Duhai Kaum yang Masih Suka Mager bin Rebahan
Banyak orang berpendapat kalau masa kecil itu lebih mengasyikkan ketimbang saat masa dewasa. Masa kecil, masa dimana seorang anak hidup tanpa rasa beban. Kalau dilihat, hidupnya itu sederhana. Kalau sudah capek main, biasanya disuruh mandi dulu sama ortunya terus langsung tidur nyenyak. Waktu tidurnya pun bukan main, bisa sampai lebih dari 10 jam/hari. Ya wajar sih, namanya juga anak kecil, sah-sah aja.
Hebat kalau dipikir-pikir, anak kecil bisa tidur selama itu, dan kalau dah bangun.. beuhh, kelihatan seger. Sesuatu yang jarang aku rasain sejak jaman kuliah. Biasanya kalau dah kebablasan tidur sampai lebih dari 9 jam/hari aja, rasanya kepala itu pusing atau badan gak fit untuk beraktivitas habis bangun.
Sama juga kalo tidurnya kurang karena biasa begadang karena alasan apapun. Dampak dari kebiasaan itu, ujung-ujungnya pasti akan mudah kena virus bandel yang biasa menyerang kaum milenial. Siapa lagi kalo bukan virus mager bin rebahan, yang bikin inangnya lupa sama waktu. Paraahh. Apalagi kalau dah jadi kebiasaan, kita wajib waspada!!
Saat kita tidur dengan durasi jam yang sama dengan anak (misal 10 jam), lalu saat bangun kita malah merasa gak seger, ternyata itu adalah hal yang wajar. Nyatanya, memang ada penjelasan ilmiah terkait hal ini. Pada saat masih kecil, durasi ideal untuk tidur adalah berkisar 9-11 jam, saat remaja 8-10 jam, dan saat dewasa 7-9 jam. Namun dalam kasusnya, bisa berbeda bergantung fisik seseorang.
Dalam dunia kesehatan, apabila waktu tidur kita tidak sesuai dengan durasi ideal tidur, baik itu berlebihan maupun sebaliknya, secara fisik akan berpengaruh saat akan terbangun nanti. Bisa pegal-pegal, pusing, tidak fit, bahkan kalau keseringan bisa menimbulkan penyakit yang parah di kemudian hari. Jadi menjaga pola durasi tidur mengikuti pertumbuhan diri kita, agar sehat itu memang benar adanya.
Makna Dibalik Durasi Tidur
Durasi tidur memang penting manfaatnya dalam segi kesehatan. Meski kebanyakan orang yang sudah mengetahui fakta tersebut, hanya akan berhenti pada titik pengetahuan itu saja alias minim pengaplikasian, termasuk juga aku dulunya. Namun bagi mereka yang sadar bahwa itu penting, ia akan mulai mengatur waktu tidurnya di malam dan siang hari.
Durasi tidur memang saling berkaitan dan fleksibel mengikuti pertumbuhan biologis manusia. Lebih dari itu, bahwa waktu tidur seharusnya berbanding lurus pula dengan besarnya peran mengikuti bertambah usia manusia.
CEO Yahoo Marissa Mayer dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama dalam sehari hanya tidur 4-6 jam sehari. Presiden SBY dan Jokowi bahkan lebih sedikit, hanya memiliki rata-rata waktu tidur 2-4 jam sehari. Meski tidurnya terbatas, tapi mereka mampu berperan besar di bidangnya masing-masing.
Lalu bagaimana dengan Rasulullah SAW, Suri Tauladan kita? Melihat dari pola tidur beliau, yang tidur di awal malam dan kemudian bangun di pertengahan malam untuk beribadah, serta sunnah untuk tidur saat waktu siang, maka durasi tidur beliau saat normal dapat berkisar 5-6 jam/hari saja. Namun, dalam keterbatasan waktu untuk beristirahat, Rasulullah SAW mampu mengemban peran mulia yang dapat kita rasakan manfaatnya hingga saat ini.
Begitulah manusia-manusia hebat, yang mampu memanfatkan waktu untuk berperan besar bagi kehidupan manusia. Begitulah manusia-manusia kuat, pribadi anti-mager bin rebahan tanpa makna, dibalik waktu tidurnya yang terbatas, namun perannya sungguh luar biasa bagi kita saat ini.
Beliau adalah manusia yang sama dengan kita dalam durasi hidup per detik hingga per harinya. Sama-sama 60 detik dalam satu menit. Sama-sama 24 jam dalam satu hari. Beliau sama seperti kita, melewati fase pertumbuhan dari bayi hingga dewasa. Yang membedakan mungkin hanya satu, yaitu kesadaran bahwa waktu harus dimanfaatkan dengan baik tanpa sia-sia.
Jadi, mumpung kita masih muda, kita harus banyak belajar dari beliau. Belajar untuk menjadi manusia yang siap berperan tanpa batas di masa depan.
-------------------------------------
Apa yang kita pelajari dari mereka dan apa yang kita renungi dalam hidup ini, ternyata ada alasan dibalik durasi tidur yang semakin berkurang mengikuti pertumbuhan usia. Pelajaran yang harus kita maknai dalam menjalani segi kehidupan.
"Ada pesan yang ingin Allah sampaikan kepada manusia, bahwa semakin bertumbuh, ada peran yang seharusnya ikut bertambah pada diri manusia."
Itulah alasan, mengapa semakin bertambahnya usia, waktu tidur kita semakin berkurang. Tujuannya tidak lain agar kita di dalam waktu hidup yang terbatas ini, bisa melakukan sebanyak mungkin peran-peran kebaikan tanpa batas.
"Dalam durasi tidur yang yang makin terbatas, Allah sejatinya memperluas jalan manusia agar mampu menebar manfaat tanpa batas"
Saat kita masih kecil dulu mungkin kita leluasa tanpa beban untuk bisa main dan setelahnya tidur sepuasnya. Wajar, karena kita saat kecil belum diamanahkan peran dengan beban berat yang ada di pundak. Namun seiring berjalannya waktu, peran dengan bebannya sedikit demi sedikit muncul, dan tanpa disadari, kita jadi berpikir panjang untuk bisa tidur sepuasnya.
Semua atas kebaikan Allah, sedikit demi sedikit Allah izinkan manusia untuk bisa beraktivitas lebih. Allah mengatur fisik manusia untuk bisa optimal berperan, melalui keadaan durasi tidur ideal yang semakin dikurangi. Meski berkurang, namun atas izin-Nya kita tetap mampu merasakan keadaan sehat dan nyaman pada tubuh kita.
Bayangkan jika kita semakin dewasa, Allah biarkan tidur ideal kita sama saat masih kecil, misal 11 jam/hari. Kita mungkin akan kewalahan dengan tugas yang semakin menumpuk, karena kita di satu sisi harus memenuhi kebutuhan fisik juga dengan tidur yang cukup, yaitu rata-rata 11 jam/hari, yang dengan begitu tubuh tetap mampu optimal dalam mengerjakan sesuatu. Tentu akan sangat berat bukan?
“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (QS Al-Qashash [28]: 73).
Lantas sudah berapa umur kita? Seberapa besar peran kita saat ini? Berapa jam waktu yang kita luangkan di alam mimpi? Apakah kita lebih sering berperan atau mageran? Mari setelah ini berintrospeksi.
Apabila peran kita saat ini masih minim, setidaknya ulangi. Bangunlah reputasi peran dengan repetisi dari hal yang kecil. Bila peran besar itu tiba nanti, semoga kita siap memeluknya dan mampu bersanding dengan orang-orang hebat, yang mampu berperan tanpa batas. To be perfect person being in imperfectly.