Bercengkrama
"Cu, mamaku udah sering banget tanya kapan aku nikah beberapa waktu ini" adu 2 kawan dekatku yang dua-duanya anak bungsu dan sedang melanjutkan Pascasarjana. "Cu aku stress rasanya, Ibuku selalu tanya kapan nikah sekaligus absen sepupu dan teman-temanku yang udah pada nikah. Aku jadi males pulang ke rumah" keluh kawanku yang lain. Di tengah keluh teman-temanku tentang tuntutan dari orang tua dan keluarga untuk segera menikah, aku menanti momen itu.
Bercengkrama serius tentang 'pernikahan' berdua dengan Ibu menjadi momen langka yang paling kutunggu-tunggu, jikapun bercengkrama kami akan mengulas hal-hal lucu maupun berkisah tentang jalan hidup, hikmah maupun kisah dari para pendahulu yang diambil dari kitab dan buku-buku. Jika kebanyakan temanku bercerita bahkan mengeluhkan permintaan perihal pernikahan dari orang tua terkhusus ibu, berbeda denganku. Memasuki usia 23, 24 bahkan 25 aku menunggu momen dimana ibuku bertanya 'cu,kapan nikah', tapi pertanyaan itu tak kunjung datang.
Pernah suatu waktu, di awal masa pascasarjana, aku membuka percakapan tentang pernikahan. "Umi ga minta aku buat segera nikah gitu mi?". Ibuku malah menasihatiku begini: 'Selesaikan dulu S2nya, cari ilmu sungguh-sungguh karena ga semua orang diberi kesempatan S2, dapetin keberkahan ilmunya, kamukan juga sambil kerja. Ga usah pusingin jodoh dulu, jodoh udah Allah atur. Kamu persiapkan diri sebaik-baiknya".
Jika ingat percakapan itu, aku menjadi faham betapa ibuku tau kapasitas, kesiapan dan apa yang anaknya butuhkan.
Maka itu, sebanyak apapun pertanyaan 'kapan nikah' dari orang lain tidak pernah membuatku pusing sama sekali, karena aku percaya setiap langkah hidupku saat ini berjalan atas ridho Ibuku.
Nanti, jika Allah izinkan aku memiliki keturunan aku juga ingin seperti ibuku. Memberikan cinta bukan dari tekanan dan larangan-larangan, tapi dari pemahaman atas diri anak-anaknya, pun melalui hikmah dan juga keteladanan. Lalu, malam ini ibuku bertanya "Ucukan udah lulus, bentar lagi wisuda, jadi kapan nikah?", akupun tersenyum haru, akhirnya ibuku menanyakan hal yang selama ini kutunggu-tunggu keluar dari lisannya.
"Umi doakan semoga kamu mendapatkan suami yang sholeh, dermawan, sayang sama kamu dan keluarga, bertanggung jawab atas dunia dan akhirat kamu dan anak-anak kalian nanti, rendah hati, mau terus belajar dan pastinya siap berjuang di Jalan Allah" lanjutnya lagi, sepersekian detik suasana terasa 'awkward'; aneh sekali rasanya. Namun kemudian kupeluk tubuhnya erat dan bulirpun jatuh tepat di pundaknya yang mulai menua.
"Abi, terima kasih karena sudah memberikan hakku sebagai anak; memilihkan ibu terbaik untukku"












