuk ke kakiku.
“oh,oke.” hanya itu yang keluar dari mulutku.
“makasih ya, sering nongkrong disini?”
“engga sih kadang-kadang aja kalo pengen.” kataku datar, ingin segera memasang headsetku dan menghilang. tapi ternyata kamu tidak membiarkanku lepas semudah itu. kamu justru mencari topik pembicaraan lain.
sejak hari itu pengunjung tetap kedai kopi itu bertambah satu orang.
kesal awalnya, tidak bisa lagi aku tenggelam dalam duniaku sendiri. tapi saat aku kesana dan tidak menemukan sosokmu, seperti ada yang kurang.
2 tahun sudah berlalu sejak kejadian itu. sekarang ini, kau dan aku sudah menjadi kita.
bagaimana ya jika saat itu aku tidak memutuskan untuk pergi ke kedai itu? apa kau dan aku akan tetap dipertemukan?
mungkinkah waktu itu kau sengaja menjatuhkan korek apimu dibawah kakiku? atau korek itu memang kebetulan jatuh disana?
“hey, kamu ingat gak waktu pertama kali kamu ketemu aku di kedai kopi itu?” tanyaku sambil terus menatapmu.
“ingat, kenapa?”
“kebetulan banget gak sih, sekarang malah pacaran. kalo kata orang namanya serendipity.”
“jadi menurutmu kita ini hanya sebuah kebetulan?”
“ntah lah, bagaimana menurutmu?”
setelah itu kau tersenyum, menggenggam tanganku dan berkata “kebetulan atau bukan, yang aku tau kisah yang kita jalani saat ini adalah apa yang kita tentukan dan kita usahakan sayang. kamu adalah apa yang aku pilih jauh sebelum korek api itu jatuh dikakimu, lalu membuka jalanku untuk dekat denganmu. mungkin bisa disebut kebetulan, atau mungkin juga itu lebih dari sekedar kebetulan. mungkin itu cara Tuhan untuk menjawab doa-doaku.”