sejak lamanya kau menanggung segenap keluargamu
yang dulu diberi janji masa depan
sekarang masih diberi tugas: menahan lapar mereka,
menjaga rumah yang retak di setiap sudut,
menghapus air mata yang tak pernah kau buat sendiri.
memecah waktu antara pekerjaan,
orang tua yang kian menua,
saudara kandung yang tak mandiri,
dan mimpi yang perlahan kau kubur sendiri.
lebih dari piring yang jatuh
lebih dari rembulan yang tak pernah menunggu.
kau menulis doa di sela jam kerja,
menelan malam yang panjang,
seperti roti basi yang tak ada rasa manisnya.
tapi di cermin, hanya ada garis lelah
yang menandai pengorbanan tanpa tepuk tangan.
karena suara protesmu tak pernah mengisi rumah.
namun malam, ketika lampu padam,
kau berani bertanya pada diri sendiri:
apakah hidup ini tentang menanggung semua,
atau tentang menemukan cara menanggung diri sendiri juga?