Aku mau sharing sedikit tentang "vulnerability" kehidupan di Jerman.
Mungkin temen-temen udah pada tau sejak Januari 2018 aku mencoba untuk keluar dari zona nyaman, yaitu pindah ke Jerman. Fresh Graduate, tanpa pengalaman kerja sama sekali hanya berbekal pengalaman organisasi.
Tujuan utama aku pindah ke Jerman sebetulnya untuk mencari makna kehidupan. Untuk apa sih aku hidup di dunia ini dan seperti apa rasanya berjuang? Karena sampai wisuda pun aku berada di zona yang sangat nyaman. Semua kebutuhan hidupku selalu terpenuhi tanpa harus berlelah-lelah dulu berkat adanya orangtua dan kakek-nenek. Semoga mereka sehat selalu dan panjang umur.
Okay lanjut.. Januari 2018 tibalah aku di Jerman dengan penuh rasa haru dan gembira karena sebelumnya ga pernah terbayang bisa menginjakan kaki di negara adidaya ini. Sampai sekarang pun aku merasa bersyukur Allah memberikan aku kesempatan untuk bisa meniti karir di sini dan di waktu senggang bisa melihat keindahan negara-negara eropa lainnya.
Tapi dibalik itu semua ada hal-hal yang perlu kalian ketahui, kalau tinggal sendirian di negeri lain itu lebih banyak perjuangannya alias sedihnya, dibanding seneng-senengnya. Kita juga mesti beradaptasi dengan lingkungan, suasana, cuaca, bahasa, musim, kebiasaan, makanan, dll. Maka dari itu ga heran kalau banyak banyak yang mengalami "Kulturshock". Untuk bisa berbaur kita harus bisa menyesuaikan diri dengan mereka. Sesuai dengan pepatah "dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung". Secara perlahan tanpa disadari pun aku pribadi merasakan perubahan dari penyesuaian diri itu, Either ke arah positif dan negatif, but mostly ke arah yang positif. Misalnya aku jadi merasa waktu sangat berharga, even satu detik. Kenapa? Telat satu detik lo bisa ketinggalan bus/kereta and it could ruin your another agenda after it. Contoh lain aku jadi lebih menghargai pendapat orang lain dan ga mencampuri urusan/keputusan yang mereka buat. Your life, your choice and you can do whatever you like and what´s right for you.
Di sini kesehatan mental pun diuji dengan berbagai cara. Misal, merasa kesepian karena jauh dari kampung halaman, jauh dari keluarga dan temen-temen. Hal ini memaksa aku untuk bersosialisasi dengan orang baru yang mana bersosialisasi dengan orang Jerman itu ga semudah dengan orang Indonesia. Pertama karena bahasa, di sini orang bakal lebih dihargai kalau bisa berbahasa Jerman. Jelas! Meskipun aku udah punya sertifikat bahasa Jerman level B2, tapi tetep aja aku masih merasa kesulitan untuk bergaul dengan mereka. Well sebetulnya bukan karena bahasanya sih.. tapi karena perbedaan budayanya. Maaf nih ya.. aku kan kadang receh orangnya dan orang Jerman tuh ga ngerti sama recehnya kita. Mereka tuh selera humornya jelek banget! Pernah suatu hari diajak bercanda sama orang Jerman.. buat dia itu bercanda, tapi buat aku itu ga lucu sama sekali. Karena bercanda mereka itu versi seriusnya orang Indonesia.
Terus belom lagi isu dilema introvert yang tinggal di Jerman. Kalau menurut hasil test kepribadian Myer-Briggs aku ini seorang INFJ (Introvert. iNtuitive, Feeling, Judging). Aku termasuk tipe orang yang sulit untuk memulai percakapan dengan orang yang belum terlalu akrab. Sedangkan orang Jerman sendiri pun bukan tipe orang yang ramah dan suka basa-basi seperti orang Indonesia. Jadi kebayangkan.. butuh effort yang amat besar untuk bisa berbaur dan bersosialisasi di sini. Tapi somehow dengan kepribadian mereka yang seperti itu ada bagusnya juga untuk orang introvert. They won´t mind your bussiness if you need some time alone.