Meletakkan Percaya
Di perjalanan yang ke sekian, lagi-lagi aku menemukan pemahaman bahwa tidak semua hal harus dituliskan, dibicarakan, dikatakan. Tidak semua perasaan senang dan gamang harus dipublikasikan, dibagikan, dirayakan. Karena tempat terbaik untuk merayakan semua perasaan bahagia atau mungkin duka, tentu hanya kepada-Nya.
Di titik ini, lagi-lagi pundakku ditepuk lembut oleh kenyataan. Bahwa meninggikan ekspektasi, justru tidaklah lebih baik daripada menegaskan kepada diri perihal membatasi kepekaan.
Dan ketika aku mulai memilih untuk membatasi relasi dan menjadi realistis akan hidup ini, aku kembali memahami bahwa mereka yang berbuat baik hari ini memiliki kemungkinan untuk menjadi yang paling menyakiti di kemudian hari. Bahkan yang dianggap paling banyak menyajikan ketulusan, juga memiliki kemungkinan untuk menjadi yang paling banyak menyimpan kebohongan.
Dan tentu saat kejadian itu datang, ia justru membawa banyak kejutan. Hingga akhirnya aku pun sadar tentang rumus yang tidak akan berubah, yaitu mereka yang diberi luasnya kepercayaan, justru bisa menjadi seseorang yang menikam dari belakang.
Di masa lalu, aku pernah menjadi yang paling lugu dalam menilai perihal sisi baik dan buruk pada diri seseorang. Kepalaku yang disuguhkan ketulusan, tidak pernah menyimpan kecurigaan perihal mereka yang bisa berkhianat sewaktu-waktu. Tapi nyatanya ada. Orang-orang yang mengajarkan kekuatan melalui jalur perjalanan bernama kepahitan.
Kepahitan yang menjelma racun bagi jiwa. Kepahitan yang barangkali bisa terulang, namun kemudian menjadi penawar tatkala pengkhianatan-pengkhianatan itu datang lagi. Kepahitan yang membuatku berkaca dan mengambil banyak pelajaran dari jutaan pengalaman.
Dan kini, ketika orang-orang berbicara tentang kepercayaan, dadaku justru menjadi sangat sensitif dan berubah menjadi sentimental. Alasannya sederhana, sebab aku kehilangan cara untuk mempercayai siapa-siapa. Aku kehilangan tempat untuk meletakkan percaya. Aku bahkan kesulitan menemukan bagian yang hilang itu hingga saat ini.
Maka perihal dewasa adalah tentang secukupnya. Secukupnya dalam merasakan, menceritakan, juga meletakkan kepercayaan.
Sudah cukup rasanya terjatuh pada tingginya asa yang membuat lupa pada kenyataan bahwa semua orang rentan berubah.
07:15 p.m || 14 Juli 2021










