Semoga tenang dialam sana, 1 tahun mungkin sudah cukup walau sayangnya kau tak nampak dalam foto ini :(..
I'd rather be in outer space 🛸
Jules of Nature
Three Goblin Art

⁂

Kiana Khansmith

No title available

Product Placement

izzy's playlists!

No title available

Discoholic 🪩
cherry valley forever
Lint Roller? I Barely Know Her

Janaina Medeiros
noise dept.

★

Andulka
Peter Solarz

pixel skylines
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Xuebing Du
seen from France
seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from Singapore
seen from United States
seen from France

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Russia

seen from Malaysia

seen from Türkiye
seen from Mauritius

seen from Mauritius

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@ghinearyou
Semoga tenang dialam sana, 1 tahun mungkin sudah cukup walau sayangnya kau tak nampak dalam foto ini :(..
Terkadang aku cemburu pada sosok yang tak pernah berusaha sedikitpun, tapi begitu menarik perhatianmu. Sedangkan aku, begitu kerasnya berjuang menggadaikan rasa gengsi namun sedikitpun kau tak pernah melihat aku.
(via mbeeer)
Dan aku hanya bisa diam
Abu terang menyampaikan sebuah peringatan, seolah menandakan bahwa kami yang salah..
Apa salah kami..??
Tenang saja, perpisahan tak menyedihkan, yang menyedihkan adalah, bila habis itu saling lupa.
Pidi Baiq (via tumbloggerkita)
The Imp
Hari ku tidak lama lagi akan berakhir. Hari demi hari, waktu demi waktu ku rasakan dengan sepenuh hati. Walaupun hidupku menyendiri, aku tidak ingin menjadi sebuah beban lagi. Dan walaupun aku hanya seorang lelaki dengan kursi roda, aku pun ingin mereka mengetahui semua alasan terhadap semua tingkah ku. Sejak aku lahir, ku selalu membuat orang yang ada disampingku kerepotan dengan semua yang ku lakukan, karena kemanjaanku. Ketika mulai bersekolah, yang ku lakukan hanyalah membuat kekacauan. Karena hal tersebut ku dijuluki oleh semua orang The Imp atau Si Anak Setan. Rasa malu, ingin hidup sendiri, ku lampiaskan pada keseharianku yang hanya termenung sendiri. Karena semua kekacauan yang timbul, orang tua ku merasa bahwa pekerjaan kantornya menjadi dua kali lipat. Tidak ada niatku untuk membuat kedua orang tua ku kerepotan. Tidak ada nafsu yang membuatku ingin membuat orang tua-ku lelah setiap hari. Yang ku lakukan hanyalah ingin diperhatikan oleh orang tua-ku sendiri. Tetapi ku terlalu takut untuk mengatakannya secara langsung, dan ku melakukan itu karena keseharian mereka yang pulang dan pergi tanpa ku ketahui. Secara tidak ku sadari, ku selalu menangis dalam tidurku. Pernah ku berpikir bahwa mereka tidak peduli, tetapi mungkin mereka peduli, hanya saja mereka lebih peduli terhadap pekerjaan mereka masing-masing. Sewaktu liburan panjang tiba, kami berencana untuk pergi mengunjungi Rumah Nenek kami. Sebelum keberangkatan kami, sejak awal diberitahu rencana ini. Ku sangat merasa gembira, bahwa akhirnya kami sekeluarga bisa berkumpul bersama-sama. Dan kegembiraan itu muncul secara langsung dalam hatiku sendiri, tanpa adanya sedikitpun suara, ataupun jeda. Sehari sebelum keberangkatan kami, ku berharap bahwa liburan ini akan menjadi liburan yang terbaik untukku pribadi. Ku bahkan terbawa suasana, sehingga di setiap tidurku kali ini, ku selalu bermimpi indah. Dan mimpi bercerita mengenai liburan yang menyenangkan, penuh canda dan tawa, serta kehangatan keluarga.
Kami mulai mempersiapkan barang-barang bawaan. Walaupun sibuk karena banyak yang harus dibawa, disela kesibukan itu, ku selalu tersenyum sendiri. Setelah kami selesai menyiapkan, akhirnya kami pergi. Diperjalanan ku berangan-angan mengenai hal menyenangkan yang akan dilakukan bersama disana.
Beberapa jam perjalanan, akhirnya kami sampai ke tempat tujuan. Jika hari pertama di tempat liburan sepi mungkin ku bisa mengerti, karena rasa lelah di perjalanan. Tetapi jika dihari hari selanjutnya tidak ada sedikit pun kehangatan yang kurasakan, mungkin mereka telah menjadikan liburan ini sebagai hari-hari biasa seperti dikantor atau dirumah.
Kekecewaan, rasa kesal, ku simpan di lubuk hatiku dalam-dalam. Karena, rasa gembira bersama yang seharusnya tiba, pada akhirnya tertutupi oleh kesibukan mereka. Memang benar bahwa sekarang adalah hari liburan, tetapi untuk mereka berdua rasanya tidak ada yang berbeda. Hari apapun itu, terkecuali mengenai pernikahan, pekerjaan harus tetap mereka intikan. Seolah tubuh tidak berjiwa. Mereka seperti patung yang tetap sama, apapun keadaannya.
Mungkin karena terbiasa, liburan ini terasa berlalu cepat oleh rasa bosan. Karena tanpa ku sadari bahwa besok merupakan hari pertama sekolah, dan secara kebetulan bahwa besok pun merupakan hari ulang tahunku. Tepatnya, besok pukul sembilan malam, merupakan ulang tahunku yang ke tujuh belas tahun.
Keesokan harinya, bukan hadiah, atau mungkin salam hangat dari mereka berdua, melainkan surat yang kudapat, dan isi surat tersebut berisi bahwa orang tua ku akan bekerja di luar kota untuk waktu yang cukup lama. Ku rasa cukup rasa kecewaku, tetapi ternyata hal seperti itupun berlanjut ketika pertama ku masuk sekolah, bukannya teman ku dapat, melainkan masalah mulai mengendap.
Saat pertama datang kesekolah, mereka seolah menatap bayangan. Tatapan mereka begitu hampa, seolah aku tidak ada disana. Sepulang sekolah, karena rasa kesalku, aku pun menangis. Walaupun aku seorang lelaki, tetapi rasa yang sakit yang berada didalam hati tidak bisa ku lenyapkan. Rasa sakit tidak mengenal pria atau wanita, dan tidak ada larangan untuk menangis bagi seorang lelaki.
Tangisan tersebut bukan hanya dari hari sekarang yang ku alami. Melainkan hari-hari sebelumnya, sebetulnya ku sudah tidak bisa menahan semua ini. Bahkan jika ku lebih memilih mati daripada hidup seperti bayangan atau angin. Hidup tanpa arahan atau segala sesuatu hal yang kita butuhkan, percuma saja.
Berhari-hari berlalu dengan rasa depresi yang ku alami, kedua mereka pun pulang tanpa sambutan atau salam, seperti hantu. Rasa sedihku yang tidak tertampung, membuatku diam seribu bahasa. Bahkan lamunan pun menyelimutiku hingga sekujur tubuhku. Dan aku pun berjalan tanpa adanya pikiran, dan halangan.
Tanpa ku sadari, lamunan tersebut membawaku ke lampu hijau. Berlanjut dengan warna merah dan akhirnya menjadi hitam. Ku terbangun diranjang yang terlihat seperti ruang di rumah sakit. Ku lihat sekelilingku penuh dengan alat rumah sakit, dan ternyata benar bahwa ini memang rumah sakit.
Bukan rasa kecewa atau sakit, melainkan bahagia, karena ku berpikir bahwa jika aku sakit maka mereka berdua akan peduli dan berada di sampingku untuk merawatku. Tidak ada yang salah dalam pemikiranku, ataupun meleset. Kalaupun meleset, itu hanya ada bagian mereka berdua berada di sampingku untuk merawatku.
Pada saat ku sakit, memang benar, mereka peduli, bahkan mereka terlalu peduli, bukan untukku, tetapi untuk pekerjaan mereka. Sedangkan kepedulian mereka terhadapku, mereka salurkan melalui kedua assisten mereka. Kedua orang tuaku menyuruh assistennya untuk merawatku selama ku sakit.
Ku tidak berniat untuk sembuh dari sakit ini. Ku bahkan berharap agar ku mati karena peristiwa tersebut. Rasa senang muncul karena akhirnya harapanku terwujud. Setelah beberapa hari perawatan, sang dokter memberitahu kepada kedua assisten orang tua ku, bahwa peristiwa itu bukan hanya mengakibatkan cedera yang sekarang ku derita. Peristiwa itupun mengakibatkan semakin berkurangnya waktu untukku hidup didunia ini.
Secara tidak sengaja ku mendengar itu, ku langsung menyuruh mereka berdua agar tidak memberitahu kedua orang tua ku. Karena setelah kejadian ini, ku mulai berpikir untuk tidak merepotkan atau mengganggu pekerjaan mereka. Bahkan untuk waktu itu aku hanya berpikir bagaimana caraku untuk memberitahu pesan-pesan terakhir untuk mereka di hari perayaan pernikahan mereka.
Hari perayaan pernikahan mereka tinggal beberapa hari lagi, dan acara tersebut dimulai setelah waktu ku habis. Perayaan besar sudah menunggu mereka berdua, dan jam pasir secara perlahan menghitung waktu yang tersisa untukku. Seperti mimpi, karena akhir yang bahagia diikuti oleh akhir yang sedih, seperti keajaiban.
Hari-hari pun terlewati, dihari yang terakhir ku menulis sebuah cerita yang ku beri judul “The Imp”, dan cerita pendek ini menceritakan hidupku sendiri untuk ku persembahkan pada hari ulang tahun pernikahan orang tua ku. Dan alasanku yang sebenarnya terhadap cerita ini adalah, aku ingin mereka mengerti perasaan ku, dan ingin mengingatkan mereka bahwa mereka pernah memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Alan.
Akan tetapi karena waktu ku yang sedikit, akupun meringkas semuanya dan menyelesaikan cerita tersebut pada nafasku yang terakhir ini.
Mata mungkin melihat, tetapi tubuh tetap terdiam..
Apakah kita didunia mimpi, ataukah kita tidak lagi nyata..??