Seekor kodok tinggal di rak sepatu keluarga kami. Jenisnya mungkin kodok sawah, mengingat kami tinggal di pinggir sawah. Warna nya hijau butek dengan titik-titik di punggungnya, seperti usaha penyamaran seorang tentara di medan perang, warna tubuhnya merupakan penyelamatan diri, dari apalagi tentu saja pemangsa.
Kami pikir hanya satu kodok yang tinggal disana. Tidak pernah kami namai, untuk apa, dia hanya numpang menginap. Malam-malam ia cari makan, lalu pagi buta, tidak tahu persis pukul berapa kodok itu akan menyelinap masuk di salah satu sepatu, kemudian tidur, kalau tidak apes tinggal sampai nanti siang di sepatu itu. Tapi kalau apes, kodok itu ketemu Aku, yang siap-siap kerja lalu menggoyang-goyangkan sepatu, gempa bumi mungkin pikirnya. Mau tidak mau, kodok harus keluar cari tempat lain untuk menghabiskan sisa waktu tidurnya.
Tapi di bumi ini seluruh tempat adalah milik Tuhan. Kalau kodok itu maunya tinggal disana silahkan saja. Sekarang aku sediakan sepatu bekas untuk dia tinggal. Kendalanya hanya satu, aku tidak bisa bahasa kodok, aku tidak bisa menyuruh dia supaya "hey kodok, kamu tidur pakai sepatu ini saja, sepatu ini lama tidak aku pakai, aku gak perlu lagi bangunkan kamu kalau mau pergi kerja". Sayangnya, aku tidak bisa bahasa kodok.
Sampai saat ini, kodok itu tinggal di rak sepatu keluarga kami.













