tetaplah sholat. seburuk apa pun kamu merasa dirimu itu, tetaplah sholat.
The Bowery Presents

izzy's playlists!
Noah Kahan
taylor price

Jar Jar Binks Fan Club
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
he wasn't even looking at me and he found me
Misplaced Lens Cap
h
Interview Vampire Daily

shark vs the universe
I'd rather be in outer space 🛸
𓃗

gracie abrams
Cosmic Funnies

❣ Chile in a Photography ❣
No title available
hello vonnie

ellievsbear

Origami Around
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Uruguay
seen from Azerbaijan

seen from Singapore
seen from Ukraine

seen from France
seen from Congo - Brazzaville
seen from Colombia

seen from Singapore
seen from Singapore

seen from Germany

seen from Japan
seen from Singapore
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Colombia
seen from Venezuela
seen from Venezuela
@gitawidiawati
tetaplah sholat. seburuk apa pun kamu merasa dirimu itu, tetaplah sholat.
Untuk segala sesuatu yang seringkali kita pertanyakan, barangkali hanya perlu dilakukan, dilakukan, dan dilakukan saja. Karena terus mempertanyakan kenapa, kenapa, dan kenapa malah membuat pikiran dan diri menjadi semakin rumit. Cukup lakukan saja, jangan bertanya, dan biarkan Allah yang memberikan kejutan baiknya untukmu di suatu hari nanti.
Caca
Aku : mas kalau jadi ibu rumah tangga tuh perangnya sama perasaan ga berharga
Suami : .....
Aku : kalau ibu bekerja perangnya sama perasaan bersalah. Jadi syukuri yang dijalani sekarang aja yaaa... sama lakuin yang terbaik yg kita bisa.
Suami : .......
Ttd aku yang ngomong sendiri, jawab sendiri wkwkwkwk
Emang cuma butuh didengerin aja🤣
🙂🙂🙂🙂🙂⚡️⚔️
🐣: Ibuuu, temen zaza mah kalau mau lewat masih bilang, "Awas!"
🐰: (Sebnernya belum ngerti dia ngomong apa) Memang harusnya bilang apa, Nak?
🐣: Bilang punten atuh ibuuuu
🐰: Hooo iyaaaa terimakasih ya, Nak. Sepertinya kalau nanti temannya bilang awas lagi, kita kasih tau dia yang baik ya?
🐣: Oke
Every single word matters. Even the shortest
😸Ngurus anak susah ya, Mas?
😼Sebenernya ngga, emosi kita aja yang susah dikendalikan
Perbincangan sepasang bapak dan ibu yang sedang memandangi anaknya yang tertidur di malam hari
2017
Gandhi : Kenapa ambil elektro, Deq?
Gita : Dari sekolah pengen jadi engineer, Mas.
2018 *punya anak*
Gita : Mas kenapa dulu aku ga ambil PG PAUD ya?
2019 *bingung ngadepin anak*
Gita : Mas kenapa dulu aku ngga ambil psikologi ya?
2020 *kenal montessori*
Gita : Mas, kalau aku ambil diploma montessori gimana?
2021 LULUS COOLYEAH DULU AJA AAMIIN
Gandhi hanya tersenyum saat mendengar ocehan istrinya 😅
GOALS
Tulisan ini tepat dibuat 1 Januari 2021. Awalnya terinspirasi teh pipi bubie, jadi tertarik juga bikin goal goal yang ingin dicapai dengan tujuan ingin menjadi lebih baik. Di akhir tahun jadi refleksi.
Pertanyaannya, semua dilakuin dengan istiqomah ga?
Engga hahaha.
Tulisan ini ditempel di dinding kerja. Pada dasarnya ngga muluk muluk sih, karena tau gimana susahnya istiqomah. Tapi saat sendiri, diem di meja kerja, ngerasa capek ada tulisan ini di depan mata. Benar benar jadi reminder dan sedikit banyak ngefek di hidupku.
Meski begitu, dengan adanya tulisan ini kebiasaan sehari hari masih ada dalam 1 lingkaran, maksudnya ngga melenceng banget. Meski tidak istiqomah, setidaknya aku berusaha mencoba melakukannya.
Aku adalah anak yang ngapa ngapain harus dicatet. Percaya atau tidak, semua point yang tertulis aku bikinin tabel ceklisnya dari mulai hari, tanggal dan minggunya. Jadi semacam ada kewajiban buatku untuk mencatat.
Lembar ceklisnya aku bikin di milimeter block wkwkwk dasar anak teknik
Hal yang paling berhasil menurutku adalah menguragi waktu bersosmed khususnya instagram. Aku hanya menginstall instagram di hp suamiku dan memintanya untuk merubah passwordnya supaya aku tidak bisa menginstallnya lagi di gawaiku. Self controlku pada instagram agak sulit dikendalikan, makannya aku memutuskan hal tersebut.
Dan aku berhasil membaca buku sampai titik terakhir buku tersebut. Sebelum ini, kalau lagi baca buku, baru nyampe tengah, ada buku baru yang bagus, lalu beli, buku lama ditinggalin, buku baru di peretelin and it happens rolling around wkwkwk. Sekarang jauuh lebih baik, meski setahun ini cuman baca 8 buku. Not bad lah
Terkadang aku pribadi perlu pembiasaan, perlu mewajibkan sesuatu supaya bisa melakukannya. Setidaknya sekali dua kali atau bahkan tiga kali lalu menjadi kebiasaan. Mungkin tahun depan list goals nya akan ku rampingkan supaya bisa lebih fokus membiasakan hal hal yang memberdayakan.
Selamat belajar dan memperbaiki diri
“All endings are also beginnings. We just don’t know it at the time.”
— Mitch Albom
Halo tumblr, lama sekali tidak bersua. Mungkin besok besok aku akan lebih banyak menulis disini
Aku menikah dengan orang yang tidak aku sukai.
Aku menikah dengan seseorang yang sebelumnya tidak pernah aku sebut namanya dalam doaku.
Aku menikah dengan orang yang ku anggap merenggut zona nyamanku.
Aku menikah dengan seorang yang tidak aku ketahui seluk beluknya.
Aku menikah dengan seorang yang menjadikannya temanpun aku enggan.
Aku menerima ajakannya dengan diiringi tangis, sedih dan tak berdaya.
Namun pada akhirnya,
Dia menjadi seseorang yang paling aku syukuri keberadaannya.
Dia menjadi seseorang yang membuatku mengatakan, "Kalau tidak ada kamu, aku tidak tahu akan bagaimana."
Kini orang yang sangat tidak aku sukai itu menjadi pendamping hidupku, menjadi separuh jiwaku, menjadi rumah untukku kembali.
Aku sangat bersyukur dengan apa yang terjadi. Tak ku sesali satupun. Peristiwa, orang, semua sangat aku syukuri.
Aku bersyukur atas teman temanku, aku bersyukur atas zona nyamanku, aku bersyukur akan peristiwa yang terjadi.
Siapapun akan mendapati diriku yang seperti ini.
Tak mudah memang, menerima sesuatu yang Alloh sudah takdirkan. Terlebih, kenyataan yang sangat kita harapkan sangat meleset dengan apa yang sudah Alloh gariskan. Kita berharap bahagia kepada Alloh, maka Alloh berikan lebih dari apa yang kita harapkan.
Semua bergantung kepada siapa yang kita gantungkan harapan.
I realized some people are always there, silently, waiting for you to reach out to them
Love this song deeply
Di.le.ma
Aku masih ingat, beberapa tahun yang lalu aku sangat berambisi sekali untuk berkarier, belajar dan bermanfaat untuk banyak orang.
Setelah lulus kuliah, aku berjanji akan sungguh-sungguh menyelami profesi ku sebagai dokter umum. Kemudian, bersungguh-sungguh untuk belajar kembali dan menjalani kehidupan residensi (PPDS). Kemudian bersungguh-sungguh pula terjun ke masyarakat dengan ilmu yang lebih spesifik dan lebih dalam.
Sampai aku menyadari ada fase yang aku lewati, (dulu) aku anggap tidak terlalu penting, yaitu menjadi seorang istri dan seorang ibu.
__________
Waktu berlalu dengan cepat, seorang lelaki meminangku untuk mendampingi hidupnya selamanya. Aku bersedia, dan menganggap semua akan berjalan baik-baik saja. Kewajiban ini (sebagai istri) tentu amat sangat bisa disambi dengan cita-cita utama ku sebagai seorang dokter.
Waktu berlalu dengan cepat, hingga seorang bayi laki-laki lahir dari rahimku. Hingga ia mengalihkan dunia ku. Hingga aku jatuh cinta bertubi-tubi pada nya. Hingga tidak ada lagi kebahagian ku selain dirinya.
Sampai pada…
Aku selalu berbisik pada diriku sendiri “aku sudah tidak cocok lagi menjadi seorang dokter”, atau kalimat “aku lebih senang diam di rumah”. Kalimat yang hampir setiap hari aku ucapkan. Tapi belum juga bisa aku wujudkan karena aku masih terikat kewajiban.
__________
Menurutku, dari lubuk hatiku yang terdalam, profesi dokter umum sepertinya sangat tidak ibu-ibu-friendly. Profesi yang dituntut bisa stand by 24 jam, ada jaga malam,dan pekerjaan dengan beban stress yang tinggi. Yang mana sulit untung disandingkan dengan perkerjaan fitrahnya wanita (yaitu sebagai ibu). Ibu yang juga dituntut stand by 24 jam, shift jaga anak yang meliputi siang-sore-malam-pagi-subuh, belum lagi perhatian untuk suami. Menjadi ibu juga merupakan pekerjaan dengan beban stress yang tinggi.
Jadi? Tentu saja pasti akan ada yang harus mengalah (bahasa lainnya: terkorbankan) dalam menjalani 2 profesi tersebut sekaligus. Dokter wanita yang hebat, pasti anaknya diasuh oma atau pengasuh. Ibu yang hebat, tentu akan sulit menjadi dokter spesialis stase mayor (bedah/anak/interna/obgyn). Ya kan?
__________
Kalian (para ibu-ibu) pernah engga sih mengalami dilema seperti ini?
Musuh Terbesar Seorang Ibu
Musuh terbesar seorang Ibu bukanlah pornografi dan pornoaksi yang rentan memapar otak anak-anaknya. Bukan pula kekerasan seksual yang mengintai langkah pendek anak-anaknya. Bukan pula paham radikalisme yang bisa menjangkiti keyakinan anak-anaknya. Semua itu musuh kita bersama, namun ada yang lebih berbahaya dari itu semua.
Musuh ini tak tampak. Hadirnya sulit dideteksi oleh indera. Memata-matai dari sangat dekat. Mudah datang tanpa diundang. Mudah menginfeksi tanpa diketahui. Halus dan perlahan-lahan. Musuh itu adalah stigma bahwa profesi Ibu (rumah tangga) adalah pekerjaan biasa.
Menghabiskan hari-hari di rumah untuk merawat anak sekaligus menyelesaikan pekerjaan rumah yang itu-itu lagi sangat berpeluang membuat Ibu terjebak dalam rutinitas yang kaku, beku, dan membuat jenuh. Kadang Ibu membayangkan betapa menyenangkan jika Ibu bisa travelling dengan teman-teman seperti saat Ibu lajang. Namun sekarang hidup tak sesederhana itu.
Melihat rekan-rekan satu sekolah dulu sudah mencapai jenjang karir tertentu di perusahaan-perusahaan besar, atau menjadi pengusaha, atau sedang studi lanjutan di negeri lain, kadang-kadang bisa membuat Ibu kehilangan makna. Ibu mulai menilai diri Ibu sebagai orang biasa, yang tidak hebat, yang tidak keren, yang tidak bergengsi. Dan membuat Ibu perlahan-lahan melepaskan mimpi-mimpi dan standar-standar profesional seorang Ibu.
Ibu harus memasak masakan sehat agar keluarga sehat. Ibu harus menjaga kesehatan agar tidak sakit–karena keluarga membutuhkan Ibu. Ibu harus mengelola keuangan agar pemasukan seimbang dengan pengeluaran. Ibu harus mendidik dan memberi contoh baik agar anak ikut-ikutan menjadi baik.
Semua standar itu kalah oleh perasaan minder dan tak berharga.Self-esteem rendah, kebahagiaan Ibu menurun, Ibu pun akan sulit menjalani peran dengan baik.
Lalu Ibu merasa tidak perlu belajar, untuk apa seorang Ibu menjadi terpelajar? Lalu yang paling menakutkan, Ibu berhenti berdoa–padahal kunci langit ada di lisan Ibu yang tulus.
Ibu pun menjalani hari hanya untuk menanti malam tiba, lalu menghabiskan malam untuk istirahat agar cepat bertemu esok. Tak ada hari istimewa, setiap hari sama : penuh dengan rutinitas yang membosankan. Hilang sudah semangat bermain dengan anak, hilang sudah dorongan memasak makanan sehat, hilang sudah harapan untuk membangun keluarga hebat.
Ibu pun sepenuhnya menerima tanpa perlawanan, bahwa pekerjaan Ibu rumah tangga memang pekerjaan biasa.
Itulah musuh terbesar seorang Ibu, jauh lebih berbahaya daripada pornografi, kekerasan seks, penyimpangan perilaku seksual, kecanduan gawai, paham radikalisme, liberalisme, dan sederet permasalahan lain yang mengancam di luar sana.
Mengapa lebih berbahaya?
Karena yang harus dilawan adalah pikiran dan perasaan Ibu sendiri.
Repost
Thiiissaa
I owe you so much
9 jalan 10 bulan pernikahan kami saat ini. Rasanya sudah banyak hal yang kami lewati. Teringat saat memutuskan menikah, dengan segudang keraguan kepada mas dan keraguan pada diriku sendiri, baru akan kuliah, ngga punya uang, tapi kami sangat yakin, dan mas sangat excited mempersiapkannya.
Dan kami menikah.
Dan Mas, kamu begitu hebat.
Di awal pernikahan, kita mengalami berbagai penyesuaian. Kamu mulai terbiasa dengan sifatku yang sangat pelupa. Kamu yang biasa berinteraksi dengan orang-orang seusiamu, harus hidup denganku yang berbeda usia 9tahun, dibarengi dengan sifat-sifatku juga yang masih terselip sedikit kekanak kanakan. Dengan sifatmu yang serius, kamu selalu menanggapiku dengan tidak menunjukkan sifatmu itu. Bahkan kamu berusaha untuk terlihat lucu di depanku, dan kamu sangat berhasil.
Tidak lama setelah kita menikah, aku hamil. Dan kita sangat bahagia, alhamdulillah.
Aku hamil.
Begitu baanyak perubahan yang terjadi pada diriku. Aku menjadi begitu sangat lemah. Aku menjadi semakin picky terhadap makanan. Aku hanya makan makanan terntu. Meski ada lauk yang lain, tapi aku terkadang tak tahan baunya, membuatku mual, sehingga membuatmu harus makan di ruang terpisah agar keadaanku tidak menjadi semakin parah.
Kamu juga merimaku yang masaknya itu itu saja. Masak makanan yang hanya bisa aku makan. Aku pikir itu sangat membosankan buatmu, tapi tidak. Kamu selalu memakan masakan buatanku, walaupun sudah berhari hari dengan menu yang sama. Atau dalam masakanku yang sebenarnya kurang enak tapi kamu selalu mengatakannya enak. Dan bahkan tak jarang aku tidak masak sama sekali. Tak ada makanan di rumah saat kamu pulang dari tempat kerja. Dengan perut yang lapar, kamu bukannya marah melainkan pergi keluar rumah untuk membeli makanan. Kamu selalu memilihkan makanan yang enak dan bergizi untukku, sedangkan untukmu sendiri hanya makanan yang biasa saja.
Jika pagimu di rumah, kamu selalu membersihkan rumah. Memintaku untuk diam sejenak agar aku tidak semakin lelah. Kamu berdamai dengan rumah yang sering berantakan dan berdebu, sering sekali kamu membereskannya dengan bertingkah lucu dihadapanku. Terkadang sambil menyanyi. Dan aku tertawa terbahak bahak melihat tingkahmu.
Tak jarang kamu mencuci pakaian kita yang jumlahnya sangat banyak. Kamu menjemurnnya, mengangkatnya ketika hujan turun, sampai semua pakaian itu kering.
Kamu juga sering mengorbankan waktu tidurmu untuk mengantar dan menjemputku kuliah. Setiap habis subuh, kamu memintaku untuk bersiap kuliah, terkadang kamu menyuruhku untuk mempelajari materi yang akan dipelajari pada hari itu. Tanpa memerhatikan wajah lelahmu yang pulang malam, kamu mengantarku ke tempat kuliah. Setelah sampai, kucium tanganmu. Lalu kamu mendoakanku supaya kuliah berjalan lancar, mengusap usap kepalaku dan memintamu untuk mengabari jika akan pulang. Kuliah hanya berlangsung beberapa jam. Menurutku merupakan waktu yang sangat tanggung saat aku harus mengabarimu lagi untuk menjemputku pulang. Tapi kamu melakukannya dengan sabar. Sepulang dari kuliah, ku temukan rumah yang sudah rapi dan sudah ada lauk untuk makan siang. Supaya aku dan anak yg dikandung terjamin makanan juga gizinya. Aku hanya tinggal duduk manis dan menuruti perintahmu. Tak jarang kita memanfaatkan waktu yang sebentar untuk sekedar bertukar cerita dan sejenak tertidur. Dan beberapa saat setelahnya kamu harus pergi bekerja.
Terkadang aku merasa berhak untuk marah saat kamu terlambat pulang bekerja. Mungkin karena aku merasa kesepian di rumah, tanpa memikirkanmu yang begitu sangat keras berusaha mencari uang untuk biaya hidup kita. Kamu juga pernah mengorbankan satu hari kerjamu demi aku yang menangis saat akan kamu tinggal kerja, aku tidak mau ditinggal. Semua bukan karena atas nama kehamilan, tapi karena aku sangat bergantung padamu. Aku sangat membutuhkanmu, mas.
Kehadiranmu sungguh selalu membuatku bahagia.
Istri yang paling beruntung adalah dia yang dikaruniai Allah, seorang suami yang penyayang dan penyabar, penuh kehangatan dan kelembutan, suka menolong dan berhati tulus. Jika dia pergi istri merindukan, jika dia ada, istri ingin terus berdekatan" -Dr Abdul Malik
Sayangku, ingatkan aku begitu banyak aku berhutang kepadamu.
BUNDA AIRMATA
Kalau engkau menangis Ibundamu yang meneteskan airmata Dan Tuhan yang akan mengusapnya Kalau engkau bersedih Ibundamu yang kesakitan Dan Tuhan yang menyiapkan hiburan-hiburan. Menangislah banyak-banyak untuk ibundamu Dan jangan bikin satu kalipun ibumu menangis karenamu Kecuali engkau punya keberanian untuk membuat Tuhan naik pitam kepada hidupmu Kalau ibundamu menangis, para Malaikat menjelma menjadi butiran-butiran air matanya Dan cahaya yang memancar dari airmata ibunda membuat para Malaikat itu silau dan marah kepadamu Dan kemarahan para malaikat adalah kemarahan suci sehingga Allah tidak melarang mereka tatkala menutup pintu sorga bagimu
Yogya 1992
Random
Sinar matahari sore hadir melalui celah celah awan mendung yang terbawa angin.
Ah… ini senja.
Aku selalu suka saat senja. Menyendiri, menepi, semilir angin menyapuku. Sesekali kupejamkan mata, dan ku tarik tepi bibir. Dalam benak ku bertanya, adakah alasan bagiku untuk tidak bahagia? Dengan semua nikmat ini. Peristiwa, orang orang, pertemuan, perpisahan, jatuh, bangun, ku sebut itu perjalanan.
Benarlah, cara Tuhan memang tak sampai di logika. Ada saat kita berada pada posisi yang sangat tak kita sukai. Lisan berkata ‘kenapa?’. Benak berontak, air mata mengalir,telinga seakan tertutup menolak semua nasihat.
Lalu sampailah diwaktu dimana tak ditemukan siapa siapa kecuali aku dan Sang Maha Memahami. Dalam heningnya malam, sampai juga saat dimana aku memasrahkan semua, dan menjalani jalan yang seharusnya ku jalani. Dalam sunyinya suasana, aku berpikir, doá apa yang sudah ku panjatkan sebelumnya? Perkataan apa yang sudah ku ucapkan sebelumnya? Ilmu apa yang sudah ku dapat?
Ternyata memang benar. Sesuatu hal yang kita sukai belum tentu baik untuk kita. Boleh jadi kita membenci sesuatu, padahal itu baik untuk kita. Yang baik akan mendekat, namun yang lebih baik akan semakin mendekat. Jauh dalam benak ku putar lagi apa yang terjadi.
Ternyata benarlah, untuk mencari, terkadang kita harus berputar putar terlebih dahulu. Berputar jauuuuuuhhhh. Walaupun mungkin sebenarnya jawaban dari pencarian itu ada di dekat kita. Pada fase ‘berputar’ ini lah, kita menemui banyak hal, moments and peoples.
Semua yang Alloh buat pasti ada maksudnya. Perkara mengucapkan syukur itu mudah, hanya saja ego yang menyusahkannya. Kelak, kita akan tahu kenapa Alloh mempertemukan, kenapa Alloh memisahkan, kenapa Alloh menciptakan semua yang ada di bumi. Ucapkan syukur untuk apapun yang terjadi. Sekecil apapun. Masya Alloh, indahnya senja di Kamis ini^^
Alhamdulillah