Kau adalah pemenang, dalam rahim yang mengandung sembilan bulan. Kini beranjak mendewasa tanpa bimbang. Beri wangi semerbak lewat puisi pada setiap insan. Aduhai Tuan, aksaramu adalah hidup yang tak pernah redup. Melesak dengan cepat pada dada yang sesak. Kemudian menjadi penawar segala ketar. Teruslah begitu, teruslah melaju. Dirgahayu!
Segeralah beranjak dari tempat tidurmu
Lewati pintu itu, hirup udara sejuk nan hangat di luar sana
Langkahkan kakimu perlahan, penuh keyakinan
Kunjungi setiap cita yang sudah tercatat
Tersenyumlah pada semesta
Tebarkan harapmu, jinakkan usiamu!
Siapa gerangan dirimu penuh tanda tanya, masjun?
Ternyata Syukri Jundi terlahir ke dunia melalui rahim seorang ibu
Waktu berjalan tiada henti
Mengiring rembulan dan mentari
Dari pagi bertemu pagi lagi
Tapi tak lupa mengiring usiamu hingga kini
Selamat ulangtahun untukmu.
Semoga kebahagiaan dan cinta mendampingimu setiap hari.
Mungkin kau tak pernah ingat bentuk rahim ibumu
Membentukmu dari air yang hina
Tapi tak ada airmata ibu yang hina
: Dan kau adalah mata air bagi pemilik rahim
Ada yang lahir dari perjuangan seorang ibu
Sesosok bayi mungil nan lucu dipangkuan syahdu
Kini ia telah dewasa, sudah saatnya mencumbu waktu
Berpetualang ke dunia dan menggapai mimpi baru
Di dalam Maret, kau akan mengenang, kau akan temukan. Cerlang, keistimewaan malam.
25 pualam telah kau pijak. Menoreh ribuan cerita yang menjadi rekam jejak. Meski wajahmu tak pernah kulihat. Tapi malam ini aku bermunajat :
“ Semoga Tuhan slalu memelukmu erat dan menjadikanmu penyair hebat.”
Semesta tersenyum kala jemari-jemari kecil lelaki hadir bersama harap yang terpatri di kedua mata Ibunda.
Kau; aksara cerah tak kenal pudar pada semangat Ayahanda.
Kelak tangisan nakalmu akan menjadi kebanggaan paling debar keluarga
saat tangan kanan mengapit erat perempuan yang kau cinta.
Dan kemaslah hidupmu bersama Ia; bahagia.
Bermuaralah pada semua mimpimu
Lewat do'a yang menjadi dua sayap
Kemudian kau bolehlah menangis di sana
Perihal lalu yang sempat tergugu
Serangkaian doa
Sejumput bahagia
Selaksa pinta penuh harap
Bahwa diri-Nya takkan pernah lupa
Akan doa yang terucap, lewat ratusan kata yang sesekali berbalut tawa. Selamat berbahagia.
Usia semakin berkurang dan tetaplah menjadi pemenang
Untuk lelaki setangguh dirimu
Aku percaya kau bisa meraih mimpi meski dunia berkata kau tidak mampu
Dariku untukmu ; berjuanglah
Hujan, kemarau, hingga kembali hujan.
Berliku hari yang tetap berjalan.
Hingga kini,
Berhentilah sejenak.
Ingatkan bahwa,
25 tahun silam, ibu menangis bahagia.
Selalu ada rahasia antara raga dan usiamu
Bagi semesta kau adalah cerita dari sang waktu
Bagi sang ibu kau anugerah yang dirindu
Maka biarlah ada misteri yang tetap menjadi kamu
Selamat menghidu kebahagiaanmu
Janjikan bahagia yang berkurang usianya
Dalam selimut mimpi
Temukan pagi bersama kuncup dan embun fajar
Sekali lagi, mentari tersenyum
Saat lilin mulai menyala
Seketika itu pula membentuk ruang sunyi
Menjadi tubuh paling khusyuk
Merenungi masa ganjil angka-angka di kalender
Lalu di tubir harap doa-doa baik dilangitkan
Membawa kesalahan lebur menyatu
Bersama lilin yang kau tiup setelahnya
Semoga alam merestui
Dan lekas terkabul segala pinta yang belum terpenuhi
Di padang Maret, bunga-bunga mekar begitu saja, menyambut Si Kumbang yang baru tiba.
Lalu, seorang tua renta merogoh dadanya, menyodorkan sekeping do'a pada
Si Kumbang yang akan kembali berkelana.
karena hanya do'a, yang sekepingnya mampu menepis turangga.
Tanggamu semakin meninggi
Berharap dikokohkan langkah ‘tuk menapaki
Perjalananmu belum berhenti
Bahagialah dengan berbagi
Pada hati-hati yang menanti
Selamat hari lahirnya diri
Semoga ketenangan menyelimuti
Waktu silih berganti mengiringimu tumbuh pesat
Tak kenal jeda apalagi berdetak lebih cepat
Kamu, si bocah kecil penuh angan
Jadilah lelaki penakluk mimpi masa depan
Pelihara sabar kau jadikan pelengkap
Banyak bahagia menanti untuk didekap
Berbahagialah. meski usia tak lagi merengek
Dari balik kelambu meminta jatah susu atau
Duduk manis mendengar nasehat guru.
Berbahagialah.
Barangkali kau lupa, ada do'a dari jauh yang
dikirim ke tempat yang sama dengan namamu
Di dalamnya, berharap senyummu senantiasa.
Berbahagialah.
Dua puluh lima tahun lalu
Saat matamu menyergap, tangispun pecah,
Tanganmu mengepal banyak “semoga”
Kuhadiahi sejumput kata
Tik… tik…tik
Waktu pun terus berdetik
Memutar nyawa kehidupan
Mengantarkan sang khalifah pada pijakan baru
Yang lebih menantang
Juga lebih menawan
Teruslah berjalan hingga berlari, jadikan mimpi bagian hidupmu :)
Usia sering menyelinap di kertas-kertas. Sesekali ia menjadi hiasan di etalase warung kopi. Namun hanya sekali ia akan berbisik kepadamu, untuk kauingat selamanya: bulan mana yang tak purnama?