Kabut dan pagi selalu punya rahasia yang hanya bisa dipahami oleh hati yang tenang.
Di antara cahaya lembut yang meraba pucuk daun, kabut turun perlahan, seakan menjadi tirai tipis yang menyembunyikan dunia. Jalan-jalan tampak samar, pepohonan berdiri seperti bayangan yang malu-malu, dan udara mengandung aroma basah yang menenangkan.
Pagi itu tidak tergesa. Ia berjalan pelan, membiarkan setiap embun menggantung lebih lama, membiarkan kabut menutup pandangan agar manusia belajar meraba dengan rasa, bukan hanya dengan mata. Ada damai yang meresap, ada bisikan sunyi yang mengajak kita berhenti sebentar, untuk sekadar mendengar detak waktu yang lembut.
Kabut dan pagi, keduanya seolah sepakat menjadi pengingat: bahwa keindahan bukan selalu tentang kejelasan, melainkan juga tentang misteri yang mengundang hati untuk mendekapnya dengan penuh syukur.












