Si pemarah yang acap kali mengalah.
Si penyabar yang hipokrit.
Dua watak yang berbeda, masing-masing dengan komposisi dua hal yang bertolak belakang. Namun, keduanya berdampingan adalah sesuatu yang mutlak. Tidak sedang ingin membangun batas tegas diantaranya, hanya saja sedang ingin menyampaikan bahwa kedua hal tersebut akan selalu ada pada setiap raga yang ditemui, yaitu kebaikan dan keburukan.
Menghakimi apa saja yang terlihat mendominasi dari pribadi orang lain yang sering kali membuat kita mengabaikan hal-hal kecil yang hanya diberi izin untuk “tampil” di waktu dan tempat tertentu.
Kepada si pemarah, menuntutnya untuk mengolah dan menyampaikan murkanya dengan cara yang benar dan tepat, terus mencibir bagaimana dia tidak selesai dengan dirinya sendiri. Namun, si pemarah ini adalah kita dengan versi lain, diri dengan perpaduan banyak emosi dan gengsi dalam satu waktu.
Kita tidak pernah tahu, dalam beberapa kondisi, si pemarah meredam dan mematahkan egonya sendiri yang tentunya menyakitkan. Berdamai dengan amarah, untuk menjaga siapa saja yang masih bertahan untuknya.
Kepada si penyabar, kita selalu kagum dengan sosoknya yang tenang dan damai untuk sekelilingnya. Namun, si penyabar adalah kita dengan versi lain, diri dengan perpaduan penerimaan dan pemahaman, menyediakan banyak toleransi untuk keadaan yang berjalan tidak sesuai dengan harap.
Kita tidak pernah tahu, dalam beberapa kondisi, si penyabar menjadi pembangkang, berteriak lantang, mencaci maki sekitarnya. Tidak ada yang tahu, karena segalanya hanya terjadi di alam pikirnya.
Setiap diri mempunyai kombinasinya sendiri. Kita mampu hidup berdampingan, membangun relasi dan menjaganya hingga bertahun-tahun lamanya dengan saling menerima keunikan versi masing-masing. Menyediakan penerimaan yang luas dan dalam untuk banyak hal, itulah bentuk memaklumi.
Memaklumi cara kerja semesta yang tidak tertebak dan kadang tidak memihak.
Memaklumi jika orang-orang yang kau percayai dengan segenap warasmu, bisa kapan saja menyakiti dan mengkhianati.
Memaklumi ketika ekspektasi melukai karena tambahan plot yang tiba-tiba saja mengubah alur cerita.
Memaklumi bahwa semua keinginan menjelang tidur tidak serta merta hadir setelah pagi menyapa.
Berkali-kali memaklumi dan dimaklumi semoga tidak membuat kita lupa bahwa ada batasan yang mesti dijaga. Sesekali menjadi egois untuk diri sendiri tidak apa-apa. Namun, berkali-kali adalah perkara.