Hati disebut al-qalb karena proses perubahannya begitu cepat. Boleh jadi paginya dalam keadaan beriman, lalu sorenya futur. Secepat itu. Mungkin kita tak pernah benar-benar menemukan satu hari saja dalam hidup kita yang hatinya tak disinggahi kelalaian.
Walau begitu, justru itulah momen perjuangannya, seberapa mampu kita mengendalikan hati ini. Seberapa cepat 'tuas rem' yang kita tarik segera saat kita sadar telah berada di zona yang salah. Sebab, hakikat penyucian ada jikalau terdapat juga noda padanya.
Maka hanya dengan ridho & rahmat-Nya lah hal itu dapat terjadi, jika tidak demikian, niscaya kita sudah masuk ke dalam golongan orang-orang yang dibiarkan (baca: dimurkai).
Alkisah, dahulu aku pernah bertanya pada seorang teman yang berniat apply CV melalui perantara guru ngajinya.
me: "Km beneran ga khawatir ketemu sama seseorang yang benar2 ga dikenal nanti. Ga ada cenderung gitu sama seseorang, atau pernah berharap dsb?"
doi: "Yaa ada dong. Tapi sekedar kagum, ga lebih. Dan ga ingin melanjutkan sesuatu yang ga pasti aja. Terusss, kalo ga kenal makanya libatkan Allah dalam setiap prosesnya"
pintaku dalam hati: "Enteng bgt, dia udah selesai dengan hal ini. Tapi bagiku yang sedang dapat ujian ini, tak semudah itu. Ibarat mencegah penyakit yang kian meningkat stadiumnya, tentu sangat melelahkan, terutama dalam menjaga kesucian niat & kemurnian amal"
Sebelumnya kukira ini adalah fitrah, hanya saja tetap harus dikendalikan. Namun perlahan menyadari, jikalau memang fitrah mengapa rasanya begitu mengganggu ya. Bukankan fitrah adalah kondisi yang bisa diwajarkan menjadi tabiatnya, tanpa ada keresahan seperti melakukan dosa. Ternyata itu adalah ujian, sebab pada dasarnya fitrah itu harusnya ditempatkan pada ikatan yang Allah ridhoi juga. Maka selain itu, fix ujian.
Hingga suatu waktu, sepertinya ujian tahap akhir karena dirasa cukup berat, disebabkan oleh suatu perkara kecil saja, tetapi efeknya luar biasa.
Hanya dalam 1 malam saja do'aku dikabulkan. Sebenarnya do'a itu sudah sekian lama dipanjatkan, namun selalu berujung plot twist, semakin diuji. Berbeda halnya dengan saat itu, dimana sudah mencapai titik legowo dan ingin mengembalikan hati ini seutuhnya kepada Allah, lalu memohon agar diberikan kembali pada saat yang suci saja. Padahal dulu prasangkaku, "Ya Allah ini kalau ujiannya selesai, endingnya pasti air mata kesedihan ya. Ga sanggup membayangkannya."
Dan, jleb! Mudah sekali bagi Allah membalikkan hati manusia. Semuanya tuntas selesai, tanpa lubang di hati, tanpa kekecewaan, semua rasa itu lenyap begitu saja. Finally, Alhamdulillah, I got back my freedom!!
Kisah di atas ditujukan untuk diambil hikmahnya. Bahwasanya penjagaan hati memang bukanlah hal yang mudah, tak ada yang manis dalam setiap perjuangannya, namun pasti akan berbuah ketika sudah menyelesaikan ujian tersebut.
Dulu ku kira do'a ini "Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbi 'alaa diinik, wa laa tho'atik" hanya untuk menghindari diri dari kefuturan, agar kemudian Allah cepat balikkan hati ini ketika dalam keaadaan lalai dari ibadah /pun amalan lainnya.
Lebih daripada itu, maknanya jauh lebih dalam. Bahwa memang benar, kecondongan itu boleh jadi buah dari lemahnya penjagaan dari hal-hal yang telah diberi batasan. Namun, dengan dalih tuntutan & keadaan, batas keta'atan itu perlahan kabur & melemah tanpa disadari.
Kesimpulannya, sebab sebegitu mudahnya bagi Allah untuk membolak-balikkan hati kita, maka ketika alarm dari Allah datang untuk menyudahi, bersegeralah untuk 'memelas' cintaNya dengan penuh keikhlasan, agar hati ini kembali dibersihkan, sehingga hanya cinta yang utuhlah yang kita berikan kepada Allah SWT.
Allahu A'lam bisshowab...