Bagian tersulit dari membuat keseriusan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan adalah memberikan kepercayaan. Beberapa orang ada yang dengan sepelenya mengolok-olok kepercayaan dan berkhianat, lucunya, beberapa orang lagi ada yang dengan mudahnya memaafkan. Mungkin Tuhan memberikan porsi kesabaran lebih besar kepada mereka yang mudah memaafkan, jauh takarannya ketimbang perempuan berlesung pipi yang satu ini. Dia sedang berada dalam percakapan yang membutuhkan energi serius dengan laki-laki berdasi hitam di depannya. "Laki-laki yang seharusnya menjamin seluruh hajat hidup saya, menyiakan-nyiakan saya begitu saja, Mas." si laki-laki bingung dengan jawaban perempuannya. "Maksudmu bagaimana, Nona?" "Kamu bukannya tadi bertanya tentang komitmen?" tatapan dibalik lensa kacamatanya semakin tajam. "Bagi saya, menjalin komitmen adalah menyerahkan kepercayaan saya tentang kamu sepenuhnya. Dulu, saya pernah melakukannya pada seorang laki-laki yang saya kira akan menjadi selamanya. Tapi saya dibuang, ditelantarkan setelah seluruh masa depan hidup ini saya gantungkan kepadanya." lanjut si Nona yang sekarang sorot matanya bercampur kesenduan tapi tetap dibentengi ketegaran. Laki-laki itu menggenggam tangan Nonanya. "Kamu mengerti dengan sangat jelas bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu, tidak seperti yang telah dilakukan laki-laki itu." Nona tersenyum, sedikit. Kemudian menunduk. "Tidak ada jaminan." katanya agak sinis Dipegangnya dagu si perempuan dan ditatapnya mata yang sudah sejak dulu diteduhi bulu lentik. "Aku mencintaimu, apa itu bukan jaminan?" ucap si laki-laki serius. "Dia juga mencintaiku, pada awalnya." "Dia bohong, aku mencintaimu lebih banyak." jawab si laki-laki. Perempuan diam sejenak sebelum berkata "Apa cinta karena satu darah juga bisa berbohong, Mas?" kali ini matanya lebih bening dari sebelumnya, ada genangan air menutup kelopaknya. "Laki-laki itu....Bapakku. Aku hadir karena ada darah dia dalam tubuhku, Mas. Apa ada yang lebih kuat dari hubungan darah? " lanjutnya Mulut si laki-laki yang tadinya mau membalas percakapan kembali mengatup. Nona didepannya sekarang sedang mencari-cari tisu di tas ransel cokelat susunya. Si laki-laki menjadi bingung mau menjawab pertanyaan dari si perempuan. Dia tidak bisa berpikir lagi. Kemudian, diraihnya kepala si Nona dan dicium lembut keningnya. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk sekarang. "Maaf. Aku tidak tau hal ini, Nona." "Maaf... " lanjutnya "Aku akan berhenti menanyakan tentang hal ini. Kamu hanya perlu dengar kalau aku mencintaimu dengan benar. Sudah. Selebihnya aku akan menunggu." "Terimakasih, Mas. Dan ....maaf. " "Jangan terbebani oleh hal tadi." Si laki-laki kini tersenyum kepada Nonanya. "Ayo, kuantar pulang. Sudah mendung." Berdua mereka bersama melewati angin dingin dari langit yang abu-abu. Menyimpan segala permintaan masing-masing dengan bijaksana. Kadang memberikan perngertian sama sulitnya dengan kepercayaan. Tetapi pengertian jauh lebih bisa diterimakan apabila dibicarakan, sedangkan kepercayaan lain perlakuan. Kepercayaan, bagi si laki-laki membutuhkan kebiasaan untuk bersabar menunggu. Tidak ada yang lebih baik dari menunggu Nonanya untuk menerima segenap sukma tentang dirinya.