Aku memiliki kucing betina yang kuberi nama layla, sebagai optimisme pada layla al amiriyah. Kucing betinaku ini cantik, tapi iya tidak pernah merasa cantik dengan kecantikannya. Beginilah aku mengumpakan sebuah kecantikan -yang tidak disadari kecantikannya- yang ada padanya. Maka menurutku jadilah ia dua kali lebih cantik.
Ketika si layla masih kecil, aku tidak mengetahui bahwa dia berasal dari seekor induk tipe istimewa. Ia kini semakin besar, dan menjasi seekor kucing yang sempurna.
Masa perkawinannya telah tiba, dan aku sebagai bapak atau majikannya ikut mengambil andil dalam pemilihan jodoh dan perkawainannya. Layla memilih seekor kucing kuning bertitik-titik putih. Ia seekor kucing pekerja keras tapi sering menyerah. Meski ia seekor kucing pekerja keras dan miskin, tapi tidak menghalanginya untuk meminang seekor kucing rumah yang baik dan tidak pernah kosong dari daging dan ikan.
Lalu selesailah perkawinan, yang dilaksanakan dengan pesta perayaan makan hati dan ikan, setelah masa pinangannya yang tidak lebih dari dua hari. Kini layla telah resmi menjadi pengantin. Sayangnya kucing pasangannya tidak membuatku tertarik. Di antara kami ada semacam persaingan seperti yang terjadi antara ayah dan suami.
Ketika kucing itu menganggapku sebagai pelindungnya, ia selalu memalingkan mukanya ketika melihatku. Ia tidak pernah nampak ramah, kecuali pada saat makan siang dan malam. Ia berubah dari masa bodoh menjadi rambah yang dibuat-buat. Iya mengelus telapak kakiku dan mengangkat ekornya sebagai penghormatan, meskipun kedua matanya memantulkan sebuah emosi bahwa apa yang ada di dalam hati memang ada dalam hati.
Tidak masalah bagiku, layla kawin dan setelah beberapa bulan ia menjadi seorang ibu lalu melahirkan sekelompok kucing kucing kecil yang tentu masih tertutup kedua matanya. Disitu aku menyaksikan salah satu makna ibu dalam dunia binatang.
Saat seekor kucing betina menjadi kucing dewasa kemudian menjadi ibu, ada perbedaan mencolok diantara keduanya. Pada mulanya kucing hidup dengan sendirinya, untuk dirinya, makanannya, minumannya, permainannya, istirahat dan tidurnya. Setelah iya menjadi seorang ibu, secara tiba tiba hal ini berubah drastis. Kini segala sesuatu yang ia kerjakan menjadi semata mata untuk melayani anak anak barunya. Bahkan gerak dan diamnyapun demikian.
Seekor kucing sebelum menjadi ibu, ia adalah makhluk yang bebas. Lalu iya terpenjara dengan keibuannya dibelakang rasa rindu dan keinginan untuk melayani anak anaknya. Sepanjang siang dan malam ia menyusui mereka yang enam ekor jumlahnya. Dilahirkan dengan kedua mata tertutup. Meski tidak melihat dengan kedua matanya, ia menuju ke tempat makan pertamanya seolah-olah ada tangan abstrak yang membimbingnya ke sumber makanan.
Iya memang tidak melihat, pada saat yang sama ia melihat dengan mata lain, yakni mata hati. Dan kucing ibu tidur di samping anak anaknya seraya menyerahkan diri kepada anak anaknya yang rakus, tidak pernah kenyang, dengan mulut mulut yang tidak berhenti menyusu.
Sang kucing ibu kini tidak lagi bermain, istirahat, atau tidur. Waktu-waktu bermain, beristirahat, dan tidurnya dikhususkan untuk melayani anak-anak kecilnya. Meski begitu, kucing itu tidak pernah lupa mengambil bagian makanannya. Nafsu makannya bertambah dan seolah-olah seperti makhluk yang berakal dan pandai, ia tahu bahwa ia menyusui enam ekor anak, sehingga ia harus makan untuk enam ekor atau lebih.
Anak anak itu mulai besar. Sang ibu melindungi dan membersihkan mereka dengan lidahnya, satu demi satu, saat demi saat, dan hari demi hari. Ia benar-benar menderita karena mereka. Sang kucing ibu menjadi kurus setelah sebelumnya gemuk. Meskipun demikian ia terus melaksanakan tugasnya bagaikan melaksanakan sebuah tugas suci.
Selama waktu ini, sang suami berdiri di atas tangga. Menyatap makan siang atau malam dan makan dengan tenang. Ia mengusap kumis dengan tangannya lalu menoleh ke keluarganya dan berlalu dengan kehidupan pribadi dan menikmatinya.
Sang kucing suami yang merasa bodoh dan selalu merasa bahagia ini tidak kehilangan ketenangan hatinya setelah proses kelahiran. Sikap masa bodohnya semakin bertambah, hingga suatu saat ia terkejut ketika melirik anak-anaknya tumbuh besar.
Lalu tumbuh pertanyaan di bennaku,
“seperti inikah gambaran para ayah hidup? ”