pada saat kami (kamu/kita) paling membutuhkannya*
rasanya sudah lama sekali tidak menulis buku harian di halaman ini. boleh ya cerita? semoga ada sesuatu yang bisa dipetik.
suatu hari, saya menghadiri kajian bersama ibu-ibu teman sekolah mbak Yuna. lewatlah cerita tentang pengalaman-pengalaman berhaji orang lain, tentang bagaimana doa-doa saat haji dikabulkan dengan begitu indah. kepada salah satu ibu yang dekat dengan saya, saya akhirnya bilang. "mbak, doakan ya mbak. tahun ini aku insyaallah berangkat haji." seketika mbak ini berkaca-kaca. "mbaaaak. senang bangeeettt dengarnyaaa."
lalu dia tanya, "mbak uti, gimana caranya ngeyakinin suami untuk haji?" saya mikir sebentar, hingga kemudian jawab jujur saja. "sejujurnya, mas Yunus yang meyakinkan aku untuk haji, mbak." dan mulailah saya cerita, khususnya tentang perjalanan finansial keluarga kami.
saya dan mas Yunus menikah tahun 2016. saat itu, mas Yunus masih semester 2 PPDS. meskipun mas Yunus dapat beasiswa untuk uang saku, boleh dibilang, selama mas Yunus sekolah, saya yang menjadi tulang punggung keluarga kecil kami. paling tidak, kebutuhan saya dan mbak Yuna harus bisa saya penuhi.
tahun 2021, mas Yunus selesai PPDS. kami seperti pengantin baru lagi, harus menata banyak hal termasuk urusan keuangan. kami belum punya rumah sendiri--tinggal bolak-balik antara di rumah orang tua saya dan orang tua mas Yunus. dan saat itu kami dapat beberapa ujian finansial. pertama, mas Yunus kehilangan tas kerjanya yang berisi laptop dan sebagainya. saya sedih karena tas itu pemberian saya ketika kami menikah. tapi yang lebih bikin sedih, semua foto-foto saya dan mas Yunus (juga mbak Yuna) dari tahun 2015 sampai 2020 hilang, termasuk dokumentasi kelahiran mbak Yuna. innalillahi, qadarullah. lalu, untuk modal mencari kerja, saya pun memberikan laptop kesayangan saya kepada mas Yunus. "gampang, di kantorku banyak laptop."
selang beberapa minggu, di tengah bulan Ramadan tahun 2021, mobil kecil milik ibu saya yang biasa kami pakai kecelakaan tunggal, menabrak separator jalan. mas Yunus, saya, dan mbak Yuna tidak apa-apa, hanya memar-memar. tetapi mobil kami ringsek sampai keluar airbag, harus masuk bengkel selama minimal 3 bulan. saat itu, pas sekali asuransi mobilnya habis dan belum diperpanjang. saya bilang sama mas Yunus, "kita harus muhasabah diri. apa pesan yang ingin disampaikan Allah lewat ujian-ujian ini? apa kira-kira yang nggak Allah ridhoi?" setelah mobil ini rampung, mobil ini pun dijual oleh ibu.
mas Yunus masih mencari rumah sakit untuk kerja. saya ingat mengantar mas Yunus entah ke berapa banyak rumah sakit--bahkan sampai ke Brebes. kalau diingat-ingat lagi sekarang, ya Allah perjuangannya. nggak terbayang kalau kami harus tinggal di kota yang jauh dari orang tua. tapi saat itu niat saya hanya satu: sami'na wa atho'na kepada suami. kami pinjam mobil ibu lainnya untuk wara-wiri. alhamdulillah, karena kasih sayang bapak ibu mertua, mas Yunus akhirnya dibelikan mobil sendiri. ini rezeki yang luar biasa dan yang sangat kami butuhkan. mobil ini masih kami pakai sampai sekarang.
pada saat kami benar-benar pasrah akan semua urusan kepada Allah, mas Yunus diterima di rumah sakit impiannya. sangat tidak disangka-sangka sebab sekiranya semua jalan sudah tertutup. tapi ternyata kata Allah tidak. mas Yunus pun mulai bekerja di sana. saya bersyukur sekali mas Yunus memperoleh tempat kerja yang bisa memenuhi 3 kebutuhannya: kebutuhan finansial, kebutuhan aktualisasi diri, dan kebutuhan emosional spiritual untuk berbagi/mengabdi.
sejak awal mas Yunus bekerja, mas Yunus mengajari saya untuk punya beberapa tabungan. di keluarga kami, mas Yunus menteri keuangannya, saya cuma bendahara wkwk. salah satunya adalah tabungan haji. kata mas Yunus, yang termasuk rukun Islam itu berhaji, bukan punya rumah atau punya mobil. selama masih ada tempat tinggal, masih ada kendaraan, tujuan finansial yang pertama harus haji.
saya bilang sama mas Yunus, yasudah kalau mau daftar haji, kita daftar reguler saja. lagipula, asik kan bisa ada di tanah suci selama 40 hari. tapi mas Yunus menolak. katanya, pertama untuk ibadah kita harus upayakan yang terbaik. kedua, antrean haji reguler panjang sekali, memangnya sampai umur kita? dengan keterbatasan pengetahuan tentang travel-travel haji, begitu tabungan cukup, kami mendaftar haji khusus di travel milik tetangga kami pada pertengahan tahun 2022.
selanjutnya, mas Yunus membukakan rekening dollar untuk kami menabung haji. kata mas Yunus, nilai tukar rupiah bisa jadi melemah. lebih baik sejak awal menabung dalam dollar karena ongkos haji juga dibayarkan dalam dollar. alhamdulillah ini keputusan yang sangat tepat. setiap bulan, setelah menunaikan zakat, mas Yunus setoran ke rekening ini.
selain menabung haji, tentu kami berikhtiar untuk punya rumah sendiri. kebetulan, di akhir tahun 2023--sebelum mas Yunus berangkat fellowship ke beberapa negara selama satu tahun, ada tetangga kami yang menjual rumahnya karena butuh uang. tentu saja tabungan kami tidak mungkin cukup. tetapi, berhubung harganya tidak terlalu mahal, luasnya sangat luas untuk ukuran Jakarta Selatan (260 m2), dan kami niat membantu tetangga itu, kami istikhoroh-kan dan ikhtiarkan. lagi-lagi, kami dapat bantuan dari kedua orang tua mas Yunus dan dari ibu saya untuk menggenapi separuh harga rumah sisanya. alhamdulillah, bulan Oktober 2023, kami resmi punya rumah. rumah ini kondisinya masih kurang bagus, sehingga kami masih harus menabung untuk renovasi. sementara menabung lagi, rumah ini dikontrakkan. tapi intinya, saat itu mas Yunus bilang, "kalau kita mendahulukan haji, yang lain-lainnya akan mengikuti." dan itu benar sekali!
selama tahun 2024, mas Yunus fellowship satu tahun di luar negeri. sementara itu, saya tinggal di Jakarta karena sudah terlanjur pindahan dan mbak Yuna bersekolah di sana. kata beberapa teman, saya ini agak kurang waras. mau-maunya meninggalkan segala kenyamanan di Bogor, pindah ke Jakarta, tinggal dengan mertua, jadi harus melaju Jakarta Bogor karena kantor ada di Bogor, eh ditinggal pula oleh suami. saya hanya ketawa. syukur alhamdulillah, bapak ibu mas Yunus sayang sekali sama saya. sampai-sampai seakan-akan saya anak kandungnya. kalau ada apa-apa dengan mas Yunus, ngobrolnya malah lewat saya. lalu selama bapak sakit: operasi usus buntu, pasang ring tiga kali, dan sekarang cuci darah seminggu dua kali, kerap saya yang ada menemani bapak.
lagi-lagi, selama mas Yunus fellowship, kami memasuki "survival mode". dan saat inilah, ibu saya yang menolong. ibu suruh saya beli mobil listrik agar biaya melaju Jakarta Bogor bisa lebih murah. akhirnya, uang mobil bekas kecelakaan yang sudah dijual itu dibelikan mobil listrik mungil. alhamdulillah, jadi bisa irit sekali.
tahun 2024 (dan 2025) segera berlalu. mas Yunus sudah pulang, bekerja lagi seperti biasa, bahkan dapat rumah sakit swasta. akhirnya kami bisa seperti keluarga sungguhan. setelah 8 atau 9 tahun menikah. bisa tinggal bersama, menata cita-cita keuangan, menata tujuan-tujuan lain di depan, bisa mulai liburan-liburan lucu. huhu, makasih mas Yunus sudah ajak kami ke banyak tempat.
program magister yang saya mulai saat hamil mas Yasa, akhirnya selesai di bulan Juli 2025. lama banget memang. keluar ruang sidang, mas Yunus menyerahkan brosur program doktoral kepada saya. betul, pembimbing saya berharap saya bisa lanjut program doktoral karena kampus kami sedang butuh banyak tenaga pengajar. kata Prof. A, siapa tau di masa depan saya bisa melanjutkan cita-cita yang sempat ditunda, bisa melanjutkan pengabdian almarhum ayah dan ibu.
saya iya-iya saja meskipun dalam hati tidak yakin. sekolah itu mahal. waktu S2 saya dapat beasiswa, kalau sekarang saya sudah kepentok usia. tapi mas Yunus bilang, insyaallah ada rezekinya. dan mas Yunus seniat itu! mas Yunus yang membelikan formulir pendaftaran, mendaftarkan tes TOEFL, mendaftarkan tes TPA, mengecek kelengkapan berkas pendaftaran, mengantar saya wawancara/presentasi proposal.
saya terharu sekali sih. ibu saya dosen juga tetapi nggak sampai S3 sekolahnya karena "mengalah" agar ayah saja yang sekolah doktoral. tentang ini, ibu sering berpesan. "intinya, apapun keputusan kamu dalam hidup, jangan sampai di satu titik kamu bilang semacam: gara-gara suamiku nih, aku jadi nggak bisa kerja, jadi nggak bisa kuliah, dan lain-lain." ya, aktualisasi diri itu hak perempuan, termasuk perempuan yang menikah. dalam hal ini, saya merasa mas Yunus mendukung saya sekali, merasa disayang sekali, merasa bahwa cita-cita saya sama pentingnya dengan cita-cita semua anggota keluarga lainnya.
jadi, sesuai dengan nomor porsi pendaftaran haji, seharusnya kami berangkat tahun 2028 atau 2029. kalau studi doktoral saya bisa tepat waktu, artinya, kami akan berangkat haji saat saya menulis disertasi atau malah saat disertasi sudah rampung. tapi rupanya, tahun 2025 lalu, travel kami menyampaikan ada kemungkinan kami bisa berangkat pada tahun 2025. mas Yunus semangat sekali. ketika ternyata nomor porsi kami belum keluar, mas Yunus minta berangkat umroh. alhamdulillah akhirnya kami berangkat umroh pada bulan Juni-Juli 2025, sebelum saya sidang S2. dan rasanya, perjalanan umroh ini benar-benar pada saat kami paling membutuhkannya (juga).
karena sudah ada aba-aba bahwa jadwal keberangkatan haji bisa maju, mas Yunus gaspol menabung untuk haji--sambil tetap mencicil kepada kedua belah orang tua untuk rumah. kadang-kadang kami nakal sedikit sih, tabungan dipakai jalan-jalan untuk bonding keluarga. tapi nggak apa-apa, semua pengeluaran nggak ada yang kami sesali dan justru kami syukuri. ini kami belajar dari keluarga kakak saya. (1) rezeki itu apa yang dinikmati, bukan yang diketekin. (2) jadi laki-laki itu harus punya mindset bersyukur kalau bisa menyenangkan keluarga, bukan merasa terbebani. (3) flexing tertingginya laki-laki itu kalau istri dan anak-anaknya hidup nyaman. istri boleh kerja tapi bukan untuk cari nafkah.
tahun 2026 ini, alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah, akhirnya kami diundang Allah untuk berhaji. kami bersyukur sekali bisa haji di usia yang relatif muda. paling tidak saat kami masih kuat jalan 22 km selama 8 jam sehari, masih bisa mengurus diri sendiri, dan berangkat dengan skema haji khusus yang masyaallah banyak sekali kemudahannya. saya sangat sangat sangat bersyukur dan berterima kasih kepada mas Yunus karena⦠kalau mengandalkan penghasilan saya sendiri, jangankan daftar haji khusus, daftar haji reguler pun belum tentu saya mampu(?). terima kasih karena mas Yunus menolak banyak sekali tawaran menjadi petugas kesehatan haji karena maunya berangkat sama saya. terima kasih karena setiap selepas Shubuh mas Yunus menyelipkan doa, "ya Allah panggillah kami untuk berhaji."
perjalanan ini terjadi pada saat kami paling membutuhkannya. setelah ujian keimanan, ujian finansial, dan ujian ini itu lain datang ke dalam hidup kami. rasanya seperti Allah kasih kami (saya) hadiah, entah atas apa. mungkin atas dosa-dosa kami agar kami bertaubat. mungkin atas kesedihan dan kekecewaan kami agar kami gembira. mungkin atas doa-doa orang tua kami dan orang-orang yang menyayangi kami agar kami dapat mendoakan mereka juga.
saya nggak terbayang bahwa saya akan menangis selama 7 jam di Arafah. buku doa 80 halaman yang sudah disusun akhirnya betul kami baca, plus serampai doa titipan, dzikir dan sebagainya. tapi, yang paling banyak terjadi adalah: saya cuma bisa nangis, diam, nangis lagi, curhat segala-galanya kepada Allah. kalau kata mbak Apik, bengep berjamaah; dan seperti kata mbak Apik juga, semuanya memang begitu puitis: panasnya, anginnya, tanahnya.
di Arafah pula, saya dapat berita yang sangat menggembirakan! belum bisa diceritakan sekarang, tetapi kalau jadi, insyaallah saya niatkan saya akan menulis lagi. semoga mas Yunus bisa menulis lagi juga.
di antara doa-doa saya, saya mendoakan semua teman-teman yang punya niat umroh atau haji agar juga segera dipanggil oleh Allah untuk berumroh dan berhaji. semoga Allah mampukan dan semoga Allah undang segera. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.
*Kak Gun, pinjam judul tulisannya ya. wkwk









