#27. Merawat Ketidakutuhan [3]
Perlahan, diri mulai terbiasa untuk menghadapi banyak cubitan realitas. Titik sembuh tangguh?
Apa-apa yang telah terjadi, kini telah jadi masa lalu, masa baik-buruk yang semestinya cukup jadi pembelajaran terhebat. Untuk mencumbu hari-hari, masa kini, berikut daya tangguh yang telah dilalui hari-hari kemarin.
Suatu saat diri (kembali) berdiri,
Pada pola realitas yang nyaris sama seperti pernah menghadapinya. Lantas, sadar-tidak sadar, diri pun merasa rasa-rasa tidak enak yang mengait jadi rasa sakit-perih, sekali lagi.
Dicumbu overthinking, berpikir yang bukan-bukan, beserta gejolak hati yang lagi-lagi bertarung tanpa arah.
Sesak rasa yang merasuk tanpa jeda, mempertanyakan, lantas bergulat jadi ungkapan manusiawi: mengeluh, menangis hingga rasa aneh seperti habis daya untuk dikail kembali.
Sadarlah! Kita sedang berdiri di titik pengujianNya, titik yang perlu diingat, sekali lagi, bahwa sudah saatnya kita belajar untuh teguh dan tangguh.
Titik yang memberi definisi, sudah terlampau jauh dirimu merangkak, berjalan dan berlari sekuat tenaga hingga di titik kini. Melalui hari-hari penuh tekanan, berhasil dilewati, ...ternyata suatu ketika seperti kembali ke masa berat itu.
Tidak ada salahnya,
Untuk menyentuh gumpalan rasa tidak enak itu sekali lagi, tetapi daya yang saatnya diaktifkan: daya bertahan untuk teguh dan tangguh.
Allah memberi pola yang nyaris sama, boleh jadi, caraNya untuk menyatakan: dirimu perlu sadar diri, sadar akan apa-apa yang telah dilalui dengan gagah berani, sadar akan apa-apa yang telah dipaksa untuk dikuat-kuatkan, serta sadar akan segala kerumitan yang seringkali hanya dirimu yang paling memahami kondisinya.
Di titik ini,
Berilah ruang untuk diri meyakinkan sebuah keraguan, mentekadkan sebuah perjalanan, serta mendambakan sebuah harapan hingga sadar-tidak sadar diri perlahan pulih sejadi-jadinya, insyaAllah.
Sejatinya, banyak hal yang terjadi penuh alasanNya. DenganNya kita hanya perlu melalui, ya, melalui sekali lagi dengan kesungguhan. Sungguh untuk bertahan, sungguh untuk kuat, sungguh untuk belajar teguh hati dan tangguh sikap.
Masihkah diri setia untuk percaya akanNya, sekali lagi?
[c] Muhammad Sarifin | @muhsarifin















