Apa yang harus kulakukan saat isi kepalaku minta dikeluarkan? Aku ingin hancur, ingin hilang seperti serpihan. Seharusnya hidupku berakhir diusia dua puluh dua tahun.
One Nice Bug Per Day
No title available
Today's Document

No title available
No title available
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

blake kathryn

❣ Chile in a Photography ❣
Mike Driver
RMH

Janaina Medeiros

JBB: An Artblog!
🪼
No title available
almost home

祝日 / Permanent Vacation
he wasn't even looking at me and he found me
Jules of Nature

Origami Around
DEAR READER

seen from Maldives

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Belgium
seen from United States

seen from India

seen from Italy

seen from Türkiye

seen from United States
seen from France
seen from Canada
seen from Canada
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
@fidriana
Apa yang harus kulakukan saat isi kepalaku minta dikeluarkan? Aku ingin hancur, ingin hilang seperti serpihan. Seharusnya hidupku berakhir diusia dua puluh dua tahun.
Sejujurnya hari ini ingin menangis. Ingin bilang sama Qiyas, maaf ya nak, mamakmu ini bodoh banget. Maaf kamu harus lahir dari ibu yang berantakan kayak gini.
Gak pernah ngerasa segagal ini jadi manusia, jadi seorang ibu tepatnya.
Hari ini, aku harus cerita ke siapa?
Aku memimpikannya kembali. Aneh, lucu, dan menyenangkan. Seperti biasa, orang-orang didalam mimpiku tidak mengatakan apapun. Dia diam meskipun aku banyak bicara. Mungkin aku merindukannya. Aku merindukan hari-hari yang pernah kami lewati bersama. Hari-hari dimana kami menyukai banyak hal yang sama. Lalu aku sadar bahwa hari itu dinamakan kebebasan. Karena saat ini, bahkan aku harus mencuri waktu disela-sela kesibukanku untuk kembali menyelami dunia yang pernah kutinggalkan. Kami tidak bisa bicara banyak hal lagi seperti dulu. Ada suatu batas yang tidak terlihat namun harus kami jaga dengan baik. Batas yang orang lain pernah katakan pada kami, "laki-laki dan perempuan tidak akan pernah menjadi sahabat". Dan berulang kali kukatakan juga pada mereka bahwa kami akan selalu menjadi sahabat. Meskipun jarak dan waktu terbentang luas. Meskipun batas itu nyata. Meskipun hanya bisa kuungkapkan lewat kata.
Ingin kembali kesini.
Seorang teman terheran-heran, "kok ada ya orang yang kepikiran pengen bunuh diri?" katanya.
Aku yang lebih heran. Seberapa kuat imannya, seberap tenang hidupnya dan seberapa banyak rasa syukurnya, sehingga sedikit pun tidak pernah ia pikirkan gagasan itu.
Ternyata Gue Gak Sekuat itu
Gue udah sering banget baca kisah-kisah melahirkan orang-orang dan gak bisa berhenti bilang betapa luar biasanya perempuan diciptakan sama Allah. Sebegitu hebatnya perempuan dan perjuangan melahirkan mereka. Gue cuma gak mengerti dari mana mereka dapat kesabaran sebanyak itu selama nunggu momen kelahiran anak-anak mereka? Sedangkan gue disuru sabar lebih banyak lagi malah nangis seharian. Rasanya terlalu berat dan terlalu sedih buat dilalui. Gue tau ini gak bagus buat bayi yang gue kandung. Hormon-hormon negatif yang dihasilkan dari rasa sedih dan stress mungkin bikin prosesnya bisa tambah lama lagi. Gue cuma bisa minta maaf sama bayi didalem perut gue kalau betapa tidak beruntungnya dia harus lahir dari seorang ibu yang cengeng. Gak tau apakah gue kurang berusaha, atau memang Allah ingin gue supaya lebih banyak bersabar lagi. Gue gak bisa bilang apa-apa sama Agus, karena gue tau dia juga udah mengusahakan yang terbaik supaya gue gak mikirin ini. Tapi setidaknya gue tau, bayi ini akan punya Ayah yang sabar luar biasa, yang gak mempertanyakan kenapa gue belum lahiran kayak apa yang orang-orang tanyain. Seorang ayah yang gak cengeng dan selalu berusaha menguatkan kita.
i miss you
Dear anak ibu, ini sudah mau menginjak minggu ke 39, apakah kamu tidak rindu ibu? karena ibu sangat rindu. Ibu ingin peluk kamu, ingin menimang kamu dipangkuan ibu, dan akan ibu perkenalkan kamu pada dunia kecil kita yang hangat dan menyenangkan. Ayah juga sudah sangat rindu kamu. Cuaca di cikarang sangat panas Nak, makanya ayah sudah menyediakan AC untuk kamar kita agar tetap sejuk. Ayah tidak mau kamu menangis karena kepanasan. Sayang, ayo kita segera ketemu. Anak ibu pasti bisa masuk ke jalan lahir dengan posisi yang paling optimal. Ibu janji akan melahirkan kamu dengan sabar dan tidak akan mengeluh sesakit apapun nanti. Kamu sudah siap bertemu kami kan, sayang?
Dahulu aku juga suka mengenang. Tentang momen-momen kecil yang mempertemukan kita hingga aku terasing sendiri dikota ini. Aku akan mulai menyalahkan keadaan yang membuatku harus bekerja ketimbang kuliah seperti teman-temanku. Aku terlalu marah dan benci pada kalian. Tidak bisa kujelaskan kenapa, namun sudah jelas aku iri. Perasaan iri itu terus memenuhi hati dan kepalaku.
Kenapa aku ada disini? Sendiri, asing, diantara orang-orang dewasa yang terobsesi dengan isi kantong mereka. Mungkin benar kata mereka, bahagia itu bisa dibeli dengan uang. Maka smartphone baru yang kubeli dengan hasil keringatku ini seharusnya bisa membuatku bahagia.
Bahagia. Kutemui satu persatu orang yang mungkin tahu makna kata ini. Mereka tidak punya jawaban pasti tentang itu. Mereka hanya menertawai aku yang begitu beruntung bisa ada ditempat ini. Keberuntungan seperti apa yang mereka maksud? Kemudian mereka bilang, kalau aku adalah bagian dari nepotisme. Bahkan tanpa perlu berusaha untuk mengerjakan serangkaian test masuk kerja aku sudah pasti akan diterima ditempat ini.Jadi apakah aku harus bangga akan hal itu?
Hari berlalu dan aku sadar kalau aku bukan ditinggalkan tapi akulah yang meninggalkan. Apakah ada jalan untuk kembali? Tidak ada. Aku sudah jauh sementara kisah mereka sudah terangkai. Suatu hari aku hanya teman lama yang tiba-tiba hadir ditengah cerita yang sudah berjalan. Seolah aku juga bagian terpenting dalam hidup mereka padahal aku hanya terlanjur ada ditempat pertama. Aku tidak bisa menghapus diriku kemudian hilang selamanya. Aku akan selalu ada diantara kisah lama yang dipaksa ikut jalan cerita.
Aku terlalu lama alfa dan mereka akan selalu baik-baik saja. Bolehkah aku bersedih? Sementara aku punya dua bagian penting yang menemukan diriku yang lain. Bolehkah aku bersedih? Sementara aku membangun kenangan baru tanpa dua bagian lain? Bolehkah aku bersedih? Sementara kisah mereka begitu indah dan erat.
Maka hari ini kuputuskan untuk bersedih dan mengenang kisahku sendiri.
Aku Gak Takut
Dari kemaren selalu bilang gitu ke Agus atau ke orang-orang. "Gak kok, aku gak takut." Tapi pas lagi sendiri pikiran-pikiran jelek itu muncul sendiri. Kemungkinan-kemungkinan terburuk yang tentang resiko melahirkan. Dan hari ini gw cukup cemas nunggu untuk cek retina mata nanti sore.
Tadinya gw tidak takut perkara melahirkan, gw yakin itu pasti sakit sekali, tapi gw yakin bisa gw hadapi. Karena gw mau melahirkan anak ini, gw mau melahirkan kehidupan yang baru kedunia ini, gw mau menukar apapun yang pantas supaya dia lahir ke dunia ini. Namun kemudian ketika dihadapkan pada kemungkinan kalau gw tidak bisa lahiran normal, itu bikin gw down dan sedih. Mungkin kalau ditanya kepada setiap wanita yang akan melahirkan, pasti mereka ingin melahirkan secara normal. Tapi bukan berarti melahirkan secara SC itu burukkan?
Sekarang cuma bisa berharap kalo hasil cek retina gw bagus dan aman untuk normal. Kalau pun enggak bagus gw tetep ingin mengusahakan untuk normal, tapi gw lebih takut dampak atau resiko yang gw terima malah bisa membahayakan bayi ini atau kemungkinan terburuk yang selalu dokter bilang.
Ya Allah, minta tolong dipermudah ya segala-galanya, aamiin.
Baru ngerasa gak enak badan lagi setelah 5 bulan yang lalu, tapi meskipun hari ini lemes banget, alhamdulillah anak ibu tetap aktif ya😊
Maaf ya nak, jadi ikutan gak bisa tidur nungguin ayah dateng.
Maaf sayang, ibunya cengeng bgt.
Sekarang kalau nangis, rasanya jadi ngerasa bersalah banget. Gw gamau anak gw juga ngerasa sedih.
Tau-tau FYP Tiktok isinya Dokter kandungan semua. TBL TBL....
Takut banget lah. Banyak banget hal yg bikin khawatir sampe gak kuat dan bikin nangis.
1. Sebelum tau gw telat haid, gw minum obat flu dari Dokter
2. Even sesudah gw tau telat haid, gw tetep mencoba fine2 aja dan gak jaga makanan apa yg gw makan
3. Kenapa gw gak ngerasain apapun, tanda atau gejala kalo gw emg beneran hamil?
4. Apakah dia baik2 aja didalam sana?
5. Gw gak bisa deh harus nunggu sampe 9 minggu.
Tapi kalau pun ada yang salah sama kandungannya bukankah dia juga ngasih tanda ya???? Katanya tubuh bakal ngebuang apa yang gak dibutuhin? I mean, berarti selama gak terjadi apa-apa sampe 2 minggu kedepan dan USG, harusnya aman aja kan????? I hope so.
Gw mulai takut scrolling tiktok dan browsing2 ttg ini. Hasilnya bakal bikin ovt banget.
Ternyata ini gak semudah yang dibayangin🥺
Akhirnya gue menyadari kalau gue ini cuma beban buat Suga. Karena rasanya gak adil kalo dia harus ikut menanggung apa yang harusnya jadi tanggung jawab gue. Gue malu kalau harus menuntut dia memenuhi nafkah finansial tapi gue gak bisa mengatur penghasilan gw sendiri. Seolah-olah dia jahat karena gak bisa ngasih sebanyak yang gue minta. Padahal dia juga punya pengeluaran yg wajib dan juga penting.
Gue pikir kalau sudah menikah beban gue dan beban Suga jadi satu, lalu mungkin tidak akan begitu berat kalau kita topang sama-sama. Kenyataannya beban yang gue bawa dan bagi sama dia terlalu banyak. Sedangkan dia dengan ikhlas nerima semua yang gue bawa kerumah kita.
Sempet kepikiran buat berenti kerja, supaya gue langsung yang atur keuangan dirumah. Mungkin umi tinggal makan dan tidur aja. Tapi gatau apa itu lebih baik atau tidak?
Gue yang berkali-kali bilang ke umi kalo kita makan sewajarnya aja, seadanya aja, toh gue gak menuntut harus makan enak dan banyak. Tapi beliau terbiasa dengan keadaanya yang punya banyak anak, maka masak pun harus banyak. Jadi sering banget besoknya kita sarapan dengan menu yg sama dengan tadi malam. Kalau gak dimakan sayang, lagi pula masih enak kok, ujarnya. Suga yang gak mau menyakiti perasaan mertuanya manut dan nurut dengan apa yang disajikan.
Gue tau Suga agak picky soal makanan, terutama yang agak berminyak atau teksturnya alot. Tapi tetep dia makan.
Gue gak bisa mengatur bagaimana cara umi belanja atau berapa banyak. Gue tau menjadi ibu rumah tangga gak semudah itu. Makanya gue biarkan aja umi mengatur uang belanja meskipun dari pengamatan gue umi agak boros. Masakan beliau itu enak, enak banget. Tapi yang penting cukup dan gak berlebihan, itu malah lebih baik.
Suga juga sadar kalau kita cuma berdua mungkin pengeluaran rumah tangga kita jauh lebih hemat. Tapi lagi-lagi dia harus menerima gue beserta keluarga gue. Bahkan dia hampir bersedia penghasilannya gue yang pegang, tapi gue gak seegois itu. Dia berhak menggunakan uang yang dia dapat dari hasil kerja dia. Dan meskipun gue pikir kalau lebih baik penghasilan kita digabung. Namun karena hari ini juga gue menyadari kalau anggaran rumah tangga kita cukup banyak, gue jadi ragu dan malu sama Suga.
Kita seharusnya cuma pakai satu gaji untuk hidup dan satu lagi ditabung, tapi sepertinya tidak mudah.
Gue harus lebih bersabar lagi, seperti Suga. Semoga apa yang kita jalani sekarang berkah dan tidak sia-sia, Aamiin.