Sudah cukup romantisasinya. Hapus narasi meminjam dia dari masa lalunya sekarang juga dari kepalamu.
Sekali lagi, kamu tidak meminjam siapapun.
d e v o n
Monterey Bay Aquarium
almost home

No title available

Janaina Medeiros
Today's Document
Cosimo Galluzzi
Claire Keane

roma★

ellievsbear

if i look back, i am lost
h
he wasn't even looking at me and he found me
AnasAbdin
hello vonnie
Misplaced Lens Cap

No title available
$LAYYYTER
Sade Olutola

No title available

seen from United States

seen from Singapore

seen from Türkiye
seen from United States

seen from Canada

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Australia
seen from United States
seen from United States
seen from Canada

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from South Africa

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States
@fh-side
Sudah cukup romantisasinya. Hapus narasi meminjam dia dari masa lalunya sekarang juga dari kepalamu.
Sekali lagi, kamu tidak meminjam siapapun.
Kamu sudah banyak diterjang badai sendirian. Biarkan aku berdiri, di sampingmu, walau sekadar memegang payung saat gerimis terakhir turun.
Saat mendengar seseorang mengatakan itu, pikirku, konyol sekali. Kenyataan hidup hampir tak pernah sepuitis apalagi seromantis itu. Gerimis terakhir pun kadang nggak pernah terasa benar-benar terakhir. Paling-paling reda sebentar, lalu datang lagi dalam bentuk lain.
Pun memangnya kapan dunia ini pernah kasi janji bahwa penderitaan punya akhir?
Kemungkinan, itu akan menjadi responsku andai aku masih sesinis dulu. Aku mungkin akan langsung mematahkan niat mereka yang datang. Terlalu puitis, terlalu optimistis, terlalu jauh dari kenyataan yang pernah kulihat dan alami sendiri.
Tapi, ada ruang baru di dalam diriku yang banyak membantuku memahami hal-hal akhir-akhir ini. Jadi, meski aku tahu hidup nggak akan pernah serapi itu, badai bisa datang lagi, dan gerimis terakhir itu ilusi. Aku mengerti maksudmu.
Terima kasih.
Jika benar ia bukan milikku, maka jauhkan ia dengan seindah-indahnya jarak, dan kembalikan aku kepada diriku sendiri. Biarkan ini benar-benar selesai.
Hidup ini, memang tak seperti skenario movie. Aku mungkin belum tentu berakhir seperti mereka yang meninggalkan hubungan toksiknya—bersinar lebih terang setelah melepas tanpa menoleh lagi. Kalau aku menolak kembalimu kali ini, mungkin akan ada saat-saat aku masih menyesalinya sesekali.
Tapi satu hal sangat jelas bagiku. Tiada ketenangan yang lebih baik dari ini. Terlalu lama jika bertaruh seumur hidup pada sesuatu yang sudah jelas kutahu merusakku. Membayarnya dengan setahun dua tahun jauh lebih murah dari itu.
Betapa sering aku takut terbangun suatu hari dan keberadaanmu ternyata hanya jeda. Tapi setiap hari, kamu tetap sama. Kamu ada. Kamu tidak tiada.
n,
andai hubungan itu tidak kita beri rutinitas, saat ini, aku mungkin masih punya seseorang yang hanya mengingat namanya saja membuat jantungku berdebar.
aku barangkali masih punya tempat untuk lari dari seluruh patah hatiku.
Andai kamu tak khianat, aku tak perlu belajar bahwa percaya bisa terasa sebodoh ini.
Aku tak perlu belajar merapikan serpihan percaya yang jatuh satu-satu, atau menambal waktu yang bolong oleh namamu yang tak lagi menuju aku.
Barangkali kita masih duduk di hari-hari yang utuh, menertawakan hal kecil tanpa curiga yang menyelinap di sela jeda.
Tapi kini, aku seperti perahu yang dilepas tanpa janji pulang. Mengapung di antara kenangan yang tak lagi tahu siapa tuannya.
Mama
Aku mencintainya dengan sangat besar, bahkan mungkin terlalu besar untuk usiaku. Aku tidak hanya mencintainya, aku juga rela berjalan di jalan yang sama, memikul duka yang sama dengan satu tenaga.
Tapi siapa sangka, di balik kedekatan kami yang rapi seperti irama kerja sama tim itu, selain diriku sendiri, ia rupanya juga seseorang yang paling harus kucoba maafkan.
Ma, Aku memaafkanmu. Aku mencintaimu. Selalu. Ini bukan salahmu. Kita berdua sudah cukup bertahan.
You give depth. They respond surface-level You hold space. They deflects You process. They jump to practical advice
Nggak semua orang bisa jadi tempat cerita yang aman. Kalau mereka memang cuma bisa ngobrol dalam-dalam ketika yang dibahas adalah dirinya, ya sudah. Itu batasannya.
Nggak perlu marah. Nggak perlu kecewa panjang.
Kenali kapasitasnya. Pakai secukupnya.
Kalau kamu butuh ruang yang lebih hangat saat kamu lagi down, dia bukan orangnya.
Ya Allah, gantikanlah kepedihan ini dengan kesenangan, jadikan kesedihan itu awal kebahagiaan, dan sirnakan rasa takut ini menjadi rasa tenteram. Ya Allah, dinginkan panasnya kalbu dengan salju keyakinan, dan padamkan bara jiwa dengan air keimanan.
— La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni
Diri sendiri adalah tamu pertama, tamu terakhir, tamu abadi di meja sepi.