Pernah kah kamu merasa seseorang sedang berteriak memanggil namamu, namun kamu takut ketika ingin berlari mengejarnya ternyata teriakan itu berasal dari hatimu yang berteriak namanya?

roma★

oozey mess

Product Placement
No title available
Peter Solarz
art blog(derogatory)

Discoholic 🪩
todays bird
Xuebing Du

No title available
styofa doing anything
we're not kids anymore.

ellievsbear

if i look back, i am lost
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
taylor price
No title available
macklin celebrini has autism

Kiana Khansmith
he wasn't even looking at me and he found me
seen from Panama

seen from Brazil

seen from Brazil
seen from Panama

seen from Saudi Arabia

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Germany

seen from France

seen from Japan

seen from United States
@fadhumaira
Pernah kah kamu merasa seseorang sedang berteriak memanggil namamu, namun kamu takut ketika ingin berlari mengejarnya ternyata teriakan itu berasal dari hatimu yang berteriak namanya?
Pergi dari Rumah
Ada satu rumah yang kami tempati cukup lama. Rumah yang kurawat sedemikian rupa agar kami betah tinggal lama-lama dan nyaman. Dalam rumah tersebut bunga tumbuh bermekaran dan luar biasa indah. Tak ada rumah yang seindah tempat aku dan dirinya pulang seperti rumah ini.
Dalam rumah itu kami selalu membuat kue pie, kue yang selalu kami sukai dan kami bagi. Kuyakin, tak ada yang mampu menandingi manisnya pie buatan kami. Kue buatanku bersama sang tuan sungguhlah lezat.
Ada hal yang aku tidak bisa gambarkan betapa nyamannya rumah kami. Rumah ini sebenarnya memang milikku, namun kutempati karena izin pemiliknya. Setiap pagi kami bercengkrama, saling bertanya kabar, lalu malam hari kami akan saling memeluk hangat. Sejujurnya tak pernah kurasakan hal senyaman ini.
Suatu hari sang pemilik rumah pergi, cukup lama dari rumah itu. Ia berpamitan dahulu padaku. Ia bilang akan kembali lagi meskipun aku sangsi ia akan betul-betul kembali. Tak bisa kubendung air mataku ketika ia berpamitan pergi, dan firasatku pun sedikit buruk. Bisa saja ia melupakan rumah ini dan ia akan menemukan rumah baru. Namun tak bisa kucegah karena ia merasa antusias pergi dari rumah demi mengejar mimpinya. Aku tak bisa berbuat apa-apa, kubiarkan ia pergi dengan senyum tersungging di bibirnya karena ia akan segera bertemu cita-citanya.
Sejak ia pergi, tentu rumah tidak terasa sama lagi. Aku yang merasa sepi dan bunga yang kini tak indah lagi terlihat. Sesekali sang pemilik rumah mengirimiku surat, bertanya kabar dan juga memberikan kabar. Tentu aku bahagia, ia dapat berbahagia disana. Meskipun setelah surat yang dikirim padaku, aku haus menahan rasa tersiksa menunggu surat lainnya lagi yang terlampau lama.
Setelah hari yang lama dengan rumah yang terasa sepi, datanglah pemuda yang meminta tolong untuk dibuatkan secangkir teh. Ia datang dengan keadaan yang cukup mengkhawatirkan, setidaknya ia berkata ia sedang prihatin. Aku yang tidak banyak berpikir mempersilakan pemuda itu masuk dan mendengar ceritanya. Ia bercerita bahwa ia mengenal tuan rumah yang kukenal yang sudah kutunggu kepulangannya. Tentu aku senang dengan pemuda ini karena ia dapat memberiku informasi yang kuinginkan.
Hingga suatu hari ia berkata jika tuan rumah tidak akan kembali lagi pada rumah ini, ia menemukan rumah baru. Bahkan ia berkata bahwa tuan rumah ini berlaku buruk selama di perantauan. Pemuda ini berkata jika selama ini ia juga ingin menghadirkan orang lain yang mau singgah namun ia segan mengusirku. Sebuah cerita yang terlambat aku tahu bahwa itu adalah kebohongan.
Penuh berhari-hari aku bersedih tanpa bisa menghubungi tuan rumah, dan memang aku pernah dikirimi sebuah foto keadaan tuan rumah yang berbahagia di tempat barunya. Seharusnya kukejar tuan rumah dan bertanya padanya langsung, namun rasa sedih dan rasa cemburuku mengalahkan nalarku. Aku yang masih bodoh malah mendengar pemuda ini.
Sejujurnya aku lupa berapa kali pemuda ini datang dengan cerita yang meyakinkan hingga aku jadi hanya percaya pada pemuda ini. Aku tidak pernah tahu ternyata pemuda ini merupakan komplotan pembajak yang sedang dicari-cari oleh banyak orang. Hingga sesaat pemuda ini hilang, tak lama datanglah tuan rumah dengan keadaan yang hangat dan ternyata ia masih ingin kabar dariku.
Perlu waktu lama aku memahami keadaan sampai tiba saatnya beberapa kawan komplotan pembajak datang ke rumah tuan rumah dan memberitakan mengenaiku dengan si pemuda yang pembohong itu, ia berkata dan bersumpah bahwa aku juga bagian dari orang yang ada di belakang pemuda itu dan aku sudah mengkhianati tuan rumah selama ini. Mereka bahkan berkata bahwa selama ini rumah yang kami tempati selama ini sudah dijadikan rumah pemuda tersebut juga. Mereka juga berkata selama ini aku menanti tuan rumah pergi agar bisa menghadirkan pemuda ini, sungguh ini hal bodoh yang aku dengar dari mereka.
Tentu tuan rumah marah, dan mengusirku sebelum aku sanggup menjelaskan dan menceritakan hal yang sebenarnya terjadi. Kue pie kesukaan kami yang terhidang di meja terlempar ke lantai dan segera dilahap anjing tanpa tersisa. Usahaku untuk memberikan jawaban terasa sia-sia. Aku tidak diberi kesempatan.
Akhirnya aku pergi dari rumah dengan perasaan kalut, sepanjang jalan burung gagak menertawai kenaasanku dan bersenandung penuh kejahatan. Aku yang menangisi kebodohan diriku sendiri juga mengutuk beberapa komplotan tersebut, hanya bisa lanjut berjalan menghindari rumah tersebut. Seharusnya bisa saja aku berlari kembali ke rumah tuan, namun kuurungkan niat karena takut akan hinaan yang aku dapatkan kembali.
Jadi, kuputuskan pergi dari rumah itu.
Kuyakin, meski dapatkan rumah yang nampak lebih luas. Tidak akan aku lupa kehangatan rumah ini. Dan akan aku pastikan rumah ini akan selalu hangat meski aku sudah tidak disana lagi. Akan kudatangi dari jauh agar aku bisa memastikan bunga-bunga masih tumbuh dengan baik disana.
Berita buruknya adalah aku tidak ingin kamu hubungi hanya saat kamu merasa kesepian saja.
Tapi, berita baiknya adalah aku masih menunggu, barangkali kamu akan mencariku di kesepian itu.
Something Inside My Heart Told This
As I sat alone in the quiet solitude, with no one and nothing to await, a peculiar thought struck me unexpectedly. It was the duality of preferences: between liking and disliking something. I found myself compelled to acknowledge that whenever I find favor in something, there exists a concomitant possibility of being unfavorably viewed in return.
Amidst this contemplation, I was struck by a realization—I am currently drawn to something. It possesses a captivating enchantment, an allure that renders me unable to resist its pull. Yet, therein lies a subtle trepidation; the fear that my fondness for this thing might, in turn, provoke insult towards who I am.
Ada Masanya
Ada masanya kita akan merasa selalu bahagia, ada masanya juga kita merasa sepi, ada masanya kita merasa sedih.
Setiap masa tidak pernah kekal, begitu katanya. selama kita hidup di dunia ini, semua hal yang terjadi tidak akan bertahan selamanya. Kalau kata lagu "badai pasti berlalu" meskipun jika kita mengalami badai rasanya kok lama sekali ya.
Pernah ada masanya hidup nampak sangat membahagiakan hingga lupa rasanya sedih. Tahun-tahun ketika merasakan bahagia itu, malam hari pun terasa hangat. Aku pernah lupa perasaan bahagiaku di masa lalu, saking hari-hariku saat itu luar biasa sekali. Sampai pernah berpikir "dulu aku sebahagia ini kah?"
Setelah melewati moment-moment membahagiakan, dan entah moment tersebut sejak kapan pergi meninggalkan kita, di saat seperti ini mengingat moment tersebut nampak menyakitkan. Buat ingetnya aja gak sanggup, sedih sekali harus mengingat sesuatu yang kita tidak bisa kembali lagi.
Orang bilang ini yang namanya kenangan.
PIEEE
Ketika Rasa Takut Datang.
Semenjak orang tuaku sakit, rasanya setiap malam terasa menakutkan. Gimana kalau besok aku bangun pagi dengan berita duka? Gimana kalau saat matahari terbit pemandangan suara ayahku menyapu teras sudah tidak bisa terlihat? atau suara omelan ibuku karena anaknya bangun kesiangan sudah tidak terdengar lagi?
Disaat seperti ini baru terasa dunia dan seisinya nampak tidak ada apa-apanya kalau saja salah satu dari mereka sudah tidak ada. Tentu rasanya tidak sopan membahas ini sekarang, tapi aku bingung bercerita hal yang menakutkan ini ke siapa.
Kadang suka mikir juga, kenapa ya konsep kehidupan seperti ini. Kenapa kita harus lahir kalau akhirnya harus juga meninggalkan.
Saat seperti ini rasanya mau bahagia pun jadi hati-hati. Takut sekali mau tertawa ketika hal membahagiakan datang. Takut setelahnya diberi kesedihan yang mendalam.
Rasanya aku butuh sebuah pelukan :(
Newly uploaded.
Kunci
Seharusnya kecupan ini mendarat tepat di pipimu. Tepat hari ini atau mungkin seharusnya di malam-malam sebelumnya saat kita sedang saling memeluk. Sudah kuduga, aku menyianyiakan waktu dengan sangat payah. Tak seharusnya aku membiarkanmu menjauh barang sehari saja dari pelukanku. aku tahu, jika sampai kau menjauh dariku tentu kau yang akan lupa lebih awal tentang kita.
Aku tahu hari ini akan tiba, kita akan memeluk diri sendiri lalu menangis sekencang-kencangnya. Kita sama-sama tahu, hari ini akan datang seperti ini. Mungkin aku lah yang egois, karena telah mengurungmu dalam ruangan yang kubangun selama ini. Ruangan penuh pintu yang kukunci rapat, tertutup agar tidak ada lagi yang bisa masuk. Ruangan yang kutata sedemikian agar kau betah tinggal dan tak pernah berniat pergi.
Aku menahanmu terlalu keras, higga kau merasa tersiksa dan akhirnya menemukan kunci yang selama ini kusembunyikan.
lalu
Kau pergi tanpa pamit.
Its 22.38
And Im feeling like I need kind of Melantonin. Or maybe such a word that told me "im fine, im ok"
Randomly taken, today highlight.
I know nobody cares. But I care.
*tears drop*
*well yea, im not ok* 🥺
Apa yang bikin kamu baik baik saja?
Ketika aku tahu orang-orang yang aku sayang baik-baik saja dan bahagia. Dulu aku kira doa orang seperti "semoga kamu baik baik saja" adalah doa yang sangat sia-sia. Saking sia-sianya aku tidak pernah mendoakan orang yang aku sayang agar mereka bisa baik baik saja. Sampai suatu ketika aku dirundung duka sangat dalam hanya karena aku sadar orang-orang yang aku sayang bersedih, perasaan mereka ditransfer ke pikiran aku dan otomatis membuat aku sedih. Rasanya bener-bener sesak, perasaan semacam ini membingungkan dan menguras energi karena kita tidak tahu cara menghibur mereka, kitapun tidak tahu apa mereka sudah baik baik saja ketika mereka sudah bisa tersenyum. Doaku kini dan nanti akan tetap sama; semoga orang yang kusayang selalu bahagia dan baik-baik saja.
Well Ginny, dont offer me 3 wishes. I have Only 1 wish, you know.
00.09
My every night mantra.
Capek fisik
Capek batin
Capek otak.
I need some fresh thing
Kayanya butuh banget pillow talk (tapi kayanya ga bisa)
Pengen banget pinjem mesin waktu doraemon. Thats it :')
Filosofi Kopi (Kunci Hati, 1998)
Dalam raga ada hati, dan dalam hati, ada satu ruang tak bernama. Di tanganmu tergenggam kunci pintunya.
Ruang itu mungil, isinya lebih halus dari serat sutera. Berkata-kata dengan bahasa yang hanya dipahami oleh nurani.
Begitu lemahnya ia berbisik, sampai kadang-kadang engkau tak terusik. Hanya kehadirannya yang terus terasa, dan bila ada apa-apa dengannya duniamu runtuh bagai pelangi meluruh usai gerimis.
Tahukah engkau bahwa cinta yang tersesat adalah pembuta dunia? Sinarnya menyilaukan hingga kau terperangkap, dan hatimu menjadi sasaran sekalinya engkau tersekap. Banyak garis batas memuai begitu engkau terbuai, dan dalam puja kau sedia serahkan segalanya. Kunci kecil itu kau anggap pemberian paling berharga.
Satu garis jangan sampai kau tepis, membuka diri tidak sama dengan menyerahkannya.
Di ruang kecil itu, ada teras untuk tamu. Hanya engkau yang berhak ada di dalam inti hatimu sendiri.
Dee Lestari: 1998
“Pada akhirnya tidak ada yang bisa memaksa. Tidak juga janji, atau kesetiaan. Tidak ada. Sekalipun akhirnya dia memilih untuk tetap bersamamu, hatinya tidak bisa dipaksa oleh apapun, oleh siapapun.”
— Perahu Kertas