Hal-hal yang Sebaiknya Tidak Ditanyakan Sebelum Menikah
Saya yakin judul post ini memancing beberapa pembaca untuk berkomentar/beropini, entah itu berkomentar secara langsung ataupun dalam hati (kalo sungkan), wqwqwq. Judul post ini juga agak membingungkan dan gak jelas. “Tidak ditanyakan sebelum menikah”, ditanyakan kepada siapa? Ok, let me start ‘lecturing’ you.
Beberapa minggu yang lalu sampe sekarang, lagi viral sebuah Tumblr post yang berjudul “Sebelum Genap”. Silakan baca di sini, di sini, atau di sini. Coba baca komentar-komentar para pembaca.
Berdasarkan pengalaman saya pribadi dan pengalaman teman-teman saya selama berproses menuju pernikahan, saya lebih cenderung pada komentar/reblog-an yang ini. Selain itu, si komentator lebih bijak, lebih tahu kronologinya, dan lebih paham apa alasan selebgram/seleb Tumblr tersebut share atau mengangkat hal-hal semacam itu di Instagram story.
Sekitar 4 bulan lalu, saya pernah menulis tentang ini (SEKUFU). Meskipun saya 80% setuju dengan apa yang disampaikan oleh selebgram tersebut di Instagram story-nya hingga kemudian dirangkum sedemikian rupa oleh viewers-nya/pembacanya, tapi saya TIDAK SETUJU jika kita menanyakan hal-hal terkait pernikahan kepada selebgram atau seleb-seleb yang lain, apalagi meminta nasihat/pertimbangan/saran. Menanyakan hal-hal semacam itu lucu aja menurut saya. Bahkan mungkin bagi sebagian orang itu adalah hal yang bodoh.
Jadi yang saya maksud dalam post saya ini adalah “Hal-hal yang sebaiknya tidak ditanyakan KEPADA ORANG LAIN (siapapun itu, termasuk selebgram dan ustadz) sebelum menikah”. KENAPA? 1) Selebgram gak mengerti background diri kita dan segala upbringing kita. 2) Setiap orang punya prinsip dan value masing-masing. 3) Isi kepala dan sudut pandang setiap orang berbeda.
Makanya, saya pribadi menganut konsep “MENGENALI DIRI SENDIRI” dan “MENINGKATKAN KAPASITAS DIRI”, seperti yang saya tulis di post saya tentang “sekufu”. Semakin kita mengenali diri sendiri dan semakin kita meningkatkan kapasitas diri, kita akan semakin paham apa saja yang kita butuhkan + inginkan dalam pernikahan, semakin bertambah kedewasaan + sudut pandang kita tentang pernikahan, dan akan berubah pula cara berpikir kita tentang pernikahan.
Ketimbang bertanya pada orang lain, ustadz, selebgram, atau seleb-seleb lain yang isi kepalanya berbeda-beda, lebih baik jika kita menyimak atau membaca cerita/kisah orang-orang yang share (secara cuma-cuma) pengalaman mereka sebelum menikah, saat proses menuju pernikahan, dan saat menjalani kehidupan pernikahan/rumah tangga. Biasanya dari situ kita bisa mendapat insights, pelajaran, atau hikmah — meskipun lagi-lagi kita gak harus sependapat dengan apa yang mereka share.
Kalo kita mengaji dan berguru pada ulama yang ilmunya tinggi, ahli tafsir, dan se-alim Gus Baha’ pun, pasti beliau menyarankan dan seringkali dawuh yang kurang lebih seperti ini: “Cari jodoh itu gak perlu ribet-ribet, yang penting sholat dan puasa.”. Nah, apakah itu make sense dan cocok bagi semua orang? Ya pastinya tidak.
Meminta saran, nasihat, pendapat, atau arahan itu ya boleh-boleh aja — terutama kepada orang-orang sholih(ah), orang-orang yang berilmu, dan orang-orang terdekat kita (seperti keluarga misalnya). Tapi lagi-lagi, saran/nasihat mereka gak harus kita ikuti. Lagi-lagi kembali pada keputusan kita sendiri, sebab yang lebih tahu segala hal tentang diri kita adalah DIRI KITA SENDIRI. Dan mohonlah selalu petunjuk dari Allah, yang Maha Membimbing.
Bagi kita yang sering hadir di majelis-majelis ilmu (kajian) dan pernah ngaji kitab-kitab tentang pernikahan + rumah tangga, pasti seringkali kita temui guru-guru atau kyai-kyai kita yang menyarankan untuk mengamalkan doa atau dzikir ini itu untuk mempermudah memperoleh jodoh, agar lancar proses pernikahannya, agar dikaruniai pernikahan yang samawa, dsb. Menurut saya, cukup amalkan maksimal 3 doa saja, gak perlu banyak-banyak. Pilih aja yang menurut kita maknanya paling kita sukai dan sesuai dengan kebutuhan kita. Sebab amalan/doa-doa yang berkaitan dengan jodoh dan pernikahan itu banyak banget, gak mungkin kita mengamalkan banyak doa apalagi semuanya. Wqwqwq.
Lebih enak lagi kalo (misal) kita adalah seorang santri dan nama kita dikenal di kalangan para guru dan orang-orang sholih. Sudah pasti kita bisa minta bantuan istikhoroh dari guru dan orang-orang sholih yang kita percayai. Jadi kalo mereka setelah istikhoroh bilang gak ‘sreg’ atau gak cocok, ya kita tinggal ikut aja apa kata mereka. Enak toh?
Hal yang PENTING BANGET kita pahami adalah, perkara jodoh dan bagaimana perjalanan kehidupan pernikahan adalah tentang TAKDIR, bukan perkara “siap/gak siap” atau “sudah menyiapkan ilmunya atau belum”. Proses menuju pernikahannya mulus dan berasa semuanya baik-baik aja, tapi bisa jadi di tengah-tengah kehidupan rumah tangganya tiba-tiba terjadi konflik yang menyebabkan perceraian. Who knows? Saya pernah mendengar beberapa cerita/kisah yang seperti ini, yang berujung pada perceraian. Saya sendiri pun juga pernah dicurhati oleh beberapa teman saya yang mengalami kasus serupa, tapi untungnya mereka masih bisa mempertahankan rumah tangganya. Iya, itulah takdir. Kalo sampai bercerai, ya berarti mereka gak ditakdirkan berjodoh sampai surga.
Di kehidupan nyata saya, TAKDIR sudah seringkali membuktikan bahwa kesiapan bukanlah tolok ukur (kesiapan ilmu, finansial, mental, fisik, dsb.). Sebab kesiapan itu adalah menurut pandangan kita (sebagai manusia), bukan menurut pandangan Allah. Tapi ya bukan berarti kita berhenti belajar dan mempersiapkan. Lanjutkan segala persiapan kita!
Apakah TAKDIR itu bisa dirubah dengan doa ataupun ikhtiar, hanya Allah yang tahu, ilmu kita gak mampu menafsirkan. Sepengetahuan saya, para ulama juga berbeda-beda pendapat tentang ini.
Dan berhubung ini adalah bulan Syawal, pasti banyak yang nikah, wqwqwq. Ada sebuah hal yang membuat saya terus mempertanyakan karena saking minimnya ilmu saya, yakni terkait sighat ijab dan qabul. Beberapa hari lalu sempat saya tanyakan kepada salah satu santri alumni Lirboyo, tapi beliaunya belum berani menjawab.
Kepada para netijen & netijat yang berkapasitas secara keilmuan dan kebetulan lagi baca post ini, hamba yang faqir ilmu ini mohon pencerahan, komentar, dan ilmunya terkait screenshot di atas. Hehehe.
Jember, 8 Mei 2022 (7 Syawal 1443 H)