Miss my single life, but love my current life
Ada satu hal dari hidupku yang hilang setelah menikah dan punya anak, yaitu waktu. Waktu bersama sahabat, teman, atau bahkan diri sendiri yang dulu mungkin tidak terbatas alias sesuka hati aja.
Dulu pas masih single, pulang kantor bisa santai karena gak ada yang nunggu di rumah. Rencana sabtu minggu di-plan bebas,kemana dan dengan siapa. Apalagi senin pagi, sebelum ngantor bisa chill dulu lah. But it’s totally different after getting married and have a baby.
Disisi lain agak sedih dengan hilangnya kebebasan tadi, tapi hal-hal tersebut udah jadi konsekuensi. Memang terkadang mengalah dengan ego kita sendiri adalah solusi. Walaupun terlalu ‘tidak memikirkan diri sendiri’ juga tidak boleh terjadi.
Dari sebelum menikah, aku selalu meyakini bahwa jodoh itu pasti bertemu di waktu yang pas. Tuhan sudah merencanakan itu. Saat itu aku hanya meyakini tanpa bertanya-tanya ‘kenapa’. Kini aku menyadari makna dari ‘waktu yang pas’. Waktu dimana aku harus siap kehilangan kebebasan masa single-ku, tidak hanya bertanggung jawab untuk diri sendiri tapi juga untuk suami dan anak-anakku.
Makanya kalau sekarang aku denger temen-temen yang mengeluhkan soal “kapan jodohku datang?”, aku hanya tersenyum. Aku tau beberapa orang butuh pasangan karena ia merasa sendiri, merasa hidupnya sepi. Tapi apakah jawabannya harus dengan menikah?
Alasan orang menikah itu bervariasi. Menurutku selama ia sadar dengan alasannya dan menerima segala konsekuensinya, itu benar.
2 tahun lalu sebelum aku memutuskan untuk ‘membuka hati’, aku merasa hidupku saat itu flat. Aku tidak kesepian, alhamdulillah masih dikelilingi support system yang baik. Orang tua, sahabat, teman kantor. Tapi entah kenapa hidupku terasa flat, sulit dideskripsikan. Akhirnya dari situlah satu ide muncul untuk mulai ‘membuka hati dan mencari’.
Dari situ, alhamdulillah langsung ketemu dengan suamiku. Ternyata dia punya alasan menikah yang berbeda denganku tapi tetap satu value.
Setelah mulai dekat, ternyata sedikit demi sedikit kebebasan masa single itu hilang. Tapi dorongan kuat untuk menikah dengannya tidak berkurang. Akhirnya kami memutuskan untuk bersama.
Terkadang aku rindu dengan masa single-ku dulu, tapi aku menikmati masa sekarang. Masa-masa bersama suami dan bayiku yang masih 7 bulan. Aku menikmati segala rasa manis dan pahit yang kami lalui, karena yang kuingat selalu adalah ‘alasan kenapa aku menikahinya’.
Semoga tulisan ini menginspirasi temen-temen yang masih sedang di fase ‘membuka hati dan mencari’. Tetap semangat dan percayalah bahwa jodoh akan datang diwaktu yang pas :)