Suatu hari mertuaku menyampaikan, “pinter ya Yu Syamil ini, bener deh. Beda banget sama anak-anak sini. Mau minta air minum dia bilang “Mbah, Syamil mau minta tolong mau diambilin air minum…”, terus ke temen-temennya dia bisa ngasih tau banyak hal, ngajarin isi buku, bisa ngitung sampai 20 lho anakmu!, bisa baca tulisan, negur temennya kalau salah, ngga ngomong kasar.”
Bukan satu kali atau dua kali ibu mertuaku bercerita demikian, beliau memang senang memuji Syamil. Apalagi Syamil selalu jadi bahan pembicaraan para tetangga disana (dalam hal positif), sering dicari oleh anak-anak tetangga ibu karena ingin main bersama.
Kalau ada Syamil di rumah ibu, selalu disapa dan ditanya oleh tetangga yang kebetulan sedang lewat. Rasanya Syamil ini seperti ‘primadona’, mungkin karena dia senang bersosialisasi, senang berteman dan asik diajak bermain jadi orang mau berlama-lama menemani.
Ibu takjub dengan perkembangannya setiap minggu, dari bulan ke bulan. Aku memaklumi dan salah satu bentuk kebahagiaan seorang nenek juga kan ya kalau cucunya sehat, aktif dan ‘pintar’.
Saya cuma menjawab, “Hehe iya alhamdulillaah Bu..”
Padahal dalam hati, aku tahu kalau hal ini bukan suatu ‘kebetulan yang terbentuk dengan sendirinya’ tapi sesuatu yang dilatih, dibiasakan, dan pendisiplinan perilaku.
Suamiku nyeletuk, “ya tapi lumayan capek lho Bu ngedidiknya, karena tiap waktu, tiap hari kita coba awasi dan luruskan kalau ada salah-salah perilaku di rumah.” Wkwk
Mungkin yang terlihat diluaran anak kami demikian, tapi pasti akan ada selalu hal buruk, hal yang kurang dan pengaruh negatif dari luar yang terbawa oleh anak kami.
Karena aku dan suami stay at home parents, jadi kalau ada perubahan sedikit pun di diri anak, kami akan notice!
“Eh darimana dia belajar ini? Dari mana dia tau ini? Gimana ceritanya dia bisa ngomong hal ini?”
Tidak jarang kami akhirnya meluruskan perlilakunya, memperbaiki pemahaman yang salah, menanamkan nilai-nilai yang baru. Kami beri tahu Syamil apa yang salah dan apa yang benar. Apa yang harus dilakukan dan jangan dilakukan.
“Menghukum” jika dia tahu hal itu salah tapi masih saja dilakukan. Ngeyelan itu kami tidak suka wkwk. Kami biasakan Syamil untuk berkata; maaf, permisi, tolong dan terima kasih. 4 kata kesopanan ini harus dimiliki sebagai modal awal berinteraksi dengan orang lain.
Di rumah kami ajarkan kedisiplinan dari bentuk yang paling sederhana, yakni; punya jadwal teratur dan rutinitas harian.
Jika waktunya tidur, tidur. Jika waktunya makan, makan. Jika waktunya bermain, silakan bermain. Jika waktunya mandi, harus mandi. Tapi semua bukan karena paksaan, melainkan dibangun atas alasan “kenapa kita perlu tidur sekarang? Kenapa kita perlu makan dulu? Kenapa kita perlu mandi dulu? Kenapa kita perlu ini dan begitu?”
Anak tidak akan menurut kalau dia tidak tahu atau tidak paham “mengapanya”. Jadi sebisa mungkin kami berikan pemahaman, alasan dan penanaman nilai penting terkait peraturan di rumah ini. Kami contohkan juga hal-hal yang kita ajarkan, biar tidak lain dimulut tapi lain diperilaku.
Terkadang dia bertanya-tanya, “kok di rumah Syamil kalau mau nonton (screen time) harus pake token (berbatas jumlah dan waktu)? Tapi di rumah X (temannya) nontonnya boleh sabtu-minggu dan ga diwaktu?”
Kami sampaikan kalau peraturan di rumah tiap orang itu beda-beda, disini A, mungkin disana B. Syamil ikuti peraturan di rumah ini karena orangtuanya Ibu dan Bapak. Berbeda dengan teman-temannya Syamil, orang tuanya juga kan beda bikin peraturannya.
Akhirnya, ia paham. Setiap temannya mau menonton di rumahnya dan dia diajak, dia memilih untuk pulang. Dia tidak mau ikut menonton. Dia tahu itu bukan jadwalnya menonton dan ia tidak seharusnya menonton di rumah orang lain. Untuk sampai ketahap ini, tentu ada beberapa kali kecolongan. Tapi untungnya dia bercerita kalau dia menonton di rumah X.
Aku tanya, “nonton apa tadi Syamil?.. dia menjawab dia menonton youtube tapi ga tau film apa katanya wkwk, dia tidak paham karena tontonannya random kayaknya. Sementara kalau di rumah tontonan kami hanya 2 jenis kartun, dan itu pun kami awasi/temani.
Begitu pun ketika di rumah neneknya. Ketika ditawari menonton TV, dia menolak. Karena tau kalau mau nonton itu tempatnya di rumah Syamil aja, dan harus bareng Bapak sama Ibu. Disini juga yang membuat Ibu mertuaku tertawa dan geleng-geleng kepala salut.
Meski terlihat anakku ini “anak baik”, lurus dan lempeng-lempeng aja, nyatanya kami pernah mendapat laporan dari miss di sekolahnya terkait perilaku atau perkataan Syamil yang kurang menyenangkan.
Aku bersyukur mendapat laporan tersebut secara privat, jadi kami bisa “didik kembali anak kami di rumah”—untuk perbaikan perilakunya.
Setelah beberapa bulan lamanya, dan aku kembali menghadiri PSG (Parents Support Group) di sekolah—semacam laporan tengah semester dan pertemuan guru & ortu siswa, miss nya menyampaikan bahwa Syamil sudah tidak mengulangi perbuatan & perkataannya tersebut. Alhamdulillaah.
Aku tahu dia saat itu melakukan kesalahan perilaku dan perkataan karena “meniru”. Anak itu memang mudah sekali meniru lingkungannya. Jadi perlu dibentengi dan diberi pemahaman soal apa yang benar dan apa yang keliru. Apalagi diusianya yang 4 tahun ini, keinginan untuk bersosialisasi/berteman itu sedang meningkat tajam.
Jadi anak punya sumber influence yang lain selain orang tuanya. Yakni, teman-temannya. Baik teman sekolah maupun teman sepermainan.
Perlu rajin ngecek, rajin diajak ngobrol, bercerita, ditanyai dan terus didampingi agar jika ada perilaku yang kurang baik bisa segera DIPERBAIKI.
Caraku disini adalah dengan cara; rajin ngajak anak ngobrol, diajak berkegiatan bersama yang ia sukai, sering-sering dipeluk, dicium, bercanda bersama-sama—dibuat nyaman dengan orangtuanya untuk jadi tempat bercerita. Kebetulan aku ada rutinitas membacakan buku (read aloud) sebelum ia tidur.
Hanya invest 10 menit sebelum ia tidur, aku bisa turut menanamkan nilai-nilai baik padanya. Tidak jarang aku sampaikan kalau,
“Syamil.. Ibu sayang sama Syamil.. Bapak juga sayang sama Syamil. Syamil tau kan kalau Ibu sama Bapak sayang sama Syamil?”
Dia mengangguk, lalu memelukku dan berbisik, “Syamil juga sayang sama Ibu sama Bapak..”
Kami mengakhiri hari dengan membaca doa sebelum tidur bersama, lalu kucium pipinya. Ia mencium pipiku. Kumatikan lampu kamarnya, dan menutup sedikit pintunya.
Dari dalam ia berteriak, “Dadah Ibu. Mimpi yang indah ya Bu.. Terima kasih Ibu..” :’D
Tangerang, 16 April 2026 | 09.35 WIB