It's my 11 year anniversary on Tumblr 🥳
Three Goblin Art
Jules of Nature
h
hello vonnie
taylor price
No title available

Discoholic 🪩

Kiana Khansmith
Stranger Things
art blog(derogatory)
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

⁂
Keni
i don't do bad sauce passes
TVSTRANGERTHINGS
wallacepolsom
No title available
🪼

blake kathryn

祝日 / Permanent Vacation

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Poland
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United Kingdom

seen from Germany

seen from Pakistan
seen from United States
seen from United States
@ferapusp
It's my 11 year anniversary on Tumblr 🥳
Mimpi Yang Terealisasikan
Disaat aku terus meyakinkan diri bahwa mimpiku ini akan terealisasi. Dan aku masih terus berusaha untuk menyelesaikan tugas akhir. Akhirnya aku mendapatkan ACC judul, judul yang memang direkomendasikan oleh pembimbing. Tentu saja judul tugas akhirku tidaklah mudah. Membuat sebuah prototype untuk media pembelajaran bukan tugas yang murah. Aku memerlukan biaya tambahan untuk membuat itu. Tapi aku mencoba meyakinkan bahwa aku bisa, dan harus bisa.
Banyak cara aku coba untuk mendapatkan uang, mencari pekerjaan sampingan sampai mencoba berjualan. Namun semua nihil, entahlah mungkin usahaku kurang. Hingga aku mendapat secercah harapan saat aku ditawari mengajar sementara di sebuah sekolah swasta. Dengan penuh keyakinan mahasiswa yang hanya tinggal menyelesaikan tugas akhir ini memutuskan untuk mengambilnya.
Aku mulai membagi waktu pergi ke sekolah dengan jadwal praktikum di laboratorium. Karena saat itu aku masih menjadi asisten laboratorium. Masih ada jadwal-jadwal praktikum yang perlu aku dampingi. Walaupun hasilnya belum seberapa, tapi lumayan untuk menambah pemasukan. Sambil mencicil bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat alatku.
Tidak sampai disitu saja, aku membali dihadapkan pada satu masalah keuangan. Uang yang sudah aku kumpulkan untuk membayar uang semester, aku pinjamkan ke teman dekatku. Aku menganggap hubungan kami sangat dekat, dan dia pun pernah menolongku meminjamkan aku uangnya untuk biaya kuliahku. Namun, ternyata aku salah menganggap semua teman dekat itu akan selalu baik. Aku tertipu, dia menghilang ketika sudah temponya aku membayar biaya kuliah. Semua kontakku diblokir oleh dia, sampai aku berpikir salahku apa sampai dia melakukan itu. Dan inilah momen saat aku memutuskan untuk cuti kuliah, atau lebih tepatnya terpaksa cuti kuliah.
Dengan banyak hal-hal yang tak diinginkan terjadi, rasanya aku ingin menyerah aja. Sempat aku berpikir untuk merelakan segala ambisiku. Mengubur semua angan-anganku. Begitu banyak kendala-kendala yang datang silih berganti. Mungkin sebagai cobaan dalam merealisasikan mimpiku. Apa memang harus sesulit ini untuk menggapainya.
Aku merenung setiap malam. Aku mulai merasa berjalan tanpa arah, yang mana yang harus aku lakukan lebih dulu. Aku sudah tidak menemukan apa yang menjadi tekadku untuk lulus. Aku seperti kehilangan diriku.
Saat aku sudah sangat terpuruk, lagi lagi ada uluran tangan seseorang yang mampu aku raih. Aku diberi kesempatan berpindah tempat mengajar, dengan penghasilan yang sedikit lebih banyak dari tempat pertama. Sungguh tidak menampik bahwa itu yang aku butuhkan saat itu. Aku berpamitan dan melepaskan sekolah swasta tersebut.
Di tempat baru aku mulai menata kembali keyakinanku untuk menyelesaikan langkahku. Aku banyak mendapat suntikan motivasi dari lingkungan. Kepercayaan diriku mulai tumbuh kembali. Bahkan tuntutan untuk segera lulus dari manajemen sekolah menjadi salah satu bara semangatku. "Mari kita selesaikan semua ini" ucapku dalam hati.
Proses demi proses mulai aku kerjaan. Pagi sampai sore hari aku mengajar di sekolah, malam hari aku membuat tugas akhirku di laboratorium kampus. Sebuah keuntungan menjadi seorang asisten laboratorium bisa memakai laboratorium dan segala perlengkapannya. Tentu semua proses ini tak lepas dari bantuan teman-temanku.
Perlahan demi perlahan tugas akhirku mulai selesai. Setelah itu aku masih harus berkutat dengan penulisan laporannya. Dengan segenap jiwa aku bertekat untuk benar-benar menyelesaikannya saat ini. Bahkan aku sangat ingat aku memutuskan untuk tetap tinggal di indekosku dari pada pulang ke rumah saat covid melonjak tinggi dan banyak daerah yang terkena lockdown termasuk daerahku saat ini. Aku benar-benar mengurung diri sendirian di daerah orang. Aku sudah tak memikirkan hal yang lain, selain aku harus sidang.
Setelah perjuangan itu, akhirnya aku menyelesaikan semua. Aku bisa mendaftakan diri untuk seminar hasil tugas akhir. Benar-benar secepat dan selancar itu rasanya mulai dari melengkapi berkas sampai melaksanakan seminar hasil. Aku lulus seminar hasil dan bisa melanjutkan sidang akhir dengan revisinya. Tanpa jeda aku terus memaksa diriku untuk menyelesaikannya. Revisi demi revisi aku kerjakan ketika yang lain sudah pulang ke rumah masing-masing karena masa lockdown diperpanjang entah sampai kapan. Aku berpikir tugas akhirku lebih penting, daripada pulang karena pandemi. Sampailah pada aku mendapat kabar bahwa revisi seminar hasilku diterima, dan aku bisa mendaftar sidang akhir. Aku sungguh bersyukur saat itu, rasanya ingin menangis terharu.
Akhirnya aku mendapat jadwal sidang. Menghadapi sidang aku merasa gelisah, khawatir tak semulus itu. Bahkan malam sebelum sidang aku tak bisa tidur. Menunggu giliran sidang terasa sangat menegangkan. Aku terus meyakinkan diri. Dan sidang pun berlangsung dengan sangat lancar. Tugas akhirku dinyatakan lulus.
Perasaanku tentu campur aduk. Ternyata aku bisa melewati semua rintangan ini. Dan mimpiku terealisasikan. Aku mendapat gelar sarjanaku pada akhirnya. Dengan langkah yang tersendat-sendat, air mata yang selalu terkuras. Akhirnya aku sampai, dan aku sangat bangga kepada diriku. Aku sangat bersyukur dan semakin yakin bahwa, Allah tidak akan memberi cobaan yang tidak bisa dilalui hamba-Nya.
Tak Sesuai Rencana
Setelah menerima pengumuman kelulusan tes penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri. Aku langsung merencanakan bagaimana aku akan mengajukan pengunduran diri dari tempat kerjaku. Semua orang berkata bahwa sayang sekali melepas pekerjaan saat ini, bahkan kontrakku yang hitunganya sangat panjang saja belum selesai. Namun semua tak menyurutkan niatku, pikirku lebih baik aku merelakannya saat ini daripada harus menyesalinya nanti. Berkas demi berkas daftar ulang aku siapkan seraya menuliskam surat pengunduran diri. Aku merasa jalanku seperti sangat ringan, proses demi proses terlalui dengan lancar. Rasanya sangat bahagia karena akhirnya aku bisa melanjutkan mimpiku.
Bagiku mengubah status menjadi mahasiswa merupakan sebuah kado terindah tahun ini. Karena tepat saat ulang tahunku ke sembilan belas tahun aku sedang melaksanakan rangkaian demi rangkaian pengenalan dunia kampus. Sungguh aku merasakan euforiannya saat itu. Begitu sangat menyenangkan bertemu orang-orang baru yang nantinya akan menjadi teman sekelas selama empat tahun, atau dengan yang berbeda jurusan. Bagiku inilah dunia yang aku idam-idamkan. Perencanaan demi perencanaan aku buat, mulai dari semester awal sampai akhir. Pikirku akan sangat mudah melihat perencanaan itu.
Namun ternyata semua tidak sesuai dengan rencana yang indah. Memasuki semester ketiga, ekonomi keluargaku terpuruk. Papah yang sudah bekerja lama di sebuah perusahaan textile harus terkena pemutusan hubungan kerja, sedangkan biaya hidup sangat banyak. Adik keduaku duduk di bangku SMA sedang yang terakhir di bangku SMP, dengan mamah yang hanya guru PAUD. Cicilan rumah yang saat itu masih berbulan-bulan. Membuat kedua orang tuaku memutar otak. Aku seaakan menyalahkan diriku yang egois ini, yang mengutamakan keinginannya untuk menjadi sarjana tapi kini seperti membuat beban kedua orangtuaku betambah. Sungguh aku seperti ingin berteriak kepada semesta mengapa harus seperti ini.
Sejak saat itu aku menjadi sangat pemurung, otakku rasanya sangat penuh. Aku masih ingin mempertahankan semua ini, tapi apakah mungkin bisa. Jika bisa bagaimana caranya. Tentu rencanaku saat ini adalah mengurus berkas perihal biaya kuliah, lalu mencari sampingan untuk membayarnya. Cara demi cara aku coba lakukan untuk menambah uang, mulai berhemat tentu saja. Dahulu aku adalah orang yang setiap harinya pulang pergi dari rumah ke kampus yang setiap harinya bisa menghabiskan empat puluh sampai lima puluh ribu. Namun sekarang aku harus memanfaatkan uang sebesar lima puluh selama lima hari. Aku mulai sering menginap di indekos temanku, berangkat senin pulang jumat. Ada satu hal yang aku syukuri yaitu sahabat-sahabatku yang sangat baik, jika tidak ada mereka entah bagaimana aku menjalani hari.
Tak sampai disitu saja. Ingat aku masih harus mencari uang untuk biaya kuliahku. Akhirnya aku cairkan uang Jamsostek saat aku bekerja yang lumayan untuk membayar satu semester dengan nominal yang sudah diturunkan. Lalu aku mendapatkan beasiswa selama dua tahun berturut-turut. Sisanya aku harus meminjan uang kepada teman-temanku. Entah keajaiban-keajaiban datang membantu kesulitanku. Aku bertekad untuk segera menyelesaikannya dan lulus tepat waktu. Segera mencari pekerjaan yang layak, dan mulai membantu ke dua orangku.
Lagi-lagi manusia hanya bisa berencana, tapi Sang Pemilik Semesta yang punya kehendak untuk mewujudkan atau tidaknya. Lagi-lagi aku dihadapkan dengan hal-hal yang sulit. Berawal dari pemilihan judul skripsi yang tak kunjung ACC, judul A kemudian B dan C sudah diajukan. Setelah beberapa lama dan judul sudah ada, masalah keuangan datang lagi. Aku terpaksa cuti satu semester. Rencanaku hanya tinggal rencana.
Mewujudkan Keinginan
Aku adalah seseorang yang memiliki cita-cita menjadi seorang pendidik. Di mana menurutku menjadi seorang pendidik merupakan pekerjaan yang sangat mulia. Bisa bertemu dengan murid-murid yang menyayangimu setiap harinya. Aku juga melihat itu di Mamahku. Beliau adalah sosok guru yang sangat disayangi oleh anak-anak muridnya. Bagiku Mamah merupakan sosok yang sangat aku banggakan.
Mamah adalah sosok orang tua yang selalu mengutamakan kepentingan anak-anaknya. Bahkan terkadang sampai melupakan apa yang beliau inginkan. Mamah bekerja menjadi seorang guru PAUD yang sampai saat ini penghasilannya tak seberapa. Tapi Beliau menjalaninya dengan sangat ikhlas. Pernah suatu hari mamah bercerita kalau beliau ditawari jenjang karir yang lebih tinggi, sehingga dianjurkan untuk mengambil program sarjana untuk melengkapi persyaratannya. Namun beliau menolak dan berkata lebih baik memberikan kepada anak-anaknya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan lebih tinggi dari beliau. Karena beliau tahu, tidak ada yang bisa diturunkan kepada anak-anaknya selain membekali anak-anaknya dengan ilmu. Mamah sangat ingin sekali melihat anaknya sukses dalam dunia pendidikan dan ingin melihat anaknya menjadi sarjana.
Dari situ aku mulai memiliki keinginan untuk mewujudkan keinginan Mamah. Aku ingin menjadi seorang anak yang bisa melanjutkan ke pendidikan tinggi dan menjadi seorang guru. Aku sangat ingin membuat Mamah bangga bahwa anaknya bisa mewujudkan mimpinya. Maka dari itu aku mulai mencari informasi tentang dunia perkuliahan sendiri. Mencari bidang yang aku senangi. Dan aku memutusan untuk mengambil jurusan Pendidikan matematika pada awalnya. Karena aku sangat menyukai guru-guru matematiku, dan beranggapan bahwa sepertinya akan mudah untuk aku menjalaninya.
Setelah lulus SMA aku langsung mengikuti apa yang aku inginkan, mendaftarkan diri ke seleksi perguruan tinggi negeri. Memilih perguruan tinggi sangat sulit ternyata jika tak ada orang yang bisa kita aja berdiskusi. Tentu saja saat itu aku masih beranggapan bahwa harus pendidikan matematika. Segala jenis soal yang ada pada buku tes masuk perguruan tinggi aku coba selesaikan. Berbagai jenis video cara menyelesaikan soal sudah aku tonton. Namun dari tiga tes yang aku lakukan semuanya gagal. Dari tes dengan nilai raport sampai tes mandiri, dari mulai perguruan tinggi yang pasing grade tinggi sampai aku turunkan sedikit tetap saja hasilnya aku tidak bisa masuk. Tentu saja terpuruk, aku merasa sangat bodoh sekali saat itu. Banyak orang yang berkata bahwa tidak apa-apa tidak di perguruan tinggi negeri, namun aku tetap pada keinginanku. Harus PTN, dan harus pendidikan matematika. Dan aku memilih jeda terlebih dahulu, dan mengikuti tes di tahun depan.
Aku mengambil beberapa pekerjaan sambil menunggu pembukaan tes tahun depan. Pertama kali aku mencoba bekerja di pabrik sepatu di daerah Jatake. Setiap hari aku harus berangkat dan pulang menggunakan bus karyawan. Tugasku mudah yaitu mengolesi cairan kimia yang baunya sangat menyengat ke bagian outsole sepatu. Entah berapa buah outsole yang bisa melewatiku setelah diolesi setiap harinya. Lalu saat pulang aku harus berlari menuju bus karyawan agar aku bisa mendapat tempat duduk. Bisa dibayangkan bagaimana keadaan bus karyawan saat pulang sungguh aku sangat gerah, semua bangku terisi penuh dan orang-orang yang berdiri sangat berhimpitan sampai bus benar-benar penuh. Penah sekali saking aku tidak kuatnya aku memutuskan untuk turun di tengah jalan dan pulang menggunakan angkutan umum. Di sini aku tahu bahwa bagaimana sangat lelah dan kerasnya para orang tua berjuang untuk menghidupi keluarganya.
Kurang dari dua bulan, aku berpindah ke tempat kerja yang memproduksi kabel listrik. Tentu saja itu adalah tempat kerja yang sangat didambakan oleh perempuan-perempuan di daerahku. Bagaimana tidak seperti nilai kesejahteraannya sungguh berbeda 180 derajat dengan tempat kerja pertamaku. Tugasku di sini lebih santai, hanya memeriksa kelengkapan aksesoris dari kabel dan memastikan tak ada kabel yang putus. Posisi yang kerap membuat kesal anak-anak produksi, di mana pekerjaan mereka akan ditaruhkan apakah lulus dan bisa di kirim atau harus kembali dibongkar ketika sampai di bagianku. Seharusanya sangat mudah di jalani bukan? Namun tidak, aku tetap memilih tujuan awalku.
Bukan sekedar wacana, aku mencoba kembali tes masuk perguruan tinggi saat itu. Dan aku sudah memiliki strategi, dengan memilih tiga jurusan yang menurutku aku akan bisa menjadi pendidik di bidang itu. Pilihan pertama tetap pendidikan matematika, lalu pilihan kedua aku memilih pendidikan teknik elektro, dan yang ketiga yaitu teknik elektro. Dan akhirnya aku mendapatkannya, aku lulus di program sarjana pendidikan teknik elektro. Sungguh sebuah pencapaian yang sangat aku banggakan. Di mana bukan hanya keinginanku saja yang terpenuhi, tapi juga aku selangkah lebih dekat kepada keinginan Mamah melihat anaknya menjadi sarjana. Dan aku berharap aku langkahmu mudah.
Relationship
Aku pernah berkali-kali berada dalam sebuah hubungan yang awalnya menyenangkan, manis, dan membahagiakan. yaa hanya sementara setelahnya semua hilang bersaman kecewa dan sakit hati entah karena penghianatan atau lainnya. apakah aku masih bisa percaya dengan sebuah hubungan?
Menentukan prioritas memang terasa sulit saat dua hal besar dikerjakan
fp
Awal Desember Tanpamu...
Hay.. Bagaimana kabarmu? Ah aku tak perlu menanyakannya karena kau terlihat bahagia.
Awal Desember aku masih seperti ini. Aku masih merindukanmu. Aku masih merasakan kehangatan bersamamu. Aku masih merasakan kebahagiaan bersamamu. Saat aku memejamkan mataku.
Terlalu banyak mulut bertanya. Apakah aku baik-baik saja? Apakah aku kecewa? Apakah aku marah? Apakah aku ... Iya, semua pertanyaan klasik untuk seseorang yang ditinggalkan.
Aku baik-baik saja, Karena hanya ada bagian dalam diriku yang hilang tidak semua. Aku tidak kecewa, Karena aku selalu berfikir aku pantas mendapatkannya karena mengecewakanmu. Aku tidak marah, Karena emosiku sampai saat ini pun tidak meledak. Aku bahagia, Karena hanya kebahagiaan darimu yang hilang, tidak semuanya. Aku menang atas teoriku untuk semua pertanyaan diatas.
Namun tidak ketika pertanyaan Apakah aku sedih? Dan aku selalu menjawab, Aku tidak sedih Satu kebohongan kecil yang terlalu mudah untuk diketahui haha Yang berujung pada kalimat "Tidak ada wanita yang baik-baik saja, ketika lelakinya bersama dengan wanita lain. Kecuali dia tidak memiliki perasaan pada lelaki tersebut."
Ah baiklah. Aku memang tidak baik-baik saja. Aku sedih karena aku kehilangan semua tentangmu. Canda tawa bahagia. Cemburu marah tangis. Aku suka semua hal yang ada pada dirimu. Dan aku kehilangan itu. Aku sedih. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku merindukanmu, di awal Desember 2017.
Sayang... Aku sadar, ketika kau ajak aku berlari menghampirimu aku hanya bisa merangkak perlahan karena rantai yang kupasang sendiri. Lalu saat aku sudah melepas rantai itu dan perlahan mulai berjalan jalanku tak bisa menyeimbangi larimu. kau sudah jauh di depan sana dan tetap berlari. Sekarang ketika aku sudah bisa berlari ternyata kau sudah jauh tak terlihat. Ternyata memang diantara kita, aku yang lambat.
Tapi Sayang... Aku masih ingin berlari menghampirimu. Aku masih ingin menyeimbangimu. Aku masih ingin di sampingmu. Aku masih ingin melangkah denganmu. Walau tak semudah itu saat ini. Karena langkahmu kini ditemani langkah kaki yang lain.
Sayang... Terlalu banyak yang ingin kuucap. Terlalu banyak yang ingin kudengar. Entah itu tentangmu ataupun tentangku. Namun, Kau tak lagi ingin mendengarkan. Kau tak lagi ingin berucap.
Sayang... Aku harus bagaimana sekarang? Haruskah aku menghampirimu? Membuatmu terpaksa menemuiku? Tidak sayang, Maaf. Jika definisi berjuang itu aku harus menghampirimu, itu bukan aku. Aku lebih memilih diam sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Jika kau pikir aku diam tak berjuang, maaf sayang, kau salah. Karena diamku sudah penuh perjuangan. Berjuang diam melawan keegoisanku sendiri. Berjuang menenangkan hati. Berjuang untuk ikhlas melihatmu bahagia bukan karena aku.
Sayang... Aku selalu ingin berkata. Aku masih sayang kamu. Aku masih rindu kamu. Aku masih ingin bersamamu. Aku masih ingin kamu. Tapi sekalipun aku mengemis kau tak akan pernah berhenti dan kembalikan sayang?
Tidak sayang. Sekalipun ingin aku tidak akan memintamu berhenti dan kembali. Karena aku tahu itu bukan kamu. :) Tak mengapa sayang, biar aku saja yang bersusah payah berlari menghampirimu, biar aku saja.
Aku berjanji, aku akan menjadi lebih baik. Kamu juga ya sayang. Aku tidak akan mengatakan aku ingin menjadi lebih baik karenamu. Tidak sayang. Bukan aku tak ingin menjadi yang kau inginkan sayang. Karena aku ingin kau mampu menerimaku seperti adanya aku.
Jadi sayang... Aku ingin menjadi lebih baik untuk diriku sendiri. Aku ingin belajar menyayangi dan menghargai diriku sendiri. Karena jika sudah begitu, aku bisa menyayangimu. Karena jika sudah begitu, aku bisa menghargaimu.
Terimakasih sayang. Untuk Bahagia dan Luka yang kau berikan. Aku sayang kamu. Sampai batas waktu yang tak bisa kutentukan :)
aku tahu kamu dapat merasakan ini rasa yang seharusnya tak pernah hadir di antara kita rasa yang hidup karena terbiasa iya terbiasa menapikan semua kata kini rasa itu tumbuh semakin cepat seperti bunga yang sebentar lagi mekar namun haruskah bunga itu mekar? menampakkan keindahan yang menyakitkan? ketika kalian tetap bersama dan kamu tetap ingin bersamaku haruskah seperti itu?
ketika kini semua serba salah
siapa sangka kini semua menjadi serba salah? kehadiranmu dalam hidupku dan membawaku dalam kehidupanmu dengannya. siapa sangka rasa yang tumbuh perlahan menjadi sangat salah? ketika aku mulai terbiasa dengan canda tawa perhatianmu dan mulai takut kehilanganmu. siapa sangka rindu yang mulai menyeruak menjadi belati yang salah? rindu ketika banyak waktu kosong yang aku lewati tanpamu setelah hari-hari yang kita lalui tak pernah sedikitpun aku menyangka aku merindumu namun tak sanggup berucap ketika aku tahu rindu ini salah rindu ini seperti belati yang siap mengkoyak hati siapa saja mungkin hatimu, hatiku, dan hatinya
jujur? kumohon jangan paksa sebuah kejujuran yang akan menyakiti ini ijinkan saja aku pergi dan menghilang lupakanlah aku dan semua waktu singkat yang kita jalani anggap saja aku tak pernah masuk dalam hidup akupun akan begitu, melupakan semua tentangmu pergi dari cerita cinta segita ini terserah apa katamu aku akan tetap menarik diri terhadapmu.
ooooooowwwwww :””””””””””””””””””)
aku memaksakan diri untuk membuka mataku, menikmati kebisingan yang timbul akan adanya gesekan kegiatan di pagi hari. terus terang aku masih ingin bermimpi, aku masih ingin bersamamu. entah mengapa aku lebih menyukai mimpiku tentangmu yang masih menjadi kekasihku, dan aku tak sanggup menampikkan ketika dalam dunia nyata semua berbanding terbalik. Aku lupa sebenarnya dalam matematika semua yang berbanding terbalik sama besar lalu perumpamaan apa yang sanggup aku ibaratkan untuk kita? khayalan pagi ini melayang jauh menuju langit ketujuh. akan kah ada jalan untuk menjembatani perbedaan ini? tentu saja tidak logikaku berkata lalu bertanya, apakah sedalam itu kau sudah masuk dalam hatiku? dan hatiku tak mampu menjawabnya. logika tahu dalam hati banyak sekali nama yang tertera, namun hati tahu mana nama yang tak pernah pergi dan selalu mendepak nama baru yang datang hahaha pertahanan yang kuat dari penjaga gawang ini.
Aku memacu kecepatan sepeda motorku di jalanan yang sudah semakin sepi ini. Menyatu bersama angin malam mencoba melupakan semua. Menjadi wanita kuat bukan berarti aku tak rapuh, sayang aku tak setegar itu. Aku rapuh melihat kau rapuh. Aku gelisah melihat kau gelisah. Aku merasakan semua apa yang kau rasakan. Namun di hadapanmu aku mencoba untuk tetap tegar, di hadapanmu aku mencoba untuk tetap tersenyum, berharap dengan semua sandiwara ini bisa menenangkanmu. Akankah kamu memahaminya? Aku tak masalah jika tak ada penenang untuk kegundahanku, aku tak masalah berpura-pura tegar agar kau tetap tegar. Aku tak masalah selalu menjadi pundak, aku pun akan selalu memelukmu erat saat keadaan apapun. Karena melihatmu bahagia selalu membuatku tegar, dan bahagia. Sayang ini kisah kita, bukan kisah dia dan mereka. Kita yang buat alurnya. Kita yang akan membedakaannya. Percaya padaku, ku mohon percaya padaku. Aku masih ingin melihatmu sukses, aku masih ingin melihatmu membahagiakan orang tuamu dan orang tuaku seperti katamu, aku masih ingin itu. Dan aku yakin kita akan melewati hari ini,esok dan seterusnya. Aku yakin karena telah banyak hari yang kita lewati sampai sekarang, aku yakin. Tak masalah berpura-pura tegar, tak masalah berpura-pura kuat,yang terpenting kamu tetap bisa menjalani harimu dengan tegar dan senyuman bahagia.
"Karena setia tak melulu soal tak memiliki yang lain, tapi tahu hatinya untuk siapa. Karena merpati akan selalu pulang kembali pada pasangannya walau sejauh apapun ia terbang. Karena cinta selalu tahu jalan untuk pulang dan kembali" jadi pengen nusukin hati pake solder, melting broh :""""") with serpihan hati yang menjadi butiran debu – View on Path.
Segores Pena Tentang Rasa
Satu.. Dua.. Tiga.. Aku menikmati setiap detik yang Tuhan berikan kepadaku untuk memandang lukisan tiga dimensi yang indah di hađapanku. Hitungan pertama aku langsung mengenalimu. Hitungan kedua aku terpesona akan sosokmu. Hitungan ketiga getar itu terasa sederhana namun memiliki arti yang ambigu. Mungkin ini terasa tak mungkin, mungkin ini terlalu cepat, mungkin ini konyol, tapi mau kah kamu tahu sesuatu yang nyata? Yaa aku mencintaimu, cinta pada pandangan pertama? Iya.
Sehari, dua hari, tiga hari… Setelah hitungan menggetarkan jiwa itu, kini aku dan kamu semakin dekat, semakin banyak waktu yang kita habiskan untuk bertukar pesan. Semakin sering senyum yang mengembang setiap aku membayangkan ekspresimu di ujung handphone sana. Ini berlebihan? Memang. Lalu apa itu salah? Jujur saja untuk aku yang telah mencintai kesendirianku semenjak dia pergi (kamu tau itu siapa), sangat sulit untuk mendapatkan senyum yang berbeda dari seorang yang berlawanan jenis. Aku terlalu menutup hati walau begitu banyak yang mendekatiku sampai aku tersebut sebagai player hahaha tenang sayang bukan aku yang player tapi mereka yang terlalu baper dengan semua tingkah lakuku, mereka yang menganggap semua candaku sebagai sesuatu yang serius, ahh aku membenci orang-orang seperti mereka. Tapi inilah kejujuranku sayang, Tak ada yang pernah bisa membuka pintu hati ini, tapi kamu bisa. Tak ada yang bisa membuatku nyaman untuk bermimpi lagi, tapi kamu bisa. Tak ada yang bisa memgalihkan perhatianku, tapi kamu bisa. Ini terlalu singkat, ini terlalu naif, tapi kamu, iya kamu menggantikannya.
Satu minggu, dua minggu, tiga minggu.. Hari-hari selanjutnya kita mencoba untuk bersama. Walaupun kita tahu pada akhirnya kita akan saling menyakiti. Kita bersama di atas perbedaan yang terlalu signifikan, kita bersama di antara tembok yang begitu tinggi, tak masalah aku tetap bahagia kita bersama. Semua indah dalam hariku entah dalam harimu, semakin hari semakin aku tak ingin kehilanganmu. Konsep kisah ini menjadi kamu milikku hanya milikku, tapi tak sebaliknya. Beberapa minggu kemudian pertengkaran-pertengkaran mulai muncul hanya karena hal sepele, hanya karena sifatku. Sayang ternyata kamu belum bisa mengerti aku sepenuhnya, dan aku pun sebaliknya. Tiba saat kamu mulai menyerah untuk mempertahankan kita, aku tahu sayang, aku merasakannya, hanya saja aku ingin kamu mengatakannya dengan jujur. Aku menunggu kejujuranmu dan aku mulai terluka karena semua tingkahmu. Aku terluka dan terus terluka selama berhari-hari. Sampai akhirnya kamu mampu mengatakannya. Kamu tahu apa yang aku rasakan? Aku sakit namun aku bahagia, bahagia karena kamu akhirnya jujur. Walaupun berat untuk melepaskanmu, tapi apalah bisaku? Jika itu memang yang terbaik untuk kita, haha kita? Entahlah.
Setelah perpisahan itu? Aku masih memeluk bayangmu, aku masih mencumbu senyum manismu, aku masih terbuai dengan perasaan tak rela namun memintamu kembali aku tak mampu. Banyak hal bodoh yang ingin aku lakukan jika rasa rindu itu mengekang logikaku. Aku rindu terus merindu. Aku masih dan terus menyayangimu dalam bayangan semu. Sampai detik ini aku sadar, aku menyerah karena kamu telah menyuruhku berhenti. Sayang, aku masih ingin memanggilmu sayang, mungkin untuk yang terakhir kali. Sayang terimakasih untuk awal tahun yang indah ini, terimakasih untuk semua rasa yang kamu ajarkan di atas sebuah perbedaan ini, terimakasih atas warna di atas kanvas ini. Maaf karena aku terus menjadi bayangan dalam hidupmu ini. Maaf sayang. Maaf.. Aku hanya tak bisa secepat itu melupakan dan menapikan rasa ini.
cahaya harapan yang turun dari langit. membawa asa ketika peluh keringat deras mengucur dan lelah datang mendera. semua terobati ketika kita ingat masih ada harapan yang harusnya kita gantungan setinggi langit. gantunglah harapan sebanyak-banyaknya dan teruslah berusaha keras.
Tempat: Kampus C - Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Jatuh Cinta Dihitungan Ketiga
Histeria tahun baru masih terasa dihari-hari selanjutnya. Banyak hal yang berubah disekitarku, yaa semua mereflesikan tahun baru sebagai sesuatu moment dimana menghilangkan yang lama dan menggantinya dengan yang baru, pacar contohnya 😂. Namun tidak dengan diriku, aku masih tetap seseorang yang sama dari tahun ketahun, ini tahun kedua yang kurayakan sendiri-tanpa seseorang spesial- yaa hanya sendiri, perduli sekali dengan status pacaran pikirku. Banyak orang disekitarku berkata mungkin aku masih terbuai akan masa lalu atau memang aku telah terlanjur mencintai kesendirianku, mungkin. Hari keenam setelah tahun berganti, aku mendatangi tempat yang biasa atau bahkan hampir setiap hariku habis disana, tentu saja seorang diri. Melihat keramaian yang begitu asing di lingkungan ini. Mereka asik dengan kumpulan mereka membicarakan sesuatu yang aku tak pernah ingin tahu. Aku pikir temukan saja teman yang aku kenal, mengelilingi tempat ini dan pulang kerumah. Aku berdiri didepan pintu dengan mata terfokus pada layar handphone seraya mengetik sebuah pesan singkat pada seseorang di ujung sana. Saat menoleh aku menemukan sosok yang kukenal berjalan setengah berlari ke arahku. Aneh rasanya waktu berhenti ketika mata kita bertemu, seperti tak ada orang lain di tempat itu hanya kita berdua. Hitungan pertama aku mulai mengenalinya, dia bukan orang asing bukan pula orang yang sangat aku kenal. Perkenalan kita sangatlah singkat walau kita berada dalam lingkungan tempat tinggal yang tak begitu jauh. Ya aku mengenali dia Hitungan kedua rasa gugup itu datang. Menatap tatapannya membuat seluruh syarafku melemas degub jantungku mulai berdetak lebih cepat, aku tahu ini terdengar berlebihan namun itu yang ku rasa. Ada rasa yang berapi-api menyelinap, rasanya yang tak pernah aku rasa sebelumnya. Sangat sederhana namun membingungkan. Hitungan ketiga aku mencintainya. Entah ini naif atau apalah, aku jatuh cinta pada pandangan pertama saat menatap matanya. Aku merasakan kenyamanan pada seseorang yang tak pernah kurasa. Aku mencintai sosok dihadapanku, yang hendak tersenyum kepadaku. Begitu lama waktu berhenti hanya untuk sekedar menatapnya tanpa menyapanya. Bodoh aku malah menghindarinya, salah tingkah dihadapannya. Dia pun berlalu dibelakangku. Aku masih merasa terhipnotis sosok itu dan... Ah. Aku menyesali tindak bodohku mengapa tak ku sapa dia. Aku memutuskan berlalu berlawanan arah dengan pria itu. Mengitari lingkungan yang tak seberapa luasnya. Namun naas langkahku membawaku kembali ke hadapanya. Aku memperhatikannya, pria yang sedang memberikan pengetahuan pada orang-orang dengan rasa ingin tahunya. Aku memperhatikan begitu lama, aku suka saat dia tersenyum pada orang dihadapannya walau bukan aku. Akhirnya ketika semua berkumpul aku pun berdiri ditengah keramaian mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi. Aku melihat sekelilingku, tak ada yang bisa kukenali. Dan aku menyadari pria itu sedang berdiri tepat belakangku. Dengan badannya tinggi dan senyumnya yang manis membuatku tak dapat terlalu lama menatapnya, aku takut melakukan hal yang bodoh lagi. Kini aku mencintainya mencintai pria itu pada hitungan ketiga.