05:12
Hai.
Kenapa ya, makin kesini, rasanya aku seperti tidak ingin punya ambisi apa-apa?
Waktu kuliah, aku ikut organisasi dan kepanitiaan sana-sini, berharap nambah skill baru supaya berguna bagi masyarakat luas. Tapi setelah lulus dan menikah, sasaranku menjadi sekecil dan sesederhana “lingkup keluarga” saja?
Kayak aku jadi lebih butuh waktu buat diriku sendiri dan scope terkecil di sekitarku, yaitu keluarga.
Kayak aku cuma pengen fokus ke keluarga, mendukung mimpi dan cita-cita suami, sambil melakukan hobiku yang (mungkin) hanya memberi manfaat untuk diriku sendiri.
Waktu kemarin aku mendaftar beasiswa dan belum rezeki, rasanya Allah benar-benar melapangkan dadaku dan menerima dengan hati terbuka. Tidak ada rasa berat dan pertanyaan kenapa-belum-diterima di benakku. Kayak aku tahu, memang belum atau bukan rezekiku. Semudah dan secepat itu aku menerima.
Aku jadi bersyukur, ketika aku punya fokusan lain yaitu keluarga dan di saat bersamaan aku belum bisa menggapai mimpi-mimpiku, aku seperti... jadi lebih mudah menerima.
Mungkin apa itu sudah menjadi alam bawah sadar beberapa perempuan, ya? Kita banyak menanggalkan mimpi-mimpi kita, bukan karena semesta tidak merestui, tapi memang murni secara “sadar” dan sukarela kita memilih jalan tersebut?
Well, we’ll see.
Aku sendiri merasa nggak pernah meninggalkan mimpi-mimpi tersebut, tapi memang aku sisihkan atau simpan dulu, untuk nanti bersinar lebih terang di waktu yang lebih tepat. InsyaAllah.
Btw, tentang hobiku yang aku rindukan itu; aku kangen banget foto-foto random atau apapun yang aku lihat sepanjang perjalanan. Terus aku edit di aplikasi pengeditan. Kangen banget! 🥹

















