Langit sore disini sedikit mendung.
Jika di tempatmu berteduh sekarang? adakah langit disana? tolong beritahu aku bagaimana bentuknya, biar pemaknaan jadi sama rasanya, agar jarak ini jadi hambar buat kita.
Saat menulis ini, angin tiba-tiba berhembus, menemani setiap rangkai kata yang dirangkum dalam sebuah dekapan hangat yg biasa aku sebut ‘rindu’.
Ia menghembuskan jilbab sebahuku. Jilbab biru pemberianmu.
Jadi, sembari ia berhembus aku bebisik pelahan padanya, “ jika nanti Tuhan berkenan, tolong sampaikan surat ini untuk abang disana”
Setelah kau pergi kemarin,
Ada segumpal rindu yang masih menyisa, mengendap di sebagian rongga dada, dan belakangan ini aku baru sadar ia jadi mengental. Menghalangi jalannya udara, yang seharusnya bisa keluar masuk dengan nyaman.
Setelah kau pergi kemarin,
Diantara rimbunnya ilalang yang semakin memanjang, aku jadi sendiri. Sendiri yang kuharap tidak menyakitI.
Mungkin, atau seandainya kemarin kita lakukan untuk sekali saja kegiatan ‘menanti senja’ yang biasa kita lakukan. Maka setidaknya pada senja kali ini aku bisa bicara sedikit pada ilalang, bahwa kau sudah duluan.
Duluan pergi ke tempat perjanjian kita berkumpul.
Agar tak diam seperti ini, sementara angin saja punya cakap pada ilalang.
Di padang ilalang ini, semoga kau selalu ingat apa yang kau ucapkan, tanpa perlu meronanya senja yang mengingatkan.
Setelah kau pergi kemarin, (kali ini suara jangkrik mulai mengeras dan memekakan)
Banyak hal yang lupa kau bawa , termasuk tanyaku yang entah tertinggal atau sengaja kau tinggal. Tapi tak apa, aku tau kau terburu-buru kemarin, jadi biarkan engkau dengan panggilanmu dan aku dengan kepergianmu.
Terlebih, aku tau kepergianmu menyisakan banyak hal. Hal yang seharusnya tak jadi sisa. (aku mengatur napas sejenak, tiba-tiba saja sesuatu seperti menekan dadaku terlalu keras). Tak apa, untuk sementara biarkan luka ini membasah. Bukan berarti aku ingin ia terus basah. Tersebab, setelah kau pergi, aku jadi lupa cara bagaimana mengeringkannya.
Aku menangisi kepergianmu..
Detik demi detik mulai berlalu, dan senja sudah di ujung sana. Tapi aku biarkan ia terus mengalir, keluar dan membasahi pipi. Aku tak tersendu terlebih meratapi, aku hanya menangis seadanya. Karena pada detik selanjutnya, aku juga melupakan cara menghapus tangis. Jadi biarkan saja aku menangis.
Setelah kau pergi kemarin,
Banyak sekali hal yang tak sempat kulakukan padamu.
Tak sempat sedikit melepas rindu.
Tak sempat melihat senyum yang selalu buatku bangkit
Bahkan tak sempat memberitahumu bawa ‘jatuh cinta’ kepadamu adalah hal berarti yang pernah aku lakukan setelah kucium kening ayah saat pergi.
Terlebih,aku tak sempat mengingatkanmu bahwa kita masih punya banyak mimpi yang seharusnya kita genggam erat ‘bersama’.
Kau pergi terlalu cepat. Bahkan sekedar pamitpun kita sama-sama tak sempat.
Setelah kau pergi kemarin,
Aku tak akan memintamu kembali.
kau juga enggan untuk kembali.
suaraku tak sepelan suara angin, pun tak sekeras jangkrik bersuara.
Mau aku ucap seribu kalipun bahwa aku mencintaimu, aku tau Dia mencintaimu lebih dari rasa cinta terbesarku. Jadi cukup satu kali saja mulutku ucapkan itu pada senja yang hampir berakhir ini. Selebihnya, biar aku lantunkan dalam hati saja semua nyanyian tentangmu.
Senja dan segala yang ‘pernah’ kita lewati di sini,
Setelah kau pergi kemarin,
Aku hanya tau, bagaimana cara bertahan. Jadi, Jika kau ingin tau.
padamkan luka dan beban yang ada
yang tlah membakar seluruh jiwa
kucoba resapi kucoba selami
I will survive, I will revive
I won't surrender and stay alive
mencoba lepaskan, coba bebaskan
segala rasa perih di hati
kucoba resapiku, coba hayati
ku ambil hikmahnya, rasakan nikmatnya
and I will survive, I will revive
I won't surrender and stay alive
di saat jiwaku rapuh, di kalaku jatuh
that I will fight to survive,
I will not give up, I will not give in,
I'll stay alive for you... for you... for You...
I will survive, I will revive
I won't surrender and stay alive
I will survive, I will revive
getting stronger to stay alive
I will survive, I will revive
getting BIGGER... bigger than life
Engkau Yang Esa, Yang Perkasa
You give me reason to survive
Semoga detik ini dan selamanya, kau selalu jadi bintang terbaik yang pernah kupunya.
Dari adik kecilmu, yang dulu tangannya selalu kau genggam erat.
for my inspiration 'Tita'
terimakasih sudah jadi teman pengingat yang sangat baik