Satu quote yang menarik dalam bengkel entrepreneur semalam.
art blog(derogatory)
todays bird
AnasAbdin
Sweet Seals For You, Always

Kiana Khansmith
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
One Nice Bug Per Day
Show & Tell
Jules of Nature

Discoholic 🪩

No title available

JBB: An Artblog!
almost home

PR's Tumblrdome

★
cherry valley forever
we're not kids anymore.

Janaina Medeiros
hello vonnie
NASA

seen from Singapore
seen from Puerto Rico
seen from France
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Singapore

seen from Italy

seen from United Kingdom
seen from Germany
seen from Brazil

seen from France
seen from United States

seen from Italy

seen from Brazil
seen from Brazil
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from Brazil

seen from United States

seen from Canada
@fazkuruni
Satu quote yang menarik dalam bengkel entrepreneur semalam.
Bersama beberapa alumni urduniyyun. Lepas selesai tangkap gambar terserempak dengan anak murid yg datang konvoi dari Port Dickson. Muka kaget semua. Apa apa pun tetap menyokong pindaan RUU355. Syariah Diperkasa Rakyat Sejahtera (at Masjid Negara Kuala Lumpur)
Nafas baru. Udara yang baru. Tugasan juga baru. DEMI MASA!
Selepas tamat musim haji yang lalu, maka berbondong-bondong manusia berangkat ke Haramain untuk melaksanakan ibadah umrah. Ada yang pertama kali dan ada juga yang sudah berkali-kali bahkan ada sebagai mutawwif. Nasihat saya untuk orang muda (yang tua apatah lagi), berusahalah untuk ke sana selagi tubuh dipenuhi kudrat. Tangguhkan dahulu dari bercuti atau backpack ke tempat lain jika masih belum berbackpack ke Haramain. Masjid Saidatina A'isyah, Tana'im, Mekah.
Jika orang Yahudi juga berpuasa pada 10 Muharam kerana sejarah Nabi Musa menyelamat bani Israel berhijrah ke Jerusalem dari Mesir. Apatah lagi kita umat muslimin yang dijanjikan berbagai ganjaran atas ibadat puasa 9 dan 10 Muharam.
Pendidikan bukan hanya semata atas sijil. Tapi sijil jua menjadi matlamat pendidikan pelajar hari ini. Hartanah habis dikebas orang, akhirnya tersungkur mencari nilai segulung ijazah.
Melalui Retinamu
Masih terekam sangat jelas di ingatanku, betapa malam itu begitu hebatnya mengoyak perasaan. Semua terlihat sayu. Anak tangga, batu kerikil, kursi taman itu. Semua seolah mengasihaniku, semesta menjadi saksi atas hancurnya aku. Ya, ini masih tentang kepergianmu.
Kau bilang, kapasitas kita hanyalah mampu berencana. Selebihnya, tangan Tuhan yang mengambil alih. Kau bilang, hak kita hanyalah mencoba, hasil akhir Tuhan yang punya kuasa. Bahkan mereka-reka pun tak ada guna, katamu. Bagaimana bisa hanya sebatas itu? Kita pernah bahagia bersama, maka naifkah jika aku beranggapan rindu yang lancang ini hanya kita yang mampu menuntaskan?
Kita sudah berencana, kita sudah mencoba. Lalu apa? Menerima hasil akhir; mendengar kenyataan dari bibir manismu bahwa terus bersama akan menambah luka di relung hati kita? Berkali-kali kau berkata, kau cinta tapi tak akan bisa.
Lalu, harus berkali-kali pula aku berjanji untuk menyerah? Membohongi hatiku sendiri bahwa aku berhenti mencintaimu padahal kenyataannya rindu itu selalu memberi tahu kemana arahku harus kembali menjatuhkan harapan; kamu?
Kita tidak lagi bersama dalam satu waktu, namun kau masih saja berkeliaran di sekitarku. Metamorfosa—kau menjelma nyata melalui kabarmu, senyuman bahagiamu bersama seorang yang lain, apa-apa yang kau lakukan sesaat setelah matamu dibangunkan matahari di waktu pagi hingga matamu tersapa malam dan mulai merebahkan lelah pada mimpi-mimpi. Lalu, kini siapa yang tak tahu diri? Metamorfosamu atau rinduku yang tak pernah mau mengerti?
Kenapa kau masih disini? Kau takut kehilangan penggemar, begitu?
Katamu, aku harus berjalan melanjutkan hidup. Berusaha merelakanmu sebisa yang aku mampu. Sedangkan kau tau kelemahanku. Kau merampas habis semua kemampuanku untuk tetap berdiri, berjalan tanpa pengganti. Lalu,bagaimana jika mencintaimu pun hingga kini masih menjadi bagian dari alur hidup dan tetap mengalir di setiap detik aku bernafas? Bahkan telinga-telinga itu, mata-mata itu sudah bosan mendengar dan melihatku terus bercerita—coletahan tentangmu yang bagi mereka membuatku terlihat begitu bodoh karena rela membuat luka di hatiku sendiri.
Dulu, melihatmu adalah satu alasanku pada semesta mengapa aku harus bahagia. seolah tidak akan terganti. Seolah kamu pertama—satu-satunya. Mengetahui kabarmu adalah salah satu caraku untuk tersenyum dan mengatakan pada semesta bahwa ini alasanku beberapa waktu terakhir mencoba merayu Tuhan. Memberanikan diri bertaruh dengan waktu dan keadaan meski sudah terlalu banyak pertanda akan hadirnya luka. Namun, semesta jauh lebih pintar dari yang kukira. Aku lupa, sepertinya aku terlalu besar kepala untuk bisa merasa memilikimu. Aku lupa jika semesta lebih punya kendali, aku lupa jika Tuhan sangat mampu berencana dengan semesta untuk makhluk di kolong langitNya. Semua terbalik, hampa tak ada sisa bahagia. Melihatmu lagi kini kurasa seperti mencabik luka yang belum sepenuhnya sembuh sempurna, metamorfosamu itu sungguh tak punya aturan untuk berlomba-lomba berkeliaran terekam retina mataku, Tuan! Ini lebih dari sekedar sakit, menerima bahagiamu, melihat senyum manismu di duniamu tanpa menyertakan aku.
Kau tau, mata adalah asisten kedua manusia selain hati untuk menjalankan tugasnya; jujur dan terbuka. Namun kini, aku tak berani menatap matamu terlalu lama. Aku tau tangisku ada disana, maka izinkan aku untuk menunduk menyembunyikan luka. Aku tak tau, siapa yang harus kupercaya. Emosiku yang berlomba-lomba ingin didengarkan atau tatapan matamu. Entah mengapa, kurasa retina matamu gagal menjalankan tugasnya dengan baik. Ada rasa tak percaya atas apa yang ada pada kedua bola matamu itu. Bola mata yang sempat kucinta tatapannya, yang selalu aku percaya ketika kata-kata manismu mengekor dibelakangnya. Entah mengapa, retinamu kini seolah tak tega melihatku terajam sedemikian kerasnya, seolah ia ingin menutup apa yang sebenarnya terjadi agar aku tak jatuh lebih parah lagi. Inikah karena hatiku tertutup oleh luka hingga aku tak mampu berpikir jernih seperti sedia kala, atau memang tak ada kejujuran disana—pada kedua retina hitammu? Kau harus mengerti bahwa mempercayai kenyataan itu sakit, tuan. Memahami keadaan dan keputusan semesta itu tak semudah engkau menjalankan kaki pada hati yang baru.
Jika kau bahagia dengan apa yang kau pilih, kenapa kau masih ada disini? Kenapa kabarmu masih kau biarkan masuk pada duniaku? Kenapa kau biarkan aku untuk ikut mengetahui apa yang harusnya tak kuketahui? Inikah caramu mencintai seorang yang mencitaimu? Membuatku mati hingga aku punah—tersesat tanpa arah, hingga aku hancur, lebur mengecil menjadi debu?
Ya, mau tak mau harus kuakui..
Kau menang, kita kalah…
Beratur kambing lepas kena sembelih. @Irbid, Jordan
Salah satu cara nak berjimat di kenduri majlis adalah dengan bergotong royong memasah hidangan. Nah, 6 periuk sekali gus pun boleh jika bekerjasama.
Sudah empat kali dalam sejarah Turkey di ambil alih oleh kudeta Tentera. Moga tiada yang seterusnya.
Warga Fazkuruni.com dengan penuh kesyukuran, mengucapkan buat semua; تَقَبَّلَ اللهُ مِنَا وَمِنْكُمْ، صِيَمَنَا وَصِيَمَكُمْ وجَعَلَنَا الله وَإِيَّاكَ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ كُلُّ عَامٍّ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ. 🎆*Salam Eidul Fitri Maaf Zahir dan Batin*🎆
Contoh sifir yang mudah. Kita sedekah RM1 pada malam Lailatul Qadr. Allah sebut dalam surah al-Qadr bahawa malam al-Qadr adalah lebih baik dari seribu bulan. RM1 x 1000 bulan x 30 hari = RM30 000 Bahkan lebih! Jikalau Allah tunaikan pada kita nilai tersebut pada waktu itu juga, pastinya manusia akan berlumba-lumba beramal.
Kelebihan orang berpuasa.
"Manusia merancang, Allah juga merancang, Allah jua sebaik-baik perancang"
Gambaran Sirah Rasulullah SAW secara ringkas selama 63 tahun hidup baginda. Sollu a'lan Nabi
Gambaran Sirah Rasulullah SAW secara ringkas selama 63 tahun hidup baginda. Sollu a'lan Nabi
Allah mewajibkan kita berdoa kepada-Nya, dan menjanjikan serta menjamin untuk mengabulkan doa para pendoa.