Awal dan Mental Pemberanimu
Apa suasana yang seringkali kita khawatirkan?
Awal. Kita takut tak akan mudah beradaptasi di awal. Kita berimajinasi liar bahwa awal pekerjaan itu memusingkan. Karena kita memulai hal baru dan belum terbiasa, pasti akan ada beratnya, "Be brave enough to be bad at something new."
Setiap awal memang sulit, itu adalah bagian dari sunnatullah. Uniknya, awal itu memang cukup memusingkan, namun ia tak seburuk yang kita takutkan. Maka izinkanlah dirimu untuk jadi "pemula" dalam setiap awalan, apapun itu. Awal menulis, awal membuat kebiasaan baru, awal bekerja.
Allah mengajarkan kita tentang pentingnya proses. Kita bisa melihat dengan jelas awal yang berat itu pada awal kehidupan Rasulullah dan awal dakwahnya. Tapi engkau lihat kemudian wahai sahabat, segala awal yang berat itu justru adalah yang membentuk mental kesatria Nabi.
Itulah mengapa anak penikmat sore sering bilang, "terbentur, terbentur, terbentuk." Eaaa.
Awalnya memang tak mudah, maka izinkanlah diri kita untuk menjadi pembelajar yang rendah hati agar kita bertumbuh. "You must do the thing which you think you cannot do."
Di awal-awal berdirinya Negara Indonesia, perayaan kemerdekaan disiarkan setiap bulan. Orang-orang bertanya pada Bung Hatta, kenapa mesti dirayakan setiap bulan dan bukan setiap tahun?
Bung Hatta mengatakan, karena sejarah bangsa ini baru berbilang bulan. Hal itu dilakukan pula untuk menegaskan berkali-kali pada bangsa Indonesia bahwa negeri ini telah memproklamirkan kemerdekaannya. Agar rakyat semakin solid, agar nuansa merdeka semakin kental.
Sebab ada anak-anak bangsa yang masih berpikir hidup lebih nikmat jika di bawah tangan penjajah. Ada anak-anak bangsa yang masih berpikir lebih lezat disuapi oleh Belanda meski suapannya sedikit. Wilayah Indonesia juga luas. Ada daerah yang sudah dengar kemerdekaan dan ada yang belum merasakan sorak sorainya. Itulah awal yang memang berat.
Selain itu, penajajah tak rela jika Indonesia ini punya awal yang baru. Mereka berusaha membuat "narasi tandingan" dengan mengundang beberapa orang-orang daerah untuk mewujudkan Commonwealth.
Kita sebagai Indonesia telah mengenal awal yang berat. Kini pun, menghadapi keadaan negeri ini pasti membuatmu ingin melakukan sesuatu. Maka kuat-kuatlah kawan, karena di saat kau sudah ingin membenahi keadaan, pasti kau akan dihadapkan pada badai.
Namun orang-orang besar selalu keluar dari badai itu, bukan sebagai korban, tapi sebagai pawang.