Papa
Jika menyebut kata itu, pikiranku langsung melayang menyusuri tahun ke tahun saat aku kecil dan melompat perlahan bersama kenangan sebagai pijakannya. Seseorang yang terkadang sosoknya dilupakan karena memang dalam islam, Mama yang harus lebih kita hormati. Seseorang yang selalu meng-iya-kan segala sesuatu yang kupinta, walau tahu kadang uangnya belum cukup untuk membelinya. Seseorang yang selalu panik jika aku berkata lapar. Dan selalu membelikan makanan tanpa memberitahuku. Padahal saat itu hujan turun dengan derasnya. 'Dimakan, mumpung masih hangat' ujarnya dengan jas hujan yang masih meneteskan air. Aku hanya bisa terperangah. Seseorang yang tak pernah memarahiku, yang selalu membesarkan hatiku saat aku melakukan kesalahan. Seseorang yang selalu memelukku ketika aku sakit demam, dan mau menyuapiku saat aku sakit walaupun saat itu aku tak mau makan sama sekali. Ah.. tak cukup kata untuk menggambarkan betapa aku begitu mengagumi sosokmu, Papa.













