Apakah Aku Pernah Menghukum Anakku?
Jika disebut hukuman, sepertinya sudah kurang tepat dan tidak relevan lagi ya. Dari yang kupelajari, saat ini hukuman bagi anak yang ‘berbuat salah’ sudah tidak disarankan oleh para ahli parenting & psikolog anak, melainkan sudah beralih ke penerapan “konsekuensi”.
Hukuman (punishment) pada dasarnya adalah tindakan membuat anak jera atas perbuatannya, entah apapun bentuk hukumannya—bisa secara fisik maupun nonfisik. Tapi ternyata pemberian hukuman itu tidak terlalu efektif. Karena ketiga respon ini bisa muncul:
- Flight or fight! saat dihukum, otak reptil anak aktif. Mereka jadinya fokus pada rasa takut, kesal, marah bukan merenungi kesalahannya.
- Kadang membuat anak jadi ‘belajar berbohong’ demi menghindari hukuman.
- Merusak attachment antara orang tua dan anak, hubungan bisa renggang.
Oleh karena itu, pemberian KONSEKUENSI menjadi solusi yang lebih baik. Baik konsekuensi alami maupun konsekuensi logis. Tujuan pemberian konsekuensi itu sebetulnya supaya anak belajar berpikir dan dilatih rasa tanggung jawabnya.
Konsekuensi alami itu kita membiarkan sesuatu terjadi tanpa campur tangan kita, biarkan ‘alam yang bekerja’ selama itu aman. Contoh dari konsekuensi alami itu misal, anak menolak menggunakan jaket padahal cuaca sedang dingin. Kita tidak perlu memaksa atau memarahi, biarkan saja. Biarkan dia pergi keluar untuk bermain, lalu merasakan kedinginan. Dia akan belajar dari pengalamannya sendiri. Kelak dia akan lebih mendengarkan perkataan (saran) kita, karena dia sudah paham konsekuensinya.
Sementara konsekuensi logis itu punya prinsip-prinsipnya tersendiri. Dr. Jane Nelsen (Positive Dicipline) merumuskannya menjadi prinsip 4R:
1. Related (berhubungan) — konsekuensi harus nyambung dengan pelanggarannya.
2. Respectful (hormat) — diberikan tanpa nada membentak, menghina atau mempermalukan.
3. Reasonable (masuk akal) — sesuai dengan kapasitas dan usia anak, tidak berlebihan.
4. Revealed ahead (disepakati diawal) — anak sudah tahu risikonya sebelum dia melanggar aturan.
Nah, inilah yang pernah kami terapkan di rumah pada anak kami. Sebuah konsekuensi logis karena anak sudah berbuat ‘salah’ padahal ia sudah tahu risikonya (poin prinsip no 4 berlaku).
Ceritanya, saat itu setiap sore anak kami sedang asyik-asyiknya bermain sepeda roda dua bersama teman-temannya. Aturan yang kami sampaikan padanya adalah “sebelum maghrib harus sudah pulang ya”, dia mengiyakan. Dan memang selama ini ia rutin pulang sekitar setengah 6 sore. Atau paling lambat saat adzan berkumandang (ini masih ditoleransi saat itu).
Namun suatu hari, adzan maghrib sudah selesai berkumandang ia tidak kunjung pulang. Aku mulai cemas, kemana perginya. Akhirnya aku cari keliling komplek dan ternyata ia ada di mushola. Bukan untuk shalat, melainkan masih bermain. Ia tidak ingat waktu pulang, ia lupa saking asyiknya.
Setibanya di rumah setelah aku jemput, kami sampaikan sekali lagi aturan bermain sore hari. Sebelum maghrib, harus sudah ada di rumah. Pulang sebelum langit gelap. Kalau setelah adzan maghrib selesai berkumandang tapi belum sampai di rumah, maka siap-siap menerima konsekuensinya.
Ia mengiyakan lagi dan meminta maaf karena sudah melanggar aturan. Ia menyetujui adanya konsekuensi tersebut. Berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya lagi.
Besoknya, tebak apakah ia menepati janjinya?
Ternyata tidak.
Hehehe.
Ia bahkan tidak pulang sampai adzan maghrib selesai berkumandang.
Kami biarkan sejenak, kami shalat maghrib dulu baru pergi mencari ketika waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 WIB. Luar biasa ‘nyali’ anak ini 😅 bisa-bisanya lupa dan melakukan kesalahan yang sama setelah kemarin baru saja melanggar aturan.
Setelah berkeliling komplek, mendatangi mushola, mendatangi rumah tetangga yang anaknya suka bermain dengan Syamil, akhirnya kudapati ia ada di taman lapangan belakang rumah sedang memberi makan sapi untuk disembelih dihari raya Idul Adha besok. Innalillahi.
Kami hanya menunjukkan ‘aura kedatangan’ kami dari kejauhan, ia langsung terperanjat dan menyadari sesuatu. Buru-buru ia mengambil sepedanya dan pulang menuju rumah.
Tapi karena dia berjalan melalui jalan pintas, otomatis dia sampai lebih dulu di rumah ketimbang kami. Karena saat kami mulai dekat dengan rumah, terdengar suara teriakan dan tangisan juga gedoran pintu.
“Ibuuuuu!!!!!… Ibuuuu!! Bukaaaa!” ((suaranya berteriak menangis melengking sambil mengetuk-ngetuk pintu))
Sepertinya ia menyangka kalau aku mengunci pintu rumah dari dalam wkwkwk. Padahal, aku tepat ada dibelakangnya. Baru saja membuka gerbang pintu rumah.
Krieettt…..
Ia menengok ke belakang, tangisannya langsung berhenti.
Kaget sepertinya.
“Kenapa…? Syamil nangis kenapa?”
Dia diam.
“Jam berapa ini? Sudah lewat berapa lama dari adzan maghrib?”, tanyaku dengan tenang.
Diam terdiam sambil terisak. Harusnya, ia sudah tahu apa konsekuensinya.
Yap! Sepedanya kami angkut dan kami sita selama seminggu. Berikut mainan pun kami sita. Ia hanya boleh membaca buku di rumah atau bermain apapun yang bisa dilakukan di rumah.
Awal mulanya ia menangis, menangis karena sadar dia salah. Dia tahu itu dan dia pun meminta maaf. Mau tidak mau ia harus menjalani konsekuensinya.
Selama seminggu, ia tidak diperkenankan bermain sepeda dan bermain sore di luar rumah.
Kami membiarkannya merasa bosan di rumah. Selama bosan, ia hanya punya buku untuk jadi ‘media hiburannya’. Setelah pulang sekolah, ia membaca buku sambil menunggu waktu tidur siang. Bangun tidur siang, ia membaca lagi, membuka buku stiker lalu menempelkannya dan masih tetap membuka buku-buku lainnya hingga jelang waktu tidur malam.
Sesekali ia bermain air, bermain kucing, kadang bermain denganku juga. Lari-larian, melompat atau membantu sedikit pekerjaan rumah yang ringan.
Itulah episode dimana kami memberikan pelajaran tentang konsekuensi suatu hal. Bukan tanpa alasan, bermain sampai lupa waktu itu tidak baik. Terlebih sudah lewat jam maghrib.
Setiap waktu punya aktivitasnya masing-masing, dan setiap aktivitas punya jadwalnya tersendiri. Malam hari adalah waktunya istirahat. Mengisi perut, shalat lalu bersiap untuk tidur malam jika tak ada keperluan mendesak.
Ada waktu pagi untuk sarapan dan pergi ke sekolah. Ada waktu siang hari untuk bermain dan tidur siang. Ada waktu sore hari untuk bermain juga dan bersiap untuk makan malam. Jadwal bagi anak masih sederhana dan perlu diberi rutinitas yang konsisten. Supaya terbentuk keteraturannya, terlatih disiplinnya, punya rasa aman yang cukup—karena kelak dia akan menghadapi dunia yang serba acak, terkadang padat aktivitas dan tak berpola. Pondasi yang kuat akan sangat membantu.
Sebelum waktu bereksplorasi tiba, ia terlebih dulu belajar bagaimana caranya berpijak.
Tangerang, 19 Juli 2026












