Sebelumnya mohon maaf apabila tulisan saya menyinggung satu atau lebih pihak atau kelompok, bukan bermaksud seperti itu, hanya mengutarakan isi hati dan otak saya yang pas-pasan ini menurut pandangan saya, semoga tidak ada yang tersinggung, terimakasih sebelumnya.
Kadang saya berfikir apakah memang harus dan wajib sementara saya berfikir bahwa diri kita sendiri saja belum siap untuk itu, maksud saya disini adalah berhijab hehe. Belum siap dalam arti saya lebih memilih untuk belum menggunakan secara permanen (bukan berarti saya tidak akan menggunakan, mungkin suatu hari nanti, entah kapan hehe) dikarenakan saya sedikit heran dengan mereka yang telah mengenakan dan mengatasnamakan agama yang wajib untuk menggenakan hijab dengan alasan mendasar menutup aurat sementara kelakuan yang mereka yang menurut saya belum pantas. Sebagai contoh, mereka yang telah menggenakan hijab tetapi mencela, menghina dan membicarakan orang lain ya saya maklum sebagai perempuan saya juga pernah seperti itu akan tetapi aneh saja bagi saya mereka yang telah memutuskan menutupi auratnya malah mengumbar kelakuan mereka yang tidak pantas. Disini saya memilih belum menggunakan karena saya berfikir bahwa saya belum siap (alasan saya klasik memang) tetapi saya sendiri juga belum pantas. Saya lebih dirundung rasa malu apabila saya telah menggunakan hijab tetapi saya masih mencemooh orang, berkata kasar, berkelakuan tidak pantas, belum bisa melaksanakan perintah agama dengan baik, dan masih banyak lagi, saya malu dan justru itu membuat malu agama kita sendiri. Dan saya berfikir lagi, dan dengan nasehat bapak saya tentunnya dia mengatakan bahwa berhijab bukan budaya kita, kita ini hidup di Indonesia dan berhijab adalah budaya Arab, kata dia yang etah dapat teori dari mana, budaya kita itu berkerudung, seperti keluarga Abdurrahman Wahid, yaitu istri dan anak anaknya ya salah satunya Yenny Wahid yang memilih berkerudung dari pada berhijab. Kita adalah negara Nasionalis jadi jangan mau dijajah dengan budaya Arab yang merasuki budaya kita. Jujur saja saya juga tidak suka dengan beberapa budaya Arab yang mulai masuk ke negara ini. Sebagai seorang keturunan Jawa saya merasakan bahwa budaya Jawa juga mulai luntur dengan datangnya budaya yang mengatasnamakan semua hal yang dilakukan adalah “haram” saya tidak habis pikir. Mereka lebih memilih dan percaya budaya yang nyata-nyata bukan dari nenek moyangnya. Saya ambil contoh, saya dan keluarga saya mengoleksi keris dan tombak, keris adalah simbol budaya Jawa, dan apa salahnya kita mempunyai itu? Itu adalah bentuk cinta akan budaya, menghargai budaya sendiri. Maka salah satu teman saya berkata bahwa itu adalah musyrik, haram, sebaiknya akhiri saja, dan dia mempunyai pengalaman bahwa dulu dia juga mempunyai dan sekarang sudah insyaf, what? Terus sekarang aku kafir menurut dia? Oke terserahlah. Setiap orang punya pendapat masing-masing dia seperti itu juga saya melihat juga tidak didasari perilaku yang benar dan teori yang benar ingin rasanya mengkoreksi semua perkataannya tapi saya tidak pintar berdebat jadi saya diam saja dan mengalah. Mengalah bukan berarti kalah kan?
Menurut saya budaya dan agama tidak dapat dicampuraduk. Bukan berarti dengan ini saya tidak menjalankan perintah-Nya, saya solat, saya puasa, saya berdzikir, saya beramal (ya meskipun belum tentu semua ibadah saya diterima) yang penting kita telah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kembali lagi ke masalah mengenakan hijab yang saya herankan adalah mengapa mereka berani mengenakan dan terang-terangan melecehkannya, saya ambil contoh, di kantin para mahasiswa Universitas Brawijaya yang disebut CL kadang kala saya melihat ada seorang mahasiswi berhijab dan secara terang-terangan menghisap rokok nah! Apakah ini pantas? Ya mungkin terserah dia sih mau ngerokok juga mulut dia, duit dia, hidup dia ngapain ya awak ngurusin, cuma ya kaya melecehkan hijabnya gituloh, saya sebagai perempuan dan satu agama dengan dia merasa malu. Terus itu yang segaja pakai cadar tapi justru malah mencuri disembunyikan dibalik cadarnya, malah lebih miris gak si? Dan lagi ada anak berhijab tapi mesra sekali dengan pasangannya, di kampus gandengan, pacaran, diumbar di medsos pernah ke kesini kesitu yang menurutku amazing sebagai wanita berhijab (sekali lagi kayanya aku sirik kan itu hidup dia, ngapain aku ikut campur ya) tapi, saya berani berkomentar karena dia membawa nama perempuan dan saya perempuan dan dia membawa agama Islam dan saya juga Islam jadi ya berani berkomentar. Jadi saya berfikir untuk menata kelakuan dulu sebelum saya mulai mengenakan dan justru memalukan seperti mereka, meskipun banyak yang bilang semua akan tertata sendiri dan berjalan mengikuti seiring kamu mengenakannya, tetapi saya lebih memilih menata dahulu dari pada dicemooh hehe. Dan lagi saya suka sungkan ya gatau ya sungkan apa gimana ya bahasanya, ketika saya bersama teman saya yang berhijab dan non muslim, dan saya meminta waktu untuk solat dan pada saat itu juga teman saya yang berhijab tidak solat terus teman saya yang non-muslim bertanya kok km gak solat, oh aku halangan. NAH INI NIH! tameng yang bagus dan dijadikan alibi indah untuk para perempuan yang berhijab tetapi malas solat. Saya gimanaya ya, ya mungkin dia beneran berhalangan, tapi berhalangan kok terus-terusan. Saya yang solat jadi sungkan (lah kok solat malah sungkan) wkwkwk jadi saya kan nanti dikira sok iman, sok muslim, sok alim gak hijaban aja solat, ini lo yang yang pake hijab aja gak solat (LOH) aga gimana yaaa ngono wes wkwk
Mengenakan hijab memang tak bisa dipaksakan, seperti saya, saya pernah hampir sudah memakai hijab saat lulus sekolah menengah atas, waktu itu saya yang nganggur selama berbulan-bulan karena saya menunggu masuk di perguruan tinggi memutuskan mencoba berlatih mengenakan saat saya keluar dengan teman-teman saya, alhasil saya sudah dicap akan mengenakan hijab selamanya, tetapi saya berkehendak lain, entah kenapa niat itu luntur (apa emang gak niat ya hehehe) jadi ya sampai sekarang saya belum berhijab. Tetapi kadang kala saya juga mengenakan hijab bila saya keluar dengan teman-teman saya yang berhijab (maklum temennya berhijab semua) jadi ya pengen gitu berhijab, ya meskipun tidak sesempurna mereka dan selalu rempong sendiri padahal juga besoknya lepas. Aku dibilang kerdus? Saya terima karena memang iya, tetapi saya lebih memilih seperti itu dari pada yang dahulu berhijab sekarang lepas permanen dan malah mengumbar aurat berlebihan dengan berfoto seksi seksi ya gimana ya jadinya ya saya juga mbatin, tapi ya sekali lagi itu hidup dia ngapain juga tapi ya gatel gitulo ya gituwes wkwkwk
Tapi saya bersyukur dan kagum dengan sahabat-sahabat saya yang dulu belum berhijab dan sekarang berhijab jadinya tambah adem gitu liatnya, meskipun ada beberapa yang saya bilang jujur ke dia bahwa dia lebih cantik tidak berhijab dan saya dikata setan wkwkw memang setan si, tapi ya jujur aja gitulo masa gak boleh wkwk yang dulunya dancer make pakaian seksih seksih sekarang berhijab, yang dulunya ngatain aku berhijab sekarang malah berhijab, yang dulunya lepas-pake-lepas-pake sekarang sudah permanen, ya meskipun ada yang sudah berhijab tapi kelakuannya tetep aja gak karuan, buanyaaaaak.
Ya doakan saja saya segera mendapatkan hidayah, mungkin besok, mugkin lusa, tahun depan, tahun depannya lagi, atau saat ada acara acara yang mengharuskan saya memakai hijab? ya siapa yang tau, atau saya memilih untuk berkerudung? Tidak ada yang tau saya sendiri juga tidak tau, pada dasarnya saya susah untuk memutuskan sesuatu dan selalu bingung hehehe yang doakan saya yang terbaik dan doakan saya baik-baik saja karena saya telah menulis ini, mungkin saya akan diserang dengan banyak orang karena telah menulis ngawur dengan tidak ada teori yang mendasar tapi ini adalah pandangan saya jadi ya monggo mau dikomen, dikritik atau dilike hehe sekian dari saya terimakasih telah meluangkan membaca tulisan ngawur saya.