Menundukkan Pandangan dan Menjaga Kemaluan
Setiap tulisan yang saya buat adalah wujud nasihat untuk diri saya. Segala kebenaran hanya milik Allah.
Saya, sama seperti yang pernah ditulis oleh Mas Gun dalam postingannya yang berjudul "Zona Teman", adalah termasuk orang yang tidak percaya bahwa ada pertemanan yang murni antara laki-laki dan perempuan.
Maka mungkin itu juga alasannya mengapa Islam ketat sekali mengatur interaksi antar lawan jenis.
Dalam Al Qur'an dan sunnah, ada 2 perintah sekaligus yang diminta oleh Allah terkait adab ini: menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Menurut buku #MNCRGKNSKL yang pernah saya baca, kedua perintah ini mengandung 2 sudut pandang sekaligus, yakni untuk kita sebagai subjek dan kita sebagai objek.
Kita sebagai subjek berarti menaati perintah untuk menundukkan pandangan terhadap lawan jenis, sedangkan kita sebagai objek berarti menaati perintah untuk menjaga kemaluan dari lawan jenis.
Saya percaya bahwa pada fitrahnya Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk saling tarik-menarik. Ada kecenderungan dari diri masing-masing untuk bisa mendapat notice dari satu sama lain sebagai bentuk dari adanya kebutuhan untuk diakui, diperhatikan, diangap menarik, dan disukai.
Saya bukan ahli, tapi saya belajar dari guru saya dan pengalaman saya pribadi bahwa laki-laki lemah di visual dan indera penciumannya, sedangkan perempuan lemah di indera pendengarannya. Itulah mengapa ada larangan dari Rasulullah untuk perempuan agar tidak menampakkan keindahan tubuhnya di dalam syarat memenuhi kewajiban menutup aurat, juga ada larangan bagi perempuan agar tidak memakai wewangian ketika keluar melewati para lelaki yang bukan mahramnya.
Tentu bukan larangan sembarang larangan, Allah yang Maha Mengetahui fitrah dari apa yang diciptakanNya pasti Maha Benar mengatur segala sesuatunya.
Sedangkan bagi perempuan, saya tidak tahu persis bagaimana poin kelemahan indera pendengarannya ini dijelaskan dalam ajaran Islam. Tapi dalam beberapa literatur yang saya baca, Allah membenci laki-laki yang berbicara berlebih-lebihan yang memutar-mutar lisannya (untuk menampakkan kefasihannya) sebagaimana sapi yang memutar-mutar lisannya. Di tulisan lain saya membaca bahwa “Sesungguhnya sebagian dari Al-bayan (susunan kata-kata yang indah) adalah sihir.” Wallahu a'lam.
Namun saya menyimpulkan kelemahan wanita ada pada pendengarannya karena terbukti banyak di dunia nyata, pun saya pernah mengalaminya. Kedua perilaku lisan ini saya simpulkan sebagai cara terampuh bagaimana laki-laki bahkan dengan rupa dan kedudukan yang biasa-biasa saja bisa dengan mudah mendapatkan perhatian dari lawan jenis yang disukainya.
Perempuan suka dipuji dan diberi perhatian. Bahkan sereceh apapun. Di kajian parenting yang saya dapati, menyinggung bahwa salah satu cara bagaimana orangtua (terutama ayah) mendapat kelekatan yang baik dengan anak perempuannya adalah dengan cara memujinya, terutama yang berkaitan dengan fisik. Dalam ilmu psikologi suami istri pun bahkan terdapat anjuran bagi para suami agar selalu membangun obrolan dengan istrinya. Semakin obrolannya tidak penting justru dinilai semakin baik. Selain itu, dalam teori foreplay saat hendak membangun keintiman dengan pasangan sebelum berhubungan badan juga sangat ditekankan bagi para suami untuk mengajak istrinya mengobrol, menggombalinya, memuji kecantikannya dll.
Saya setelah menjadi istri dan ibu juga jujur saja bisa dengan mudah mengatakan bahwa menangkanlah hati istrimu dengan obrolan dan gombalan. Istri tahu bahwa suami sudah sering sekali melakukannya dan belum tentu juga apa yang digombalinya benar adanya, tapi sungguh tidak ada kebosanan sama sekali bagi istri setiap kali mendengarnya.
Lalu bagaimana kedua adab interaksi ini dijaga ketika hubungan lawan jenis ini adalah teman, sementara kita sudah sama-sama memiliki pasangan, atau salah satu dari kita sudah memiliki pasangan?
Saya akan membagikan tips ini berdasarkan 2 sudut pandang, kita sebagai subjek dan kita sebagai objek.
Kita sebagai subjek: menahan pandangan.
Hindari berdua-duaan (berkhalwat), baik itu di dunia nyata ataupun di ruang chatt. Kalaupun terpaksa harus berinteraksi di ruang chatt, hindari obrolan-obrolan di luar keperluan dan hindari emoticon-emoticon. "Bicaralah" hanya dengan teks saja.
Hindari kepo dan aksi stalking. Walapun dulu saya termasuk yang berprinsip lebih baik sakit hati daripada mati penasaran, lama-lama saya belajar bahwa menjadi tidak tahu itu seringkali lebih baik. Karna bisa lebih menjaga perasaan.
Kita sebagai objek: menjaga kemaluan.
Hindari aksi tebar pesona. Biasanya orang lain akan tahu sih, mana yang asli melakukan sesuatu sesuai kadar kebutuhannya, mana yang memang berlebih-lebihan dengan tujuan mencari perhatian. Di dunia maya, ini termasuk bagaimana kita mengatur apa saja yang sebaiknya kita share, dan apa yang tidak. Saran saya jika memang ingin leluasa, biasanya setiap sosial media akan ada fitur close friend atau circle, di mana kita bisa mengatur untuk siapa saja postingan kita akan terlihat.
Deklarasikan status marital. Pasanglah foto profil kita bersama pasangan, dengan ataupun tanpa foto anak. Sesekali bagikanlah momen kebersamaan kita dengan pasangan dan anak, agar teman lawan jenis di luar sana tahu bahwa kita sudah menikah. Jika ada acara tatap muka, ajak sertalah pasangan dan anak jika memang memungkinkan. Jika kita belum menikah, saran saya jangan pasang foto profil sedang sendiri, close up apalagi. Carilah foto lain yang sedang bersama teman, keluarga, dll.
Ada satu tulisan di buku Pulih dari Perih karya Mbak Ninin, senior saya di Undip, beliau menulis judul tulisan "Memimpin Sejak Pandangan Pertama". Jleb sekali bagaimana beliau mengingatkan saya bahwa penyakit hati dan syahwat berawal pertama kali dari pandangan mata. Hal ini sebagaimana sabda Nabi SAW:
النَّظْرَةُ سَهُمْ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيْسَ، فَمَنْ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللَّهُ تَعَالَى، أَعْطَاهُ اللَّهُ إِيْمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي
"Pandangan adalah panah dari panah-panah Iblis, siapa yang meninggalkannya (menjaga pandangannya) karena takut kepada Allah Ta'ala, Allah akan memberinya keimanan yang akan dirasakannya manis dan indah dalam hatinya." (HR Ahmad dan Ath-Thabrani).
Maka tiap kali membuka sosial media atau berangkat keluar rumah untuk berinteraksi dengan lawan jenis, pimpinlah indera mata dan hati ini agar senantiasa takut pada Dzat Yang Maha Meliputi segala sesuatu: Allah Azza wa Jalla. InsyaAllah Allah yang akan menjaga hati-hati kita.
Rumah D2-13
Depok, 11 April 2024.











