PERDA SYARIAH TIDAK COCOK DI INDONESIA? SIAPA BILANG~
Baru-baru ini kembali hangat di sosmed tentang penerapan Perda Syariah yang melarang perempuan duduk ngangkang dalam berkendara, sontak Perda tersebut menuai berbagai kontroversi dari berbagai pihak, mulai dari para netizen liberalis, LSM dan bahkan dari kalangan pejabat pemerintahan. Keresahan utama dengan adanya pelarangan bagi perempuan agar tidak duduk ngangkang adalah masalah keselamatan, takutnya nih kalau duduknya miring kekanan atau kekiri memperbesar resiko terjadinya kecelakaan karena posisi yang tidak seimbang dan kurang stabil saat berkendara dijalan raya. Selain masalah keselamatan,, Perda Syariah dinilai bertentangan dengan konstitusi negara ini, entah itu dari segi proses pembuatan maupun substansi dari konstitusi itu sendiri. Kondisi ini diperkeruh dengan pernyataan Ketua Umum PSI, Grace Natalie, yang mengatakan bahwa "Partai ini (PSI) tidak akan pernah mendukung perda Injil atau perda syariah, tidak boleh lagi ada penutupan rumah ibadah secara paksa," pada hari Minggu (11/11) saat HUT PSI ke-4. Akibatnya ucapanya, Grace dilaporkan ke polisi karena sikap politiknya yang secara eksplisit menentang adanya Perda berbasis agama yang dinilai Grace merupakan tindakan diskriminatif.
Akhmad Sahal, Mantan Direktur Freedom Institute sekaligus tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) menanggapi pelaporan yang dialamatkan kepada Grace Natalie, ia menegaskan adanya pemahaman yang salah kaprah antara Perda Syariah dan Syariah itu sendiri. Perda Syariah dikatakan hanyalah sebuah produk hukum yang dibuat oleh manusia, sedangkan Syariah dibuat langsung oleh Tuhan yang terlah dirumuskan oleh ahli fiqih terdahulu yang didasari oleh hukum Al-Quran dan Hadist.
Hal senada juga disampaikan oleh Ustad jebolan Universitas Bollywood yang lagi naik daun di Facebook, ya siapa lagi kalau bukan Ustad Abu Janda al-Boliwudi. Ia mengatakan “Jika Perda Syariah hanya mengurusi tentang cara wanita berpakaian, melarang seseorang keluar dengan orang yang bukan Muhkrim, dan tidak boleh ngangkang dalam menaiki motor namun Perda Syariah tersebut tidak mengurus potong tangan pejabat yang korupsi, Perda tersebut hanya menyebabkan penindasan gender”.
Satu, dua tiga~ Oke dari sini sudah ada tiga orang yang dengan lantang menolak adanya Perda Syariah. Saya menjadi heran dengan banyaknya tokoh dan lembaga yang menolak adanya Perda Syariah, sebegitu alergi itukah negeri kita terhadap sesuatu yang mengandung unsur Syariah? Dasar kaum liberalis memang.
Sejujurnya saya sempat ingin marah karena banyak orang yang menolak adanya Perda Syariah, bahkan demi membela legalitas Perda Syariah saya sampai rela dikucilkan dari lingkungan pertemanan, ditambah ada yang memblokir akun facebook dan meng-unfollow Instagram saya. Sedih dan depresi memang, bukan karena dikucilkan, namun karena follower yang susah-susah dikumpulkan dari nge-follow akun random kemudian spam komen “folbek ges~” kian menurun.
Namun akhirnya saya sadar, mereka yang melakukan penolakan terhadap Perda Syariah mungkin belum pernah merasakan secara langsung bagaimana nikmatnya hidup dikota yang menganut Perda Syariah.
Saya dan kawan-kawan saya tahun lalu mengunjungi salah satu kota besar yang terkenal akan kesuksesannya dalam menjalankan Perda Syariah. Benar saja, saat memasuki gapura kota saya sempat tidak percaya dengan yang saya lihat. Sebuah kota dengan peradaban maju dan kerukunan beragama yang excellent menurut saya. Bagaiamana tidak? Ketika kamu memasuki jantung kota tersebut, kamu akan menemukan gereja yang besarnya setara dengan gereja katedral yang ada di Jakarta itu. Sayapun berbincang ngalor-ngidul dengan Tour Guide yang memandu perjalanan kami.
“Pak, kenapa bisa ada gereja sebesar ini disini? Bukankah disini mayoritas Islam ya”
“Tidak hanya gereja mas, vihara dan pura juga kami perlakukan sama disini.”
“Wah kok bisa pak?”
“Kota ini menggunakan Perda Syariah yang hukumnya merujuk pada Quran mas, contoh kecilnya ya gereja ini, Perda kami memastikan bahwa bangunan tempat ibadah ummat beragama lain harus bebas berdiri dan tidak boleh dirusak sesuai petunjuk dalam Quran Surat Al Hajj Ayat 40. Bahkan ketika Misa Natal, gereja tersebut akan dijaga keamanannya oleh saudara-saudara muslim, hal serupa juga dilakukan saudara non-muslim ketika Hari Raya Idul Fitri dan Adha menjelang”.
Saya sempat speechless ketika mendengar penjelasan dari Tour Guide kami, Keren sekali kota ini, pikir saya. Selanjutnya saya dan kawan-kawan melanjutkan perjalanan kami berkeliling kota. Namun ada satu hal kecil yang saya lewatkan sedari tadi, tidak ada sampah dikiri-kanan jalan! Sepanjang jalan yang saya lewati dipenuhi oleh pepohonan yang rimbun dan bunga warna-warni yang menambah kecantikan kota. Ketika melewati jembatan, betapa kagumnya kami ketika melihat sungai yang jernih bak sungai-sungai dipegunungan, bahkan kami bisa melihat dengan jelas ikan-ikan yang berenang dengan bebas kesana kemari dan tertawa~ (Uhukkkk, maaf terbawa suasana). Kata Tour Guide kami, keasrian dan keindahan kota ini berkat Perda Syariah yang berorientasi pada Quran Surat Al-A’raf (7) : 56 – 58 yang menerangkan bahwa manusia tidak boleh merusak lingkungan dan harus hidup selaras dengan alam.
Mata kami benar-benar dicuci saat berkeliling kota ini, saya pikir jika ada Awarding tentang kebersihan dan keindahan tata kota, bukan Singapura, Berlin, atau Tokyo yang seharusnya menang, namun kota ini!
Diperjalanan pulang kami menuju hotel, perhatian saya kembali tercuri pada satu bangunan yang modern, didepan bangunan tersebut terdapat tugu berbentuk “Orbit Atom”. Model bangunannya pun terbilang futuristik, jika kamu kamu pernah melihat kantor Google di California, bisa dibilang desainnya 11-12 lah dengan bangunan ini. Tour Guide yang menyadari saya bengong pun tertawa dan akhirnya menjelaskan, jika bangunan itu merupakan pusat science dan research dikota ini. Selain itu disini juga memamerkan penemuan-penemuan dari para siswa, yang bertujuan memberikan motivasi dan dorongan agar anak muda disini tertarik untuk mendalami ilmu sains. Pembangunan dan program ini merupakan implementasi dari Perda Syariah yang merujuk pada Quran Surat Ali ‘Imran Ayat 190-191 yang menghimbau manusia agar mempelajari bagaimana alam semesta yang kita diamin ini berkerja.
Skip skip skip. Setelah pulang dari kota itu, saya dan kawan-kawan makin yakin bahwa sebenarnya Perda Syariah tidak ada yang salah. Sudah saatnya masyarakat dan pejabat pemerintahan Indonesia diedukasi tentang substansi sebenarnya dan menghapus stigma negatif dari Perda Syariah. ‘Karena jika penerapannya benar, akan membawa kita ke peradaban yang maju dan membentuk manusia-manusia yang Rahmatan Lil Alamin.
Oh iya, saya yakin kamu penasaran dengan nama kota yang saya kunjungi tahun lalu kan?
Namun sayang sekali gaes…
Kota itu…
Dan cerita menakjubkan tentang kota itu...
Hanya sekedar khayalan saya semata~
Keep in touch with @Ganesaurus











