"Urip iku Urup, Kang Murupé Lelumbanan Hing Segara Wuru. Marmané enggal rampungno ngombému! " "Pengecut tidak akan pernah memulai, Pecundang hanya berkawan dengan pembual. Karena, hanya Pemenang yang tidak pernah berhenti." Selesaikan minum-mu, karena kita semua hanya peziarah yang melepas penat sesaat. Inilah kesempatan sekaligus apresiasi kepercayaan yang diberikan oleh penggiat skena kebudayaan. Bermula dari umpan balik apresian merespon lagu Cakra Bhirawa, Ardum dan Anuhtiam yang dimaknai sarat mosaik pesan, "passwords" serta narasi ketubuhan. Maka, terbitlah gagasan untuk memadukan esensi karya ini ke dalam seni olah gerak besutan Djarot B. Darsono. Karya koreografi bedhayan jalu ini menceritakan tentang ritus jamuan minum tuak. Seperti dilansir dalam beberapa narasi kebudayaan masyarakat Dwipantara lama tentang tradisi meminum minuman keras sebagai ritual adat, kondisi mabuk bukanlah tujuan. Karena mabuk lebih dimaknai sebagai sebuah kegagalan paham tentang "purwa-madya-wasana" apa yang dikerjakan namun dalam keadaan sadar. Hal itu tersurat dalam olah budi cendekia pada zamannya yang berhasil menggambarkan tingkatan prosesi mada dan sejenisnya, tujuan, dampak hingga ilustrasi kondisional seseorang yang ditengarai telah memasuki fase melampaui dan menyimpang. Dan inilah sastra elok untuk melukiskan tahapan ritus menuju ketidaksadaran diri tersebut. Di masa yang akan datang semoga kita tetap waras serta kondisi terjaga dari penurunan kemampuan mental dan fisik. Seburuk apapun lingkungan beracun di sekitar kita. Eka Padma Sari. Eka adalah bilangan satu; padma itu kembang teratai dan sari adalah inti. Maknanya, dalam tegukan awal akan berdampak kepada air muka yang menjadi berkilat cahaya, layaknya sari rona merah kembang teratai. Dwi Amaratani. Dwi bermakna yang kedua; dan amaratani berarti merata. Maknanya , pada tegukan kedua, segarnya sekujur tubuh telah mulai terasa. Tri Kawula Busana. Tri: tiga, kawula adalah pada konteks ini diartikan pembantu dan Busana adalah pakaian. Maknanya, pada tegukan ketiga ini seseorang akan mulai terasa gerah dan tanpa disadari mulai melepaskan baju. Catur Wanara Rukem. Catur berarti empat; wanara adalah monyet dan rukem adalah nama buah dengan rasa asam manis kesukaan para kera. Pada tegukan yang ke-empat. Tingkah polah peminum digambarkan seperti halnya seekor monyet yang begitu gembira, karena menemukan dan merasakan asam manisnya buah rukem kesukaannya. Kata-kata yang keluar dari mulutnya sudah tidak bisa dikendalikan oleh akal sehatnya. Panca Sura Panggah. Panca itu berarti Lima, sura berarti berani, panggah dalam hal ini bisa diartikan berlebih. Keberanian oleh karena hidangan teguk yang ke lima bisa diumpamakan, keberaniannya sudah dirasa bagai tidak ada seorangpun yang dapat mengalahkannya. Maka tidak heran, bahwa pengaruh pada state ini, banyak menjadikan orang mengamuk dan tidak dapat dituturi. Tindakannya hanya atas dasar keberanian yang terkadang tidak disertai kebugaran tubuh. Sad Guna Weweka. Sad berarti bilangan ke-enam, Guna adalah kepandaian atau nalar, sedangkan weweka artinya disini sebagai hilang/musna Orang sudah kehilangan perhitungan nalar. Ia sudah kehilangan dasar rasa kemanusiaannya. Sudah tidak punya kehati-hatian dan perhitungan akal sehat. Baik itu tindakan bermuara pada pikir atau bahkan gerakannya juga sudah miring. Sapta Kukila Wersa. Sapta; tujuh, kukila burung dan wersa adalah hujan. Pada putaran minum yang ketujuh, badan orang ini sudah menggigil bagai burung yang kehujanan. Tenaga sudah tidak ada padanya. Asta Sacara-cara, Asta atau hasta berarti delapan, Sacara-cara berarti asal-asalan. Tingkah laku individu pada tingkat ini sudah tidak tertata lagi. Bahkan tata susilanya sudah tidak lagi dimiliki. Memalukan segala tingkah lakunya dan mengatakan hal apapun yang tidak seharusnya terucap. Nawa Gra Supé. Nawa Sembilan, Gra adalah punya dan Supé yang artinya lupa, sangat lelah tidak ingat. Tenaganya benar-benar sudah habis. Bahkan ia harus dipapah untuk bergerak. Tingkah polah pada state sebelumnya telah sangat menguras tenaga hinga untuk bergerakpun ia harus dibantu. Inilah gambaran manusia mabuk pada tataran ke Sembilan. Dasa Yaksa Mati. Dasa sepuluh, yaksa adalah raksasa dan Mati kalimat yang sudah menyatakan. Tanpa daya bagai raksasa yang tewas. Tidak dapat bergerak. Dan paripurnalah puncak dari ritus minum sebelum dia mati. Mati di dalam hidup. Kalian semua digdaya! © credo photo Instagram @myrockinphoto #adam #djiwo #djivvo #djiwoband #djiwostara #fraternity #collaboration #cakrabhirawa #daramuluk #kalacakra #bhairawa #gardanusantara #nusantarais #darkforest #mangrove #skull #skullcup #mada #daramuluk #spell #mantra #darkforest #darkwater #pengiwen #gunadhesti #wiraga #wirasa #wirama #worlddanceday #haritaridunia #adam #ardum #anuhtiam #WDD2018

















