Untuk perempuan yang bergelar istri
Kamu harus bangga, jika punya suami yang tidak pernah mengajak healing ke tempat-tempat yang penuh syubhat. Semisal kafe yang penuh musik dan campur baur. Atau semisal tempat wisata yang dipenuhi aurat terbuka.
Kamu harus bangga, jika punya suami yang melarang ini dan itu. Yang membatasi tiap langkahmu untuk sampai ke sini dan ke situ selain pada tempat yang penuh berkah, ilmu dan ridho Allah.
Kamu harus bangga, jika fotomu tidak pernah ia pajang di sosial media. Kau disembunyikan, bahkan pada rekan-rekannya kau pun masih tersembunyi. Ia mengatur jarak antara dirimu dengan temannya. Ia tidak ingin matamu tertangkap basah oleh mata temannya.
Kamu harus bangga diratukan dengan cara yang berbeda. Tidak ada upload foto, tidak ada kunjungan ke tempat-tempat penuh campur baur. Tidak ada pakaian warna-warni yang mencolok. Bahkan dalam perkara jual beli, jika ia mendapati sang pemilik jualan adalah lelaki, ia berdiri di hadapanmu. Menjadi tameng untukmu agar tidak terlihat dan terlibat percakapan.
Penjagaannya meliputi tiap jengkal dirimu. Ia memuliakan dengan sebaik-baik cara. Ia memilihkan pakaian terbaik untukmu keluar rumah. Ia menjaga batasanmu pada lelaki yang bukan mahram, meski pada hal-hal mubah.
Berbanggalah, duhai engkau yang bergelar istri. Jika lelakimu "se-ekstrim" itu dalam bertingkah laku.
Berbanggalah, jika ia tidak lahir dan hadir untuk memamerkanmu. Tapi ia ada untuk memuliakanmu sebagaimana istri-istri para nabi dimuliakan.
Berbanggalah karena ia menjagamu dengan sebaik-baik penjagaan.
Dan meski kau tidak dipamerkan. Tapi semua orang tahu bahwa dia milikmu dan kalian adalah sepasang.
03 April 2026 || 10.17 p.m









